NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Jam Saku Orion

Tidak ada yang menyentuh jam saku itu selama beberapa saat.

Benda kecil berwarna perak tersebut tergeletak di atas meja apartemen, memantulkan cahaya lampu dengan tenang.

Terlalu tenang.

Seolah tidak menyadari bahwa keberadaannya baru saja mengubah arah seluruh penyelidikan mereka.

Untuk Orion.

Ukiran itu terus terngiang di kepala Almira.

Dan yang lebih buruk adalah kalimat pada secarik kertas yang ditemukan di dalam kotak.

BERHENTILAH MENCARI ORION. KARENA ORION SUDAH MENEMUKAN KALIAN.

Ancaman?

Peringatan?

Atau justru undangan?

Tidak ada yang tahu.

"Aku mulai merindukan masa ketika masalah terbesar dalam hidupku adalah rapat dengan investor."

gumam Reynard.

"Aku mulai merindukan masa ketika masalah terbesar dalam hidupku adalah kamu."

balas Almira.

"Itu menyentuh."

"Itu penghinaan."

"Lebih masuk akal."

Biasanya Dimas akan tertawa.

Namun kali ini tidak.

Ia masih memperhatikan jam saku tersebut.

Terlalu fokus.

"Menurutku ada sesuatu yang aneh."

katanya.

"Kita sudah melewati tahap aneh."

jawab Almira.

"Kita sekarang berada di tahap mengerikan."

"Tidak, maksudku benda ini."

Dimas mengambil jam tersebut dengan hati-hati.

Kemudian membukanya.

Klik.

Tutup jam terbuka perlahan.

Mekanismenya masih bekerja.

Jarum jam terus bergerak.

Tik.

Tik.

Tik.

Suara kecil itu memenuhi ruangan.

Dan entah kenapa, membuat suasana terasa semakin tidak nyaman.

Reynard memperhatikan bagian dalam jam.

Lalu mengernyit.

"Tunggu."

"Apa?"

tanya Almira.

"Ini tidak normal."

Ia menunjuk angka-angka pada permukaan jam.

Awalnya terlihat biasa.

Namun setelah diperhatikan lebih teliti, angka empat menggunakan simbol yang berbeda.

Bukan angka Romawi standar.

Melainkan simbol kecil yang menyerupai panah.

"Kenapa berbeda?"

tanya Almira.

Dimas tersenyum tipis.

"Karena seseorang ingin kita melihatnya."

Mereka segera memotret simbol tersebut.

Membandingkannya dengan semua dokumen Aurora yang mereka miliki.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Hingga akhirnya Dimas menemukan kecocokan.

"Aku dapat."

katanya.

Almira dan Reynard langsung mendekat.

Di layar laptop terlihat simbol yang sama.

Namun bukan berasal dari dokumen Aurora.

Melainkan dari catatan lama milik Fajar Wiratama.

Catatan yang sebelumnya mereka abaikan karena dianggap tidak penting.

"Ini ada di mana?"

tanya Reynard.

"Bagian bawah halaman."

"Yang berisi apa?"

Dimas membuka file tersebut.

Dan beberapa detik kemudian mereka membaca kalimat yang tertulis di sana.

Titik Pertemuan Keempat.

Ruangan langsung hening.

Karena untuk pertama kalinya mereka merasa menemukan sesuatu yang konkret.

Bukan teori.

Bukan dugaan.

Petunjuk nyata.

"Tempat."

bisik Almira.

"Apa?"

"Ini pasti tempat."

Reynard mengangguk.

"Titik Pertemuan Keempat."

"Kedengarannya seperti lokasi."

Dimas langsung mulai menelusuri dokumen-dokumen lama.

Aurora ternyata memiliki beberapa lokasi rahasia untuk pertemuan internal.

Setidaknya menurut catatan Fajar.

Dan lokasi keempat muncul beberapa kali.

Namun selalu ditulis dalam bentuk kode.

Tidak pernah menggunakan alamat lengkap.

Seolah sengaja disembunyikan.

Menjelang tengah malam, mereka akhirnya menemukan sesuatu.

Sebuah peta tua.

Peta yang sebelumnya tampak tidak penting.

Tetapi setelah dibandingkan dengan simbol pada jam saku, muncul pola yang sama.

Dan pola itu mengarah ke satu lokasi.

Sebuah bangunan tua di pinggiran kota.

Bekas observatorium astronomi yang sudah lama ditutup.

"Observatorium?"

ulang Almira.

"Itu cukup cocok dengan nama Orion."

kata Reynard.

"Karena Orion adalah rasi bintang."

Almira dan Dimas langsung menoleh.

"Kamu tahu itu?"

tanya Almira.

"Tentu."

"Kapan?"

"Aku pernah punya fase aneh ketika ingin menjadi astronom."

Almira tampak benar-benar terkejut.

"Ini mungkin informasi paling mengejutkan yang pernah kudengar tentangmu."

"Aku penuh kejutan."

"Itu yang kutakutkan."

Meski begitu, teori tersebut masuk akal.

Orion.

Observatorium.

Simbol pada jam.

Semuanya mulai terhubung.

Namun sebelum mereka bisa menyusun rencana, ponsel Dimas bergetar.

Pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Tidak ada teks.

Hanya sebuah foto.

Dan ketika foto itu terbuka, seluruh darah di tubuh mereka serasa membeku.

Karena foto tersebut menampilkan mereka.

Bertiga.

Di apartemen.

Di ruangan yang sama.

Beberapa menit yang lalu.

"Itu tidak mungkin."

bisik Almira.

"Jendelanya tertutup."

"Semua tirai tertutup."

"Tidak ada kamera."

Dimas langsung berdiri.

Memeriksa seluruh ruangan.

Setiap sudut.

Setiap ventilasi.

Setiap lampu.

Namun tidak menemukan apa pun.

Kemudian pesan kedua masuk.

Kali ini berupa teks.

KALIAN SEMAKIN PINTAR.

Beberapa detik kemudian muncul pesan berikutnya.

TAPI MASIH TERLALU LAMBAT.

Almira mengepalkan tangan.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar marah.

Bukan takut.

Marah.

Karena seseorang terus mempermainkan mereka.

Terus mengawasi mereka.

Terus muncul selangkah lebih dulu.

"Aku muak."

katanya.

"Itu reaksi yang sehat."

jawab Reynard.

"Tidak. Aku serius."

"Aku juga serius."

Almira menatap layar ponsel.

Kemudian berkata pelan,

"Aku ingin bertemu orang ini."

Hening.

"Untuk bicara?"

tanya Dimas.

"Tidak."

"Masuk akal."

gumam Reynard.

Meski begitu, kemarahan Almira justru memberi mereka energi baru.

Karena sekarang mereka memiliki tujuan.

Observatorium.

Jika tempat itu memang terkait dengan Orion, maka mereka harus pergi.

Cepat.

Sebelum petunjuk tersebut menghilang.

Perjalanan dilakukan dini hari.

Mereka tidak ingin menunggu sampai pagi.

Terlalu berisiko.

Mobil melaju meninggalkan pusat kota.

Semakin jauh.

Semakin sepi.

Lampu-lampu jalan mulai berkurang.

Bangunan berubah menjadi lahan kosong dan pepohonan.

Udara malam terasa lebih dingin.

Dan semakin mereka mendekati lokasi, semakin besar perasaan tidak nyaman yang muncul.

"Aku punya firasat buruk."

kata Almira.

"Hebat."

jawab Reynard.

"Aku juga."

"Bagus."

"Kenapa bagus?"

"Karena biasanya hanya aku yang punya."

Untuk beberapa detik mereka saling berpandangan.

Lalu tanpa sadar tertawa kecil.

Mungkin karena lelah.

Mungkin karena stres.

Atau mungkin karena kehadiran satu sama lain memang mulai menjadi tempat berlindung yang tidak mereka sadari.

Dimas yang duduk di depan memutar mata.

"Aku benar-benar merasa seperti sopir pasangan yang sedang kencan."

"DIAM."

jawab keduanya serempak.

Dimas tersenyum puas.

Hampir dua jam kemudian.

Mereka akhirnya tiba.

Observatorium tua itu berdiri di atas bukit kecil.

Bangunan bundar dengan kubah besar yang sudah mulai rusak.

Sebagian jendelanya pecah.

Cat dinding mengelupas.

Rumput liar tumbuh di mana-mana.

Tempat itu tampak telah ditinggalkan selama bertahun-tahun.

Namun justru itulah yang membuatnya mencurigakan.

Karena lokasi rahasia yang baik memang seharusnya terlihat tidak penting.

Mereka keluar dari mobil.

Angin malam bertiup cukup kencang.

Membuat suasana semakin mencekam.

Reynard menyorotkan senter ke arah bangunan.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Namun sesuatu membuatnya berhenti.

"Tunggu."

katanya.

"Apa?"

tanya Almira.

Reynard menunjuk tanah di dekat pintu masuk.

Jejak ban.

Masih baru.

Sangat baru.

Tidak mungkin berumur lebih dari satu atau dua hari.

Artinya seseorang datang ke tempat ini baru-baru ini.

Atau...

Masih berada di dalam.

Ketiganya saling berpandangan.

Tidak ada yang perlu dikatakan.

Mereka semua memikirkan kemungkinan yang sama.

Perlahan mereka berjalan mendekati pintu utama.

Pintu besi tua yang tampak berkarat.

Dimas mendorongnya.

Kreeeek...

Suara engsel yang panjang memecah keheningan malam.

Mereka masuk.

Ruangan dalam observatorium jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar.

Berdebu.

Gelap.

Dan dipenuhi peralatan lama yang sudah tidak digunakan.

Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian.

Di tengah ruangan terdapat meja kayu.

Dan di atas meja itu...

Seseorang telah meninggalkan sesuatu.

Sebuah amplop putih.

Baru.

Sangat baru.

Seolah sengaja diletakkan beberapa jam sebelumnya.

Menunggu kedatangan mereka.

Di bagian depan amplop tertulis dua nama.

ALMIRA & REYNARD

Jantung mereka langsung berdetak lebih cepat.

Karena tidak ada lagi keraguan.

Seseorang memang menginginkan mereka datang ke sini.

Dan seseorang itu tahu persis siapa mereka.

Bahkan mungkin sudah memperhitungkan setiap langkah yang akan mereka ambil.

Dengan perlahan, Reynard mengambil amplop tersebut.

Lalu membukanya.

Dan ketika ia membaca isi surat di dalamnya...

wajahnya langsung berubah.

Almira yang melihat reaksi itu segera merebut surat tersebut.

Kemudian membacanya sendiri.

Dan seketika merasakan darahnya serasa membeku.

Karena surat itu hanya berisi satu kalimat.

JIKA KALIAN INGIN MENEMUKAN ORION, TANYAKAN PADA ORANG TUA KALIAN SIAPA YANG MEMBUNUH FAJAR WIRATAMA.

Malam mendadak terasa jauh lebih dingin.

Karena untuk pertama kalinya...

mereka mulai mempertanyakan kemungkinan yang selama ini tidak pernah berani mereka pikirkan.

Bagaimana jika para ayah mereka bukan korban dalam cerita ini?

Bagaimana jika mereka juga pelaku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!