kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam itu berakhir tanpa hal berarti bagi sebagian orang, namun tidak bagi Marsha. Perasaan tidak nyaman yang sempat ia rasakan masih tersisa, samar namun cukup untuk mengganggu pikirannya hingga ia terlelap.
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.
Rumah sakit di London sudah sibuk bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Lorong-lorong dipenuhi langkah cepat para tenaga medis, suara alat monitor bersahutan, dan aroma antiseptik yang tajam memenuhi udara.
Marsha berjalan masuk dengan langkah tenang, jas putihnya terpasang rapi, ekspresinya kembali menjadi sosok profesional yang dingin dan terkontrol. Tidak ada jejak keraguan dari semalam, Namun begitu ia sampai di nurse station, suasana terasa berbeda.
Tegang.
Beberapa perawat tampak berbisik, sementara seorang dokter junior hampir menjatuhkan berkas di tangannya. “Ada apa?” tanya Marsha singkat.
Salah satu perawat menatapnya ragu sebelum akhirnya menjawab, “Pasien darurat, Dok. Kasus tembak. Pelurunya mengenai bagian kepala.”
Langkah Marsha terhenti sejenak.
Kasus seperti itu bukan hal asing, tapi nada suara perawat tadi berbeda. “Status?” tanyanya lagi, kali ini lebih fokus.
“Masih sadar saat dibawa masuk, tapi tekanan darah mulai turun. Tim bedah sudah bersiap, tapi…” perawat itu menelan ludah, “…kami menunggu Anda.”
Marsha mengangguk tanpa banyak bicara. “Siapkan ruang operasi. Aku yang tangani.”
Ia berjalan cepat menuju ruang persiapan, namun sebelum masuk, matanya sempat menangkap sosok pria tinggi yang berdiri di ujung lorong, dikelilingi beberapa orang dengan pakaian formal. Wajah-wajah tegang, sorot mata waspada, bukan keluarga biasa, sesuatu tentang mereka terasa berbeda.
Di dalam ruang operasi, suasana berubah menjadi hening yang terkontrol. Semua orang bergerak cepat, tapi tanpa suara yang tidak perlu. Marsha berdiri di depan meja operasi, tangannya sudah bersarung, matanya fokus pada tubuh pria yang terbaring di hadapannya.
Wajah itu tak asing baginya, namun entah kenapa terlalu mencolok untuk diabaikan.
Garis wajahnya tegas, rahangnya kuat, bahkan dalam kondisi tak sadar, aura dingin dan dominan itu masih terasa. Darah yang mengalir dari luka di kepalanya belum sepenuhnya dibersihkan, namun jelas terlihat bahwa peluru itu tidak masuk terlalu dalam cukup untuk membunuh, jika terlambat beberapa menit saja.
“Nama pasien?” tanya Marsha tanpa mengalihkan pandangan.
Salah satu staf menjawab cepat, “Reinhard. Tidak ada identitas lengkap, tapi tim keamanan mengatakan dia orang penting.”
Marsha mengangguk pelan. “Baik. Kita mulai.”Nada suaranya berubah.
---
Operasi berlangsung dalam ketegangan yang nyaris tak terlihat. Setiap gerakan Marsha presisi, setiap instruksi keluar tanpa ragu. Ia seperti kehilangan emosi, hanya menyisakan fokus yang absolut.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Detik demi detik terasa panjang.
Namun di tengah semua itu, Marsha sempat berhenti sepersekian detik saat ujung pinsetnya hampir menyentuh peluru tersebut, ada sesuatu perasaan yang aneh, seperti momen ini tidak sepenuhnya kebetulan.
“Dok?” panggil asistennya pelan.
Marsha tersadar, lalu melanjutkan tanpa komentar. Dengan gerakan hati-hati, ia mengeluarkan peluru itu. “Peluru berhasil diangkat. Stabilkan tekanan darah.” Nafas kolektif terdengar lega di ruangan itu namun bagi Marsha ini baru awal.
--
Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka.
Marsha keluar dengan langkah tenang, melepas sarung tangannya sambil berbicara singkat pada perawat. Wajahnya tetap datar, profesional, seolah operasi sulit tadi hanyalah rutinitas. Namun begitu ia mengangkat pandangan langkahnya terhenti.
Di ujung lorong, seorang pria berdiri, Tinggi, berpakaian rapi, tatapannya langsung tertuju padanya dan sejak pagi itu jantung Marsha berdetak sedikit lebih cepat. “Dokter yang menangani Reinhard?” tanya pria itu.
Marsha menatapnya sejenak sebelum menjawab singkat, “Saya.”
Pria itu mengangguk pelan, matanya menilai tanpa menyembunyikan apa pun. “Dia harus hidup.” bukan permintaan, lebih seperti perintah.
Marsha mengangkat alis tipis. “Aku tidak bekerja berdasarkan perintah,” balasnya tenang. “Tapi berdasarkan kemampuan. Dan untuk saat ini… dia selamat.” Keheningan singkat tercipta di antara mereka.
Namun anehnya tidak terasa canggung, melainkan seperti dua orang yang sama-sama tidak terbiasa dikendalikan.
Di dalam ruang ICU, pria bernama Reinhard itu masih terbaring tak sadar. Namun tanpa ada yang tahu pertemuan itu bukan kebetulan. Dan operasi hari ini, bukan sekadar penyelamatan nyawa, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
___
Malam turun perlahan di atas London, membawa suasana yang lebih sunyi, meski tidak benar-benar tenang. Di dalam ruang ICU, cahaya lampu redup menyinari tubuh Reinhard yang masih terbaring tanpa kesadaran. Bunyi mesin monitor berdetak stabil, menjadi satu-satunya tanda bahwa hidup masih bertahan di dalam tubuh itu.
Marsha berdiri sejenak di balik kaca sebelum akhirnya melangkah masuk. Udara dingin khas ICU menyambutnya, steril dan tanpa emosi. Ia mendekat ke sisi ranjang, matanya otomatis memeriksa setiap indikator tekanan darah, denyut jantung, hingga respons pupil. Semuanya stabil. Seharusnya ia pergi, namun kakinya tidak segera bergerak.
Tatapannya kembali jatuh pada wajah pria itu. Nama Reinhard terasa asing, tetapi entah kenapa melekat di pikirannya, seolah bukan pertama kali ia mendengarnya. Marsha mengernyit tipis, lalu menggeleng pelan, mencoba menepis perasaan yang tidak masuk akal.
“Reaksi tubuhnya bagus,” gumamnya pelan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan hingga tiba-tiba jari Reinhard bergerak sangat halus. Refleks, Marsha langsung mendekat, fokusnya berubah tajam. “Reinhard?” panggilnya singkat.
Tidak ada jawaban, tetapi alis pria itu sedikit berkerut, tanda kesadaran mulai merangkak naik dari kegelapan. Marsha menekan tombol panggil perawat tanpa mengalihkan pandangan. Pelan, kelopak mata Reinhard bergerak, lalu terbuka. Pandangannya masih kabur, namun tetap tajam, seolah berusaha menangkap sesuatu di hadapannya.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sepersekian detik, waktu terasa melambat. Reinhard menatap Marsha seolah mengenali, bukan seperti pasien yang baru sadar. Perasaan aneh itu kembali muncul, kali ini lebih kuat hingga membuat Marsha tanpa sadar menahan napas. “...kau…” suara Reinhard serak dan nyaris tak terdengar.
Marsha sedikit mendekat. “Apa?”
Namun pria itu tidak melanjutkan. Matanya kembali terpejam, tubuhnya jatuh ke dalam ketidaksadaran untuk kedua kalinya. Monitor tetap stabil, tidak ada kondisi darurat, hanya menyisakan momen singkat yang terasa ganjil.
Perawat dan dokter jaga masuk tergesa. “Dia sempat sadar?” tanya salah satu dari mereka.
Marsha terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Sebentar.”
Namun pikirannya tidak setenang suaranya, karena tatapan itu jelas bukan tatapan orang asing.
Saat ia keluar dari ICU, pria tinggi yang sejak pagi berada di lorong kembali berdiri di sana, seolah tidak pernah pergi. Marsha langsung berbicara tanpa basa-basi, “Dia hidup.”
Pria itu mengangguk singkat. “Bagus.”
Marsha sempat berbalik, namun kemudian berhenti. “Dia memanggil seseorang.”
Langkah pria itu terhenti. “Hanya satu kata,” lanjut Marsha, menatap lurus ke arahnya, “kau.”
Keheningan sejenak tercipta. Untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu berubah tipis, bukan terkejut, melainkan seperti sesuatu yang sudah ia duga akhirnya terjadi. “Kalau begitu,” ucapnya pelan, “permainan ini sudah dimulai.”
Marsha mengernyit. “Apa maksudmu?”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke arah pintu ICU sebelum kembali menatap Marsha dengan senyum tipis yang sulit diartikan. “Dokter, mulai sekarang… kau mungkin akan lebih sering melihat kami.”
Tanpa menunggu respons, ia berbalik dan pergi. Marsha tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu hingga menghilang di ujung lorong, satu hal kini semakin jelas, ini bukan sekadar kasus luka tembak biasa. Dan Reinhard… bukan pasien biasa.