Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kupu-Kupu di Museum
20 Oktober 2024. Pukul 10.00 WIB.
Ruang Pameran Utama, Museum Sejarah Jakarta.
Pagi itu, museum terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena sistem pendingin udara yang baru diservis, atau mungkin karena perasaan tidak enak yang menggantung di dada Alina sejak bangun tidur.
Alina sedang berdiri di depan etalase kaca panjang di Sayap Barat museum. Di tangannya ada checklist inventaris dan kain mikrofiber. Tugasnya hari ini adalah mempersiapkan pameran khusus menyambut Hari Sumpah Pemuda yang akan jatuh delapan hari lagi.
"Mbak Alina, label untuk foto Rapat Jong Java ini perlu diganti nggak? Warnanya sudah agak pudar," tanya Pak Jono, teknisi museum, sambil menunjuk sebuah bingkai foto hitam putih yang besar.
Alina menoleh. "Boleh, Pak. Nanti saya cetakkan deskripsi baru yang lebih jelas."
Alina melangkah mendekati foto itu.
Itu adalah salah satu foto arsip paling terkenal di koleksi museum. Foto Rapat Anggota Jong Java cabang Batavia tahun 1930. Di dalam foto itu, terekam suasana ruangan yang penuh asap rokok, pemuda-pemuda berpeci yang duduk berdesakan, dan beberapa tokoh pergerakan yang wajahnya serius.
Alina sudah melihat foto ini ribuan kali. Dia hafal setiap wajah di barisan depan. Ada Ketua Cabang yang berkumis tebal, ada bendahara yang memakai kacamata bulat, dan ada tiga anggota lain yang sedang mencatat notulen. Total ada lima orang di meja pimpinan.
Alina mulai mengelap kaca bingkai itu.
Namun, gerakan tangannya terhenti di udara.
Dia mengerjap.
Di meja pimpinan dalam foto itu... ada enam orang.
"Lho?" Alina memiringkan kepalanya.
Dia mengucek matanya, mengira dia salah lihat. Tapi tidak. Di ujung paling kanan meja, duduk seorang pemuda yang tidak pernah ada di sana sebelumnya.
Pemuda itu mengenakan jas putih tutup (baju safari kolonial) yang rapi, blangkon motif Jogja, dan memegang pena bulu angsa dengan postur tegak yang percaya diri. Wajahnya menghadap kamera, tersenyum tipis namun matanya menyala tajam.
Itu Arya.
Alina mundur selangkah, napasnya tercekat. Kain lap di tangannya jatuh ke lantai.
"Mbak Alina? Kenapa pucat begitu?" tanya Pak Jono khawatir.
"Pak..." suara Alina serak. "Foto ini... sejak kapan begini?"
"Hah? Maksudnya?" Pak Jono bingung, ikut melihat foto itu. "Ya dari dulu begini kan, Mbak? Itu foto hibah tahun 1980-an dari keluarga Sastrowardoyo."
"Nggak, Pak. Dulu orang di meja depan cuma lima. Kenapa sekarang jadi enam?"
Pak Jono tertawa renyah. "Ah, si Mbak ngelindur nih. Kurang kopi ya? Dari jaman saya kerja di sini tahun 90-an, orangnya ya enam itu. Tuh, baca caption-nya."
Alina menunduk, membaca plakat kuningan kecil di bawah bingkai.
Rapat Konsolidasi Jong Java, Batavia, Oktober 1930.
Duduk dari kiri ke kanan: Ketua Cabang Soeripto, Bendahara Kuncoro, Sekretaris I Haryono, dan Sekretaris II Raden Mas Arya...
Kepala Alina pening. Lantai museum terasa bergoyang.
Sekretaris II.
Sejak kapan Arya jadi Sekretaris II? Di Wikipedia versi lama—versi sebelum Alina mengintervensi—Arya hanyalah "anggota biasa" dan "jurnalis lepas". Dia tidak punya jabatan struktural di organisasi pemuda resmi. Dia bergerak di bawah tanah.
Alina segera berlari meninggalkan Pak Jono yang kebingungan. Dia menuju ruang kerjanya di bawah tanah. Dia harus membuka arsip digital. Dia harus memastikan ingatannya tidak gila.
Di depan komputer, jari Alina menari panik. Dia mencari skripsi lamanya saat kuliah. Dia pernah membahas foto ini dalam salah satu makalahnya.
Dia membuka file PDF skripsinya yang dibuat tahun 2018.
Di halaman 45, ada lampiran foto yang sama.
Jantung Alina seolah berhenti berdetak.
Di file skripsi tahun 2018 miliknya, foto itu juga menunjukkan enam orang. Ada Arya di sana.
"Gila..." desis Alina, menyisir rambutnya dengan frustrasi.
Realitas telah berubah. Bukan hanya masa depan yang berubah, tapi masa lalu Alina sendiri ikut berubah. Seolah-olah Arya memang selalu ada di foto itu sejak dulu. Ingatan Alina tentang "lima orang" adalah satu-satunya residu dari timeline asli yang sudah terhapus.
Apa yang terjadi?
Kenapa Arya tiba-tiba naik pangkat? Kenapa dia tiba-tiba berani tampil di muka umum, duduk di meja pimpinan, difoto, dan mencantumkan namanya sebagai pengurus inti?
Itu sama saja dengan menggambar target besar di punggungnya sendiri untuk ditembak Belanda.
Alina melirik jam dinding. Pukul 11.00 siang.
Masih terlalu pagi untuk menghubungi Arya (di tahun 1930, jam segini Arya pasti sedang bekerja atau sembunyi). Tapi Alina tidak bisa menunggu.
Dia menarik mesin tik Remington itu mendekat.
Arya. Jawab aku. Apa yang kau lakukan kemarin sore?
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan
penuh deraian air mata dan berdarah darah.
cinta mengalahkan akal sehat, pun sebuah jiwa memanggil ditanah air.
tanah yang dia perjuangkan mati- matian.
dengan harta benda dan jiwa raga.
kini jiwa lain menanti janjinya
pertanyaan saya, apa Alina bisa mencegah hal-hal yg tidak diinginkannya terjadi pada Arya dari artikel tsb, sampai dia dipertemukan.
jangan" endingnya Alina ketemu Arya versi udah tua😄