NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Libur yang Diawasi

Malam itu berlalu lebih lambat dari biasanya.

Bukan karena waktu benar-benar melambat, tapi karena pikiran Aurora yang tidak berhenti berputar. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan hari itu kembali muncul.

Ruang kerja Zayn, tatapannya, dan bahkan cara ia memanggilnya Flora.

Aurora membalikkan tubuhnya di atas tempat tidur, “Kenapa sih…” gumamnya pelan.

Ia menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, mencoba mengusir semua pikiran itu. Namun sia-sia. Semakin ia mencoba mengabaikan, semakin jelas semuanya terasa.

Hingga akhirnya, tanpa sadar, ia tertidur.

Pagi datang dengan suasana yang berbeda.

Tidak ada alarm terburu-buru. Tidak ada tekanan pekerjaan. Hari itu adalah hari libur.

Aurora duduk di tepi tempat tidurnya, menghela napas pelan. Tubuhnya masih sedikit pegal, tapi tidak seburuk kemarin.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

“Libur…” gumamnya.

Seharusnya ia merasa senang. Tapi entah kenapa, perasaan itu tidak sepenuhnya datang.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.

Panggilan telepon dari Rayden.

Aurora menatap nama itu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Iya?” jawabnya.

“Ra, hari ini kamu free kan?” suara Rayden terdengar ringan di seberang sana.

“Iya, kenapa?”

“Ke taman, yuk. Udah lama kita nggak jalan santai.”

Aurora terdiam sejenak.

Taman. Udara segar. Tanpa kantor. Tanpa Zayn.

“Iya, boleh” jawabnya akhirnya.

“Aku jemput kamu ya setengah jam lagi” ucap Rayden.

“Okey” balas Aurora.

Satu jam kemudian, Aurora sudah berada di taman kota bersama dengan Rayden.

Langit cerah. Angin berhembus pelan. Suasana jauh lebih hidup dibandingkan kantor yang dingin dan kaku.

Aurora dan Rayden berjalan memasuki gerbang taman.

“Maaf ya aku jarang luangin waktu buat kamu” ucap Rayden.

“Nggak papa kok. Aku ku tau kamu sibuk sama pekerjaan kamu” balas Aurora.

“Gimana keadaan kamu? Tapi keliatan kamu sehat” tanya Rayden.

Aurora tersenyum kecil, “Ya aku sehat, cuma kemarin agak capek aja.”

Rayden mengangguk, lalu tanpa sadar memperhatikan perban di tangan Aurora, “Itu tangan kamu kena? Masih sakit?”

Aurora sedikit terkejut, lalu menggeleng pelan, “Udah mendingan. Ini itu cuma gara-gara kemarin jatuh”

Rayden mengusap pelan rambut Aurora, “Kalau capek, bilang ya. Jangan dipaksain buat kerja terus.”

Aurora hanya mengangguk.

Mereka mulai berjalan menyusuri taman.

Obrolan mereka ringan. Tentang hal-hal sederhana, tentang keseharian, tentang hal-hal yang tidak rumit.

Aurora tertawa kecil beberapa kali.

Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia merasa normal.

Namun di sudut taman yang tidak terlalu mencolok, seseorang berdiri.

Jaraknya cukup jauh. Tapi pandangannya tidak pernah lepas dari Aurora.

Pria itu mengangkat ponselnya, “Dia di taman. Sama cowok.”

Di tempat lain.

Zayn berdiri di dekat jendela ruangannya. Ponsel di tangannya bergetar. Ia membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Beberapa detik hening.

“Biarkan.”

Satu kata. Singkat. Datar. Seolah tidak berarti apa-apa.

Namun ia tidak meletakkan ponselnya.

Beberapa detik kemudian .

“Tetap pantau dia, Evan.”

Kembali ke taman.

Aurora dan Rayden duduk di bangku taman.

Rayden membeli dua minuman dingin dan menyerahkan salah satunya.

Aurora menerimanya, “Makasih.”

Rayden duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan kenyamanan.

“Kamu akhir-akhir ini keliatan beda” ucap Rayden tiba-tiba.

Aurora menoleh, “Beda gimana?”

“Lebih susah dihubungi.”

Aurora terdiam sejenak. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Maaf, habisnya aku terlalu sibuk kerja” jawabnya akhirnya.

Rayden menatapnya beberapa detik,

“Kalau ada apa-apa, cerita aja ya.”

Aurora tersenyum kecil, “Iya.”

“Kamu juga jangan terus paksa tubuh kamu buat kerja, kamu juga butuh buat istirahat”

“Iya, kan ini juga lagi istirahat.”

“Yakin beneran istirahat? Emang pikirannya nggak ke kerjaan?”

“Nggak dong. Ya kali libur mikirin kerjaan.”

Angin berhembus pelan. Daun-daun bergerak pelan.

Aurora tanpa sadar tersenyum. Namun di satu momen, ia merasa sesuatu.

Seperti ada yang memperhatikan. Aurora menoleh cepat ke arah belakang. Tapi tidak ada siapa-siapa.

“Kenapa?” tanya Rayden.

Aurora menggeleng pelan, “Nggak, cuma perasaan aja.”

Evan kembali mengirim pesan ke Zayn, “Dia ketawa, dan keliatannya bahagia sama cowok itu”

Pesan itu muncul di layar ponsel Zayn.

Zayn menatap layar itu tanpa bergerak. Jari-jarinya mengetuk pelan sisi ponsel.

“Ngapain mereka?”

“Duduk. Ngobrol.”

Zayn menghela napas pelan.

“Jangan sampai dia kenapa-kenapa.”

Waktu berjalan.

Aurora dan Rayden berjalan kembali menuju keluar taman. Langkah mereka santai. Obrolan tetap ringan.

Namun beberapa meter di belakang, Evan masih mengikuti.

Jaraknya dijaga. Gerakannya tenang. Tidak mencolok.

Sore mulai turun.

Aurora berhenti di dekat gerbang rumahnya, “Makasih ya hari ini” ucapnya.

Rayden tersenyum, “Harusnya aku yang bilang makasih.”

Aurora mengerutkan kening, “Kenapa?”

“Soalnya aku akhirnya bisa luangin waktu buat kamu.”

Aurora tersenyum kecil.

Rayden mengangkat tangannya sedikit, ragu sejenak, lalu akhirnya mengusap pelan kepala Aurora.

“Sekali lagi makasih ya.”

Aurora mengangguk, “Kamu hati-hati ya.”

Mereka berpisah.

Aurora berjalan masuk ke rumahnya.

Di kejauhan, pria itu kembali mengangkat ponselnya.

“Dia udah sendiri. Udah pulang ke rumahnya.”

Zayn membaca pesan terakhir itu tanpa ekspresi. Namun kali ini, ada jeda lebih lama dari biasanya. Tangannya yang semula diam di sisi meja perlahan bergerak mengambil kunci mobil.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia keluar dari ruangannya.

Langkahnya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda dari caranya berjalan. Lebih cepat, lebih tegas, seolah ada tujuan yang jelas di kepalanya.

Di sisi lain, Aurora baru saja masuk ke dalam rumahnya. Ia melepas sepatu dengan gerakan pelan, lalu berjalan ke ruang tengah dan menjatuhkan dirinya ke sofa.

Tubuhnya terasa ringan, tapi pikirannya tidak.

Hari ini seharusnya terasa menyenangkan. Dan memang sempat terasa seperti itu. Tertawa bersama Rayden, berjalan santai, semuanya terasa normal.

Tapi entah kenapa, perasaan itu tidak bertahan lama.

Aurora menyandarkan kepalanya ke sofa, menatap langit-langit, “Aneh…” gumamnya pelan.

Perasaan seperti diawasi tadi masih tersisa, walaupun ia sudah mencoba mengabaikannya.

Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran itu, “Mungkin cuma perasaanku aja” ucapnya dalam hati.

Namun di luar rumah, beberapa meter dari pagar, seseorang masih berdiri di tempat yang tidak terlalu terlihat.

Evan tidak mendekat, tidak juga pergi. Ia hanya memastikan satu hal. Aurora benar-benar aman.

Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk, “Lokasi.”

Evan menatap layar sebentar sebelum membalas singkat. Setelah itu, ia kembali diam di tempatnya, tidak bergerak, tidak mencolok.

Tidak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar mendekat.

Lampu mobil itu tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat bayangan di jalanan sedikit berubah.

Mobil itu berhenti tidak jauh dari rumah Aurora.

Zayn keluar. Tatapannya langsung mengarah ke rumah itu. Tatapannya tidak lama, tidak juga terlalu jelas, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia memastikan sesuatu.

“Di dalam?” tanya Zayn singkat.

Evan mengangguk pelan, “Udah dari tadi.”

Zayn tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju ke arah rumah itu. Seolah mencoba melihat sesuatu yang sebenarnya tidak bisa ia lihat.

“Kalau dia keluar lagi, kabarin” kata Zayn. Nada suaranya tetap datar, tidak tinggi, tidak juga menunjukkan emosi berlebihan.

Evan mengangguk lagi, “Baik.”

Zayn kembali masuk ke dalam mobilnya tanpa menambahkan apa-apa lagi.

Pintu tertutup, mesin menyala, lalu mobil itu perlahan menjauh.

Namun kali ini, berbeda dari sebelumnya. Ia tidak menunggu sampai Aurora terlihat lagi. Ia sudah cukup hanya dengan mengetahuinya.

Di dalam rumah, Aurora masih duduk di sofa. Tangannya kini memegang ponsel, tapi ia tidak benar-benar membukanya.

Pikirannya masih kembali ke satu hal. Zayn.

Cara dia bicara, cara dia melihat, dan cara dia memanggilnya, “Besok berangkat ke kantor lagi. Ketemu sama dia lagi” batinnya.

Aurora menghela napas panjang, lalu menjatuhkan ponselnya ke samping, “Kenapa aku pikirin dia? Nggak masuk akal…” gumamnya lagi.

Ia berdiri perlahan, berjalan ke arah jendela tanpa sadar. Tangannya membuka sedikit tirai, hanya cukup untuk melihat ke luar.

Jalanan terlihat biasa saja. Sepi, tidak ada siapa-siapa.

Aurora mengerutkan kening sebentar, lalu menutup tirai itu kembali, “Beneran cuma perasaan,” ucapnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Ia kembali ke sofa, lalu duduk dengan posisi sedikit meringkuk.

Tubuhnya lelah, tapi pikirannya masih belum mau berhenti.

Sementara itu, di tempat lain, mobil hitam itu melaju di jalanan yang mulai sepi.

Zayn mengemudi tanpa suara. Tidak ada musik, tidak ada gangguan, hanya suara mesin dan pikirannya sendiri.

Tangannya mengetuk pelan setir, ritme yang tidak jelas.

Satu bayangan terus muncul di kepalanya.

Aurora tertawa bersama orang lain.

Rahangnya mengeras sedikit, tapi hanya sebentar. Setelah itu, ekspresinya kembali datar seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun beberapa detik kemudian, tangannya meraih ponsel. Satu pesan diketik cepat, “Pastikan dia aman.”

Tidak ada tambahan, tidak ada juga penjelasan.

Mobil itu terus melaju, menghilang di antara lampu-lampu jalan yang semakin redup.

Dan di malam itu, tanpa Aurora sadari, jarak antara dia dan Zayn tidak semakin jauh, justru semakin dekat.

Bukan karena pilihan Aurora. Tapi karena seseorang tidak pernah benar-benar melepaskannya sejak awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!