Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Keesokan paginya pondok pesantren terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Namun kali ini bukan karena kegiatan santri.
Melainkan karena satu hal, desas-desus tentang Gus Zayn dan Keira sudah menyebar ke seluruh penjuru pondok.
Dan semua itu bermula sejak kedatangan keluarga Ning Afifa kemarin.
Di area jemuran belakang asrama putri, beberapa santri tampak berbisik pelan sambil melipat pakaian.
“Ya Allah... jadi Keira itu istrinya Gus Zayn?”
“Iya katanya nikah diam-diam.”
“Kirain sepupu.”
“AKU JUGA!”
Bisik-bisik kecil langsung bersahutan.
“Sumpah aku dari awal curiga sih.”
“Curiga gimana?”
“Lah Gus Zayn perhatian banget sama Keira.”
“Iya ya...” santri lain langsung menepuk jidatnya sendiri. “Pantesan waktu sendal Keira ketukar sama santri putra, Gus Zayn marahnya serem banget.”
“Terus waktu tahajud juga...”
“Terus waktu Keira sakit!”
“Terus waktu belajar ngaji!”
Semakin dibahas, semakin heboh mereka sendiri.
Sedangkan di sisi lain pondok, santri putra juga tidak kalah heboh.
“Jadi selama ini kita manggil ‘Keira’ biasa aja...” salah satu santri memegang dadanya dramatis. “Padahal beliau istri Gus.”
“Astaghfirullah...”
“Pantesan Gus Zayn nggak suka kalau ada yang terlalu dekat.”
“Katanya kemarin keluarga Ning Afifa sampai marah-marah di ndalem.”
“Iya aku dengar juga.”
“Kasihan Ning Afifa sih...”
“Tapi Gus Zayn keren juga ya.” suara lain terdengar kagum. “Beliau bela istrinya habis-habisan.”
“Banget.”
Suasana pondok mendadak penuh gosip pagi itu.
Dan orang yang paling panik tentu saja—
Keira.
“YA ALLAH UMMI...” Keira langsung menutup wajahnya malu saat Azizah sambil ngakak menceritakan semua gosip yang beredar.
“Mereka ngomong apa aja?” tanya Azizah sambil masih tertawa.
“Mereka bilang saya sama Gus bikin plot twist pondok!”
Azizah malah tertawa makin keras.
“Emang iya sih.”
“Azizah!”
Keira hampir menangis karena malu.
Wajahnya merah padam sejak tadi.
“Sekarang semua santri ngomongin Mbak sama Abang.” lanjut Azizah jahil. “‘Katanya sepupu, nggak taunya suami istri.’”
Keira langsung memukul pelan bantal di sampingnya.
“Ya Allah pengen ngilang aja rasanya.”
Ummi Halimah yang sedang melipat mukena di dekat mereka hanya tersenyum geli melihat kepanikan menantunya itu.
“Sudah biasa kalau pondok cepat dengar kabar.”
“Tapi ini maluuu banget Ummi...” rengek Keira lirih.
Bayangkan saja—
Selama ini semua orang mengira dirinya hanya kerabat jauh atau tamu ndalem.
Sedangkan sekarang...
Seluruh pondok tahu ia tidur sekamar dengan Gus Zayn. Namun, beruntung mereka tidak mencela hubungan keduanya. Mereka juga tidak terlalu penasaran bagaimana keduanya bisa menikah secara diam-diam. Hal itu bukan ranah mereka.
Keira rasanya ingin mengubur diri sendiri.
“Assalamu’alaikum.”
Deg.
Suara rendah itu tiba-tiba terdengar dari pintu kamar.
Keira langsung menegang.
Sedangkan Azizah otomatis nyengir lebar.
“Wa’alaikumsalam abang pengantin.”
“Azizah.”
Nada datar Gus Zayn membuat gadis itu langsung cekikikan.
Pria itu masuk ke kamar dengan wajah setenang biasanya.
Namun tatapannya langsung jatuh pada Keira yang masih menutupi wajahnya malu.
“Kenapa?”
Azizah langsung menjawab cepat.
“Mbak Keira malu karena sekarang semua santri tahu kalau Abang suaminya.”
Deg.
Keira langsung melotot panik.
“AZIZAH!”
Namun bukannya malu...
Gus Zayn justru terlihat biasa saja.
Pria itu malah duduk tenang di samping Keira lalu berkata pelan,
“Memangnya salah kalau mereka tahu?”
Keira langsung membeku.
Wajahnya makin merah sekarang.
“T-tapi mereka ngomongin terus...”
“Biarkan.”
“Gus nggak malu?”
Tatapan Gus Zayn langsung melembut sedikit.
“Kenapa harus malu punya istri seperti kamu?”
Deg.
Azizah langsung menepuk mulutnya sendiri dramatis.
“Ya Allah Ummi...” bisiknya heboh. “Abang makin hari makin bikin orang diabetes.”
Sedangkan Keira sudah benar-benar tidak sanggup mengangkat wajahnya lagi karena terlalu malu dan salah tingkah.
Azizah masih sibuk tertawa kecil sambil menggoda Keira yang sudah hampir tenggelam dalam rasa malunya sendiri.
Sedangkan Gus Zayn terlihat tenang seperti biasa.
Seolah ucapan manis tadi hanyalah kalimat biasa baginya.
Padahal, jantung Keira sejak tadi sudah tidak aman.
“Ummi...” lirih Keira sambil menarik ujung lengan Ummi Halimah malu. “Suruh Gus jangan ngomong begitu terus.”
Ummi Halimah justru tersenyum kecil.
“Lho memang salah?”
“Ummiii...”
Azizah langsung ngakak pelan melihat wajah Keira yang makin merah.
“Kasihan Mbak Keira, Ummi. Belum kebal sama abang.”
Gus Zayn menoleh datar pada adiknya.
“Kamu tidak ada kegiatan?”
“Diusir pelan-pelan nih ceritanya.” Azizah langsung berdiri sambil cengengesan. “Yaudah Zizah pergi.”
Sebelum keluar kamar, gadis itu masih sempat menggoda,
“Assalamu’alaikum pasangan halal pondok.”
“AZIZAH!”
Suara panik Keira membuat Ummi Halimah sampai ikut tertawa kecil.
Dan tak lama kemudian, tinggallah Keira dan Gus Zayn berdua di kamar.
Suasana mendadak berubah canggung.
Apalagi setelah semua gosip pagi ini.
Keira langsung pura-pura sibuk merapikan ujung mukenanya sendiri sambil menghindari tatapan pria di sampingnya. Btw mereka kini sudah satu kamar ya..
Sedangkan Gus Zayn memperhatikannya diam-diam.
“Kamu masih malu?”
Keira langsung melirik cepat.
“Ya iyalah.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang semua orang tahu hubungan kita.”
“Memang hubungan kita salah?”
Keira langsung salah tingkah lagi.
“Bukan gitu maksud saya...”
Gus Zayn tersenyum samar kecil.
Lalu tanpa aba-aba, pria itu meraih pelan tangan Keira yang sejak tadi gelisah sendiri.
“Biasakan.”
Napas Keira langsung tercekat kecil.
“Biasain gimana?”
“Menjadi istri saya.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sukses membuat wajah Keira memanas lagi.
Pria itu lalu mengusap pelan punggung tangan Keira dengan ibu jarinya.
Gerakan kecil yang selalu berhasil membuat jantung gadis itu berantakan.
“Karena cepat atau lambat...” lanjut Gus Zayn rendah, “semua orang memang akan tahu.”
Keira menunduk malu.
“Iya sih...”
“Tapi?”
“Saya takut santri-santri jadi ngomongin Gus terus.”
“Mereka bebas bicara.”
Tatapan Gus Zayn lalu melembut saat melihat Keira masih tampak khawatir.
“Asal kamu jangan ikut menjauh karena omongan mereka.”
Keira langsung menatap pria itu pelan.
Dan entah kenapa...
Ucapan itu terasa begitu hangat di hatinya.
“Saya nggak bakal pergi.” bisiknya kecil.
Senyum Gus Zayn terlihat sedikit lebih jelas.
Dan tepat saat suasana mulai tenang—
Brak!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka cepat.
“MBAK KEIRAAA!”
Keira langsung tersentak kaget.
Azizah muncul dengan wajah super heboh sambil ngos-ngosan.
“Kenapa lagi?” tanya Keira panik.
Gadis itu menunjuk keluar dengan mata berbinar.
“Santri putri lagi rame rebutan lihat bang Zayn!”
Deg.
Keira langsung melotot.
“Hah?!”
“Iya!” Azizah hampir tertawa lagi. “Soalnya tadi ada yang bilang bang Zayn pagi-pagi bikin teh buat istrinya.”
Keira langsung menoleh cepat pada Gus Zayn.
Sedangkan pria itu terlihat tetap tenang."Kenapa? Biarkan saja, mereka yang telalu heboh, Zaujati..."
“GUS?!”
palingan ntar gus Zayn nyesel