Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 — AKU MULAI MELIHAT MASA LALU MONSTER ITU
“Aku mulai melihat ingatan seseorang.”
Kalimatku menggantung di udara.
Dan ekspresi Arkan langsung berubah.
“Apa maksudnya?”
Aku masih sulit bernapas.
Kepalaku berdenyut keras.
“Bukan data…”
Tanganku gemetar pelan.
“…ini kayak kenangan.”
Arkan memegang pundakku.
Tatapannya serius.
“Kamu lihat siapa?”
Aku menelan ludah.
“Anak kecil.”
“Laki-laki?”
Aku mengangguk pelan.
“Dia sendirian.”
Kilatan itu masih terasa jelas di kepalaku.
Ruangan putih.
Suara alarm.
Anak kecil dengan mata dingin.
Dan yang paling mengerikan—
aku bisa merasakan emosinya.
Kesepian.
Marah.
Dibuang.
Seolah perasaan itu benar-benar masuk ke dadaku.
“Astaga…”
Bisikku pelan.
“Apa lagi yang kamu lihat?”
tanya Arkan cepat.
Aku memejamkan mata sebentar.
Mencoba mengingat.
“Dia…”
Napasmu terasa berat.
“…dibenci.”
Ruangan langsung terasa dingin.
“Semua orang takut sama dia.”
Aku membuka mata pelan.
“Dan dia membenci semua orang balik.”
Sunyi.
Arkan langsung mengerti.
“The Founder.”
Aku menatapnya pelan.
“Kurasa iya.”
Dan itu membuat semuanya terasa lebih aneh.
Kenapa aku bisa melihat masa lalu pria itu?
“Kita harus kasih tahu ayahmu.”
Kata Arkan cepat.
Aku langsung menggeleng.
“Tidak dulu.”
“Kenapa?”
Aku menatap jendela hujan di depan.
“Karena aku mulai curiga sesuatu.”
Tatapan Arkan langsung tajam.
“Apa?”
Aku menggigit bibir pelan.
“Sistem ini…”
Aku menatapnya serius.
“…bukan cuma tempat penyimpanan data.”
Sunyi.
“Kalau cuma data…”
Aku memegang kepalaku pelan.
“…aku tidak mungkin bisa merasakan emosi orang lain.”
Arkan langsung terdiam.
Dan semakin aku memikirkannya—
semakin menakutkan semuanya.
Bagaimana kalau sistem ini lebih dari sekadar database?
Bagaimana kalau ayahku menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar?
Tiba-tiba—
suara barang jatuh terdengar dari bawah.
BRAK!
Kami langsung menoleh cepat.
“Ada apa itu?”
Arkan langsung menarik pistol dari belakang pinggangnya.
Refleks.
“Di sini.”
Suaranya rendah.
Kami turun cepat ke bawah.
Dan suasana di ruangan safe house langsung terasa tegang.
Leon berdiri dekat meja dengan wajah serius.
Ayahku terlihat pucat.
Sementara ibunya Arkan memegang sebuah map tua.
Tangannya gemetar.
“Apa yang terjadi?”
tanya Arkan cepat.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Lalu ayahku menatapku.
Tatapan yang membuat perutku langsung tidak nyaman.
“Ada sesuatu yang selama ini ayah sembunyikan.”
Aku langsung tertawa kecil.
Pahit.
“Tentu saja.”
Karena hidupku memang kurang kacau apa?
Ayahku terlihat makin bersalah.
“Tadi kami membuka file lama.”
“Dan?”
Ibunya Arkan menyerahkan foto tua itu ke arahku.
Tanganku langsung membeku saat melihatnya.
Foto laboratorium.
Ruangan putih.
Beberapa ilmuwan.
Dan di tengah foto—
ada dua anak kecil.
Anak perempuan.
Dan anak laki-laki.
Aku.
Dan…
Dadaku langsung terasa dingin.
Karena anak laki-laki itu—
memiliki mata yang sama seperti The Founder.
“Apa ini…”
Bisikku pelan.
Ayahku menutup mata sebentar.
“Dia bukan orang asing buatmu.”
Jantungku mulai berdetak keras.
“Jangan…”
Bisikku pelan.
“Tolong jangan bilang…”
“Ayah menemukan dia dulu.”
Dunia rasanya langsung berhenti.
“Apa?”
Ayahku terlihat hancur saat bicara.
“Dia anak pertama proyek itu.”
Sunyi.
Leon langsung mengernyit.
“Proyek manusia penyimpanan?”
Ayahku mengangguk pelan.
“Tapi eksperimen pada dia gagal.”
Aku langsung merasa mual.
“Gagal?”
Tatapan ayahku berubah gelap.
“Sistemnya terlalu besar untuk otak anak kecil.”
Aku langsung merinding.
“Dan itu membuat pikirannya rusak.”
Ruangan sunyi total.
Tidak ada yang bergerak.
Aku menatap foto itu lagi.
Anak kecil bermata dingin itu.
The Founder.
Dia dulu cuma anak kecil.
Dan seseorang menghancurkan hidupnya.
“Ayah…”
Suaraku hampir tidak keluar.
“…kamu terlibat di proyek ini?”
Pria itu langsung menunduk.
Dan itu sudah cukup jadi jawaban.
Aku langsung mundur satu langkah.
“Tidak…”
“Alena—”
“KALIAN GILA!”
Suara pecahku memenuhi ruangan.
“Kalian eksperimenin anak-anak?!”
Ayahku terlihat benar-benar hancur sekarang.
“Ayah mencoba menghentikannya.”
“Tapi tetap terjadi!”
Air mataku mulai jatuh lagi.
Marah.
Muak.
“Kalian menciptakan monster itu sendiri!”
Sunyi.
Dan tidak ada yang bisa menyangkalnya.
Karena itu kenyataannya.
The Founder tidak lahir jadi monster.
Mereka yang membuatnya seperti itu.
“Ayah tidak tahu semuanya akan jadi seperti ini…”
Suaranya pelan sekali.
Aku tertawa kecil.
Pahit.
“Orang dewasa selalu bilang begitu setelah semuanya terlambat.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku menatap foto itu lama.
Di foto itu—
anak kecil itu duduk sendirian.
Tidak tersenyum.
Tidak takut.
Hanya kosong.
Dan entah kenapa—
dadaku terasa sesak melihatnya.
Karena untuk pertama kalinya…
aku memahami sesuatu yang mengerikan.
The Founder mungkin tidak pernah benar-benar punya kesempatan jadi manusia normal.
“Kenapa aku bisa lihat ingatannya?”
Bisikku pelan.
Ayahku langsung menegang.
“Ayah belum yakin.”
“Tapi?”
“Sistem generasi baru milikmu…”
Tatapannya perlahan berubah takut.
“…dibangun memakai dasar neural dari dia.”
Aku langsung membeku.
Apa?
“Tidak…”
“Data otaknya dipakai sebagai fondasi.”
Aku mundur perlahan.
Tidak.
Tidak mungkin.
“Ayah bohong.”
“Ayah berharap begitu.”
Kepalaku langsung terasa sakit lagi.
Lebih parah.
Potongan-potongan gambar mulai muncul cepat.
Terlalu cepat.
Ruangan putih.
Darah.
Teriakan.
Dan suara anak kecil itu.
“Kalau mereka terus nyakitin aku…
aku bakal hancurin semuanya.”
Aku langsung memegang kepala keras.
“ALENA!”
Suara Arkan terdengar jauh lagi.
Aku jatuh berlutut.
Napas memburu.
Dan untuk pertama kalinya—
aku merasakan emosi lain yang bukan milikku.
Kebencian.
Besar sekali.
Gelap.
Sampai membuat dadaku sesak.
“Astaga…”
Bisikku pelan.
Aku bisa merasakan dia.
The Founder.
Dan yang paling mengerikan—
dia juga mulai merasakan aku.