Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Dalam Diam
Mobil hitam militer itu kembali bergerak meninggalkan Velmire setelah seluruh keributan di depan rumah judi berhasil diamankan. Jalanan distrik kumuh tersebut perlahan mulai tertinggal jauh di belakang mereka. Dari balik kaca jendela kendaraan, bangunan kusam, gang-gang sempit, serta orang-orang yang sejak tadi memenuhi pinggir jalan mulai berubah menjadi jalur utama Valdoria yang jauh lebih rapi dan luas.
Di dalam mobil, suasana sempat hening selama beberapa menit.
William duduk di balik kemudi dengan satu tangan masih bertahan di setir, sementara tatapannya lurus mengarah ke jalan di depan mereka. Sedangkan Aveline bersandar santai di kursinya sambil memandang keluar jendela. Perban putih di telapak tangannya kini mulai sedikit memerah lagi karena darah yang perlahan merembes tipis dari balik kain.
Namun wanita itu terlihat sama sekali tidak terganggu. Justru ekspresinya sekarang jauh lebih tenang dibanding saat berada di Velmire tadi. William yang menyadari hal itu akhirnya membuka suara lebih dulu.
“Kau benar-benar tidak tahu cara menjaga diri.” Nada suaranya terdengar datar, tetapi jelas masih menyisakan rasa kesal yang tidak ditunjukan secara terang-terangan.
Aveline tetap melihat ke luar jendela. “Aku baik-baik saja.”
“Kau menyebut itu baik-baik saja?”
“Kau terlalu serius menanggapinya.”
William akhirnya melirik singkat ke arah tangannya yang diperban. Rahangnya terlihat sedikit menegang sebelum ia kembali memusatkan perhatian ke jalan.
“Kau bertindak seolah tubuhmu merasa kebal.”
Kali ini Aveline menoleh pelan. Tatapannya langsung bertemu dengan William beberapa detik sebelum sudut bibirnya bergerak tipis, samar.
“Oh?” ujarnya santai. “Apa aku sedang melihat Tuan Kolonel William Caldoré menunjukkan perhatian padaku?”
Tatapan William langsung kembali lurus ke depan.
“Tidak,” jawabnya terlalu cepat. Dan itu justru membuat senyum tipis di wajah Aveline semakin terlihat jelas.
“Cepat sekali menyangkal.”
“Aku hanya tidak suka melihat seseorang bertindak tanpa berpikir.”
“Kalau begitu kau pasti sangat lelah sejak mengenalku.”
William mengembuskan napas pelan. “Kau memang sengaja membuat masalah.”
“Aku lebih suka menyebutnya membuat hidup lebih menarik.”
“Kau hampir membuat seluruh Velmire kacau.”
“Tapi kau datang membereskannya.”
“Kau terdengar cukup bangga.”
“Karena aku benar.”
William diam beberapa detik, dan justru hal itulah yang membuat Aveline tampak semakin menikmati percakapan.
“Tuan Kolonel benar-benar panik tadi, ya?”
Tatapan William langsung berpindah padanya lagi.
“Aveline.”
“Nah, itu nada suara yang tadi.”
“Sebagai seseorang yang terluka, kau terlalu banyak bicara.”
“Dan kau justru terlihat memperhatikanku, untuk seseorang yang katanya tidak peduli.”
William akhirnya menggeleng pelan seolah menyerah melanjutkan perdebatan itu. Namun sudut rahangnya masih terlihat menegang samar sejak tadi.
Mobil mereka terus melaju melewati jalan utama Silvercrest sampai akhirnya gerbang besar Eisenhall mulai terlihat dari kejauhan. Dua penjaga segera membuka gerbang besi hitam begitu kendaraan William mendekat. Mobil itu masuk perlahan ke halaman utama mansion besar tersebut sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk.
Ralf yang sejak tadi berjaga di depan langsung bergerak cepat membuka pintu utama rumah begitu melihat kendaraan William berhenti.
Aveline turun lebih dulu tanpa menunggu bantuan siapa pun. Mantel hitam panjangnya bergerak pelan tertiup angin pagi saat ia berjalan melewati halaman depan Eisenhall menuju pintu masuk rumah.
Sedangkan William baru keluar beberapa detik kemudian.
Tidak jauh di belakang kendaraan utama, Bram dan Kellan ikut turun bersama Liora dari mobil lain. Udara pagi Silvercrest terasa jauh lebih tenang dibanding keributan Velmire beberapa waktu lalu. Halaman depan mansion kembali sepi setelah kendaraan-kendaraan militer berhenti sempurna di depan pintu utama.
William baru saja ingin masuk ke dalam ketika Bram memanggilnya lebih dulu.
“Lapor, Tuan Kolonel.”
William berhenti lalu menoleh singkat. Bram berjalan mendekat bersama Kellan sebelum akhirnya membuka suara.
“Gadis itu meminta kami untuk menurunkannya di Eldervale.” Tatapan William sedikit berubah.
“Eldervale?” ulangnya pendek.
Kellan mengangguk pelan. “Dia bilang ingin menemui kerabatnya di sana.”
“Siapa?”
“Kami tidak tahu pasti,” jawab Bram. “Dia tidak menjelaskan banyak.”
William terdiam beberapa detik sambil memperhatikan kedua bawahannya bergantian. Angin pagi bergerak pelan melewati halaman depan mansion, membuat ujung mantelnya sedikit bergerak. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi tatapannya terlihat sedikit lebih tajam dibanding sebelumnya.
“Dia memang terlihat mengenal tempat itu?”
“Sepertinya begitu, Tuan,” jawab Kellan.
“Dan dia terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya,” tambah Bram. “Setidaknya tidak setakut saat masih di Velmire.”
William masih diam beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suara.
“Kau yakin dia tidak bermasalah?”
Bram dan Kellan sempat saling melirik singkat sebelum akhirnya Bram kembali menjawab.
“Saya yakin tidak, Tuan. Dia tampaknya seperti wanita biasa yang sedang mencoba menjauh dari sesuatu.”
“Dia juga tidak banyak bicara selama perjalanan,” lanjut Kellan. “Begitu turun, gadis itu langsung pergi sendiri.”
William tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat tertahan sesaat ke arah gerbang depan rumahnya sebelum pada akhirnya ia mengangguk pelan.
“Kalian boleh pergi.”
“Baik, Tuan.”
Hanya itu jawaban yang keluar sebelum William kembali berjalan masuk ke dalam mansion diikuti oleh Liora dan meninggalkan Bram serta Kellan.
Langkah sepatu William bergema pelan melewati lantai marmer ruang utama sebelum akhirnya tatapannya bergerak ke arah sofa besar.
Aveline sudah berada di sana.
Wanita itu duduk menyandar di sofa dengan posisi sedikit miring. Mantelnya sudah terlepas dan diletakkan sembarangan di samping tubuhnya. Perban putih di tangannya terlihat lebih jelas sekarang di bawah cahaya ruangan.
Entah karena kelelahan atau efek rasa sakit yang mulai muncul setelah adrenalin hilang, mata Aveline kini terpejam.
Ia tertidur.
William berhenti beberapa langkah dari sofa tanpa sadar. Tatapannya tertahan cukup lama pada istrinya.
Wajah Aveline terlihat jauh lebih damai saat diam seperti sekarang. Tidak ada senyum tipis yang sengaja memancing emosinya. Tidak ada tatapan tajam ataupun jawaban menyebalkan yang sejak tadi terus membalas ucapannya di dalam mobil.
Hanya suara napas pelan yang terdengar samar memenuhi ruangan besar itu. Pandangan William perlahan turun ke arah tangan Aveline yang diperban sebelum kembali ke wajah wanita tersebut.
Dan tanpa sadar, sudut bibir pria itu bergerak sangat tipis. Sangat kecil, hingga dirinya sendiri bahkan tidak menyadarinya.
William berhenti beberapa langkah dari sofa tanpa sadar. Ia menatap semakin lekat wanita itu, cahaya lampu kristal memantul samar ke wajahnya, membuat bayangan lembut bergerak pelan di sepanjang pipinya.
Perban putih di tangan Aveline kini mulai memerah lagi. Darah tipis perlahan merembes dari balik kain dan jatuh satu tetes ke permukaan lantai marmer di bawah tangannya.
Bahkan saat tidur pun wanita itu tetap berhasil membuat masalah. Netranya turun berhebti sedikit lebih lama ke arah tangan Aveline sebelum akhirnya ia berjalan mendekat. Kotak obat hitam yang sejak tadi masih berada di tangannya diletakkan pelan di atas meja kecil samping sofa. Bunyi kecil dari kayu yang bersentuhan membuat Aveline bergerak samar dalam tidurnya, tetapi wanita itu tidak benar-benar bangun.
William duduk perlahan di tepi sofa.
Posisi mereka kini jauh lebih dekat dibanding sebelumnya. Hanya suara napas pelan yang terdengar samar memenuhi ruangan besar itu.
William meraih perlahan tangan Aveline. Baru saja jemarinya menyentuh bagian perban yang mulai longgar, Aveline tiba-tiba bergerak refleks.
Tangannya langsung mencengkeram pergelangan William cukup kuat. Tetapi Aveline masih setengah sadar. Matanya bahkan belum terbuka sepenuhnya, namun jemarinya mencengkeram tangan William dengan naluri waspada yang terasa otomatis seolah tubuhnya sudah terbiasa bereaksi seperti itu bahkan tanpa berpikir.
Suasana di antara mereka benar-benar hening. Lalu perlahan, mata Aveline akhirnya terbuka sedikit. Kelopak matanya tampak kosong sebelum akhirnya fokus gadis itu kembali normal setelah menyadari siapa yang berada di depannya.
Genggaman tangannya mulai mengendur. William tetap diam memperhatikannya.
“Kau bahkan tetap menaruh kecurigaan saat tidur,” ucapnya rendah.
Aveline mengembuskan napas kecil lalu kembali menyandarkan kepalanya ke sofa.
“Aku refleks.”
“Itu bukan refleks normal.”
“Kau terdengar seperti sedang menghakimiku.”
“Kau hampir membuat tanganmu robek lebih dalam.”
“Namun itu tidak terjadi.”
William tidak membalas.
Pria itu langsung membuka ulang lilitan perban yang mulai basah oleh darah. Gerakannya tetap tenang dan rapi seperti sebelumnya saat berada di mobil tadi. Kain putih yang mulai memerah dibuka perlahan sampai telapak tangan Aveline terlihat jelas di bawah cahaya ruangan.
Luka robek itu memang tidak dangkal. Bekas sayatan memanjang terlihat jelas melintasi telapak tangannya. Kulit di sekitar luka mulai sedikit memerah akibat tekanan selama perjalanan tadi. Darah baru kembali muncul tipis di bagian sisi luka ketika William membersihkannya menggunakan kain kasa baru.
Aveline tidak mengatakan apa-apa lagi.
Wanita itu hanya memejamkan mata sambil tetap membiarkan William memegang tangannya. Napasnya perlahan mulai kembali stabil seperti seseorang yang masih berada di antara sadar dan tertidur.
Ruangan seketika hening. Sedangkan William kembali fokus membersihkan luka di telapak tangan Aveline. Namun di saat itulah gerakannya perlahan berhenti.
“Liora.” Liora yang sedari tadi berdiri tak jauh dari ruang utama langsung menoleh cepat.
“Ya, Tuan?”
William menutup kotak obat hitam di meja kecil samping sofa sebelum akhirnya berbicara singkat.
“Bereskan semuanya.”
“Baik, Tuan.”
Liora segera mengangguk pelan lalu mulai membereskan kain kasa, botol antiseptik, dan sisa perban yang tadi digunakan William.
Sementara itu, pandangan William lagi-lagi jatuh pada Aveline. Wanita itu benar-benar sudah tertidur pulas sekarang. Napasnya terdengar pelan dan teratur, tubuhnya pun tak lagi tegang seperti sebelumnya. Seolah setelah semua kekacauan di Velmire berakhir, tubuhnya akhirnya memilih menyerah karena terlalu lelah.
Netra kelabunya menangkap beberapa helai rambut hitam Aveline yang jatuh berantakan menutupi sebagian pipinya. Tangan kirinya yang sudah kembali diperban kini terbaring diam di dekat tubuhnya, sementara mantel hitam miliknya masih tergeletak sembarangan di sisi sofa.
Kini yang tersisa sekarang hanya wanita keras kepala yang tertidur diam di ruang utama. William terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.
“Kau memang sumber masalah bagiku, Aveline,” gumamnya rendah hampir tak terdengar. Namun bukannya pergi menjauh, William justru kembali melangkah mendekati sofa.
Ia membungkukkan tubuhnya, lalu menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Aveline sementara tangan satunya menopang punggung wanita itu dengan hati-hati. Gerakannya jauh lebih pelan dibanding biasanya, seolah tak ingin membangunkannya.
Hingga bisa dipastikan perlahan tubuh Aveline terangkat dari sofa. Wanita itu bergerak samar dalam tidurnya. Keningnya sempat sedikit berkerut sebelum akhirnya kepalanya justru tanpa sadar bersandar pelan ke dada William.
Jari-jemarinya ikut bergerak kecil lalu refleks mencengkeram bagian depan kemeja pria itu seperti mencari posisi nyaman.
Langkah William sempat terhenti sepersekian detik.
Pandangannya turun lagi ke arah wanita yang berada di dalam pelukannya sebelum akhirnya kembali lurus ke depan.
Tanpa mengatakan apa pun, William mulai melangkah menuju anak tangga dengan tetap menggendong tubuh gadis itu.
Suara langkah sepatunya bergema pelan di atas lantai marmer, sementara Liora yang masih berdiri dekat meja hanya bisa diam memperhatikan punggung tuannya yang perlahan menjauh.
Dan untuk pertama kalinya sejak Aveline datang ke Eisenhall … William bahkan tak pernah melakukan hal seperti ini pada seorang wanita.
.
.
.
Bersambung