Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
BAB 27: Ruang Steril dan Tanda Mutlak sang Penguasa
Zayn Dominic melangkah dengan ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat. Tangan kirinya mencengkeram erat jemari Elva Ileana, menuntun gadis itu membelah lorong gedung utama SMA Pelita yang mulai sepi karena jam istirahat baru saja dimulai. Pegangan tangan Zayn begitu kokoh, mencerminkan ego dan sisa ketegangan yang masih membakar dadanya setelah konfrontasi dengan Christian Narendra di kelas IPS-1 tadi.
Zayn berhenti di depan sebuah pintu kayu jati solid di ujung koridor lantai dua. Plat kuningan di atas pintu itu menegaskan fungsionalitas ruangan: "Ruang Ketua OSIS". Tempat ini adalah wilayah teritorial mutlak milik Zayn. Di sekolah ini, tidak ada satu pun murid atau bahkan pengajar yang berani lancang masuk ke ruangan ini jika tirai jendela sudah diturunkan.
CEKLEK.
Zayn membuka pintu, mendorong Elva masuk dengan perlahan, lalu segera mengunci kembali slot pintu tersebut dari dalam. Dengan gerakan efisien, dia menarik tali tirai gulung berwarna abu-abu, menutup rapat kaca jendela besar yang menghadap langsung ke selasar luar. Ruangan luas bernuansa monokrom itu seketika terisolasi dari dunia luar. Hanya ada meja kerja besar dengan tumpukan dokumen rapi, sofa kulit premium hitam, dan aroma maskulin khas perpaduan mint serta kayu cendana yang menguar kuat dari tubuh Zayn.
Zayn meletakkan tas sekolah Elva di atas meja kerja, lalu berbalik. Rahang tegasnya masih mengeras sempurna. Sifat protektif dan kepemilikan yang ekstrem membuat atmosfer di dalam ruangan terasa begitu pekat.
"Zayn... mukanya jangan kaku begitu. Aku sudah di sini," ucap Elva lirih, mencoba memecah ketegangan. Dia melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam manik mata elang Zayn.
Zayn tidak langsung menyahut. Dia maju dua langkah, meraih pinggang mungil Elva dengan kedua tangan kekarnya, lalu menarik tubuh gadis itu tanpa banyak bicara.
Zayn mendudukkan dirinya di atas sofa kulit, memaksa Elva untuk ikut duduk di atas pangkuannya dalam posisi menyamping.
"Ini masih di sekolah, Zayn. Kalau ada yang mengetuk pintu bagaimana?" cicit Elva. Wajah polosnya mendadak merona merah karena jarak mereka yang terlalu intim. Kedua tangannya refleks bertumpu pada bahu tegap Zayn yang kokoh untuk menyeimbangkan tubuh.
"Pintu sudah dikunci. Leo dan yang lain tahu aturan kalau tirai sudah turun," jawab Zayn rendah. Suara baritonnya terdengar dalam dan serak.
Zayn menatap wajah Elva dengan intensitas yang menghanyutkan. Kedua telapak tangannya yang hangat bergerak naik, membingkai wajah polos Elva dan mengusap tulang pipinya dengan perlahan menggunakan ibu jari. Kilat mata elang Zayn meredup, pekat oleh rasa cemburu yang masih tersisa akibat provokasi Christian tadi siang. Zayn tidak menyukai bagaimana murid pindahan London itu menatap Elva, dan dia jauh lebih tidak menyukai fakta bahwa aturan kelompok kelas sempat menempatkan cowok itu di sebelah gadisnya.
"Gue nggak suka anak baru itu duduk di sebelah lo," ucap Zayn jujur, tanpa basa-basi yang berlebihan.
"Gue nggak suka cara dia mencari celah buat mendekat."
Elva menatap mata Zayn, menangkap kecemasan terselubung di balik arogansi sang penguasa sekolah. Sifat posesif cowok di depannya ini selalu terasa begitu dominan, namun Elva tahu itu adalah bentuk perlindungan paling nyata yang pernah dia miliki setelah keluar dari kegelapan masa lalunya.
"Christian cuma menjalankan tugas dari guru, Zayn. Aku sama sekali tidak menanggapinya," balas Elva tenang, mencoba menyalurkan kepastian lewat tatapan matanya yang murni.
"Di sini... aku cuma melihat kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
Mendengar kalimat lugas dari Elva, sisa amarah di dada Zayn seketika mereda, digantikan oleh dorongan kepemilikan yang jauh lebih dalam dan menuntut.
"Gue pegang kata-kata lo," bisik Zayn serak.
Cengkeraman tangan Zayn di tengkuk Elva perlahan mengencang, mengunci posisi kepala gadis itu agar tidak bisa bergerak mundur. Zayn memajukan wajah tampannya, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir manis Elva.
Sentuhan pertama itu terasa begitu hangat dan penuh penekanan. Zayn tidak memberikan jeda sedikit pun; dia langsung memagut belahan bibir Elva dengan intensitas yang dalam, mengecap rasa manis yang selalu berhasil membuatnya dominan. Pagutan itu terasa begitu menuntut, meluluhkan seluruh pertahanan Elva dalam hitungan sekon hingga jemari tangan kecil gadis itu meremas kuat kaos oblong hitam yang dikenakan Zayn.
Di tengah pagutan yang kian memanas dan mengikat tersebut, Zayn menjauhkan wajahnya hanya beberapa milimeter. Napasnya yang memburu panas berembus langsung menerpa bibir Elva yang sudah memerah dan sedikit merekah.
"Buka bibir lo, Elva," perintah Zayn, suaranya terdengar begitu rendah, serak, dan sarat akan otoritas yang kaku. "Keluarin lidah lo."
Elva yang sudah terhanyut sepenuhnya dalam dekapan tegap Zayn hanya bisa menurut pasrah. Dia perlahan membuka sedikit belahan bibirnya dan membiarkan ujung lidahnya keluar, menyerahkan kendali seutuhnya kepada cowok di depannya.
Begitu mendapat akses mutlak, Zayn kembali merapatkan bibir mereka tanpa celah. Ciuman itu berubah menjadi jauh lebih dalam, basah, dan intim. Lidah Zayn langsung menyambut, membelit, dan menyapu rongga manis Elva dengan dominasi yang luar biasa kuat namun tetap memiliki ritme yang memabukkan. Elva melenguh pelan di sela-sela ciuman mereka, kedua lengan kecilnya bergerak naik melingkari leher tegap Zayn erat-erat, membiarkan seluruh akal sehatnya hilang di dalam ruang pribadi yang terkunci rapat tersebut.
Setelah pagutan panjang yang menuntut itu mereda, Zayn perlahan menurunkan kecupannya dari bibir Elva. Jari-jari tangannya bergerak menyibak rambut hitam panjang Elva yang tergerai di bahu, menyingkirkannya ke satu sisi untuk mengekspos leher putih bersih gadis itu seutuhnya.
Napas Zayn yang panas menerpa kulit leher Elva, membuat tubuh mungil gadis itu refleks meremang halus. Zayn memajukan bibirnya, menempelkannya di area sensitif di bawah telinga Elva. Dia mulai menghisap dan menggigit kecil kulit lembut tersebut dengan tekanan yang pasti, menyalurkan seluruh ego kepemilikannya ke dalam satu tindakan fisik yang intens.
"Ah... Zayn..." Elva melenguh tertahan, mencengkeram bahu kokoh Zayn saat merasakan sensasi hisapan yang kuat di lehernya.
Zayn tidak berhenti. Dia memberikan beberapa hisapan dalam di tempat yang sama selama beberapa detik hingga kulit putih itu berubah warna menjadi kemerahan pekat yang kontras. Setelah merasa puas, Zayn menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mahakarya tanda merah (kiss mark) yang baru saja dia buat di leher Elva. Tanda itu berada tepat di sebelah rantai kalung perak mereka, sebuah simbol visual yang mutlak bagi siapa saja yang berani menatap Elva bahwa gadis ini sudah dimiliki seutuhnya oleh seorang Zayn Dominic.
"Sekarang semua orang bakal tahu lo punya siapa," desis Zayn rendah, senyuman tipis yang penuh kemenangan dan kepuasan mutlak akhirnya terukir di wajah tampannya. Dia mengusap tanda merah itu dengan ibu jarinya yang hangat secara lembut.
Elva meraup pasokan udara dengan napas yang masih terengah-engah, menyandarkan kepalanya yang lemas di atas dada bidang Zayn. Wajah polosnya sudah merah sempurna karena malu sekaligus terhanyut oleh intensitas kepemilikan cowoknya yang begitu ekstrem siang ini. Dia menyentuh tanda di lehernya dengan jemari yang masih sedikit bergetar, namun tidak ada penolakan di matanya.
Zayn menarik tubuh mungil Elva kembali ke dalam dekapan hangatnya, memeluk pinggang gadis itu erat-erat sambil mengelus rambut panjangnya dengan telaten.