NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Yang Mulai Terasa Dekat

Malam itu Nayra tidak langsung tidur meskipun tubuhnya lelah.

Ia duduk di tepi ranjang kamar tamu dengan kedua kaki terlipat, memandangi hujan di luar jendela yang belum juga reda. Lampu taman di halaman belakang memantulkan cahaya kekuningan di genangan air, menciptakan suasana tenang yang justru membuat pikirannya semakin ramai.

Rumah itu terlalu besar untuk seorang Nayra yang terbiasa hidup di kamar kos sempit.

Terlalu hangat untuk tempat yang awalnya ia takutkan.

Dan terlalu nyaman… untuk sesuatu yang seharusnya terasa asing.

“Gila…” gumamnya pelan sambil mengusap wajah.

Sampai sekarang ia masih belum percaya bisa duduk di rumah keluarga Arsen seperti ini, setelah beberapa minggu lalu hidupnya masih berjalan biasa sebagai mahasiswi yang hanya memikirkan tugas, uang bulanan, dan jadwal kuliah.

Sekarang—

ia mengandung anak seorang pria yang bahkan dulu tidak ia kenal.

Dan pria itu sedang tidur beberapa ruangan dari tempatnya sekarang.

Pintu diketuk pelan.

Nayra langsung menoleh.

“Siapa?”

“Aku.”

Suara Arsen terdengar santai dari luar.

Nayra langsung berdiri.

Ia membuka pintu perlahan dan menemukan Arsen berdiri sambil membawa gelas hangat di tangan.

Kaos rumah berwarna gelap yang dipakainya membuat pria itu terlihat jauh lebih muda dibanding saat memakai kemeja kantor. Lebih santai. Lebih manusia.

“Belum tidur?” tanya Arsen sambil masuk.

“Belum ngantuk.”

Arsen mengangguk kecil lalu memberikan gelas itu.

“Minum.”

Nayra menerimanya perlahan.

“Apa ini?”

“Susu.”

Nayra langsung mengernyit.

“Kenapa susu?”

“Karena kamu susah makan.”

Nada jawabannya begitu biasa seolah itu hal normal.

Namun justru itu yang membuat Nayra bingung harus bereaksi bagaimana.

“Kamu tuh…” Nayra tertawa kecil sambil menggeleng, “…kadang bikin aku bingung.”

Arsen duduk di sofa kecil dekat jendela.

“Kenapa?”

“Karena perhatian mu aneh.”

Arsen mengangkat alis.

“Aneh gimana?”

“Ya… kayak nyuruh.”

Arsen malah tertawa pelan.

Suara tawanya rendah dan jarang terdengar.

“Aku udah dibilangin Mama tadi.”

Nayra ikut tersenyum kecil.

“Dan ternyata benar.”

Arsen menyandarkan tubuhnya.

Tatapannya jatuh ke arah hujan di luar.

“Aku gak biasa perhatian sama orang.”

Kalimat itu membuat Nayra diam.

“Serius?”

Arsen mengangguk kecil.

“Biasanya aku tinggal kasih uang atau nyuruh orang lain urus.”

Nayra meliriknya.

“Dan itu berhasil?”

“Entah.”

Jawaban jujur itu membuat

Nayra tertawa kecil lagi.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam mendengarkan suara hujan. Tidak canggung.

Tidak juga terlalu nyaman.

Namun cukup tenang untuk membuat Nayra lupa rasa takut yang tadi memenuhi kepalanya.

“Arsen…”

“Iya?”

“Orang tua mu masih marah ya?”

Arsen berpikir sebentar sebelum menjawab.

“Kaget lebih tepatnya.”

Nayra menunduk pelan.

“Aku tadi takut banget.”

“Kelihatan.”

“Parah?”

“Lumayan.”

Nayra mendengus kecil.

“Kamu malah santai.”

Arsen menoleh padanya.

“Kalau aku ikut panik, kamu makin takut.”

Nayra terdiam.

Ia tidak menyangka Arsen memikirkan sampai sejauh itu.

“Kamu tuh…” Nayra menghela napas pelan, “…kadang bikin aku ngerasa aman.”

Sunyi beberapa detik.

“Tapi?” tanya Arsen.

Nayra langsung melirik.

“Kamu tahu ada tapinya?”

“Pasti ada.”

Nayra menggenggam gelas hangat di tangannya.

“Tapi aku juga takut terlalu masuk ke hidup mu.”

Arsen tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tenang.

“Kenapa?”

“Karena dunia kita beda banget.”

“Masih soal itu?”

“Iya.”

Nayra menatap keluar jendela.

“Rumah mu aja lebih besar dari kampung halamanku.”

Arsen tertawa kecil mendengar itu.

“Lebay.”

“Serius.”

“Na…”

Nayra menoleh.

“Aku gak peduli kamu dari mana.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun Nayra tahu, tidak semua orang di dunia Arsen berpikir seperti itu.

“Tapi orang lain peduli.”

“Biarin.”

“Kamu gampang banget ngomongnya.”

Arsen tersenyum tipis.

“Karena aku yang bakal hadapin semuanya.”

Nayra menghela napas kecil.

Kadang ia iri dengan cara Arsen menghadapi hidup.

Pria itu seperti selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Sementara dirinya—

masih sering bingung bahkan untuk memahami perasaannya sendiri.

“Kamu nyesel gak?” tanya Nayra tiba-tiba.

Arsen mengernyit tipis.

“Apanya?”

“Bertemu denganku?.”

Sunyi.

Hujan di luar masih turun pelan.

Arsen menatap Nayra beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.

“Kalau Aku nyesel…”

Nayra menunggu.

“…aku gak bakal bawa kamu ke sini.”

Jantung Nayra berdegup lebih cepat.

“Dan aku gak bakal duduk di kamar ini sekarang.” Nada suara Arsen rendah dan tenang.

Namun justru itu yang membuat kalimatnya terasa lebih serius.

Nayra cepat-cepat meminum susunya untuk menyembunyikan rasa gugup.

“Kamu jangan ngomong kayak gitu.”

“Kenapa?”

“Bikin susah mikir.”

Arsen tertawa kecil lagi.

“Ya jangan dipikir.”

“Gak segampang itu.”

Arsen berdiri perlahan.

“Tidur.”

Nayra menghela napas.

“Nah, mulai nyuruh lagi.”

“Karena udah malam.”

“Kamu emang suka ngatur ya?”

Arsen berpikir sebentar lalu mengangguk santai.

“Kayaknya.”

Nayra langsung tertawa kecil sambil menggeleng.

Dan melihat gadis itu tertawa, Arsen tanpa sadar ikut tersenyum lebih lama.

Keesokan paginya suasana rumah terasa lebih hidup.

Aroma masakan dari dapur menyebar sampai ruang tengah, bercampur dengan suara televisi yang menyala pelan.

Nayra turun dengan langkah hati-hati, masih merasa canggung meskipun suasana semalam jauh lebih baik dari bayangannya.

“Pagi,” sapa ibu Arsen begitu melihatnya.

“Pagi, Tante…”

“Kemari. Sarapan dulu.”

Nayra mendekat perlahan.

Kali ini ia sedikit lebih santai dibanding kemarin.

Arsen sudah duduk di meja makan sambil membaca sesuatu di tablet.

Namun begitu melihat Nayra datang, pria itu langsung menoleh.

“Mual?”

Nayra langsung mengernyit.

“Pagi-pagi nanyanya itu?”

“Karena semalam kamu gak makan banyak.”

Ibu Arsen yang mendengar langsung tertawa kecil.

“Tuh kan. Mama bilang juga apa, cara perhatiannya aneh.”

“Ma…”

Nayra spontan menahan senyum. Dan suasana itu terasa… hangat.

Ayah Arsen datang beberapa menit kemudian. Tatapannya masih serius seperti biasa, namun kali ini ia mengangguk kecil pada Nayra.

“Tidurnya nyaman?”

Nayra sedikit terkejut mendapat pertanyaan itu.

“…nyaman, Om.”

“Bagus.”

Mereka mulai sarapan bersama.

Dan perlahan, percakapan mengalir lebih natural dibanding malam sebelumnya.

Ibu Arsen mulai banyak bertanya soal kebiasaan Nayra, makanan favorit, bahkan cerita kuliahnya.

Sesekali Arsen ikut menyela dengan komentar santai yang membuat Nayra kesal sendiri.

“Dia kalau lagi tugas bisa lupa makan,” ujar Arsen tiba-tiba.

Nayra langsung menoleh.

“Kamu ngapain bongkar-bongkar?"

“Fakta.”

“Arsen.”

“Makanya sekarang aku suruh sarapan terus.”

Ibu Arsen memperhatikan keduanya sambil tersenyum tipis. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara anaknya memandang Nayra.

Dan sebagai ibu, ia bisa melihat itu dengan jelas.

Setelah sarapan selesai, Nayra membantu membereskan meja meskipun sempat ditolak berkali-kali oleh ibu Arsen.

Di dapur, wanita itu akhirnya bicara lebih pelan.

“Nayra…”

“Iya, Tante?”

“Kamu takut sama Arsen?”

Pertanyaan itu membuat Nayra terdiam.

“Enggak…”

“Yakin?”

Nayra tertawa kecil gugup.

“Kadang kesel.”

Ibu Arsen ikut tertawa.

“Berarti normal.”

Nayra tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang—

rumah itu tidak terasa terlalu asing lagi.

Sementara di ruang tengah, ayah Arsen duduk bersama putranya. Tatapannya serius, namun tidak sekeras kemarin.

“Kamu yakin bisa jaga mereka?”

Arsen menatap ayahnya beberapa detik.

“Aku usahain.”

“Bukan usahain.”

Sunyi.

Ayah Arsen menghela napas.

“Kalau sudah sejauh ini, jangan setengah-setengah.”

Arsen mengangguk pelan.

“Iya, Pa.”

Dan tanpa Nayra sadari—

malam hujan yang membuatnya terjebak di rumah itu perlahan membuka sesuatu yang baru.

Bukan hanya tentang dirinya dan Arsen.

Tapi juga tentang sebuah keluarga— yang perlahan mulai memberinya tempat.

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!