"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 KENANGAN KECIL YANG KEMBALI
Setelah kejadian kacau di kelas, malamnya Kai mulai gelisah.
Ia kembali membaca percakapannya dengan Ana di ponsel.
Saat ia sedang membaca pesan, tiba - tiba ada telepon dari sang Ayah. Memang Kai tinggal sendiri di Apartemen milik mendiang Ibunya, karena Ayahnya sekarang tinggal bersama istri barunya dan adik tiri Kai. Bernama Marcelian, seumuran dengan Kai tapi ia terobsesi dengan kakak tirinya sendiri.
Alasan terbesarnya adalah karena ia merindukan kenangan bersama ibunya di apartemen ini.
"Halo. Ada apa?" Sahut Kai dengan nadanya yang datar.
"Nak. Kamu ada waktu nggak? Ayo kita makan malam keluarga."
"Aku nggak tertarik, maaf." jawabnya.
"Tunggu. (Menarik nafas lelah.) Kali ini aja Nak, setelah itu kamu bebas memilih jalan hidup kamu, Ayah nggak akan mengganggu keputusan kamu. Ayah hanya merindukan kamu.." keluh Ayah.
Sejujurnya Ayah adalah orang yang baik dan jujur tapi entah kenapa setelah Ibu meninggal, Ia bisa tergoda oleh wanita ular itu dan anaknya yang manja.
Setelah percakapan di telepon itu, Kai mulai mempertimbangkan.
"Aku juga merindukan Ayah, tapi disisi lain aku malas bertemu dengan nenek lampir dan anaknya itu." sahut Kai.
"Hm, apa aku perlu meminta Jeje mengajak Marcelian pergi keluar sebentar?"
Namun, telepon itu tidak diangkat oleh Jeje.
"Kemana dia?"
"(Mengacak rambutnya) Baiklah, untuk kali ini aja aku akan pergi ke rumah Ayah dan ini jadi yang terakhir aku menginjakkan kaki dirumah itu." jelas Kai, lalu pergi bersiap-siap.
Disisi lain, Ana ikut Citra naik mobil untuk membeli ceker pedas dan mampir ke Kantor tempat Citra bekerja untuk mengambil berkas-berkas yang tertinggal.
"Ayo cepat sedikit, Ana! 1..2..3.. Bye! Aku tinggal." celetuk Citra, dari belakang Ana berlari mengejar Citra.
"Tunggu, Kak! YEAY DI TRAKTIK KAK CITRA!"
Citra menggaruk-garuk kepalanya. "Iya iya.."
Raka baru keluar dari kamarnya, "aku, nggak?" tanyanya pelan, karena tau Citra pasti masih kesal dengannya.
Citra tersenyum miring, "Let's go, brother!" Sambil merangkul kasar.
Kedua adiknya pun terhuyung-huyung karena rangkulan Citra yang tiba-tiba.
Melihat ketiga anaknya akur, Ayah merasa sangat terharu.
"Aku rasanya ingin menangis, pemandangan yang indah sekali.. oh hisk..hisk..." sahut Ayah sambil menangis lebay.
Ketiga masuk ke dalam mobil untuk membeli ceker pedas manis itu.
_______________________________
Kembali lagi dengan Kai yang sudah siap dan pergi dengan dijemput oleh sopir pribadi Ayahnya.
"Kita berangkat ya, Den Kai." Pak Heri
"Iya, Pak." jawabnya singkat, dan pandangannya melihat ke arah kaca mobil.
Menatap suasana perkotaan di malam hari.
Namun yang ada dipikirannya hanya ada Ana, bagaimana dia tersenyum ketika melihat Ana sedang menulis dan rambut panjangnya terkena angin sepoi-sepoi.
"Aku nggak bisa membayangkan, gimana terkejut kamu kalau tahu aku adalah sahabat kecilmu dulu." batin Kai.
Bagai takdir yang tidak menyadari bahwa mereka ada di jalan yang sama, mobil Citra Terparkir di pinggir jalan kedai makanan cepat saji. Dan terlihat Ana sedang berdiri di pinggir jalan sambil mengobrol dengan Raka dan ditangan kirinya membawa sekantong plastik putih besar. Kai juga tak sadar ada Ana ditempat yang sama mereka lewati, dia hanya melihat ke arah langit kota saja.
Kai pun akhirnya sampai dirumah Ayahnya, yang begitu besar bak sebuah istana.
Di depan gerbang, Kai disambut para pelayan dan kemegahan bangunan yang menjulang tinggi.
Di sisi lain ada yang lebih bersemangat bertemu dengan Kai, Marcelian.
"Hai, Kai. Udah lama nggak ketemu ya. Gimana kabar kamu?" dengan nada yang lembut dan senyuman yang lebar.
Kai tak menjawab dan langsung pergi melewati Marcelian.
Ayah baru saja turun dari lantai dua ke lantai bawah menggunakan lift dan melihat kedatangan putra kandungnya. Tampak wajah yang sudah banyak kerutan dengan rambut mulai beruban itu tersenyum haru.
"Kamu datang juga." mendekat, lalu menepuk pundak lebar Kai itu, tak berani memeluk anaknya.
Kai sedikit tersenyum dan tak lama dari ruangan dapur, nyonya besar itu langsung melihat kedatangan Kai.
"Wah... Kamu datang juga?" dengan nada sinis.
Kai tak sedikitpun menjawab ataupun menyapa. Dia hanya berdiri disamping Ayahnya.
Malam itu mereka menyantap makan malam tanpa bersuara. Sudah dua tahun ia tidak bertemu putra kandungnya. Rasa rindunya seakan tumpah malam itu.
"Ayah aku akan pulang. Terima kasih atas makanannya." sahut Kai, sambil membersihkan tepi bibirnya menggunakan tissu.
"Kamu... Sudah mau pulang saja. Besok bisa kamu mampir sebentar ke Kantor Ayah?" tanya Ayah, dengan wajah kecewa.
"Baik Ayah." jawab Kai.
Ayah yang tadi sedih langsung tersenyum senang, "Ayah akan tunggu."
Diperjalanan pulang, Kai mengingat lagi tentang masa kecilnya. Dimana Kai kecil selalu pergi ke Taman saat sedang sedih merindukan Bunda.
Sesampai di Apartemen, tubuhnya berbaring di tempat tidur dan membenamkan wajahnya dibantal yang empuk.
[Mengangkat dagunya.]
"Aku jadi teringat, masa kecil kita dulu. Bella.."
Tawa ceria anak - anak dan suara itu sangat jelas di telinga Kai.
Tawa kecil 10 tahun lalu...
"Hai anak cengeng!"
"Kamu mau kemana? Jangan pergi dulu! Berikan makanan itu dulu, baru kamu boleh pergi."
"Iya benar, ayo cepat!!"
Anak laki - laki itu terus menangis sambil memeluk roti dan susu kotaknya.
"HEI! JANGAN GANGGU DIA! AYO LAWAN AKU!" teriak gadis kecil itu sambil membawa tongkat kayu ditangannya untuk menakut - nakuti anak - anak nakal yang mengganggu anak laki - laki yang sedang menangis itu.
Anak - anak pengganggu itu langsung berlarian, karena mengetahui gadis yang berhadapan dengan mereka adalah Anabella Queena Tanaya.
"Heh, itu kan Be-bella! Ayo kabur!" teriak salah satu mengajak teman-temannya untuk kabur.
"Takut kan, kalian semua." pekik gadis kecil itu sambil tertawa angkuh.
"Kamu nggak apa-apa? Lain kali, kamu harus lawan mereka, tenang aja ada aku disini."
"Mulai sekarang, aku yang akan melindungimu dari anak-anak nakal itu." tambahnya, lalu duduk di samping Kai kecil.
"Terima kasih, Bella." lirih Kai kecil, sambil mengusap air matanya.
Gadis kecil itu memegang wajah Kai dan membantu menghapus air matanya.
"Jangan menangis lagi ya, aku pasti selalu ada untukmu." sahutnya, lalu tersenyum.
Kai kecil pun ikut tersenyum dan membagi makanannya kepada 'Bella.'
Saat keduanya berumur 13 tahun, Kai terlihat memakai seragam sekolah dan masuk ke dalam mobil dan tampak di belakang mobil tersebut ada mobil pick up mengangkut barang-barang besar seperti akan pindahan.
Kai melihat Ana yang baru saja sampai ke rumahnya pun hanya bisa menatap sedih, "Bella!" Melambaikan tangan.
"Aku akan mengirimkan surat. Tunggu aku di taman, ya!" teriak Kai remaja dengan mata yang sudah sembab.
"Iya! Aku akan menunggu! Selamat jalan Kai,," kalimat terakhir itu ia ucapkan dengan nada perlahan. Gadis itu terus mengamati mobil Kai yang semakin menjauh.
"Aku akan menunggumu, pastikan kamu selalu baik-baik aja ya.." batin Ana yang kala itu berumur 13 tahun.
#Bersambung...