NovelToon NovelToon
Jangan Sentuh Anak-anakku

Jangan Sentuh Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.

Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.

Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya

Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??

Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis

Silahkan dukung kami🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diam itu Emas

Kepala sekolah menatap Melisa dengan kesungguhan, dia tahu setelah ini pekerjaannya akan dipertaruhkan tapi dia sudah tidak peduli, perkataan ibunda Umar itu benar adanya, dia sebagai kepala sekolah harusnya bersikap adil dan profesional.

"Kami tidak lupa siapa anda Bu, hanya saja putra anda memang bersalah, selama ini kami berusaha memaklumi tetapi untuk kali ini tidak bisa, jika sampai ibunda Umar melaporkan semua ini maka bukan hanya nama ibu tapi sekolah dan kami para tenaga pendidik yang ada disini ikut terseret".

Salah satu guru kini maju mendampingi kepala sekolah, seorang operator yang bertugas mengurus informasi data anak didik dan juga guru kini ikut angkat bicara.

"Yang dikatakan kepala sekolah benar Bu, setidaknya jika kami nanti dikeluarkan atau dapat masalah kami membela yang benar dan kehormatan sebagai tenaga pendidik itu bisa kami tetap tanamkan, bukan hanya semata-mata takut ancaman, kali ini kami akan menindak tegas putra ibu".

Melisa mengepalkan tangannya menahan amarah, para guru dan kepala sekolah kini mulai menyerang dirinya karena perlawanan dari salah satu orangtua murid karena selama ini biar anaknya nakal seperti apapun mereka tidak ada yang berani melawannya hanya ibunda Umar saja yang pertama kali seperti ini

"Ibu Umar akan kuberi pelajaran, kalian pikir kalian akan lolos jika berani melakukan ini pada putraku ??". Desisnya dengan tajam.

Urat-urat pada lehernya ikut menyembul karena amarahnya, tangannya mengepal erat hingga kukunya memutih.

Kepala sekolah menggelengkan kepalanya pelan, perempuan ini memang selalu bertindak seenaknya saja.

"Ibunda Umar bukan orang yang suka berbicara omong kosong Bu Melisa, dia tidak pernah berbohong jika dia akan melakukan sesuatu, ibu tidak tahu saja jika dia memiliki koneksi, dalam biodata Umar, ibunya seorang lulusan sarjana S2 Ekonomi dsn seorang pengacara sebelum dia menikah dan sekarang adalah pengusaha dan almarhum ayahnya seorang tentara sekaligus sarjana hukum, jadi dia sangat tahu apa yang tadi dia ucapkan kepada anda".

Melisa mundur satu langkah tidak menyangka dengan apa yang didengarnya itu.

"Sedangkan ibu Ukasyah sang sepupu Umar orang tuanya juga seorang tenaga pendidik yang merupakan PNS dan juga Polisi mereka keluarga terpelajar Bu, tapi mereka hidup dalam kesederhanaan dan tidak menonjolkan apa yang mereka miliki bahkan mobil yang digunakan oleh ibunda Umar itu hanya salah satunya, mereka memiliki 3 buah mobil dirumah".

Dia sangat tahu bagaimana kehidupan dirumah Umar itu karena dia pernah kerumah sang murid saat ayahnya meninggal dunia.

"Itu tidak mungkin, mereka hanya orang-orang miskin, kalian hanya berusaha membela mereka". Bentak Melisa dengan suara menggelegar.

Dia masih tidak bisa menerima kenyataan yang ada didepan matanya, anaknya tidak mungkin membully orang yang salah dan golongan kaya.

"Terserah apa kata ibu, jika ibu berani melakukannya maka bersiaplah untuk berhadapan dengan ibu Nurbiah karena beliau pasti akan merealisasikan apa yang dia katakan tadi".

Mereka segera segera masuk keruang kepala sekolah untuk merundingkan hukuman apa yang pantas untuk Romi yang selalu membully orang lain.

"Aku tidak akan tinggal diam, kalian semua akan menerima akibatnya jika berani menghukum putra saya".

Guru BK yang akan masuk terakhir akhirnya berbalik dan melihat kearahnya dengan mata tajam.

"Putra anda akan diskorsing dalam waktu lebih dari tiga Minggu dan pastikan anda mengajari dia tentang pentingnya menghargai orang lain siapapun itu, karena untuk kedepannya kami tidak akan lagi menutup mata atas sikapnya yang suka bertindak seenaknya dan suka menghina orang lain".

"Dan jika dia tidak berubah sama sekali, kami akan mengeluarkan dirinya dari sekolah sekalipun anda donatur tetap sekolah ini".

Ibunda Romi itu mematung dengan wajah yang sangat merah sampai ke telinganya karena amarah yang meluap.

"Oh iya dan satu lagi, bukan cuma anda yang jadi donatur sekolah ini karena ayah dari Umar juga adalah donatur tetap sekolah ini sebelum meninggal".

Dia meninggalkan Melisa yang hampir saja menjatuhkan tubuhnya karena takut akan kemungkinan terburuk, suaminya pasti akan mengamuk jika tahu apa yang dilakukan putranya selama ini karena suaminya tidak pernah tahu kelakuan anaknya.

"Jika sampai Romi ketahuan oleh ayahnya, aku akan dalam masalah besar, aku harus mencari cara agar hukuman itu tidak diberikan".

Sedangkan Biah beserta ketiga anaknya kini telah sampai dimobil yang disambut oleh ketiga anaknya yang lain.

"Loh bunda, wajah kak Umar dan kak Ukasyah kenapa biru-biru?". Tanya Uwais dengan khawatir.

Dia segera mendekati sang kakak kemudian memeriksa keadaan sang kakak.

"Benar Bunda, kok wajah kak Umar dan kak Ukasyah seperti itu?". Kini sang anak angkat perempuan bernama Asma bertanya.

Biah tidak menjawab, dia menurunkan Aminah kecil yang berada dalam gendongan bayi ketempat duduk bayi yang tersedia didalam mobil.

Setelah itu dia hanya melihat ketiga anaknya seakan memberi kode untuk menyuruh mereka masuk kedalam mobil karena mereka akan pulang ketempat jualan sebelum pulang kerumah.

Ketiganya hanya bisa menunduk karena wajah bunda mereka sedang tidak enak dipandang, apalagi pertanyaan dari kedua adiknya tidak dihiraukan sama sekali oleh sang bunda.

Sesampainya ditempat usaha mereka, sang bunda tetap saja diam dan mengambil sang adik untuk ditaruh kedalam box karena akan ditidurkan.

"Kalian tetaplah disini, bunda akan menutup warung secepatnya". Ucapnya dengan suara datar

Mereka hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan suara mereka, mereka seakan tahu jika bunda mereka menahan amarah.

Melihat sang bunda telah membuka warung mereka karena tadi menutupnya, dan warung mereka kembali ramai karena ini adalah jam makan siang.

"Kak kalian berdua kenapa?, kok wajah kalian bisa seperti itu?". mereka kembali bertanya kepada sang kakak karena sangat penasaran.

Ketiganya hanya bisa menghela nafas, adik-adik mereka memang seperti itu jika penasaran dan tidak mereka jawab, mereka akan terus bertanya-tanya.

" Tadi kami dikeroyok dek, makanya kami berkelahi dan parahnya tadi bunda juga ikut bertengkar dengan ibu dari pembully kami tadi itu".

Mata ketiganya melebar sempurna, bunda mereka itu tidak akan pernah marah jika apa yang dilakukan oleh orang itu tidak keterlaluan tapi jika seperti yang dikatakan kakaknya maka bunda mereka pasti sangat marah sampai dia tidak mengatakan apapun sejak tadi.

"Pantas saja bunda seperti itu, dia sedang marah tapi tak mau melampiaskannya pada kita".

"Lebih baik kita tidak usah banyak bertanya pada bunda setelah ini, biarkan bunda hilangkan amarahnya dulu baru kita tanya, takutnya bunda lepas kendali dan melampiaskannya pada kita".

Mereka semua mengangguk, walau bunda mereka tidak akan marah tapi jika beliau tidak bisa mengendalikan emosinya biasanya dia akan memarahi mereka habis-habisan.

"Terus bagaimana keadaan orang yang membully kalian?".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!