Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Masa TK yang Absurd
Setelah kejadian itu, Ibu semakin protektif terhadap Gua, terutama masalah kesehatan, perhatian yang selama ini Gua rindukan terpatri dengan jelas di ingatan Gua, keseharian Gua seperti biasa, baca buku dan tak lupa sesekali melukis secara diam-diam, kadang lukisan Gua kumpulin buat di bikin semacam album, terlihat perkembangan lukisan Gua semakin berbeda dari hari ke hari, namun suatu hari
Sehari sebelumnya
"hmm ini kurang arsir dikit"
"ini juga garisnya ada yang lebih"
"nah kan jadi juga hihihi"
ucap Gua sambil sedikit mengacak-acak gambaran yang terasa kurang, saat asik mengacak-acak gambaran tersebut bersinar memancarkan cahaya emas menyilaukan, Kebetulan yang aneh Gua mau ngelukis pakai tangan kiri, biasanya tangan kanan selalu jadi andalan. Di titik tersebut Gua sempat menyipitkan mata Gua, dan terlihat jelas seekor beruang yang Gua gambar tengah bergerak
"apa ini dunia nyata?? wah cukup indah juga ya"ucap gambar beruang tersebut, terlihat imut dan menggemaskan di mata Gua, saat tatapan kami bertemu ia mendekat kemudian menyentuh tanganku,
"wah! apa kamu yang membuat ku? nampak nya aku yang pertama disini"ucapnya aku masih terdiam membisu menatap sosok gambar yang begitu nyata dimata ku, suara ku tercekat, namun masih sanggup untuk menjawab sapaan,
"ka...ka... ka...kamu si...si...si...siapa?"ucap Gua tergagap, pertama kalinya melihat imajinasi yang Gua gambar hidup di depan mata Gua, ia menatap ku sambil tersenyum, namun masih terlihat kaku
"tenang nona saya imajinasi yang nona buat, saya belum punya nama nona"ucap beruang tersebut
Gua terdiam sejenak, mengusap kedua mataku, memastikan bahwa ini bukan mimpi, namun saat mata Gua nggak sengaja melihat tangan kiri Gua yang nampak bersinar cahaya ke emasan tak lupa dengan ukiran bahasa rumit, Gua terpaku, namun akhirnya sadar jika keanehan ini bisa terjadi karna tangan kiri Gua, Gua kemudian mengambil kertas kemudian menggambar kucing berwarna hitam dengan mata coklat ke emasan, detik kemudian setelah Gua ngegambar kucing tersebut, kucing itu keluar dari gambar menampakkan sosoknya yang anggun, hal tersebut membuat Gua kagum
"kalo Gua gambar naga apa bisa ya"
"jangan deng kalo Gua gambar itu malah bisa gawat nih rumah"
monolog ku, saat tengah asik berfikir keduanya menyadarkan ku kucing hitam tersebut hinggap di atas kedua pahaku, kemudian ia tertidur, beruang yang melihat hal itu marah
"hey pemalas kau menyusahkan tuan, apa kau tidak ada pekerjaan lain??"ucap beruang tersebut
Note: Author lupa deskripsiin si beruang, btw itu beruang nya masih kecil ya gess mungkin setingi beruang kecil pada umumnya, mata warna hitam obisidian, dengan bulu kecoklatan, oke segitu dulu lanjut
kucing tersebut menatap sejenak si beruang kemudian berkata "diam kau gendut! mulut mu terlalu berisik"ucap kucing itu, Gua yang merasa jengah dengah tingkah keduanya berkata
"udah cukup, kalian kok bertengkar sih, duh, oke untuk kamu beruang, nama kamu Tedy, dan kamu kucing nama kamu Kuro"ucap Gua sambil menatap mereka satu persatu, lalu tangan kanan ku terus mengelus bulu halus Kuro, Tedy yang tampak cemburu, mendekat kemudian kepalanya mengusel-usel pipiku, seperti ingin meminta untuk di elus, melihat tingkah Tedy Gua tersenyum, lalu mengelus pucuk kepala mereka, namun saat asik mengelus keduanya, suara ibu terdengar jelas
"Lana! kamu dimana, ada yang mau bunda bicarain ke kamu"ucap ibu terdengar langkah kaki mendekat ke arah kamar Gua.
Hal tersebut membuat Gua panik setengah mati, namun yang bikin Gua terkejut, Tedy dan Kuro masuk kembali ke dalam kedua kertas yang Gua gambar sebelumnya, keterkejutan Gua belum selesai terdengar langkah kaki ibu semakin dekat lalu dengan cepat Gua pura-pura gambar sesuatu namun tetap menyembunyikan bakat asli Gua. Saat ibu masuk ia melihat Gua tengah menggambar abstrak namun dengan tangan kanan takutnya kalo pakai tangan kiri gambar tersebut bisa keluar takut ibu serangan jantung, ibu mendekatkan tubuhnya ke arah Gua, berjongkok kemudian mengelus kepala Gua dari belakang,
"Lana sayang bunda cariin kamu kemana aja ternyata disini, lagi asik gambar ya?"tanya ibu dengan tutur kata yang lembut terdengar damai di telinga Gua, Gua berbalik lalu tersenyum manis sambil berkata
"iya bu Lana lagi ngegambar, mencoba hal baru"ucap Gua menunjuk hasil gambaran Gua kepada ibu. Ibu tersenyum melihat gambaranku, abstrak namun terlihat seni yang tak tergantikan, namun matanya melirik dua gambar di kedua kertas yang berada di belakangku, matanya terpaku, seketika perasaan panik membanjiri Gua, haduh apa ketahuan lagi? mau pakai alasan apa lagi ini. karna terlihat gambar tersebut sangat mirip dengan aslinya ia tertawa seakan Gua saat ini meniru gambar itu, syukurlah ibu menebak Gua tengah meniru kertas Gambar tersebut, ia kemudian mengambil kedua kertas tersebut hendak menyimpan namun di tahan oleh Gua,
"bu gambar ini Lana aja yang simpan ibu tak perlu simpan, boleh ya"ucapku sambil memelas berharap ibu bisa terbujuk dengan rayuan Gua, ibu tersenyum kemudian berkata
"ya sudah kalo Lana ingin sekali menyimpan kedua gambar ini, bunda nggak ngelarang kok, tapi bunda peringati sekali lagi, sehabis gambar jangan lupa kamu beresin ya, oke?"ucap ibu sambil mengelus pucuk kepala Gua, Gua terdiam sejenak lalu menjawab
"okey bu"ucap Gua sambil bersikap hormat ala militer, ibu terkekeh melihat kelakuan ku lalu kemudian berkata serius
"Lana, kamu sekarang udah beranjak dewasa, bunda mau kamu masuk TK, Lana maukan?"ucap Ibu meminta persetujuan Gua, Gua berfikir sejenak kemudian berkata
"Lana boleh bawa gambar ini kan bu"ucap Gua sambil menunjukan kedua gambar yang tak lain Tedy dan Kuro, ibu tersenyum kemudian berkata
"Lana boleh kok bawa itu, minggu depan Lana masuk TK, bunda harap lana jangan nakal ya disana, dengerin kata guru"ucap ibu, Gua mengangguk paham kemudian ibu pergi berlalu ke arah dapur menyiapkan makan siang yang sebentar lagi akan datang
setelah kepergian ibu Tedy dan Kuro keluar dari kertas tersebut, terlihat mereka menyapa Gua, Gua bertanya tanya kenapa bisa mereka keluar masuk dalam kertas gambar tersebut, mereka memberi penjelasan jika apa yang Gua gambar dengan tangan kiri yang terukir ukiran rumit tersebut, maka akan bisa hidup dan berkomunikasi layaknya mereka berdua, dan untuk alasan keluar masuk tersebut masih misteri
***
Kembali ke masa sekarang
Saat ini Gua sibuk menyiapkan beberapa peralatan untuk ia masuk TK, ia menyiapkan beberapa buku gambar, tak lupa buku yang ia pinjam dengan Teijo ayahnya Alvin, setelah menyiapkan beberapa peralatan sekolahnya, Ibu datang membawa kotak bekal tak lupa botol 1000ml stenlis berisi air susu bubuk yang di seduhnya dengan suhu yang hangat, ibu meletakan kotak bekal di dalam tasku, terpisah dari beberapa buku yang ada di dalam dan, botol stenlis di sebelah kiri tempat biasa menaruh botol minum, di sebelah kanan terdapat air putih untuk ku, saat sudah siap semuanya di bantu oleh ibu, GUa pergi bersama Yura dan Alvin tak lupa di anter bersama ibu maupun ayah mereka masing-masing.
Karna jarak TK tak jauh dari rumah berada sekitar 4 Kilometer dari rumah, berjalan kaki menghabiskan waktu sekitar 20-40 menit, jalanan pagi sangat lah ramai dengan beberapa pejalan kaki dan motor yang berlalu lalang di jalanan kota, sesekali Gua berhenti istirahat sedikit, keasikan gambar lupa sama stamina, sepertinya nanti Gua harus melatih tubuh lemah ini. TK Kusuma bangsa, sekolah yang bernaung di bawah SMP dan SMA dengan nama yang sama namun berbeda di beberapa tempat di kota palembang, banyak pedagang keliling menyajikan berbagai kuliner lokal dan jajanan mereka, terasa nostalgia bagi Qirana sebab di masa depan jajanan ini akan tidak ada alias sudah punah dimakan oleh zaman.
saat sampai di gerbang depan TK Kusuma bangsa, terlihat anak-anak bermain di sekitaran sekolah, dan terdapat beberapa guru yang membimbing anak-anak, mata Gua seketika berbinar cerah, Gua tidak bisa membayangkan kembali lagi memasuki masa TK, namun ia ingat tujuan awalnya untuk berubah, mulai dari bersosialisasi, mungkin ini terdengar sulit namun Gua akan berusaha. sesampai di depan kelas, kami berpamitan, terlihat ibu nampak sedih, namun bangga anaknya ini bisa sekolah layaknya anak-anak pada umumnya, Yura nampak menangis seperti tidak ingin pisah dengan ibunya namun guru sudah membimbing mereka masuk, Alvin melambaikan tangannya ke arah ibunya dan perpisahan singkat mereka berlangsung dengan baik, meski terlihat dramatis terutama pada Yura yang sampai menangis tersedu-sedu.
***
Gua menatap sekeliling terlihat kelas yang bernuansa anak-anak, beberapa teman sebaya Gua duduk di tempat mereka masing-masing, Yura duduk bersama Alvin, dan Gua duduk di pojokan suduk kanan, hanya sendirian tanpa adanya teman, disitu Gua menghela nafas pasrah, tapi saat Gua ingin mengambil buku, ada satu Murid baru nampak terlihat jika murid tersebut bukanlah orang asli disini,
"anak-anak sebelum itu perkenalkan murid baru pindahan dari Bandung"ucap guru sambil mempersilahkan anak tersebut memperkenalkan dirinya, Murid tersebut mengangguk terlihat ia masih malu-malu, Gua cukup tertegun melihat matanya, mata heterochromia satu Hijau zamrud, satunya lagi amber,
"Perkenalkan... nama ... aku .... Erin"ucap anak perempuan tersebut"semua murid menjawab sapaan Erin dengan ramah walau ada beberapa yang nampak memandang aneh Erin.
"baiklah Erin kamu duduk disana ya sama Qirana ya"ucap guru tersebut, lalu Erin melihat tempat duduknya yang kosong tanpa memperhatikan Gua, ia buru-buru menuju tempat duduknya lalu duduk, Gua melihat tingkah Erin terkekeh, kalau di lihat lagi Erin adalah anak yang pemalu, Gua tanpa basa-basi menyapanya
"hai Erin salam kenal aku Qirana"ucap ku tersenyum, Erin melihat ku matanya terpaku, warna mataku yang indah membuatnya terpesona, namun hal itu tidak lama, ia kemudian tersadar lalu berkata
"Hai... Qirana... salam kenal"ucapnya masih gugup menatap kebawah tanpa berani melihat Gua, Gua tersenyum melihat tingkah Erin.
Pelajaran di mulai, Baca tulis Huruf abjad, saat itu lah aku bisa melihat nama lengkap Erin yang tak disebutkannya "Erine Amira Sartika" terlihat nama orang sunda yang sangat kental, masa TK Gua cuma biasa, Gua terkenal anak pintar di kelas meski awalnya Gua tidak ingin mencolok namin ini bentuk balas dendam di kehidupan sebelumnya tapi tetap Gua adalah Pelukis bayangan, dari sekian banyak murid hanya Gua yang saat itu lancar baca dan berhitung, disusul Yura, Alvin, Erin, dan beberapa murid lain agak kaget denger Yura ini pintar juga meski kurang di berhitung. tidak banyak teman Yura, Erin, dan Alvin bagi Gua sudah cukup. Gua ketambahan satu orang saja yaitu Erin, ia emang pemalu namun seiring waktu sifat aslinya mulai terlihat, ia begitu manja pada Gua, dan nggak segan berbagi berbagai macam hal tanpa pamrih, hal itu yang membuat Gua suka sama sifat Erin yang tulus, awalnya ibu khawatir terhadap Gua yang sedikit memiliki teman, namun ibu akhirnya tau kenapa Gua cuma dekat dengan 3 orang saja, ia bangga atas cara ku memilah teman seusianya, oh ya tak lupa dari itu.
Nyahoo hehehe sampai sini dulu ya semoga kalian suka dengan cerita ku, sampai jumpa di next bab, ba bai