Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Gema Suara Dan Mukjizat Yang Bersemi
Seminggu telah berlalu sejak Alice dinobatkan sebagai Dewi di Desa Tura. Kini, desa terpencil itu tidak lagi sepi. Arus manusia, mulai dari pedagang yang haus peluang, pengelana yang mencari perlindungan, hingga para kesatria dari Silph, terus mengalir masuk. Sebagian datang untuk berziarah, sementara yang lain berharap mendapatkan berkah langsung dari "Ibunda Sang Dewi Athos."
Pengaruh Alice telah meluas bagaikan api yang tertiup angin, menjangkau dua desa tetangga: Vhalha dan Misty.
Di dalam kuil yang baru saja selesai dibangun, Alice duduk di atas singgasana megah. Di belakangnya, berdiri sebuah patung Dewi yang lebih menyerupai pahatan Yunani kuno daripada sosok Alice sendiri, sebuah ironi yang hanya diketahui kelompoknya.
Xena, Violet, dan Albertio berdiri di depan Alice sementara Arthur duduk di samping kursinya.
"Haaah... Xena, bagaimana perkembangan penyebaran ajaran agama kita?" Alice bertanya. Ia duduk dengan kaki menyilang, menopang dagu di singgasananya.
"Hebat sekali!! Desa sebelah sudah sepenuhnya jadi pengikut Dewi!" Xena bersorak penuh kemenangan.
"Ini bagus, tapi sepertinya terlalu bagus untuk jadi kenyataan." timpal Violet. Ia menyeringai riang, meski tangannya tak berhenti memainkan belati tajam yang berkilat di bawah cahaya matahari yang merembes ke kuil.
Alice melirik kuku-kukunya yang cantik.
"Begitu ya?" ucapnya tenang.
"Alice, tapi mereka terlalu mudah percaya pada cerita ibunda Athos ini, aku khawatir pengaruhmu akan sampai ke ibukota dalam hitungan bulan." ujar Arthur yang duduk di samping singgasana Alice.
"Itulah manusia, Arthur. Mereka mudah percaya pada sesuatu yang terlihat indah di depan mata mereka." Alice menatap Arthur dengan senyum tulus yang tersirat.
"Jika mereka diperlakukan buruk oleh kerajaan ini, sudah hampir pasti mereka percaya pada sesuatu yang memberi mereka harapan baru."
"Aku mengerti perasaan itu, tapi katedral tidak akan tinggal diam tentang ini." Albertio menyela sambil bersedekap, suaranya sedingin es.
"Benar. Untuk saat ini, kita fokus saja membangun narasi 'ibu dewi' di Desa dan kota pinggiran. Jika berita ini sampai ke ibukota terlalu cepat, aku khawatir..." Kalimat Alice menggantung, menciptakan keheningan yang memicu imajinasi liar di ruangan itu.
"Aku khawatir mereka akan segera bertindak." lanjutnya dengan mata yang mendadak tajam.
Arthur dan yang lainnya saling pandang, lalu mengangguk serempak dengan ekspresi serius.
"Alice, kita harus membangun sistem pertahanan sesegera mungkin." Arthur menoleh pada Alice yang berada di sampingnya.
"Aku akan pergi ke kota Silph, mencari informasi tentang pengaruhmu sendirian." ucap Albertio sembari bersedekap.
Mata Xena berbinar-binar.
"Sendiri? Aku ikut..!! Aku mau ke restoran beeflove.. " ucapan Xena terputus, Albertio memotongnya segera.
"Kau tetap disini, aku tidak mau membawa bom berjalan." potong Albertio tanpa ragu.
"Apa kau bilang? Yang benar saja? Aku ikut!!!" Xena mulai merajuk, wajahnya memerah karena kesal.
Arthur, Violet, dan Alice saling lirik dengan tatapan lelah yang sama. Violet kemudian berjalan mendekati Xena.
"Xena sayang... Kau kan bisa menitipkan pesananmu pada Albertio, kau tidak harus ke restoran itu dan pergi kesana!" Violet menepuk bahu Xena dan mengelusnya pelan.
"Tapi makanannya tidak akan seenak yang baru dimasak!! Aku butuh..?!"
"Xena," Xena terpaku saat Alice memotongnya tiba-tiba.
"Aku akan memasakkanmu makanan yang jauh lebih baik." Alice pun ikut membujuk Xena.
"Jauh lebih baik? Apa kau yakin?" balas Xena dengan nada penuh keraguan.
"Tentu saja, di dunia lam.. Maksudku, aku sering memasak saat berada di panti asuhan dulu. Benarkan, Arthur?" Alice menatap Arthur dengan tatapan 'beraktinglah dan ikuti aku'.
Arthur menangkap sinyal itu dengan sigap.
"Aaah... Ya... Benar.. Alice sangat jago memasak saat berada di panti dulu."
Semua orang yang mendengar pernyataan itu terdiam sejenak.
"Baiklah... Kalau memang masakannya setara dengan restoran mewah di kota Silph. Aku akan menurut." balas Xena, akhirnya menyerah, menuruti kemauan mereka.
Seketika Arthur, Violet, dan Alice mengembuskan napas lega secara bersamaan, sementara Albertio hanya menutup matanya, kembali ke dalam ketenangannya.
"Dewii... Dewi Alice!!"
Suara gaduh seorang warga desa memecah ketenangan. Alice menoleh pada pria yang baru saja tiba dengan terengah-engah. Fredrick ikut masuk bersama warga itu dan segera berlutut di samping Arthur.
"Ada apa?" tanya Alice singkat, kembali ke mode Dewinya.
"Dewi... persediaan makanan kita mulai menipis.. banyaknya penduduk yang datang menghabiskan stock makanan begitu cepat!! Apa yang harus kita lakukan?" tanya pria itu sambil bersujud di depan singgasana Alice.
"Beberapa goblin terlihat di hutan Wyrm, Dewi. Lahan pertanian tidak lagi aman bagi penduduk desa untuk bercocok tanam." timpal Fredrick dengan penuh hormat.
Alice memicingkan matanya, berpikir keras.
"Wajar saja, ini Desa kecil! pertumbuhan populasi penduduk yang tiba-tiba dan tanpa persiapan, pasti membuat krisis pangan secara drastis." Pikir Alice.
"Alice?" tanya Arthur, menatap lekat wajah gadis itu.
Semua orang di sana memandangnya, menanti titah selanjutnya dari sang gadis berambut merah muda. Namun, Alice justru terlalu hanyut dalam labirin pikirannya sendiri.
"Apa aku bisa menumbuhkan tanaman dalam sekejap? Sihir kehidupan ini... belum pernah ku uji coba pada tumbuh-tumbuhan." batin Alice penuh pertimbangan.
"Bisa..!!" Sebuah suara asing tiba-tiba menggema di dalam kepala Alice.
"Hah? Siapa itu?" Alice tersentak, suaranya lolos begitu saja karena terkejut.
Arthur dan yang lainnya saling melempar pandang penuh keheranan. Di telinga mereka, ruangan itu sunyi senyap, hanya menyisakan desau angin yang menyelinap masuk melalui celah pilar kuil.
"Nona kelinci? Apa maksudmu?" Violet memicingkan mata penuh curiga.
"Apa kau mulai berhalusinasi, Dewi?" Albertio menimpali dengan nada datar yang khas, tetap bersedekap.
"Aa... uhum.." Alice berdehem susah payah, mencoba memulihkan akting elegannya.
"Tidak.. aku hanya terlalu memikirkan sesuatu saja." Ia memberikan alasan klise sembari memperbaiki posisi duduknya.
"Alice, aku bisa pergi mengumpulkan makanan ke Desa terdekat jika kau mau." tawar Arthur.
"Aku juga akan membantu!!" seru Xena penuh semangat.
"Tidak-tidak, jika Xena membantu, maka Desa sebelah akan ikut kelaparan.. Aku harus memikirkan alternatif lain!" Alice masih bergelut dengan pikirannya.
"Bukankah sudah ku bilang bisa? Alice?"
Suara itu kembali beresonansi, kali ini lebih jelas, membuat Alice tertegun sejenak. Kesadarannya seolah dipaksa untuk fokus ke satu titik di dalam dirinya.
"Eh? Si.. Siapa kau?" tanya Alice dalam hati.
"Aku adalah Hestia, pemilik asli kalung yang kau gunakan sekarang."
Hening... waktu seakan membeku.
"Hes.. tia?" bisik Alice lirih sembari tetap menopang dagu. Gumaman itu kembali memicu gelombang kebingungan massal di dalam kuil megah tersebut.
PLUK!
suara tetesan air menggema sesaat.
Seketika kesadaran gadis berambut merah muda itu berpindah ke dimensi lain. Dalam sekejap mata, ia kini tengah duduk di sebuah bangku yang beralaskan langit biru cerah.
Alice tersentak, memandangi sekelilingnya yang hampa, sebuah ruang tak berujung di mana awan putih menjadi lantai dan cakrawala tanpa batas.
Di hadapannya, terbentang sebuah meja bundar, dan di bangku seberang, duduk sosok yang sama sekali tidak ia kenali: seorang wanita berambut hitam yang mengenakan pakaian putih minimalis. Wanita itu sedang menyesap teh dengan keanggunan tiada tara.
"Selamat datang di duniaku... Alice..." ucap wanita itu, suaranya sehalus sutra sembari jemarinya yang lentur memegang cangkir teh porselen yang indah.
Alice mengernyitkan dahi.
"Siapa kau? Apa kau Hestia?"
"Ya.. akulah Hestia, pemilik asli kalung milikmu." Hestia menjawab tenang, bibirnya melengkung membentuk senyum anggun.
"Pemilik asli? Jadi kekuatanku ini... hanya pinjaman?" Alice menopang dagu, menatap tajam ke arah Hestia.
"Benar sekali. Kekuatanmu itu... Hanyalah sebagian kecil dari kekuatan milikku dulu." Hestia mempertahankan senyumnya.
Alice tidak bergeming, ia diam sejenak, mencoba memproses semua kejadian tidak masuk akal yang baru saja terjadi.
"Begitu ya? Jadi... dari mana asalmu? Kenapa kau baru muncul sekarang?" tanya Alice menyelidik.
Hestia tidak segera menjawab. Ia menyesap teh hangatnya sejenak sebelum melanjutkan.
"Selama ini, aku berada di dalam kalung itu, dan..."
wanita itu meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan, lalu melirik Alice.
"Karena kau terlihat sangat kesulitan... Makanya aku membantumu."
Alice melihat cangkir teh yang tersedia di mejanya, kemudian mengalihkan pandangan kembali pada Hestia.
"Membantuku? Oh bagus sekali.. sekarang ada orang asing di dalam kalungku yang berniat membantuku."
Lalu ia kembali memasang pandangan sedingin es.
"Kenapa kau membantuku?" ucap Alice dingin.
Hestia tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
"Ahahaha... menarik sekali... sungguh menarik sekali..." tawa Hestia yang jernih seolah memenuhi setiap sudut langit biru tempat mereka berpijak.
Alice tak bergeming, menunggu jawaban dari sosok wanita di depannya.
"Kenapa aku membantumu? Haruskah ada alasan, untuk membantu mereka yang sedang kesulitan?" tanya Hestia sembari tersenyum lembut, mengunci tatapan Alice.
"Tentu saja, tidak ada yang mau membantu tanpa mendapatkan apapun bukan?" jawab Alice penuh rasa curiga.
"Oh.. ayolah.. aku hanya membantumu dengan tulus.." Hestia kembali menjawab dengan senyum sempurnanya.
Alice tetap diam. Ia mengamati sosok Hestia yang terlalu santai, terlalu tenang, dan terlalu... baik.
Hening kembali menyelimuti...
Perlahan Alice membuka suara.
"Baiklah, untuk saat ini... aku akan mencoba mempercayaimu." jawab Alice meski matanya masih melihat Hestia dengan waspada.
Hestia hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Bagus, karena itu lebih baik." kemudian ia mengangkat tangan kirinya.
Secercah sinar hijau murni muncul dari ujung jari telunjuknya. Perlahan, sinar itu terbang meliuk-liuk seperti kunang-kunang, mendekat perlahan ke arah Alice.
WISH.. WISH.. WISH..
Alice tidak bergerak. Ia hanya melirik pendaran hijau itu sekilas, lalu kembali fokus pada Hestia.
"Apa ini?" tanya Alice dengan nada menusuk.
"Hanya hadiah pertemanan." balas Hestia singkat.
WIIISH!!!
Sinar itu meresap ke dalam kalung Dewi yang telah menyatu dengan kulit dada Alice. Seketika, sebuah mantra kuno muncul di dalam benak gadis itu. Pengetahuan yang benar-benar purba.
'Sanctuary of life'
Nama spell itu masuk begitu saja di pikiran Alice, ia tertegun sejenak. Merasakan aliran energi pembawa kehidupan yang sangat kuat dari mantra tersebut.
Alice menutup mata, lalu membukanya perlahan.
"Kekuatan ini..." gumam Alice, nyaris tak percaya.
"Sepertinya kau sudah mendapatkan apa yang kau butuhkan." ucap Hestia dengan senyum anggunnya.
"Sayangnya... pertemuan kita harus berakhir disini." Ia bangkit dari kursinya, memutar tubuhnya dengan gemulai, lalu mulai berjalan menjauh menembus awan-awan putih.
"Tunggu..!!! Apa maksud semua ini?" teriak Alice mencoba menghentikan wanita itu.
"Kenapa kau memberiku kekuatan ini? Jelaskan padaku..!!"
Hestia berhenti melangkah, lalu melirik Alice dari sudut matanya. Senyum simpulnya masih merekah di sana.
"Karena aku membutuhkanmu."
Seketika kesadaran Alice seolah ditarik paksa keluar dari dunia itu, ia kembali berada di singgasananya, di sebuah kuil Desa Tura.
Arthur dan yang lainnya masih menatap gadis itu dengan posisi yang sama persis saat kesadarannya pergi tadi. Mereka masih tampak bingung dan penuh tanda tanya.
Alice kembali menopang dagunya dengan satu tangan, menyilangkan kakinya dengan tenang di kursi kebesarannya.
"Alice?" suara Arthur akhirnya memecah keheningan yang terasa berat itu.
"Dewi? Apa yang harus kami lakukan?" warga desa yang masih bersujud kembali mengulangi pertanyaannya.
Alice memandangi mereka semua dengan sorot mata yang jernih dan berwibawa.
"Membutuhkanku? Apa maksudnya?" batin Alice.
"Baiklah, untuk sekarang aku bisa menyelesaikan masalah krisis pangan ini karena wanita itu. Aku harus berterima kasih.. Mungkin..??"
"Kita ke area pertanian segera! Arthur, Violet, pastikan area itu aman bagi penduduk!" perintah Alice dengan nada yang tenang.
Arthur dan Violet saling berpandangan sejenak, sebelum mereka menjawab serempak.
"Baik..!!" Keduanya segera melangkah ke arah pintu keluar kuil.
"Aku? Aku ngapain Alice?" tanya Xena, menuntut peran dengan wajah memelas.
"Haah.. Xena, kau kan pelindung Dewi, jadi kau mendampingiku disini. Kita berdua ke sawah setelah area aman." jawab Alice setelah menghela napas.
"Ya, kau sebaiknya bersamaku supaya tidak membuat masalah Xena." Batin Alice kelelahan.
Mata Xena langsung berbinar-binar dengan bangga.
"Wooooh.... Lihat itu, Vio!! Arthur!! Dari kita semua, aku yang di tunjuk sebagai pelindung pribadi..!!" Ia berkacak pinggang.
"Hebat sekali, Nona Xena memang pelayan Dewi yang bisa di andalkan." puji Fredrick yang sedari tadi memperhatikan dengan rasa kagum.
Violet dan Arthur yang sudah berada di ambang pintu kuil menoleh ke arah Xena sekilas. Mereka serempak menggelengkan kepala dengan ekspresi lelah sebelum benar-benar melangkah keluar.
"Hei apa maksudnya itu!!!" teriak Xena kesal meminta penjelasan.
"Kalau begitu aku akan ke kota Silph, untuk mengumpulkan informasi." ucap Albertio dingin, tanpa mempedulikan teriakan Xena.
"Saya ikut, Tuan Albertio. Saya sudah mengenal kota Silph sejak lama. Izinkan saya memandu anda." Fredrick berdiri, menatap Albertio dengan penuh harap.
Albertio memandangi Fredrick sejenak dengan tatapan datarnya.
"Jangan buat kegaduhan yang tidak perlu!" ucap pria itu sembari berjalan tenang menuju pintu dengan tangan di saku.
Wajah Fredrick langsung cerah ceria.
"Siap!!!" ucapnya tegas sembari membuntuti langkah Albertio.
"Terima kasih Dewi yang agung!! Hamba akan memberi tahu penduduk!" Warga desa itu bangkit dan membungkuk hormat.
Alice melambaikan tangannya, layaknya seorang ratu yang memberikan izin. Pria itu segera berbalik dan melangkah keluar kuil dengan langkah mantap.
Xena segera berjalan ke arah meja di dekat singgasana, meja yang sejak dua hari lalu mulai dipenuhi dengan upeti berupa minuman anggur dan berbagai camilan lezat dari penduduk Desa yang berkunjung.
"Ummm... nyam-nyam.. melindungi Dewi, butuh tenaga ekstra! Aku lapar sekali!" Xena bergumam sembari mengunyah sebuah roti bantal dengan lahap.
"Aku juga lapar, minta satu Xena." pinta Alice, seketika menanggalkan akting Dewinya karena kini hanya tinggal mereka berdua di dalam kuil itu.
Mereka berdua pun makan bersama, menyesap susu dan anggur terbaik. Menikmati kedamaian singkat sebelum mukjizat berikutnya ditunjukkan pada dunia.
[Sisi Arthur dan Violet]
Arthur melangkah di depan Violet, langkah kakinya yang tegap seolah mengukur luasnya hamparan ladang yang membentang di depan mata. Ia tiba-tiba berhenti di tepi pematang sawah, tubuhnya menegang.
"Vio, apa kau melihatnya?" Arthur mengarahkan pandangannya ke Hutan Wyrm.
Violet tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memicingkan matanya, mempertajam indra penglihatan bak pemangsa.
Di kejauhan, di balik rimbunnya semak dan pepohonan, beberapa sosok kerdil berkulit hijau terlihat mengintip. Mereka menggenggam pemukul kayu kasar, bergerak gelisah di dalam kegelapan dahan.
"Ah.. hama hijau lagi ya? Aku sudah bosan dengan mereka, tapi baiklah." Violet memutar belatinya dengan lihai. Bilah logam itu menari di jemarinya.
Tanpa aba-aba, wanita itu melesat dengan gerakan cepat, wusssh!!! Violet berlari menuju Hutan Wyrm. Seringai tipis yang tampak haus darah tersungging di wajahnya.
"Tunggu hei..!! Haaah.." Arthur menghela napas pendek, lalu segera mengejar bayangan Violet yang bergerak lincah di tengah padang rumput.
Keduanya menuju tepian Hutan Wyrm, tempat bersemayamnya sekumpulan parasit yang pernah meneror desa ini seminggu yang lalu.
[Sisi Albertio dan Fredrick]
Di sisi lain desa, Albertio berjalan dengan ketenangan yang luar biasa. Kedua tangannya terbenam di dalam saku celana, ia melangkah menuju kandang kuda Desa Tura.
Di belakangnya, suara denting zirah perak Fredrick menciptakan irama yang kontras dengan langkah ringan Albertio.
"Tuan Albertio, aku sarankan kita langsung menuju area bar pemukiman warga Silph. Disana, banyak rumor aneh yang cepat beredar." ucap Fredrick dengan nada tegas.
Albertio menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Ia tidak menoleh, matanya terpaku pada deretan kuda yang meringkik di depannya.
"Ya, aku rasa itu ide yang bagus. Sesampainya di kota, segera ganti perlengkapanmu dengan pakaian warga sipil biasa!" perintah Albertio dingin.
Fredrick segera membungkuk hormat, setelah itu, ia segera menarik salah satu kuda tercepat menurut perkiraannya.
"Aku mengerti, zirahku ini memang terlalu mencolok untuk sebuah misi penyelidikan." Fredrick menaiki pelana, bersiap untuk berangkat ke kota.
"Baguslah kalau kau mengerti.. Hup!" Secara mengejutkan, Albertio melompat ke punggung kuda.
WUUSH... TAP...
Ia tidak duduk, Albertio berdiri tegak di belakang Fredrick dengan tangan masih bersedekap santai di dada.
Fredrick menoleh sekilas, merasakan aura dingin namun penuh perhitungan yang memancar dari sosok yang berdiri di belakangnya itu.
Gerakan hewan berkaki empat yang bergoyang, seperti tidak ada artinya bagi Albertio. Keseimbangan Albertio tampak mustahil, seolah kakinya terpaku pada pelana.
"Jalan!" ucap Albertio singkat.
"Hah!" Fredrick memacu kudanya. Hewan itu meringkik keras, melesat melewati gerbang Desa Tura yang dijaga oleh patung Dewi Alice yang 'dimodifikasi'.
Belum jauh mereka memacu kudanya, sebuah hantaman dahsyat terdengar mengguncang bumi dari arah Desa Tura di belakang mereka.
DUAAAR!!!
Fredrick menoleh ke belakang dengan wajah cemas, namun Albertio tidak bergeming. Ia memejamkan mata, membiarkan angin menerpa wajahnya.
"Jangan mengecewakan rivalmu, Arthur.." gumam Albertio pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Kuda mereka terus berlari menjauhi Desa Tura, meninggalkan kegaduhan yang mulai pecah di Hutan Wyrm. Perjalanan menuju pusat informasi telah dimulai.
Akankah takdir membawa Alice pulang ke dunianya dengan mudah? Ataukah mukjizat yang ia ciptakan justru akan menyeretnya ke dalam pusaran konflik yang lebih besar dari yang bisa ia bayangkan?
cape😅