NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KHAWATIR

Di paviliun Bintang, Pangeran Arlon dan Elena sudah berbaring di atas ranjang yang sama, tapi sudah lebih dari lima belas menit, tidak ada percakapan diantara mereka berdua.

"Elena," panggil Pangeran Arlon pelan.

"Apa lagi?" tanya Elena, melirik Pangeran Arlon dengan ekor matanya.

"Besok, saat kamu bertemu Selena, jangan pernah takut, karena jika dia berani menyentuhmu, aku sendiri yang akan meratakan istana ini malam itu juga, meski aku harus terbunuh sekalipun, setidak nya penawar ku, aman," ucap Pangeran Arlon, melirik Elena sekilas.

"Terimakasih untuk malam ini Elena, dan terimakasih sudah sudi masuk ke dunia ku..." lanjut Pangeran Arlon, lirih.

Elena hanya diam, namun ada sedikit rasa hangat yang tidak biasa menjalar di dadanya mendengar ucapan posesif suaminya itu.

"Simpan bicaramu untuk besok, Pangeran. Sekarang, tidurlah, aku tidak mau jadi janda secepat itu," ucap Elena, memunggungi Pangeran Arlon.

Pangeran Arlon tersenyum kecil, sambil menatap langit-langit kamarnya nya, dia juga tidak protes, walaupun Elena melepaskan genggaman tangan mereka.

"Ibunda, sekarang aku sudah menikah dan memiliki istri, dia perempuan yang baik, sama seperti mu, ya walapun cukup galak," batin Pangeran Arlon, tersenyum dengan bibir pucat nya._

"Uhuk...uhuk..."

Pangeran Arlon terbatuk-batuk, dan mencoba bangkit, duduk bersandar di kepala ranjang nya, baginya rasa sakit di dada nya, sudah terbiasa.

Sementara Elena, dia sebenarnya belum tidur, Elena mendengar suara batuk Pangeran Arlon, tapi dia berusaha mempertahankan pendirian nya, dirinya tidak boleh lemah dan tidak boleh kasihan.

"Uhuk...uhuk...uhuk..."

Batuk Arlon terdengar semakin parah, Elena masih berusaha untuk memejamkan mata erat-erat, sementara tangan nya mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya.

"Sial, dia benar-benar berisik," gumam Elena pelan, meskipun sebenarnya hatinya mulai tidak tenang dan khawatir.

Uhuk! Uhuk!

Elena menyerah, dia mendengus kesal lalu membalikkan tubuhnya dengan kasar.

Hal pertama yang Elena lihat, dia melihat Pangeran Arlon yang sedang duduk bersandar, telapak tangannya menutupi mulut, dan di sela-sela jarinya, Elena bisa melihat noda merah yang merembes.

"Bisa diam tidak? Aku sedang mencoba tidur," ucap Elena ketus, sambil bangkit duduk di samping Arlon.

Pangeran Arlon menoleh, matanya terlihat sayu dan bibirnya semakin memucat, tapi dia masih mencoba tersenyum.

"Maaf... uhuk... sepertinya paru-paruku tidak setuju dengan rencanamu untuk tidur tenang," ucap Pangeran Arlon, dengan suara parau.

Tanpa banyak bicara, Elena meraih tangan Arlon, menggenggam jemari pria itu dengan erat.

Seketika, getaran hangat itu kembali mengalir, dan batuk Arlon perlahan mereda. Napas pria itu yang tadinya tersengal, kini mulai teratur kembali.

"Sudah kubilang, jangan dilepas," bisik Arlon pelan, kepalanya perlahan terkulai lemas ke bahu Elena.

Elena membeku, tubuhnya menegang saat merasakan berat kepala Pangeran Arlon di bahunya, ini adalah pertama kalinya ia bersentuhan sedekat ini dengan pria tanpa ada niat untuk mematahkan lehernya.

Elena ingin menolak, tapi hatinya berkata lain.

"Hei, Pangeran! Jangan ambil kesempatan ya. Aku memegang tanganmu agar kamu tidak mati dan membuatku repot, bukan agar kamu bisa menjadikanku bantal," protes Elena, meskipun ia tidak mendorong Arlon menjauh.

Pangeran Arlon terkekeh lemah, matanya terpejam menikmati kehangatan yang mengalir dari tubuh Elena.

"Sebentar saja, Elena, hanya sampai rasa perih di dadaku hilang. Kamu tahu, bau tubuhmu lebih menenangkan daripada semua obat pahit yang para tabib berikan pada ku..." bisik Arlon, pelan.

Elena memutar bola matanya, meski pipinya terasa sedikit panas.

"Bau tubuhku? Itu bau darah dari mayat-mayat tadi," ucap Elena, menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Mungkin itu sebabnya aku suka, kita sama-sama hidup di antara darah dan kematian. Bedanya, kamu yang melakukannya, dan aku yang menerimanya," gumam Arlon lirih.

Mendengar itu, pertahanan Elena sedikit luluh, dua melihat wajah Pangeran Arlon dari samping. Pria ini sangat tampan, namun garis-garis penderitaan terlihat jelas di wajahnya.

Ada rasa iba yang mulai menyelinap di antara dinding pertahanan hati Elena sebagai seorang pembunuh.

"Kenapa kamu tidak kabur saja dari sini? Setidak nya kamu tidak perlu di cekokin racun setiap hari," tanya Elena, suaranya kini sedikit lebih lembut.

Pangeran Arlon membuka matanya sedikit, menatap ujung kaki mereka yang tertutup selimut.

"Lalu membiarkan Selena menang? Tidak, Elena. Ibuku meninggal karena wanita itu, dia merampas segalanya dariku, jika aku pergi, aku hanya akan menjadi pengecut yang menunggu ajal di tempat lain," ucap Pangeran Arlon, dengan rahang mengeras.

"Aku harus mendapatkan keadilan untuk ibu ku. Akan aku pastikan Selena akan hancur, seperti dia menghancurkan hidup ibuku," lanjut Pangeran Arlon, penuh kebencian

Elena terdiam, dia mengerti rasa dendam itu. Di dunianya, dendam adalah bahan bakar untuk tetap hidup.

"Lalu apa rencanamu? Aku yakin, besok aku akan diseret ke hadapan wanita tua itu, kamu pikir dia akan percaya dengan cerita ku?" tanya Elena lagi.

Pangeran Arlon mengangkat kepalanya dari bahu Elena, menatap mata gadis itu dalam-dalam.

"Dia tidak perlu percaya, dia hanya perlu merasa ragu. Selama dia curiga ada kekuatan besar yang melindungiku dari balik bayangan, dia tidak akan berani bertindak gegabah secara terang-terangan," jawab Pangeran Arlon, menatap Elena.

Arlon meraih tangan Elena yang satu lagi, menangkup kedua tangan mungil itu di dalam genggamannya.

"Elena, besok dia pasti akan mencoba menekan mu. Dia mungkin akan menawarkan emas yang lebih banyak dariku," ucap Pangeran Arlon, dengan pelan.

Elena menyeringai miring, kembali ke sifat aslinya yang angkuh.

"Emas? Dia pikir aku semurah itu? Aku sudah mengambil emas dari pria berjubah yang mengirim ku. Seorang pembunuh bayaran tidak akan mengkhianati kontraknya hanya karena sedikit gertakan dari wanita tua," ucap Elena, tersenyum miring.

Pangeran Arlon tersenyum lebar, kali ini senyumnya terlihat tulus.

"Itu istriku. Galak, tapi punya prinsip," ucap Pangeran Arlon, merasa ada sesuatu yang menggelitik perut nya.

"Sekali lagi kau panggil aku istriku dengan nada itu, aku akan memastikan sentuhanku berikutnya adalah tusukan belati di lehermu," ancam Elena, meski dia tidak menarik tangannya dari genggaman Arlon.

Pangeran Arlon tidak marah, justru dia tertawa kecil, lalu perlahan dia merebahkan tubuhnya kembali, menarik Elena agar ikut berbaring di sampingnya tanpa melepaskan kaitan jemari mereka.

"Tidurlah, Elena. Malam ini kita berbagi nyawa, karena besok kita akan mulai menghancurkan mereka satu per satu," ucap Pengeran Arlon pelan sebelum akhirnya dia benar-benar jatuh terlelap karena kelelahan.

Sementara Elena, dia masih terjaga, menatap langit-langit paviliun yang bolong, mendengarkan suara napas teratur Arlon di sampingnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak merasa sendirian di tengah kegelapan, sekarang dia bukan hanya punya misi, tapi dia memiliki nyawa Arlon.

"Dasar pangeran merepotkan," gumam Elena tersenyum kecil, sebelum akhirnya ikut memejamkan mata, membiarkan tangannya tetap bertautan dengan tangan sang naga yang baru saja terbangun itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!