Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
"Aku dan Iroh akhirnya benar-benar menerima takdir hidup yang begitu pahit ini. Kami jalani semua dengan ikhlas dan sabar di rumah terpencil ini."
"Hingga... saat pernikahan kami menginjak satu tahun, istriku hamil anak pertama kami. Kebahagiaan rasanya lengkap sudah, kami merasa diberi berkah besar di tengah keterasingan ini."
Namun wajah Kodir berubah pucat mengenang kejadian mengerikan itu.
"TAPI... petaka besar justru mulai datang saat itu. Setahun setelah bayi cantik kami lahir, tiba-tiba ada sebuah mayat tergeletak di pekarangan rumahku!"
"Keadaannya persis seperti apa yang dialami Nak Daniel sekarang... penuh luka lebam, seolah habis dipukuli dan disiksa sampai mati. Dan bodohnya aku waktu itu... karena takut dan bingung, aku hanya menguburkannya saja diam-diam. Tidak ku laporkan pada perangkat desa, apalagi pada pihak berwajib."
Ia menelan ludah susah.
"Tanpa aku sadari... kenyamanan dan ketenangan yang kami rasakan selama ini ternyata ada harganya. Seolah-olah aku sudah terikat perjanjian tak terlihat dengan para penunggu gunung ini. Mereka membiarkan kami hidup tenang, asalkan kami mau 'menerima' dan menguburkan semua mayat korban pembunuhan itu di sini."
"Padahal kenyataannya... di luar sana keluarga korban menangis mencarinya, si pembunuh bebas berkeliaran, dan membunuh sudah menjadi hobi serta keahlian mereka yang terus dilakukan!"
"Waktu terus berlalu... Satu tahun, dua tahun, hingga berlalu lima tahun lamanya kejadian itu terus berulang."
Kodir menghela napas panjang dengan wajah pucat.
"Jika dihitung total... sudah hampir 16 mayat yang dibuang dan ditemukan di sekitar gunung ini! Semuanya dalam kondisi mengenaskan, penuh luka penyiksaan."
"Hingga suatu malam... sosok yang dulu menjadi penengah dan menyelamatkan nyawa aku dan Iroh dari fitnah zina serta tuduhan bersekutu dengan iblis itu, datang menghampiri dalam tidurku."
Dengan suara berbisik dan tatapan kosong, Kodir menyebut nama itu.
"Ya... Dialah Abah Jalaludin yang datang dalam mimpi itu..."
"Buatlah saung atau tempat pertemuan di sini, Kodir..." begitu suara Abah Jalaludin terdengar dalam mimpi itu.
"Aku akan datang setiap malam Selasa dan malam Jumat untuk mengajari kamu ilmu dan kekuatan batin."
"Ingat baik-baik... Perjanjian yang sudah terikat antara kamu dengan penunggu gunung ini tidak bisa dilebur atau dibatalkan sembarangan. Bersabarlah menunggu waktu."
"Suatu saat nanti mereka yang ditakdirkan akan datang membantu... Namun tetap saja kamu dan istrimu tidak bisa bebas keluar dari gunung ini... KECUALI!"
Suara dalam mimpi itu berubah tegas dan dingin.
"Kecuali... orang yang benar-benar menumbalkan kedua orang tuamu itu, orang yang melakukan pesugihan dan bersekutu serta bersekongkol dengan bangsa siluman... sudah lebur dan kembali menjadi tanah! Barulah perjanjian itu batal dengan sendirinya!"
"Setelah mimpi itu usai... banyak sekali bisikan-bisikan jahat dan keraguan yang masuk ke telingaku. Mengatakan itu hanya bunga tidur atau imajinasiku saja."
"TAPI... aku yakin seyakin-yakinnya! Yang datang itu benar-benar roh dan wujud Abah Jalaludin. Maka dengan penuh keyakinan aku pun mulai melaksanakan semua titahnya."
Dan benar saja... Sejak saat itu setiap malam Selasa dan malam Jumat, sosok Abah Jalaludin sungguh-sungguh datang. Beliau mengajari beliau ilmu agama yang dalam, doa-doa mustajab, hingga ilmu kebatinan dan kekuatan spiritual yang luar biasa tinggi.
"Hingga puncaknya... ketika kejadian Nak Daniel terluka parah dan nyawanya di ujung tanduk waktu itu. Aden Prediansyah pasti ingat dan tahu... saat itu Mamang dan Bibi pergi menghilang sebentar ke tempat khusus."
"Itu karena kami memohon petunjuk dan kekuatan maksimal dari ilmu yang Abah ajarkan demi menyelamatkan nyawa Daniel," jelas Kodir penuh keyakinan.
"Mamang... Bibi... Daniel sudah mengerti sepenuhnya penderitaan dan kesulitan yang kalian hadapi selama ini. Tenang saja... Daniel siap membantu sampai tuntas!" ucap Daniel tegas dan yakin.
Ia lalu menoleh ke arah Prediansyah yang sedang mengerutkan kening, terlihat bingung dan belum nyambung dengan alur cerita supranatural tadi.
"Tuan Muda... gimana? Kita bantu kan?" tanya Daniel memastikan.
"YAA IKUT LAH! Apapun kata lo Niel, gue ikutin! Pokoknya soal materi, dana, dan SDM atau tenaga... itu urusan dan kekuatan gue! Gue siap kasih semuanya!" jawab Prediansyah sigap dan royal.
"Ok, sip! Deal!" jawab Daniel singkat padat jelas.
Melihat keseriusan dan ketulusan kedua pemuda itu, Iroh dan Mang Kodir benar-benar terharu. Air mata bahagia meleleh membasahi pipi mereka.
"TERIMA KASIH BANYAK... TERIMA KASIH ANAK-ANAKKU!"
Mereka berdua spontan berdiri dan hendak membungkuk dalam sebagai tanda hormat yang sangat besar. Namun gerakan itu segera dicegah cepat oleh Daniel dan Prediansyah.
"EH JANGAN MANG... BI... JANGAN SUNGKAN!" seru mereka serentak, merasa tidak pantas menerima penghormatan sebesar itu dari orang tua.
"Mamang... Bibi... Sekarang tugas kalian hanya satu, yakinkan Teh Santi dan keempat adik-adiknya. Buat mereka siap dan percaya bahwa kita akan keluar dari sini."
Daniel menatap mereka penuh keyakinan.
"Perkiraan Daniel... paling lambat dua minggu lagi! Insyaallah kita sudah bisa keluar dari gunung ini dan bebas!"
"Soal urusan administrasi dan kepindahan sekolah untuk anak-anak... tenang saja! Nanti biar Tuan Alex yang akan mengurus semuanya sampai beres. Mamang dan Bibi cukup tenang di sini, jangan kemana-mana."
Wajah Daniel berubah serius dan penuh tekad.
"Doakan aku dan Tuan Muda Prediansyah ya... Kami akan turun gunung untuk membereskan semua kejahatan mereka. Memang mungkin akan sedikit sulit dan berat perjuangannya... tapi Daniel sudah tahu persis siapa dalang dan musuh sebenarnya yang harus kita lawan!"
Bibi Iroh dan Mang Kodir hanya bisa mengangguk-angguk penuh makna seraya tersenyum lega. Beban di dada mereka seakan hilang tak bersisa.
Dalam hati mereka berdua berkata...
"Cucu Abah Jalaludin ini memang luar biasa... Pantas sekali dijuluki Dewa Perang. Cerdas, berani, dan punya strategi perang yang hebat."
"Sedangkan Prediansyah... ia adalah Sang Raja yang memiliki segalanya, yang siap memberikan perintah dan menyokong segala kebutuhan."
"Keduanya sangat cocok dan saling melengkapi. Satu memikirkan strategi, satu lagi menyediakan kekuatan. Pantas saja mereka berdua yang ditakdirkan untuk menaklukkan kejahatan dan menghancurkan rencana busuk dari Kadir, adikku sendiri."
"Tapi Nak... saran dari Mamang... carilah dan temukan dulu wanita yang menjadi penyokong dan simpanan dari adik Mamang itu. Dialah yang sangat berpengaruh," pesan Kodir.
Mendengar itu, Daniel hanya tersenyum tipis namun senyum itu terasa dingin dan menyakitkan.
"Tenang Mang... Daniel sudah tahu persis siapa wanita itu. Bahkan karena dia... Daniel bisa sampai dipukuli dan dibuang ke gunung ini," jawabnya pelan.
"DIA SAHABATKU... orang yang sangat aku cintai dan aku sayangi. Namun naasnya... dia justru memilih berkhianat, menjadi simpanan si Bandot Tua itu! Dialah yang menjebak dan merencanakan semuanya agar aku bisa dibunuh dan dibuang ke sini hampir mati!"
Batin Daniel bergejolak hebat, amarah dan rasa kecewa yang luar biasa bercampur menjadi satu.
💔 INTAN NURAINI (CECEU)
Bersambung.