Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Over Dosis
Setelah pertemuannya kembali bersama Putra dan putri Feri. Beberapa hari ini Dita bahkan tidak bisa bertemu dengan Feri. Jadwalnya begitu padat. Beberapa kali Ibu Rani mengingatkan Dita untuk tidak membuat jadwal sepadat ini. Tapi Dita tetaplah Dita. Pengalihan Dita untuk tidak banyak di tanya tentang pernikahan adalah memang bekerja.
Tapi, kali ini ada yang berbeda hampir sepekan Dita tak bertemu dengan Feri ada rasa rindu terselip di hatinya. Namun, lagi-lagi Dita selalu berusaha mengalihkannya. Dita selalu merasa tak pantas diri untuk berdampingan dengan pria manapun walau Dokter Wijaya dan Pak Wirawan selalu mengatakan pasti ada pria tulus yang menerima dirinya.
Rasa tak percaya diri dan ketakutannya selalu mendominasi saat rasa jatuh cinta datang di hatinya. Namun, perasaannya terhadap Feri benar-benar lain. Rasa yang begitu kuat membuat Dita harus berusaha dengan kuat pula untuk menghindarinya. Walaupun orang tua Feri menerimanya dengan baik tapi Dita tetap merasa takut.
"Dit, lu jangan forsir kaya gini lah. Kasian juga tuh asisten lu." Ucap Angel saat menemui Dita di ruangannya.
"Ini kebetulan aja Gel jadwalnya berurutan." Elak Dita.
"Dit,,"
"Gw baik-baik aja Gel. Lu ngga usah khawatir. Gw pokoknya bakal jadi onty yang setrong deh buat ponakan gw nanti." Dita.
"Iya gw tau. Tapi jangan siksa badan lu Dit." Angel.
"Aman Gel aman pokoknya. Udah ya gw mau ke OK." Dita.
"Berapa operasi?" Angel.
"Dua kayanya." Jawab Dita santai.
"Makan dulu deh lu." Angel.
"Tadi gw udah makan roti sama susu Gel. Jangan khawatir pokoknya semua baik-baik aja." Dita.
Bujukan Angel pun tak mempan, Dua hari lalu Laela sempat bertemu dengan Dita di ruang OK dan berusaha membujuk Dita juga tapi tetap tak membuahkan hasil bahkan Bagas pun ikut membujuk Dita dan sama sekali tak ada yang bisa. Dokter Wijaya sampai kewalahan menghadapi putri angkatnya itu.
Pak Wirawan telah kembali ke kota M membuat Dokter Wijaya hanya bisa berkomunikasi lewat ponsel untuk mendiskusikan tentang Dita. Beberapa hari lalu Feri juga sempat menemui Ibu Rani di klinik kecantikan milik Ibu Rani dan bertemu juga dengan Kania. Feri menanyakan tentang Dita yang sulit di hubungi dan seolah menghindarinya.
Ibu Rani dan Kania menjelaskan apa yang terjadi dengan Dita. Feri mengerti dan Feri tidak akan menyerah begitu saja. Feri tetap meminta ijin Ibu Rani dan Kania untuk tetap berjuang untuk Dita. Ibu Rani dan Kania memberi dukungan penuh tapi tetap mengingatkan untuk tidak terlalu memaksakan.
"Pak, Semalam Dita pulang jam berapa?" Tanya Ibu Rani pada Pak Bagio supir pribadi Dita yang tengah menyeduh kopi di dapur.
"Eh, Ibu. Semalam ah, lebih tepatnya pagi tadi Bu jam 2 kami sampai di rumah." Lapor Pak Bagio.
"Apa?! Terus ini Bapak udah mau siap anter Dita lagi?" Ibu Rani.
"Iya Bu. Katanya Mba Dita ada meeting pagi di kantor. Tapi, ini udah hampir jam 7 Mba Dita belum turun." Pak Bagio.
"Bapak sudah tidur?" Ibu Rani.
"Alhamdulillah sudah Bu. Nanti setelah mengantar Mba Dita saya malah bisa tidur lagi Bu." Pak Bagio.
"Ya Tuhan anak itu. Terima kasih ya Pak." Ibu Rani.
"Sama-sama Bu. Sudah menjadi tugas saya juga." Pak Bagio.
Tapi, sudah hampir jam 8 Dita belum juga turun Ibu Rani terkejut saat akan pergi ke klinik mobil Dita masih terparkir dan Pak Bagio tampak sedang mengobrol dengan penjaga.
"Loh, Pak. Dita belum turun?" Ibu Rani.
"Belum Bu. Apa ngga jadi ya Bu meeting nya?" Pak Bagio.
"Sebentar saya cek." Ibu Rani.
Tak menunggu lama Ibu Rani pun kembali naik untuk mencari putrinya dan sesampainya di kamar Dita, Ibu Rani mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada jawaban apapun dari dalam. Terdengar bunyi ponsel Dita dari dalam Ibu Rani pun mencoba membuka knop pintu dan terbuka begitu saja.
"Dita..."
Jeritan Ibu Rani membuat Bibi ikut naik ke atas. Dan Dita tergeletak di lantai dengan wajah pucat pasi. Bibi segera memanggil Pak Bagio dan para penjaga untuk naik ke atas dan membawa Dita ke rumah sakit. Bibi pun menghubungi Dokter Wijaya yang sudah berada di rumah sakit namun tak ada jawaban karena Dokter Wijaya tengah melakukan operasi.
Bibi menghubungi Kania dan Kania segera menyusul ke rumah sakit. Kania menghubungi Feri memberitahukan Feri jika Dita masuk rumah sakit. Feri yang baru saja selesai apel pagi segera meluncur menuju rumah sakit. Mobil Feri dan Dita berurutan memasuki halaman parkir rumah sakit Mulia milik Dokter Wijaya.
"Angel tolong Dita." Ucap Ibu Rani disela isaknya.
Angel yang bertugas di IGD pun segera memeriksa keadaan Dita yang tak sadarkan diri. Angel terkejut ketika mendapati hasil jika Dita over dosis obat penenang. Beruntung Ibu Rani cepat menemukan Dita dan membawanya ke rumah sakit. Telat beberapa jam lagi saja mungkin Dita tak akan tertolong lagi.
"Dasar bodoh. Kalo mau mati jangan ngerepotin orang." Umpat Angel.
"Eh, Dok." Reflek perawat yang tengah memberi obat melalui suntikan.
"Maaf, kelepasan. Abisnya gemes banget sama dia ini." Angel.
"Dokter Dita sibuk banget Dok. Kelelahan ampe ngga bisa istirahat kayanya Dok makanya minum obat penenang maksudnya biar bisa tidur kali ya." Suster Ani.
"Minum obat serangga harusnya jangan minum obat penenang." Kesal Angel.
"Sabar Dok." Suster Ani.
"Siapkan pindah ke ruang perawatan ya Sus." Angel.
"Siap Dok." Suster Ani.
"Gimana Gel? Apa yang terjadi?" Tanya Ibu Rani begitu melihat Angel keluar.
"Dita sudah baik-baik saja Bu. Kami akan pindahkan Dita ke ruang perawatan." Angel.
"Kenapa Dita sampai pingsan Gel? Bilang sama kami?" Kania.
"Dita over dosis obat penenang Kak."
"Apa!"
Kania, Feri dan Ibu Rani kompak terkejut.
"Saya yang paling bertanggung jawab di sini." Ucap Feri begitu saja.
"Syukur deh kalo merasa." Kesal Angel.
"Gel.." Tegur Kania.
"Maaf Kak." Angel.
"Nak Feri tidak perlu merasa bersalah. Disini kami pun salah. Kami kurang memberi pengertian yang baik pada Dita." Ibu Rani.
"Ibu,, Ibu sudah memberikan yang terbaik. Dita hanya perlu waktu lebih lagi untuk memahami dirinya." Angel.
"Mami jangan khawatir ya. Sekarang Dita sudah baik-baik saja." Kania.
"Mi, ada apa?" Tanya Dokter Wijaya yang tergopoh sampai di IGD setelah mendengar berita jika Dita di bawa ke rumah sakit dan banyak panggilan tak terjawab dari rumah.
"Pi,, Dita over dosis obat penenang." Ibu Rani.
"Mami tenang ya. Putri kita pasti akan baik-baik saja." Ucap Dokter Wijaya membawa Ibu Rani ke dalam pelukannya.
Semua ikut menunggu Dita di ruang perawatan. Feri berdiri tegap di ujung brangkar memastikan Dita baik-baik saja. Ibu Rani duduk di sofa bersama Dokter Wijaya sementara Kania ke klinik terlebih dahulu.
"Ini kesempatan kamu untuk membuktikan jika kamu benar-benar mencintainya dan menerima segala kekurangannya. Atau kamu menyerah maka tinggalkan Dita dari sekarang." Dokter Wijaya.
"Jika semua masih memberi ijin maka saya akan terus berjuang Pi Mi." Feri.