NovelToon NovelToon
After Reuni

After Reuni

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: rachmaraaa

Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.

Dan Reuni itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Adrian menunggu Mita di dalam mobil yang diparkir tepat di depan toko. Ia memperhatikan Mita yang sibuk mondar mandir di dalam toko dengan lampu yang sedikit redup. Sesekali Adrian tersenyum saat melihat Mita tertawa dengan rekan kerjanya. Terkadang ia juga merasa iba, karena saat Mita berdiri sendiri, terlihat ia kembali diam dan datar.

"Sebanyak apa luka yang udah dilaluinya, sampai dia berubah jadi kalem gitu?" Adrian bertanya pada diri sendiri.

Satu persatu staf keluar dari toko. Adrian mengubah posisinya menjadi lebih serius. Ia menunggu Mita yang berada di antrian paling belakang membawa paperbag mirip dengan miliknya, hanya saja lebih kecil ukuran yang dipegang Mita.

Akhirnya Mita keluar, Adrian menunggu. Sepertinya Mita nggak tahu kalau Adrian menunggunya. Saat melewati mobilnya, Adrian menurunkan kaca jendela, membuat Mita bergeser karena kaget.

"Mita!"

"Astaga!" Mita memegangi dadanya. "Mas, kamu ngapain?"

Adrian terkekeh dan keluar dari mobilnya. "Maaf ya, ngagetin. Aku... Nungguin kamu. Nggak marah kan?"

Mita mengerjap beberapa kali, hatinya menghangat, kehampaan yang tadi ia rasakan kini sirna diganti dengan rasa senang yang tidak biasa.

"Nggak marah, tapi kok bisa. Maksudnya, kok kamu—" Mita menggantung kalimatnya, karena ia ingat membawa sesuatu. "Aku lupa, Mas. Ini bonus untuk kamu. Harusnya aku masukin ke dalam paperbag puding tadi. Tapi, karena sibuk urus kasir, aku lupa."

"Apa ini?" Jujur saja, apapun isinya Adrian merasa nggak peduli. Kalau saja ia nggak inget umur, sudah pasti ia berjingkrak kesenangan karena diberikan bonus oleh Mita. Intinya adalah Mita yang memberikannya.

"Cake. Tadi aku sempat buat cotton cake. Semoga Mas Adri suka ya." Mita tersenyum manis lebih manis daripada cake buatannya.

"Serius, Ta, ini buat aku?" Adrian mengintip isinya lalu, "eh... Masuk dulu. Ayo masuk."

Mita akhirnya mengiyakan ajakan Adrian untuk pulang bareng. Di dalam mobil, Adrian tidak langsung mengendarai mobilnya. Tapi, ia membuka salah satu cake dan mencicipinya dengan antusias.

"Wah... Sumpah enak. Nggak terlalu manis tapi rasanya kayak seimbang. Ta... Makasih banyak ya." Adrian mengatakannya dengan tulus.

Mita senang bukan main. Melihat hasil kerjanya begitu dihargai. Mengingat dulu, seringnya ia tidak dihargai dan tak dianggap. Bahkan, kue apapun buatannya tidak pernah dicoba seantusias Adrian. Tapi, itu masa lalu.

Adrian menyetir dengan nyaman dan aman. Jalanan ibukota agak padat malam itu, terlebih besok adalah Sabtu. Jadi, orang yang pulang kerja seperti berlomba-lomba untuk cepat sampai di rumah dan beristirahat bersama keluarga.

Saat lampu merah, Adrian menoleh ke arah Mita. Sejak tadi mereka memang banyak ngobrol, tapi lebih tepatnya Adrian yang lebih banyak cerita hal sepele. Supaya suasana nggak kaku aja.

"Besok libur atau kerja, Ta?" tanyanya.

"Besok masuk, Mas. Minggu baru libur."

"Pulangnya kayak tadi?"

Mita mengangguk lagi, "iya. Mas Adri libur kan ya?"

"Iya aku libur. Boleh nggak aku besok anter dan jemput kamu? Kalau boleh, Ta."

"Mas emangnya nggak repot? Kan libur, siapa tau Mas Adri pingin tidur lebih lama dan malas-malasan," ujar Mita.

Adrian terkekeh sembari melajukan mobilnya lagi. "Biasanya aku olahraga habis subuh. Terus beres-beres rumah, masak dan ya banyak lagi. Mungkin aku nggak terbiasa untuk diem aja gitu di rumah, kecuali kalau sakit."

"Mas Adri bisa masak?"

"Bisa dong. Lama hidup sendiri, mau nggak mau semuanya jadi terbiasa. Tapi, kalau masak itu emang udah lama bisa. Diajarin nenek."

"Keren deh. Aku kalau masak kurang bisa. Masak sebisanya aja gitu. Tapi, kalau bikin kue, aku bisa. Tapi nggak sejago chef-chef," jelasnya sambil terkekeh.

Adrian senang banget bisa mendengar Mita yang terbuka padanya. Terutama saat mendengar Mita tertawa, rasanya hatinya pun ikut riang.

"Gimana? Boleh nggak besok aku anterin, terus aku jemput lagi?" Adrian memastikan.

Sejujurnya Mita senang. Sudah lama, lima tahun tanpa perhatian baik dari keluarga ataupun lawan jenis. Akan tetapi, Mita sungkan jika Adrian terlalu baik padanya.

"Aku takut ngerepotin kamu, Mas." Mita menoleh dan mendapati Adrian yang juga menatapnya. Mobil berhenti karena kembali mendapatkan lampu merah.

Untuk beberapa detik, waktu mereka seolah berhenti ketika tatapan mata mereka bertemu.

"Memang jam berapa besok berangkat kerja?" Adrian belum mau berpaling. Rasanya ia belum sanggup untuk menoleh ke arah lain.

"Jam tujuh pagi aku berangkat. Biasanya kalau Sabtu suka tutup lebih cepat dari hari biasanya. " Mita menoleh ke arah depan, wajahnya panas mendapatkan tatapan dari Adrian.

"Ya udah, besok pagi aku anterin. Pulang nganterin kamu, aku mau olahraga." Adrian tersenyum melihat wajah Mita yang tersipu.

Hening.

Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Adrian juga sepertinya lebih fokus ke jalan karena memang macet parah. Sebenarnya ia sebel banget kalau mengendarai mobil, apalagi daerah Mampang dan Kuningan. Macetnya itu seperti nggak berkesudahan. Tapi, semuanya demi bertemu Mita, rasa sebalnya untuk sementara ditekan dalam-dalam.

"Kalau boleh tau, Mas Adri sudah berapa lama menduda?" Mita menoleh, melihat reaksi Adrian.

"10 tahunan, Ta. Nikahnya sebentar banget, dijebak pihak perempuan." Adrian menjelaskan sambil menggelengkan kepalanya.

"Maksudnya gimana? Kok bisa?" Mita mengubah posisi duduknya agak serong ke arah Adrian.

Adrian terkekeh, "iya, jadi itu teman kuliah. Orang ya... Jawa Barat sana lah. Terus dia minta tolong sama aku untuk nganterin dia pulang ke rumah orangtuanya. Sampai sana, aku dicecer orang tuanya disuruh nikahin dia. Padahal aku nggak ngelakuin apa-apa. Aku dimintain uang, kalau nggak nurutin aku mau dilaporkan ke polisi. Saat itu masih polos aku. Minta tolong ke nenek, kata nenek ya udah nikahin. Nikah siri malam, paginya aku talak."

"Seriusan, Mas? Kok ada yang begitu?" Mita membuka dan menutup mulutnya, keheranan sekaligus penasaran.

"Ada, Ta. Setelah aku cerita ke beberapa teman. Ternyata daerah itu memang sering begitu. Kampungnya tempat nikah kontrak. Uangku habis sekitar 25 juta. Karena aku nganterin dia pakai mobil alm. Papa. Jaman itu uang segitu tuh guede banget," jelasnya lagi.

"Terus kamu sama mantan istri kamu gimana?" Mita meremas ujung kemejanya saat bertanya seperti itu.

"Malam itu panik, Ta. Jadi, nggak bisa mikir jernih. Bawaannya kayak 'mimpi nggak sih gue!' habis dinikahin sama ustad, langsung diminta nyerahin uang buat mahar. Tapi, waktu itu aku bawa uang cuma 500 ribu. Katanya nggak apa-apa, serahin itu. Karena malamnya langsung disuruh ke kamar. Di dalam kamar aku pengen nangis. Nggak pengen ngapa-ngapain. Aku juga ditinggal tidur. Paginya nenek datang sama pamanku. Minta penjelasan dan nggak tau ngomong apa, sampai akhirnya nenek bisikin aku suruh ucapin talak. Ya udah aku nurut. Karena aku udah tidur di kamarnya, dianggapnya aku nih udah melakukan hal itu. Padahal demi Tuhan, nyentuh kulitnya aja nggak. Makanya minta uang ganti perawan 25 juta. Kamu yang denger pasti kaget, kok bisa ada. Apalagi aku yang ngalamin. Masih nggak percaya itu pernah kejadian sama aku. Makanya aku trauma kalau ada perempuan yang deketin duluan," jelas Adrian panjang lebar.

"Tapi, sama aku, Mas trauma nggak?"

[ ]

1
riza
haduuh 🧐
riza
mudah²an nggak terjadi apa-apa sih sama Mita 🥺
riza
kok nyesek ya 🥺
riza
iya betul 🥺 sebelum semua terlambat, mending di obrolin dari skrg 🥰
riza
uhuuuuyy 🤭🤭
Secilia Cindy
bacanya sambil meriang2 ka..🤭
Dila Dilabeladila
hadehhhhhh udah langsung ajak k KUA aja bias bisa nambah dengam bebas🤣🤣
riza
hot ya kak 🔥🤭
riza
si Rio sakit emang
riza
lah dasar si Rio tolil
riza
fitnah jir
riza
eh gila si Rio
riza
lah sama mas ... saya yg baca juga udh GK sabar ini 🤭
riza
mulai deh ngeselinnya
riza
mas Adrian maunya mewah ya 🤭
Ika Alif
tak tunggu sampai end aja bacanya😍
riza
nanggung sekali ya 🤭
riza
setuju nih
riza
ceritanya bagus kak. semoga karyamu banyak yg baca dan laris manis ya kak 😍
rachmaraaa: aamiin 🙏
total 1 replies
riza
ciee... mereka jadian juga 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!