Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memberi umpan.
Lamborghini merah, menyalip satu persatu mobil dari belakang, jalanan memang agak macet namun tak jadi masalah buat Bayu jika hanya sekedar untuk mengejar waktu.
"Kita mau makan dimana?" Tanya Bayu menoleh.
"Kamu suka sate?" Jawab Anita balas bertanya.
"Boleh juga... Aku udah lama gak makan sate, kalau bisa yang ada minuman birnya",
"Habis pertigaan ini kamu lurus ada pertigaan lagi, kamu langsung belok kiri, tempatnya ada di kiri jalan" jelas Anita dengan tangan menunjuk kedepan memberi arahan dan penjelasan.
Mobil belok kiri, setelahnya masuk kedalam parkiran pinggir jalan. Asap putih tipis mengepul dari pembakaran arang, aroma sate yang terbakar menyergap hidung begitu cendela kaca mobil terbuka.
Bayu menatap tempat itu dalam diam,"Kamu gak salah" kata Bayu.
"Kenapa?" Tanya Anita menyipitkan mata.
Bayu masih terdiam, kemudian menoleh "ya udah ayo.." ajak Bayu turun dari mobil.
Keduanya mengambil tempat kosong, mereka segera duduk berhadapan, pelayan langsung menyajikan sate.
"Mau minum apa tuan", tanya pelayan itu sopan.
"Bir ada kan?" Tanya Bayu sedikit ragu.
"Ada" kata pelayan menjawab cepat.
"Iya kami pesan itu aja" kata Bayu sambil mengangguk.
Suara klakson sesekali saling bersahutan, terdengar jelas dari samping tempat mereka duduk. Di sekeliling mereka meja-meja lain sudah terisi penuh, terdengar berbagai obrolan pengunjung, dan kepulan asap arang yang terus mengalir pelan ke langit siang itu.
Bayu meregangkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Gak disangka pelayanannya cepat juga ya", gumam Bayu menatap Anita.
"Ayo makan, makanan disini enak lo", kata Anita mengambil setusuk sate dan memakannya.
Bayu mengambil setusuk lalu memakannya juga, "lumayan", jawabnya sambil mengangguk.
"Enak kan.." kata Anita kembali tersenyum.
Tiga menit kemudian Minuman datang, Bayu segera meminumnya, "Ah... Cocok banget".
Anita tersenyum kecil melihat tingkah laku Bayu. Cahaya siang itu terasa semilir, bayangan atap terpal masih pendek disamping trotoar, angin lewat sekali menggoyang asap tipis di atas bara arang.
"Kamu suka datang ketempat seperti ini?" Tanya Bayu mengangkat kedua alisnya.
"Sering, kenapa?" Tanya Anita mengerngit.
"Wanita secantik kamu suka makan ditempat seperti ini?" Bayu mengulangi pertanyaannya.
"Emang kenapa?"
"Bagus", jawab Bayu singkat.
Anita menyipitkan matanya menatap tajam kearah Bayu tanpa berkedip.
"Walau setiap hari pun bahkan setiap menit kamu mengajakku ketempat seperti ini aku siap", kata Bayu.
"Emangnya perutku lumbung padi" jawab Anita.
Bayu menatap sambil tersenyum.
"Awas kau ya.." teriak Anita menjewertelinga Bayu.
"Aduh..." Teriak Bayu memegangi telinganya.
Beberapa pengunjung meja sebelah menoleh sebentar, lalu kembali ke makanan mereka masing-masing.
........
Dari jauh terlihat preman jalanan melihat Bayu dan Anita lagi makan sambil bercanda. Mereka berdiri di balik kerumunan pejalan kaki di seberang jalan, mata-mata mereka diam mengamati.
"Kakak... Itu orangnya yang semalam memukuli kami", kata preman itu menunjuk Bayu dari sebrang jalan.
"Hanya bocah kuliahan?", kata orang itu yang bertubuh kekar, "tak kusangka hanya bocah sampai ketua mengutusku".
"Dia pandai berkelahi", jawab bos preman yang semalam telah di tampar.
Mereka berkelompok yang terdiri dua puluh orang, menyebrang jalan dan berhenti di depan Bayu. Langkah mereka berat dan seragam, memaksa pejalan kaki menepi, membuat suasana warung yang tadinya riuh perlahan menjadi terdiam. Pengunjung di meja sekitar mulai buru-buru membayar dan satu per satu pergi dari tempat itu.
Anita segera berdiri menghampiri Bayu memegang lengan Bayu.
Bayu berdiri dari tempat duduknya, menatap mereka satu persatu lalu berhenti di wajah bos preman yang semalam ia tampar.
"Bocah... Kamu berani mengganggu cabang geng sembilan naga?" Ucap pemimpin yang bertubuh besar.
"Geng sembilan naga?" Pikir dalam hati Bayu. Kenangan masalalu mulai bermunculan tanpa ia sadari.
Dua belas tahun yang lalu.... Ibu dan Ayahnya dibantai dengan kejam, lalu digantung dengan sadis tanpa belas kasihan.
Teriakan kesakitan mengiang dikepalanya, gambar wajah-wajah pembunuh mulai bermunculan kembali... Tato naga di lengan, penyiksaan, jeratan dileher dan tawa-tawa yang tak bisa ia lupakan.
Warung itu kini sepi. Hanya asap arang yang masih mengepul tenang, dan suara jalanan di luar yang tak peduli.
Bayu mulai sadar, bahwa segerombolan didepannya ini salah satu cabang dari organisasi yang telah membunuh kedua orang tuanya.
"Aku tak ingin membuat ribut disini, aku memiliki banyak uang, bagaimana jika aku bernegosiasi dengan ketua kalian, bukankah uang lebih menguntungkan buat kalian", kata Bayu datar.
"Hahaha.... Kamu pintar juga bocah, baiklah," jawab pemimpin itu tersenyum picik, "aku akan menghubungi ketua" katanya suaranya terdengar garang.
"Bay... Jangan sembrono" bisik Anita mendekatkan bibirnya ketelinga Bayu.
"Aku tahu yang aku lakukan, ini juga demi keamananmu" jelas Bayu memelankan suaranya.
Anita terdiam, "apakah demi aku dia rela mengeluarkan uang kompensasi?" Pikirnya dalam hati. Genggaman tangannya semakin erat menggenggam lengan Bayu.
Orang bertubuh kekar itu mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang, "halo ketua, aku telah menemukan bocah pengganggu itu, namun dia bersedia membayar kompensasi atas kesalahannya semalam".
Ia terdiam mendengarkan "Baik....baik...!!" Jawabnya, semenit kemudian panggilan itu terputus.
Bayu masih menatap mereka dengan pandangan datar. Angin semilir sesekali menerpa rambut dan kaos oblongnya.
"Baiklah... Ketua setuju dengan permintaanmu, namun sebagai jaminan agar kau tak berbohong", pria tubuh kekar itu melirik Anita... "Kami akan membawanya" katanya menyeringai.
Wajah Anita mulai suram, tangannya mulai gemetar.
Bayu sekilas melirik Anita kemudian kembali menatap mereka, "dia terlalu cantik, dan aku terlalu hawatir, jika dia aku serahkan pada kalian aku takut kalian lah yang akan mengingkari kesepakatan ini". Jelas Bayu.
"Jadi..?" Tanya bertubuh besar itu.
Bayu tanpa ragu mengeluarkan Surat kendaraannya, " ini bisa sebagai jaminan, dan aku bukan orang bodoh yang akan meninggalkan surat mobil sportku begitu saja", jelas Bayu menyerahkan surat itu.
"Baik, siapkan lima milyar... Kamu bocah kaya... Jadi gak masalah kan". Kata orang kekar itu mengambil surat kendaraan dari tangan Bayu sambil melirik mobil Lamborghini itu.
Bayu mengangguk.
Anita masih memegang erat menempel pada Bayu.
"Aku tunggu di gudang kosong samping kota jakarta selatan, datang sendiri".
Para preman itu pun pergi, menjauh meninggalkan Bayu. Langkah mereka kembali membelah keramaian trotoar, lalu hilang ditelan arus jalan. Warung perlahan kembali bersuara, kursi digeser, bisik-bisik pedagang , dan asap arang yang tanpa henti mengepul sejak tadi.
..........
"Bay... Apa kamu serius mau kesana sendirian?", tanya Anita ragu.
"Aku serius", jawab Bayu.
"Apa gak lebih baik kita lapor polisi" lanjut Anita.
"Mereka cabang naga, koneksi mereka kuat, bisa-bisa surat kendaraan ku beneran hilang".
"Tapi ini udah menyangkut keselamatanmu", lanjut Anita.
"Aku lebih leluasa jika gak ada orang disampingku", jawab Bayu singkat.
..........
Anita menatap wajah Bayu yang terlihat masih santai, tanpa beban maupun tegang, apa lagi gemetar. Suara klakson kembali berbunyi.
"Bay... Sebenarnya kamu orang seperti apa?" Pertanyaan itu berputar-putar didalam pikiran Anita.
.........
Bersambung.