Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Cinta Seorang Jenaka (bagian kedua)
Dari arah samping pondok, di atas sebuah dahan pohon besar, perlahan melayang turun sesosok tubuh berjubah hitam. Sosok itu ternyata adalah Zhao Yun, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan interaksi keduanya dari ketinggian.
"Apa kau ingin merebut mangsaku?" ucap Zhao Yun datar begitu kedua kakinya menyentuh tanah, tepat di hadapan mereka berdua.
"Kau... kau iblis licik! Kenapa kau menyerangku?!" tanya Guan Xiaofeng dengan geram, tangannya reflek mencengkeram gagang pedang.
"Menyerang?" Zhao Yun mengulang kata itu dengan nada meremehkan. "Aku justru sedang menyelamatkan gadis ini dari rayuan lelaki nakal sepertimu."
Zhao Yun kemudian membalikkan tubuhnya perlahan, menatap ke arah pondok cermin ajaib sebelum melanjutkan kalimatnya. "Lelaki fana diciptakan dengan puluhan jenis nafsu neraka. Setiap ucapan manis yang keluar dari mulut mereka kepada seorang wanita, sudah pasti hanya demi memuaskan hasratnya belaka."
"Kau...! Kau hanya seorang iblis, bagaimana bisa paham dengan perasaan manusia?!" hardik Guan Xiaofeng, wajahnya kian memerah menahan dongkol.
Zhao Yun tersenyum kecil. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit tanpa menatap langsung ke arah Guan Xiaofeng. "Hanya iblis? Iblis dan manusia itu ibarat pedagang dan pembeli. Jika iblis adalah pedagang, maka manusia adalah pembelinya. Iblis menciptakan hawa nafsu bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk dijual kepada manusia yang memiliki ketamakan. Jadi...bagaimana mungkin sang pedagang tidak memahami seluk-beluk barang dagangannya sendiri?"
Guan Xiaofeng hanya termangu mendengar perkataan Zhao Yun, tanpa bisa mengucapkan satu kata pun. Lidahnya mendadak kelu oleh logika tajam sang iblis muda.
"Su Ying sudah kuanggap seperti anakku sendiri!"
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara berat memecah atmosfer yang kaku. Guan Haoran melangkah mantap mendekati mereka dengan pembawaannya yang penuh wibawa. Tatapan tajam sang master pedang tertuju lurus pada Guan Xiaofeng, anak angkatnya.
"Kau sama sekali tidak boleh memiliki perasaan kepadanya!" lanjut Guan Haoran dengan nada keras dan penuh penekanan.
Air muka Guan Xiaofeng seketika berubah pucat sebelum akhirnya memerah padam. Rasa takut yang bercampur rasa malu membuat tubuh pendekar muda itu gemetar hebat. Di hadapan para murid yang berada di kejauhan, di depan Su Ying yang dikaguminya, dan yang paling memuakkan—di depan musuh bebuyutan dari alam neraka, harga dirinya dihancurkan berkeping-keping oleh teguran keras sang ayah angkat.
"Ayah... aku hanya..." Guan Xiaofeng mencoba membela diri, suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat kilatan amarah yang dingin di mata Guan Haoran.
"Cukup, Xiaofeng!" potong Guan Haoran tanpa ampun, suaranya bergaung rendah namun berwibawa di sekitar halaman pondok. "Seharusnya kamu melindunginya, bukan malah mengumbar bualan murahan untuk memikatnya."
Guan Xiaofeng tertunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia tidak berani menatap sang master pedang yang merupakan ayah angkatnya itu.
Di tengah suasana yang tegang itu, Su Ying berusaha membela Guan Xiaofeng yang tersudut. "Paman, kak Xiaofeng tidak merayuku. Dia hanya sedang bercanda. Paman jangan memarahinya."
"Benar, benar! Seperti yang Nona Su Ying katakan," timpal Guan Xiaofeng, sempat-sempatnya bertingkah konyol dengan mengangguk-angguk cepat di sela rasa malunya.
Namun, kepalanya kembali menunduk dalam begitu sang ayah angkat menatapnya tajam tanpa berkata-kata. Seolah tatapan dingin itu adalah bahasa tubuh yang memerintahkan dirinya untuk segera diam.
"Lebih baik kau sekarang pergi berlatih, daripada buang-buang waktu menggoda wanita," ucap Guan Haoran, nadanya datar namun tak terbantahkan.
Tanpa perlu disuruh untuk kedua kalinya, Guan Xiaofeng segera meninggalkan tempat itu sambil mengangguk patuh, melangkah cepat menuju ujung lembah dengan sisa rasa malu yang masih membakar wajahnya.
Guan Haoran menoleh ke arah Zhao Yun. Kali ini tatapan matanya tidak menggambarkan rasa ketidaksenangan seperti sebelumnya, melainkan sebuah tatapan hormat yang dalam.
"Anak muda, mohon maklumi anakku." ucap Guan Haoran tulus.
Zhao Yun hanya menatap Guan Haoran dingin. "Tenang saja, tidak ada manusia di dunia ini yang bisa membuat iblis merasa tidak nyaman."
Kata-kata Zhao Yun terdengar biasa, namun sarat akan keangkuhan yang tidak lazim dalam tata krama kehidupan manusia.
"Tuan..." Su Ying hendak mengucapkan sesuatu, namun kalimatnya seketika tertahan di tenggorokan. Guan Haoran tampaknya tahu apa yang ingin dikatakan oleh gadis itu.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku percaya anak muda ini bukan berasal dari dunia manusia," ucap Guan Haoran, menenangkan Su Ying dengan lambaian tangan pelan.
...****************...