NovelToon NovelToon
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Jf

BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 — “Langit yang Mulai Berubah”

Malam itu hujan turun cukup deras. Suara tetesan air menghantam atap kontrakan kecil milik Arga, menciptakan suasana dingin yang membuat pikirannya semakin penuh. Ia duduk di lantai sambil memandangi layar ponselnya yang sejak tadi sepi. Tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan pekerjaan, dan tidak ada kabar baik yang ia tunggu-tunggu.

Di sudut kamar, gitar tuanya bersandar penuh debu. Sudah lama Arga tidak menyentuhnya lagi sejak hidup terasa terlalu berat untuk sekadar menikmati musik. Baginya, hari-hari kini hanya tentang bertahan hidup.

Arga mengusap wajahnya kasar. Kepalanya terasa penat. Tagihan menumpuk, pekerjaan serabutan semakin sulit, dan rasa kecewa terhadap hidup mulai menggerogoti pikirannya sedikit demi sedikit.

“Apa aku memang gagal, ya?” gumamnya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi terasa begitu menyakitkan baginya.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama “Naira” muncul di layar. Arga sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.

“Halo?” suara Arga terdengar lemah.

“Kamu belum tidur?” tanya Naira dari seberang sana.

“Belum.”

“Kamu kenapa?”

Arga tersenyum kecil. Ia heran bagaimana perempuan itu selalu bisa menyadari sesuatu dari nada bicaranya.

“Gapapa kok,” jawabnya berbohong.

Naira terdiam sebentar sebelum berkata pelan, “Kalau capek cerita aja, Ga. Jangan dipendem sendiri terus.”

Kalimat sederhana itu membuat dada Arga terasa sesak. Sudah lama tidak ada seseorang yang benar-benar peduli dengan keadaannya.

“Aku cuma lagi mikir… hidup kok rasanya gini banget ya,” ucap Arga lirih.

“Semua orang pasti pernah ada di titik itu.”

“Tapi aku takut gagal.”

“Kamu belum gagal kalau belum berhenti.”

Arga memejamkan mata. Entah kenapa kata-kata Naira selalu terasa hangat. Seolah perempuan itu datang membawa sedikit cahaya di saat hidupnya hampir gelap sepenuhnya.

Mereka berbicara cukup lama malam itu. Tentang mimpi, rasa takut, dan harapan yang perlahan mulai hilang. Naira mendengarkan semuanya tanpa memotong sedikit pun.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga merasa didengar.

Keesokan paginya, Arga terbangun lebih awal. Hujan semalam meninggalkan udara dingin yang menenangkan. Ia duduk di depan kontrakan sambil meminum kopi sachet murah.

Tak lama kemudian, motor Naira berhenti di depan rumahnya.

Arga tampak kaget. “Loh? Kamu ngapain pagi-pagi ke sini?”

Naira melepas helmnya lalu tersenyum kecil.

“Aku mau ngajak kamu keluar bentar.”

“Keluar ke mana?”

“Udah ikut aja.”

Awalnya Arga menolak karena malu dengan keadaan dirinya yang sederhana. Namun Naira terus memaksa hingga akhirnya Arga menyerah.

Mereka pergi ke sebuah bukit kecil di pinggir kota. Tempat itu cukup sepi dengan pemandangan langit pagi yang indah. Angin berhembus pelan membawa aroma rumput basah setelah hujan.

Arga menatap sekitar dengan bingung.

“Kamu ngajak aku ke sini buat apa?”

Naira berdiri di sampingnya sambil memandang langit.

“Aku cuma pengen kamu lihat kalau langit aja bisa berubah setelah hujan deras.”

Arga terdiam.

“Hidup juga gitu,” lanjut Naira. “Kadang kita harus ngelewatin badai dulu sebelum lihat sesuatu yang indah.”

Perkataan itu sederhana, tetapi tepat mengenai hati Arga.

Selama ini ia terlalu fokus pada rasa sakitnya sampai lupa bahwa hidup tidak selalu buruk. Mungkin memang belum waktunya menyerah.

Naira menoleh ke arah Arga lalu tersenyum.

“Kamu tau ga hal paling hebat dari seseorang?”

“Apa?”

“Dia tetap bertahan walaupun berkali-kali mau nyerah.”

Arga menunduk pelan. Matanya terasa hangat. Ia tidak menyangka kehadiran seseorang bisa memberi pengaruh sebesar ini dalam hidupnya.

“Kenapa kamu baik banget sama aku?” tanya Arga lirih.

Naira tersenyum tipis.

“Karena aku tau rasanya sendirian.”

Suasana mendadak hening. Hanya suara angin dan dedaunan yang terdengar pelan.

Untuk pertama kalinya, Arga merasa ada seseorang yang benar-benar memahami dirinya tanpa perlu banyak penjelasan.

Dan di tengah langit pagi yang mulai cerah itu, Arga sadar satu hal.

Mungkin… alasan ia belum menyerah sampai sekarang adalah karena Naira datang di waktu yang tepat.

Arga memandang wajah Naira cukup lama. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan setiap kali perempuan itu berada di dekatnya. Bukan karena Naira melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi karena caranya mendengarkan membuat Arga merasa dirinya masih berarti.

Mereka duduk di rerumputan bukit itu cukup lama. Matahari perlahan naik, menghangatkan udara dingin sisa hujan semalam. Di bawah sana, kota mulai ramai oleh kendaraan dan aktivitas orang-orang yang sibuk menjalani hidup masing-masing.

“Aku iri sama mereka,” ucap Arga tiba-tiba.

Naira menoleh. “Iri kenapa?”

“Mereka keliatan punya tujuan hidup. Sedangkan aku…” Arga tertawa kecil pahit. “Aku bahkan bingung besok harus kerja apa.”

Naira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Kamu terlalu keras sama diri sendiri, Ga.”

“Realitanya emang keras.”

“Iya. Tapi bukan berarti kamu harus benci sama dirimu sendiri.”

Kalimat itu membuat Arga diam. Selama ini ia memang terlalu sering menyalahkan dirinya sendiri atas semua hal yang tidak berjalan sesuai harapan.

Padahal hidup tidak selalu tentang siapa yang paling cepat berhasil.

Kadang seseorang hanya sedang berjuang lebih lama.

Naira membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan dua roti dan satu minuman kaleng.

“Nih sarapan.”

Arga langsung menggeleng. “Aku ga lapar.”

“Bohong.”

“Kok tau?”

“Soalnya muka kamu keliatan belum makan dari semalem.”

Arga tertawa kecil untuk pertama kalinya pagi itu. Tawa yang sederhana, tetapi cukup membuat suasana terasa lebih ringan.

Mereka makan bersama sambil berbincang hal-hal kecil. Tentang masa sekolah, mimpi masa kecil, sampai cerita lucu yang membuat mereka beberapa kali tertawa.

Arga mulai menyadari sesuatu.

Sudah lama ia tidak merasa setenang ini.

Biasanya kepalanya selalu penuh dengan pikiran buruk. Tentang uang, pekerjaan, masa depan, dan rasa takut gagal. Namun bersama Naira, untuk sesaat semua beban itu terasa sedikit menjauh.

“Dulu aku pengen jadi musisi,” kata Arga tiba-tiba.

“Masa?”

“Iya. Aku suka bikin lagu.”

“Masa aku baru tau?”

Arga tersenyum tipis. “Udah lama berhenti.”

“Kenapa?”

Arga menatap langit sebentar sebelum menjawab.

“Karena mimpi ga selalu bisa bikin orang hidup.”

Naira menggeleng pelan.

“Kadang yang bikin seseorang bertahan hidup justru mimpinya.”

Arga terdiam lagi.

Perempuan itu memang selalu punya cara sederhana untuk membuat pikirannya berubah.

Naira lalu menatap Arga dengan serius.

“Coba janji sama aku.”

“Janji apa?”

“Jangan nyerah sama hidup kamu sendiri.”

Arga tersenyum kecil, meski matanya tampak sendu.

“Aku usahain.”

“Bukan usahain.”

Naira mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji.”

Arga memandang tangan kecil itu beberapa detik sebelum akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya pelan.

“Iya. Aku janji.”

Naira tersenyum puas.

Entah kenapa hal sederhana itu terasa begitu hangat bagi Arga.

Saat matahari mulai meninggi, mereka akhirnya turun dari bukit. Dalam perjalanan pulang, Arga duduk di belakang motor Naira sambil memandangi jalanan kota yang mulai ramai.

Sudah lama ia tidak menikmati perjalanan seperti ini.

Biasanya hidup terasa begitu terburu-buru sampai ia lupa bagaimana menikmati udara pagi, suara angin, atau langit yang cerah setelah hujan.

Motor berhenti di sebuah lampu merah. Naira menoleh sedikit.

“Kamu tau ga?”

“Apa?”

“Kadang hidup ga langsung berubah jadi baik.”

Arga mendengarkan.

“Tapi setidaknya sekarang kamu ga jalan sendirian lagi.”

Kalimat itu membuat dada Arga terasa hangat.

Ia menunduk pelan sambil tersenyum kecil.

Mungkin masalah hidupnya memang belum selesai. Tagihan masih ada. Pekerjaan masih belum jelas. Masa depan masih terasa menakutkan.

Tetapi sekarang ada satu hal yang berbeda.

Ia tidak lagi merasa sendirian menghadapi semuanya.

Dan terkadang, itu sudah cukup untuk membuat seseorang kembali kuat menjalani hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!