Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pagi itu suasana mansion keluarga Rutherford di London tampak jauh lebih sibuk dibanding biasanya. Para pelayan berlalu-lalang menyiapkan berbagai keperluan rumah, sementara Bianca duduk di ruang santai sambil menikmati teh paginya dengan tenang.
Namun sejak beberapa hari terakhir, pikirannya tidak pernah benar-benar damai. Bayangan Cayden terus muncul di kepalanya. Wajah bayi kecil itu, tatapan matanya, dan cara Giana menggendongnya dengan penuh kasih sayang masih terus teringat jelas dalam benaknya.
Semakin ia memikirkannya, semakin besar pula rasa bersalah yang menghantui Bianca. Ia masih tidak bisa melupakan bagaimana dirinya mengusir Giana tanpa memberi kesempatan sedikitpun untuk menjelaskan keadaan.
Bianca mengembuskan napas pelan lalu meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Tepat saat itu, langkah kaki terdengar mendekat dari arah lorong utama.
“Selamat pagi.”
Suara lembut Regina membuat Bianca menoleh. Perempuan muda itu berjalan menghampiri dengan senyum manis seperti biasa. Penampilannya rapi dan elegan, tetapi entah mengapa Bianca merasa senyum itu tampak sedikit dipaksakan pagi ini.
“Regina?” Bianca tersenyum tipis. “Kau datang pagi sekali.”
Regina duduk di samping Bianca dengan gerakan anggun. “Sebenarnya, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu sebentar.”
Bianca langsung menangkap keseriusan dalam nada suara calon menantunya itu. “Ada apa? Apakah ada masalah?”
Regina menunduk pelan sebelum akhirnya menggenggam tangan Bianca perlahan. “Aku ingin meminta sesuatu.”
Bianca mengernyit kecil. “Permintaan apa itu? Katakan saja, Regina. Apa pun yang kau inginkan, barang mewah atau apa pun itu, katakan saja jangan ragu,” katanya melihat wajah Regina yang tampak malu.
Regina tampak ragu beberapa saat sebelum akhirnya berkata lirih, “Bisakah pertunanganku dengan Cameron dipercepat?”
Bianca sedikit terkejut mendengar itu. “Apa? Dipercepat? Tapi kenapa? Semuanya sedang dipersiapkan, Sayang. Kenapa kau mau semuanya dipercepat? Apakah terjadi sesuatu?”
Regina mengangguk pelan. Wajahnya perlahan berubah murung, seolah sedang menyimpan kecemasan besar.
“Aku takut kehilangan Cameron,” katanya lirih. “Akhir-akhir ini aku merasa dia semakin jauh dariku.”
Bianca terdiam sambil memperhatikan Regina.
“Aku hanya ingin cepat-cepat menjadi bagian resmi dari keluarga ini,” lanjut Regina pelan. “Aku ingin menjadi milik Cameron sepenuhnya sebelum semuanya berubah.”
Nada suaranya terdengar rapuh hingga membuat Bianca perlahan merasa iba. Bagaimanapun juga, Regina sudah cukup lama bersama Cameron. Gadis itu juga selalu terlihat mencintai putranya dengan tulus.
“Apa Cameron mengatakan sesuatu padamu?” tanya Bianca hati-hati.
Regina langsung menggeleng cepat. “Tidak.” Ia menunduk lalu tersenyum pahit. “Justru karena dia tidak mengatakan apa-apa, aku jadi takut.”
Bianca mulai memahami arah pembicaraan itu. “Apakah ini karena wanita itu?” tanyanya pelan.
Regina terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil.
Meski tidak menyebut nama, keduanya tahu siapa yang dimaksud.
Regina menggigit bibirnya pelan sebelum kembali berkata, “Aku tahu Cameron mungkin hanya merasa bertanggung jawab pada bayi itu. Tapi akhir-akhir ini cara dia memperlakukan wanita itu terasa berbeda.”
Bianca tidak langsung menjawab. Ucapan Regina perlahan membuat pikirannya ikut terusik. Karena jauh di dalam hatinya, Bianca sebenarnya juga mulai menyadari perubahan itu. Cameron yang sekarang jauh berbeda dibanding putranya yang dulu.
Cameron berubah menjadi sosok yang lebih emosional, lebih protektif, dan lebih sering menentang keluarganya demi seorang wanita yang bahkan bukan siapa-siapa bagi mereka.
Regina menatap Bianca dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku mencintainya,” katanya lirih. “Aku sudah bersama Cameron selama bertahun-tahun. Aku tidak ingin seseorang datang lalu merebut semuanya dariku.”
Kalimat itu membuat Bianca mengembuskan napas pelan.
Sebagai seorang perempuan, ia bisa memahami ketakutan Regina. Dan sebagai seorang ibu, Bianca juga mulai takut jika Cameron benar-benar melangkah terlalu jauh.
“Baiklah,” ucap Bianca akhirnya. “Aku akan bicara dengan Michael dan juga keluargamu.”
Wajah Regina langsung berubah sedikit lega. “Benarkah?”
Bianca mengangguk kecil. “Kalau pertunangan ini memang bisa membuat semuanya lebih jelas, maka sebaiknya memang dipercepat.”
Senyum Regina perlahan kembali muncul. Namun di balik wajah lembutnya, tersimpan sesuatu yang jauh lebih rumit. Karena sebenarnya, ketakutannya bukan sekadar kehilangan Cameron. Ia takut kehilangan posisi, status, dan kesempatan menjadi nyonya muda keluarga Rutherford.
Regina tahu betul sebesar apa kekuasaan keluarga itu. Dan ia tidak akan membiarkan siapapun mengambil tempat yang selama ini sudah ia perjuangkan. Terlebih lagi oleh seorang perempuan biasa seperti Giana.
***
Giana sedang duduk di taman belakang rumah sambil memangku Cayden. Bayi kecil itu tampak ceria memainkan jari-jari Giana sambil tertawa kecil dengan suara yang begitu menggemaskan. Sesekali tangan mungilnya bergerak asal hingga menarik ujung rambut Giana pelan.
Melihat tingkah Cayden, Giana ikut tersenyum hangat. Tatapannya melembut penuh kasih sayang saat memandangi wajah bayi kecil itu. Untuk sesaat, semua rasa takut, kecemasan, dan tekanan yang selama ini membebaninya perlahan menghilang begitu saja. Bersama Cayden, ia merasa hidupnya kembali memiliki arti.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari balik pintu kaca rumah, Cameron berdiri memperhatikan mereka dalam diam. Tatapannya sejak tadi tidak pernah lepas dari Giana dan Cayden.
Cameron melihat bagaimana Giana tertawa kecil saat Cayden kembali menarik rambutnya. Wanita itu sama sekali tidak terlihat kesal. Sebaliknya, wajahnya justru dipenuhi kelembutan yang sulit dijelaskan. Dan tanpa sadar, sudut bibir Cameron ikut terangkat tipis.
Pemandangan sederhana itu terasa begitu damai baginya. Sampai-sampai Cameron mulai lupa bahwa semua ini seharusnya tidak terjadi. Ia seharusnya menjaga jarak. Seharusnya tetap menganggap semua ini hanya tanggung jawab sementara. Namun semakin lama ia melihat Giana bersama Cayden, semakin sulit baginya untuk bersikap biasa saja.
Perasaan hangat yang muncul setiap kali melihat mereka perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang mulai sulit ia kendalikan. Ponselnya tiba-tiba berdering dan langsung memecah lamunannya. Tatapan Cameron sedikit berubah saat melihat nama Bianca muncul di layar.
Ekspresinya perlahan kembali datar. Ia mengangkat panggilan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Giana dan Cayden yang masih bermain di taman.
“Ada apa, Bu?”
Suara Bianca terdengar tenang dari seberang sana. “Kapan kau kembali ke London?”
Cameron langsung mengernyit kecil. “Kenapa memangnya?”
Beberapa detik hening berlalu sebelum Bianca akhirnya menjawab, “Aku dan ayahmu ingin mempercepat pertunanganmu dengan Regina.”
Kalimat itu membuat tatapan Cameron perlahan berubah dingin. Rahangnya mengeras tanpa sadar, sementara pandangannya kembali tertuju pada sosok Giana yang sedang tertawa kecil bersama Cayden di luar sana.
Lalu, ia langsung menutup panggilan itu sepihak. “Regina, apa yang sebenarnya kau rencanakan?”
kami aman bersama cay (cucu rutherford family). jangan cari kami. kami akan pulang jika ayah sudah memahami.
abis tu...lost contact ke siapapun. kec org2 yg dipercaya. buat regina makin terpuruk krn obsesinya. menghilang smp cay blajar berdiri dan regina udh bangkrut bin rada waras😄😄😄krn...saham dibeli kelg giana yg baru ditemukan stl sekian lama. alias.. konglo ketemu konglo dan...remahan...hrus minggir lah😄😄😄