Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 – Rencana Diana
Senja Sydney menutup hari dengan langit berwarna jingga keemasan, namun hati Bella terasa berat. Ia sedang menyelesaikan beberapa dokumen kerja, mencoba fokus, tapi rasa gelisah tak bisa diusir. Ada sesuatu yang berbeda hari ini—sebuah pesan masuk di ponsel Dominic yang ia lihat sekilas: nama yang membuat darahnya hampir membeku.
“Diana”.
Bella menelan ludah. Mata Dominic yang tadinya cerah kini sedikit gelap saat membaca pesan itu. Ia menutup laptopnya dan menatap Dominic dengan hati-hati.
“Dominic… siapa dia?” suaranya pelan tapi penuh waspada.
Dominic menghela napas panjang, menatap Bella tanpa berkedip. “Dia… mantanku dulu. Tapi kau tahu aku sudah memilihmu, Bella. Aku nggak lagi ada hubungannya dengan dia.”
Bella menunduk, menahan napas. Ia ingin percaya, tapi bayangan masa lalu Dominic selalu mengintai. “Kau yakin?” tanyanya akhirnya, suara bergetar tipis.
Dominic mengangguk. “Aku yakin. Tapi Diana… dia tiba-tiba muncul lagi di hidupku. Aku nggak tahu maksudnya apa. Aku cuma ingin kau tahu sebelum kau dengar dari orang lain.”
Bella merasakan amarah dan rasa takut bercampur. Ia menatap Dominic, mencoba membaca ekspresi pria itu. Ia tahu Dominic tulus, tapi bayangan perselingkuhan itu masih membekas dalam hatinya.
Malam itu, Diana muncul di lobi apartemen Dominic. Bella, yang sedang ikut Dominic ke luar sebentar, melihat wanita itu dari kejauhan. Rambut pirang Diana, senyum tipis yang menantang, membuat Bella langsung menegang.
Dominic melihat reaksi Bella. “Bella… jangan khawatir. Aku nggak mau dia mengganggu kita. Aku di sini untukmu, bukan untuknya.”
Tapi Bella tetap cemas. Ia merasakan sesuatu yang asing—kombinasi antara marah, takut, dan… iri. Dominic yang biasanya hangat dan menenangkan, kini tampak sedikit tegang.
Diana tersenyum dingin. “Dominic… lama tak bertemu. Aku dengar kau sudah punya… wanita baru.” Suaranya manis tapi ada nada sinis yang tajam.
Dominic menatap Diana tanpa membiarkan emosinya terpancing. “Aku sudah memilih jalanku, Diana. Aku tidak ingin masa lalu menghancurkan apa yang aku miliki sekarang.”
Bella berdiri di belakang Dominic, merasa campur aduk. Ia ingin memeluk Dominic, tapi juga ingin menatap langsung Diana dan menegaskan bahwa Dominic miliknya.
Diana menatap Bella dengan senyum dingin. “Oh… aku mengerti. Kau istri kecilnya sekarang. Tapi jangan lupa, masa lalu kadang datang tanpa diundang.”
Bella menelan ludah. Hatinya bergejolak, tapi ia mencoba tenang. Dominic meraih tangannya dengan lembut, seolah memberinya kekuatan. “Jangan takut, Bella. Aku nggak akan biarkan dia mengganggu kita. Aku di sini untukmu, untuk bayi kita, dan untuk masa depan kita.”
Diana menatap mereka sebentar, lalu pergi meninggalkan lobi dengan langkah anggun tapi penuh arti. Bella tetap menatap, jantungnya berdebar. Dominic memeluknya dari belakang, menaruh tangan di perutnya.
“Lihat, kecil… ayahmu ada di sini. Tidak ada yang akan menggantikan tempat kita,” bisik Dominic.
Bella menutup mata, merasakan campuran marah dan lega. Ia tahu konflik ini baru dimulai, tapi satu hal jelas: Dominic memilihnya. Dan ia harus tetap kuat untuk mempertahankan cinta mereka, meski bayangan masa lalu terus mengintai.
-----
Hujan turun deras di Sydney malam itu. Suara rintikannya di jendela apartemen Bella seakan menambah ketegangan yang sudah memenuhi udara. Bella duduk di sofa, selimut tipis membungkus tubuhnya, sambil menatap layar laptop. Tapi pikirannya kacau. Setiap kali ia menoleh ke arah Dominic yang sedang menyiapkan teh di dapur, ada rasa gelisah yang tak bisa dihilangkan.
Pesan-pesan dari Diana terus muncul di benaknya. Bukan pesan langsung, tapi kabar yang ia dengar melalui teman-teman Dominic. Sesekali Diana muncul di media sosial, memberikan komentar samar yang seolah menantang—“Kau yakin dia layak untukmu?” atau “Terkadang yang baru tak sebanding dengan yang lama.”
Bella menghela napas panjang. Ia ingin memarahi Dominic karena tidak memberitahunya lebih awal, tapi ia tahu Dominic sudah cukup tulus menyesal. Rasa marah dan benci bercampur dengan rasa sayang. Ia menyadari, semakin ia mencoba menjauh, semakin hati kecilnya ingin dekat dengan Dominic.
Malam itu, Dominic duduk di sampingnya. “Bella, aku tahu kau khawatir. Tapi percayalah… aku nggak akan membiarkan Diana mengganggu kita.” Suaranya tenang, tapi Bella bisa merasakan ketegangan yang ia coba sembunyikan.
Bella menatap Dominic. “Aku takut, Dominic. Aku nggak mau hatiku patah lagi karena wanita itu.” Suaranya pelan tapi penuh arti.
Dominic menggenggam tangannya, lembut tapi tegas. “Aku ngerti. Dan kau nggak perlu takut. Aku di sini. Kita berdua. Dia nggak bisa mengambil tempatmu di hatiku.”
Hari-hari berikutnya, Diana mulai menunjukkan strategi halusnya. Ia mengirimkan pesan pribadi ke teman-teman Dominic, membuat komentar di media sosial yang seolah ingin mengusik hubungan Dominic dan Bella. Setiap kali Bella membaca sesuatu yang terkait Diana, hatinya berdebar, marah, tapi juga penasaran.
Suatu sore, saat Dominic pulang dari kantor, ia melihat Bella duduk termenung di ruang tamu, wajahnya pucat. “Bella?” panggilnya lembut.
Bella menoleh, menahan amarahnya. “Dia… Diana. Aku dengar dia komentar tentangmu lagi. Aku nggak bisa… aku nggak suka merasa seperti ini.”
Dominic duduk di sampingnya, menatap Bella dengan tatapan yang penuh cinta dan kesungguhan. “Bella, dengarkan aku. Aku nggak akan biarkan dia merusak kita. Aku nggak akan membiarkan hatimu terluka lagi. Aku serius, Bella. Aku di sini untukmu. Untuk bayi kita. Dan aku nggak akan menyerah.”
Bella menunduk, menahan air mata. Ia tahu Dominic tulus, tapi bayangan masa lalu selalu hadir. Ia ingin menjauh, tapi hatinya menjerit ingin dekat. Dominic mengusap rambutnya lembut, memberikan kehangatan yang membuatnya sedikit tenang.
Hari-hari berlalu, dan Diana semakin licik. Ia muncul di kantor Dominic, pura-pura menanyakan pekerjaan, tapi selalu meninggalkan komentar yang menantang—menatap Dominic terlalu lama, tersenyum seolah ada rahasia yang hanya ia tahu. Bella, meski masih jual mahal, mulai merasa cemburu dan gelisah. Ia ingin memarahi Dominic, tapi ia tahu Dominic tak pernah menoleh pada Diana lagi.
Suatu malam, Dominic mengajak Bella keluar untuk makan malam. Di restoran kecil dekat pelabuhan, lampu-lampu redup menambah suasana romantis, tapi Bella tetap waspada. Dominic melihat wajahnya, dan tanpa kata, mengulurkan tangan. “Bella… percayalah. Aku di sini untukmu. Kita berdua. Biar Diana mencoba apa pun, hatiku hanya untukmu.”
Bella menggenggam tangannya, merasakan ketegangan yang perlahan menghilang. Ia tahu Dominic tulus. Ia tahu ia harus tetap kuat, tapi hatinya tak bisa menolak kehangatan pria itu.
Malam itu, saat mereka berjalan pulang di bawah payung yang sama, hujan deras membasahi wajah mereka, Dominic menarik Bella lebih dekat. “Aku nggak akan menyerah, Bella. Kau milikku, dan aku milikmu. Biar apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama.”
Bella menatap Dominic, hati campur aduk—marah karena Diana, takut karena masa lalu Dominic, tapi juga… bahagia. Ia mulai menyadari satu hal: Dominic bukan hanya pria yang menyesal, tapi pria yang siap melindungi dan mencintai mereka tanpa syarat.
Di tengah hujan Sydney yang deras, satu hal jelas: Diana boleh muncul, boleh mencoba mengganggu, tapi Dominic memilih Bella. Dan Bella, meski masih jual mahal, mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit, siap menghadapi konflik yang Diana bawa—bersama Dominic.
kasih gebrakan yg gimana
ini...kyk masih ada ditempat setelah ber bab bab
pergi atau tinggal?
putuskan segera
aku sebal
aku....aakhh bingung mau apa ya 🙄😜🤣
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹