NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Meja Perundingan

"Bagus, Bu Linda. Kalau kau memang punya nyali, ayo naik ke lantai dua sekarang juga. Kita selesaikan di depan Irmi."

Hino baru saja menyelesaikan kalimatnya di ambang pintu kamar nomor tiga, menatap Linda dengan pandangan menantang. Namun, sebelum kaki Linda sempat melangkah mundur menuju tangga, suara deru mobil yang berhenti di depan pagar kosan memecah ketegangan siang itu. Menyusul kemudian, bunyi dentang pagar besi yang digeser kasar dan ketukan sepatu hak tinggi yang tergesa-gesa di atas keramik koridor luar.

Irmi melangkah masuk ke dalam lorong kosan, wajahnya tampak lelah setelah mengurus setoran omset minimarket di bank. Ia berhenti tepat di tengah koridor, matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan ganjil: Hino yang berdiri tegang, Linda yang melipat tangan dengan angkuh, dan Erni yang baru saja keluar dari kamar dengan daster rumahan yang longgar.

Irmi meletakkan tas kulit mahalnya di atas meja kayu dengan hentakan pelan, lalu menatap mereka bergantian. "Ada apa ini? Jadi, uang setoran dari toko belum sempat kuperiksa karena kau sibuk mengurusi perempuan lain di jam kerjamu, Hino?"

Linda tertawa kecil, memecah keheningan dengan nada meremehkan yang biasa ia gunakan di ruang kuliah. "Jangan salah paham, Irmi. Aku hanya mengembalikan kunci serep yang kau tinggalkan dengan ceroboh di meja kasir tokomu tadi pagi. Kebetulan, suamimu ini sedang berada di kamar."

"Dia bukan suamiku, Linda. Setidaknya belum di atas kertas negara," sahut Irmi dingin, pandangannya kini beralih sepenuhnya pada Erni yang berdiri dengan wajah pucat namun mata yang menyalang penuh amarah.

Erni melangkah maju, tangannya mengepal di samping tubuh. Tidak ada lagi rasa terkejut di wajahnya, karena badai kejujuran Hino semalam telah mematikan rasa herannya. "Lanjutkan saja bicaranya, Irmi. Aku juga ingin tahu, apa sebutan yang pas untuk perempuan kaya yang merebut suami orang dengan modal sebotol jamu dan selembar kontrak siri."

Irmi sedikit tersentak melihat keberanian Erni yang biasanya selalu menunduk jika mereka berpapasan. Namun, sebagai pemilik modal, ia segera menguasai keadaan. Ia menarik sebuah kursi plastik, lalu duduk dengan anggun tanpa menunjukkan rasa bersalah. "Erni, karena kau rupanya sudah tahu segalanya dari Hino, sebaiknya kita duduk. Menangis tidak akan membuat perutmu kenyang, dan tidak akan menggugurkan kandungan di rahimku."

"Aku tidak sudi duduk di depan perempuan yang memamerkan dosa rahimnya seolah itu sebuah piala," sahut Erni, suaranya pelan namun menusuk. "Umurku dua puluh tujuh tahun, Irmi. Aku mungkin miskin, tapi aku tidak sebodoh yang kau kira. Kau pikir kau bisa menggunakan kehamilan dua bulanmu itu untuk membuatku angkat kaki dari sini?"

Hino melangkah ke tengah, mencoba menjadi pembatas di antara kedua wanita tersebut. "Erni, Irmi, tolong. Jangan biarkan emosi menghancurkan masa depan anak-anak kita."

"Masa depan anakmu yang mana, Mas?" Erni menoleh, menatap Hino dengan sorot mata sedingin es. "Anak dari istri sahmu yang harus membanting tulang menjadi pembantu panggilan, atau anak dari janda kaya pemilik minimarket ini?"

Irmi menghela napas panjang, bersandekap sambil menatap Erni dengan pandangan menilai yang dingin. "Realitanya, Erni, kau tidak punya uang sepeser pun di tabunganmu. Kau juga sedang hamil dua bulan, dan upah harianmu tidak akan cukup untuk biaya persalinan yang layak. Jika kau memilih ego dan menceraikan Hino sekarang, kau hanya akan luntang-lantung di jalanan bersama bayimu. Di rumah ini, aku yang memegang kendali atas isi perut kalian."

Linda yang sejak tadi menonton dari sudut koridor akhirnya melangkah maju, memecah konfrontasi itu dengan senyum sinisnya. "Skenario yang luar biasa, Irmi. Kau menggunakan jerat kemiskinan Erni sebagai rantai untuk mengikat suaminya. Riset perilaku sosialku tentang ketergantungan ekonomi di lingkungan urban benar-benar mendapatkan contoh nyata yang sangat sempurna hari ini."

Irmi berdiri, menatap Linda dengan pandangan mengancam. "Pulang ke kamarmu, Linda. Ini urusan rumah tanggaku. Jangan sampai aku mendatangi dekan di kampusmu dan menceritakan bagaimana seorang dosen menghabiskan waktu cutinya untuk mengintip urusan pribadi penghuni kosan."

Linda melebarkan senyumnya, tidak gentar sedikit pun. Ia berjalan mundur menuju tangga lantai dua, namun matanya tetap tertuju pada Hino. "Aku akan naik, Irmi. Tapi ingat, kesepakatan satu atap kalian tidak akan pernah tenang selama aku masih memegang catatan riset yang bisa membuat reputasi tokomu hancur di mata warga sekitar jika sampai bocor."

Setelah langkah kaki Linda menghilang di anak tangga atas, koridor bawah kembali senyap. Erni melangkah mendekati meja, menatap lurus ke mata Irmi yang masih berdiri menanti keputusannya dengan angkuh.

"Mas," panggil Erni tanpa menoleh pada Hino.

Hino mendekat dengan hati-hati. "Ya, Erni?"

Erni menarik napas dalam-dalam, mengunci pandangannya pada Irmi dengan keteguhan yang lahir dari keputusasaan yang matang. "Aku tidak akan pernah bercerai dari Hino. Enak saja aku pergi dan membiarkan kalian berdua hidup tenang menikmati keuntungan dari mesin kasir minimarket itu. Mulai besok, aku berhenti kerja panggilan. Dan kau, Irmi... pastikan seluruh biaya hidup dan persalinanku keluar dari toko waralaba milikmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!