NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafia

Tawanan Hasrat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Julianto

Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.

Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.

Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.

Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.

Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian Kelam

Apapun nasehat yang diberikan Xander padanya belum bisa meruntuhkan dendam Rayga di masa lalu.

Bahkan ketika Xander memanas-manasi nya dengan mengatakan kalau dia bisa saja menikung Rayga dan mengambil Aurellia, tetap saja Rayga egois dengan pendiriannya.

Walau benih cemburu mulai tumbuh di hati Rayga, tapi kecemburuan itu masih belum bisa mematikan rasa bencinya pasa sosok seorang perempuan.

Bagaimana tak begitu benci pada wanita, ibu kandungnya sendiri yang menyemai rasa benci dan dendam itu di hati Rayga.

Sosok ibu yang biasanya dipuja banyak anak-anak sebagai malaikat dan peri yang baik bagi mereka, tetapi yang Rayga temui nyatanya seorang ibu yang menjadi malaikat maut.

Dengan keji dia menghabisi ayah Rayga sampai meninggal bersimbah darah.

Saat itu....

Rayga masih berumur tujuh tahun.

Sudah mulai memahami bagaimana keadaan sekitarnya.

Saat pulang sekolah, dia mendengar suara rintihan dan racauan dua orang yang begitu menarik perhatian Rayga kecil.

Rayga tertegun, badannya terasa kaku melihat aktifitas yang terjadi di dalam ruang tamu.

Ibunya duduk bersandar dengan mata terpejam di atas sofa, rambutnya acak-acakan dengan tubuh terguncang tak beraturan.

Sedangkan di depan ibunya ada seorang pria yang begitu buas bergerak maju-mundur.

"Mama," kata Rayga pelan tanpa melepaskan pandangan matanya dari permainan yang sedang berlangsung di depan matanya.

Rayga berdiri mematung, bahkan dia menyaksikan permainan mamanya dan seorang pria yang bukan ayahnya itu hingga mereka merubah gaya permainan beberapa kali.

Di lantai ruang tamu ibunya merubah posisi jadi merangkak dan pria yang sudah kelihatan wajahnya oleh Rayga menusuk ibunya dari belakang.

Mereka berdua kembali meracau tanpa menyadari ada Rayga yang menyaksikan permainan itu.

"Om Bian," ucap Rayga saat menyadari siapa pria yang bersama ibunya.

Setelah Rayga tahu siapa yang telah bermain dengan ibunya, Rayga berlari ke kamarnya.

Di kamar Rayga menangis sejadi-jadinya melepaskan rasa sakit hati kala itu yang mulai tumbuh di hatinya.

Bi Nery yang waktu itu menjadi pengasuh Rayga dari bayi, dia datang ke dalam kamar Rayga dengan nampan berisi makan siang.

Itu lah kegiatan rutin Bi Nery saat itu, ketika Rayga tidak turun untuk makan siang sepulang sekolah, dia akan mengantarkan makan siang untuk tuan

mudanya ke kamar.

"Den, kenapa menangis?" tanya Bi Nery.

"Mamaku bersama Om Bian," kata Rayga terisak.

Bi Nery yang sudah biasa menyaksikan permainan kuda tarik antara majikannya dan pria lain, tentu dia langsung paham apa maksud Rayga mengatakan itu.

"Den Rayga melihatnya?" tanya Bi Nery hati-hati.

Rayga mengangguk. "Saat Papa pulang, aku akan mengadukannya," kata Rayga mengepalkan tangannya erat.

Bi Nery hanya bisa diam, karena dia sebetulnya juga tak suka pada majikan perempuannya itu yang sering melakukan hal kotor tidak melihat tempat dulu.

Di mana dia mau bersama pasangan haramnya, dia akan melakukan itu.

Tidak pandang tempat, di dapur pun mereka bisa melakukan itu.

Dipaksa makan oleh Bi Nery, akhirnya Rayga mau makan, tetapi hanya sedikit makanan yang masuk ke dalam perutnya.

Setelah mencicipi makanan yang dibawa Bi Nery, Rayga meminta Bi Nery meninggalkannya di kamar.

Bayangan bagaimana ekspresi ibunya menikmati tusukan demi tusukan dari pria lain, racauan ibunya memanggil pria itu dengan sebutan 'sayang' membuat Rayga jijik dan mual.

Dia terbayang sosok ayahnya yang sudah bekerja keras, tetapi ibunya yang tidak ada pekerjaan malah berkhianat seperti itu.

Apalagi pengkhianat nya terjadi di rumah ayahnya.

"Halo, Pa," sapa Rayga menyapa papanya saat panggilan teleponnya tersambung.

"Hai, Sayang. Sudah pulang sekolah? Apa kamu sudah makan siang?" tanya pria yang sangat dikenali suaranya oleh Rayga.

"Sudah, Pa. Papa pulang sekarang, ya," pinta Rayga.

"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu menangis? Apa ada yang menyakitimu?" tanya papa Rayga dari seberang telepon.

Mendengar suara Rayga yang terisak menangis memintanya pulang, Mavien begitu cemas pada anak semata wayangnya itu.

"Aku mau Papa pulang sekarang, tapi jangan katakan pada Mama kepulangan Papa. Rayga mohon." Rayga mendesak papanya pulang, membuat Mavien makin cemas dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada

putranya.

"Katakan apa yang membuatmu meminta papa pulang, nanti papa akan menuruti permintaanmu."

Begitulah Mavien, dia mendidik Rayga dengan baik.

Apapun permintaan Rayga harus ada alasan kuat agar permintaanya itu dikabulkan.

Termasuk saat Rayga meminta dibelikan sesuatu, harus ada alasan kuat untuk apa barang tersebut dibelinya.

"Rayga rindu makan bersama, Papa dan Mama. Sekarang mama di rumah, sekalian Papa pulang untuk memberi kejutan padanya," bohong Rayga, baru sekali ini dia berbohong pada papanya.

Mengingat mereka memang sudah lama tidak malkan bersama dan tidak ada quality time, akhirnya ikut muncul rasa rindu pada momen itu di hati Mavien.

"Baiklah, Papa akan pulang. Tunggu Papa ya," kata Mavien menyetujui permintaan Rayga.

"Papa akan pulang membawakan hadiah untukmu dan mamamu," lanjutnya bersemangat.

Setelah panggilan berakhir, Rayga kembali menangis.

Rasa sakit hati yang ditorehkan mamanya membuat hati Rayga terasa tercabik-cabik.

"Papa harus menceraikan mama. Aku akan mengadukan semuanya," ungkap Rayga dengan emosi anak kecil semasa itu.

Malamnya papa Rayga sampai di rumah, Rayga yang ditemani Bi Nery sudah menunggu di halaman depan.

Seperti permintaan Rayga padanya, Mavien benar-benar tidak memberitahu kepulangannya pada sang istri yang sangat dia cintai.

"Hai, Sayang." Mavien memangku Rayga dengan rasa rindunya, padahal baru beberapa hari tidak bertemu.

"Ceraikan Mama, Pa," pinta Rayga membuat kening Mavien mengkerut.

"Mama selingkuh," lanjut Rayga, karena Mavien menatapnya seolah minta penjelasan.

Mendengar penjelasan Rayga membuat Mavien makin terkejut.

Jantungnya berdebar tak karuan.

"Selingkuhannya ada di dalam," kembali Rayga membuat Mavien makin terkejut lagi.

Bahkan kini badannya gemetar, emosi mulai terpancing, tapi dia masih mengendalikannya.

Karena yang mengatakan itu adalah anak kecil yang dianggap belum bisa dipercaya seutuhnya.

Mavien membawa Rayga masuk, disusul Bi Nery di belakangnya.

Di ruang tamu tidak ada seorang pun di sana, membuat Mavien penasaran.

Saat dia hendak membawa Rayga naik ke atas menuju di mana ada kamar utama di lantai atas, langkah Mavien berhenti karena mendengar suara yang membuat emosinya tersulut.

Mavien menurunkan Rayga dari gendongannya, melangkah cepat menuju dapur.

Mata Mavien terbelalak saat melihat istrinya bersama anak buahnya sedang bermain kuda-kudaan.

"Kalian mengkhianati ku?!" Mavien menarik kasar istrinya yang berada dalam kungkungan anak buah Mavien.

Emosi Mavien tak terkendali, dia menampar istrinya sampai dua kali.

Tak terima ditampar Mavien, mama Rayga balik menyerang.

Dia mendorong Mavien dan mengambil plsau dapur.

Melayangkan pada Mavien hingga Mavien terluka.

Tak sampai di situ, Mavien mendapat perlakuan tak diduga dari dua orang itu.

Mavien mereka habisi di depan Rayga dan Bi Nery yang berusaha melerai apalagi Rayga masih kecil yang tidak bisa bertindak banyak.

Sampai pada di mana Mavien meregang nyawa di tangan istrinya sendiri dan pergi untuk selama-lamanya dalam keadaan bersimbah da rah.

Sejak kejadian itu, Rayga mulai membenci kaum wanita.

Dia menganggap seorang wanita adalah iblis.

1
Mita Paramita
so sweet 😘😘😘 lanjut Thor double up
Mita Paramita
lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
Mita Paramita: ok 😁 ditunggu Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Windi Widia Astuti
semagaat kaka...aku selalu menunggu up nya
Lian_06: Thanks ya yang udah mau komentar, soalnya ini yang saya inginkan. terimakasih udah mampir jangan lupa tinggalkan komentar lagi disetiap update nya y😁
total 1 replies
Nurulsafarliza Faizal
menarik juga ada komedi..jln ceritanya bgs juga..tapi harap bertambah seru lanjutan ya..semangat ya👌
Lian_06: Thanks ya udah mampir baca dan rating nya😁. pokoknya ikuti terus cerita nya dijamin bakal seru kok🤭
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut thor up nya jangan bertele tele donk, penasaran jadinya
Lian_06: Ini lagi up kak, saya kalo weekend sebisa mungkin up nya lebih sering. yng penting jangan lupa absen dengan like dan komen saja itu udah cukup kok 😁
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut donk🙏
Lian_06: kakak maaf ya ini saya lagi nulis kak😁. makasih banget ya udah mampir di cerita ini😉
total 1 replies
Dalena Dalena
kok ngak update lagi sih,,🙏 lanjut donk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!