NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 05

...~Meja Makan Siang Yang Panas~...

Suasana di meja makan lebih riuh dari biasanya. Radio kembali diputar menyiarkan berita terkini. Sesekali iklan pupuk dan pengobatan tradisional menyelip di antara siaran.

Piring-piring enamel telah dibagikan. Sayur lodeh, tempe goreng garing, sambal bawang, dan rica-rica tersaji dalam keadaan hangat.

Ibu Naira menuangkan air putih ke gelas-gelas yang diulurkan.

"Ayo makan."

Seolah sengaja, Naira memilih duduk tepat di seberang Arka.

Meja makan yang selama ini menjadi bagian dari rutinitasnya mendadak terasa asing.

Arka duduk di sana.

Masih mengenakan kaos yang sedikit basah oleh keringat. Wajahnya tampak lebih segar setelah dicuci di keran halaman. Rambut cepaknya juga masih lembap.

"Liatin Arka mulu."

Bisikan ibunya membuat Naira langsung menoleh.

"Enggak. Dia aja yang kebetulan duduk depan aku."

Ibunya menepuk pundaknya pelan.

"Panggil dia Mas."

Naira melirik ke arah Arka sesaat. Pria itu sedang mengambil nasi dan lauk, sama sekali tidak memperhatikan percakapan mereka.

"Kenapa?"

"Loh, jelas dia lebih tua."

Gadis itu hanya melirik sekilas ke ibunya.

"Kalau inget."

Naira tak ingin melanjutkan debat yang akan memojokkannya. Ia lebih dulu mengambil satu centong nasi, lalu menuang satu siur lodeh yang aroma ketumbar dan santannya tercium lembut.

Terakhir menambahkan tempe goreng garing serta satu sendok sambal bawang.

"Waduh, Yu. Lodeh buatanmu enak."

Ibu Naira terkekeh pelan mendengar pujian Seno.

"Bukan aku yang masak, calon mantumu."

Ia sengaja memberi penekanan pada dua kata terakhir.

"Enak lo, Nai."

"Makasih, Om."

Naira tersenyum sopan lalu kembali menyuap makanannya. Satu sendok penuh nasi, lodeh, dan potongan tempe garing.

Satu suapan itu cukup menggoyangkan lidahnya sesaat. Santan lembut terasa melicinkan tenggorokan.

"Mas Arka mau tambah nasi?"

Seolah tak ingin diam, Ibu Naira lebih dulu menawari pria itu.

Dengan sedikit rasa penasaran, Naira mengintip ke arah piring Arka yang hanya tinggal seperempat.

"Boleh, Bu."

Arka menyodorkan piringnya, membiarkan Ibu Naira bergerak layaknya penjual warung makan.

Satu centong penuh nasi.

Dua tempe goreng garing.

Satu setengah siur sayur lodeh.

Dan sambal bawang.

Naira memperhatikan Arka yang tertegun sesaat. Bahkan wajah pria itu mulai memerah.

"Arka sebenarnya enggak suka sambal, Yu."

Seno sudah lebih dulu melihat isi piring putranya.

"Ya ampun, gimana ini, Mas Arka."

Kepanikan Ibu Naira hanya dibalas senyum lembut.

"Gak apa-apa, Bu. Ini malah enak."

"Jelas enak. Ini yang masak Naira."

Naira yang sedang mengunyah langsung memelankan gerakan mulutnya.

Ia menoleh dengan gerakan kaku ke arah ibunya. Menatap wanita paruh baya itu cukup lama.

Ibuku sedari tadi seolah sedang menjualku.

"Kenapa, Nai?"

Ia hanya menggeleng pelan.

"Enggak apa-apa, Bu."

"Dulu Naira juga enggak suka sambal. Tapi entahlah, tiba-tiba sekarang suka."

Ibunya melirik ke arah putrinya.

"Sepertinya benar pepatah yang bilang kalau terbiasa pasti akan suka."

Deg!

Satu sindiran keras meluncur begitu saja tanpa halangan apa pun.

Seno yang sejak tadi menikmati makanan akhirnya tergelak bersama Ayah Naira.

"Ibu bisa saja."

"Iya, Yu. Dapat kata-kata dari mana?"

"Dari drama radio."

Ibu Naira terkekeh.

Sementara itu, Naira masih melanjutkan makan dengan kegugupan yang hampir tak bisa ditutupi.

Sejak tadi gadis itu hanya menunduk, berusaha menikmati makanannya. Meski beberapa detik kemudian matanya kembali beralih ke arah Arka.

Pria itu masih makan dengan beberapa peluh di dahinya. Wajahnya memerah. Bibirnya tampak berusaha menahan pedas.

Naira hanya mengangkat sudut bibirnya tipis.

"Dia aja sok kuat begitu," gumamnya lirih.

"Cuaca panas banget ini. Gimana kalau beli es degan?"

Ayahnya menyela setelah selesai makan.

"Iya. Beli degan kayaknya seger."

Seno menimpali dengan tenang.

"Gimana kalau kalian berdua? Ka? Nai?"

Pertanyaan itu membuat Naira hampir tersedak di tengah minumnya.

"Kenapa harus berdua?"

Protesnya datang lebih dulu.

"Ya, Bapak sama Om Seno mau beres-beres. Ibu juga mau beresin meja."

Naira melirik ke arah Arka yang tetap diam.

"Iya, gak apa-apa."

Pria itu menjawab santai.

"Gimana kalau Ar..."

Ucapannya menggantung ketika teringat perkataan ibunya beberapa saat lalu.

"Gimana kalau Mas Arka aja pergi sendiri?"

Senyuman langsung muncul di bibir dua pria paruh baya itu. Mereka saling lirik.

"Ya kasihan Mas Arka. Nanti bisa beli di tempat yang jauh."

Ayahnya menoleh ke arah Arka yang diam dengan wajah memerah. Pria itu tergesa meminum air putihnya.

"Kamu kan tahu tempat Mbak Retno yang jualan lotek."

Ayahnya tetap mencari alasan.

"Kan bisa ngasih tahu arahnya."

"Nanti si Arka kesasar. Dia baru pertama kali ke sini. Gak lucu kalau sampai nyasar ke ladang dekat bukit."

Naira mencebikkan bibir.

"Bu?"

"Berangkat aja. Ibu juga pengen es degan."

Ia mulai memperhatikan seluruh orang yang ada di meja itu.

Ayahnya meminum air putih dengan tenang.

Om Seno masih sibuk menyuap makanan sambil beberapa kali menahan pedas.

Sementara ibunya menatapnya garang.

"Bu?"

"Tinggal pergi."

"Naira bisa sendiri."

"Yakin? Panas begini? Biasanya aja minta dianter Ayahmu."

Bibir Naira langsung manyun.

Ia sebal menyadari bahwa semua orang di meja makan itu berada di pihak yang sama.

Tatapannya beralih ke Arka.

Pria itu tampak tenang sambil menyeruput cangkirnya.

Ayah Naira kemudian mengulurkan selembar uang.

"Ini uangnya."

Untuk beberapa saat Naira masih ragu.

Namun akhirnya ia mengembuskan napas panjang.

"Ya udah deh."

...----------------...

Tak butuh waktu lama, sepeda motor Arka melaju pelan melewati jalanan kampung yang dipoles semen dan bebatuan. Pepohonan di sisi kanan dan kiri jalan yang tadi pagi masih tampak lembap oleh hujan semalam kini terlihat lebih teduh.

Angin kemarau yang kering beberapa kali mengibaskan rambut Naira.

Gadis itu membonceng dengan bibir manyun. Satu tangannya berpegangan seperti tadi pagi, sementara tangan yang lain sibuk meremas ujung rok selututnya.

Ketika mereka melewati hamparan sawah, segerombolan petani yang baru pulang bekerja tampak berjalan beriringan di tepi jalan.

"Nai!"

Salah seorang dari mereka melambaikan tangan.

Jantung Naira langsung berdetak lebih kencang.

Namun Arka justru memelankan laju motornya.

"Dipanggil tuh."

Naira menatap tengkuk Arka sesaat sebelum akhirnya menoleh ke belakang dengan senyum ramah.

"Iya, Bu."

"Mau ke mana?"

"Mau beli es degan di dekat warung Mbak Retno."

"Oh..."

Wanita paruh baya itu berjalan mendekat bersama beberapa temannya.

"Ini siapa, Nai?"

"Anaknya Pak Seno."

Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya kepada Arka.

"Ganteng ya. Libur ya, Mas?"

Arka mengangguk samar.

"Iya, Bu."

"Kerja apa?"

"Tentara di barak kota."

Beberapa petani saling bertukar pandang sebelum tersenyum satu sama lain.

"Cocok ya sama Naira."

Wanita itu mengucapkannya begitu saja, seolah sedang membicarakan cuaca atau hasil ladang yang melimpah.

Naira merasa wajahnya langsung memanas di bawah teriknya siang itu.

"Kalau begitu saya permisi. Ayo, Mas."

Ia buru-buru mengakhiri percakapan.

"Jalan. Ayo jalan, Mas."

Tangannya bahkan sempat menepuk pelan pundak Arka.

Pria itu terdengar menahan tawa.

"Loh, kan belum dijawab."

"Ayo jalan!"

Kali ini nada suara Naira terdengar lebih cepat dari biasanya.

Arka akhirnya memutar gas dan kembali melaju pelan. Dari jarak sekian meter, samar-samar beberapa bisikan masih terdengar dari rombongan tadi.

"Cocok ya sama Naira."

"Ternyata anak Pak Seno."

Naira langsung menundukkan kepala lebih dalam.

Jemarinya semakin erat menggenggam ujung rok.

"Mas, pertigaan belok kiri. Nanti ada pertigaan lagi belok kanan. Warungnya di sisi kanan jalan."

"Baik."

Mereka kembali melaju dalam keheningan.

Arka tampaknya sama sekali tidak menyadari kegugupan yang sejak tadi memenuhi kepala Naira.

Atau mungkin pura-pura tidak menyadarinya. Pria itu bahkan masih melajukan sepeda motor dengan tenang setelah mendengar bisik-bisik rombongan tadi.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di warung.

Area di depan Warung Lotek Mbak Retno terlihat cukup ramai. Beberapa orang duduk mengobrol di tenda terpal bawah pohon waru.

Seorang wanita bergincu merah memperhatikan kedatangannya.

Ia berdiri di depan warung lotek begitu motor Arka berhenti.

Sambil tersenyum lebar seolah sudah menunggunya sejak tadi, wanita itu melambaikan tangannya.

"Nai."

...----------------...

1
NonaAns
🤭 tiba2 pengen batuk. uhuuuk uhuuukk
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!