Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 — Wanita Itu Menghilang
Hujan malam itu masih turun deras ketika Dominic membuka pintu apartemen.
Kosong.
Sunyi.
Tidak ada suara langkah kaki Bella.
Tidak ada aroma parfum lembut yang biasa memenuhi ruangan.
Tidak ada suara televisi yang sering dibiarkan menyala sebagai teman malam.
Yang ada hanya kesunyian.
Kesunyian yang menyesakkan.
Tatapan Dominic langsung jatuh pada koper kecil yang biasanya berada di sudut kamar.
Tidak ada.
Jantungnya mendadak berhenti sesaat.
Langkahnya cepat menuju kamar.
Lemari terbuka.
Beberapa pakaian Bella hilang.
Kotak perlengkapan bayi yang tadi siang masih ada juga lenyap.
Tubuh Dominic langsung melemas.
“Bella…”
Suara pria itu pecah.
Matanya mencari ke setiap sudut ruangan seolah berharap wanita itu hanya bersembunyi.
Namun yang ia temukan hanya sebuah surat di atas meja.
Tangannya gemetar saat mengambilnya.
Tulisan tangan Bella.
Rapih.
Namun setiap goresannya terasa seperti pisau.
> Kau sudah kehilangan kesempatan keduamu.
Jangan cari aku.
Aku lelah mencintai lelaki yang selalu memilih menghancurkanku.
Aku dan anak ini akan baik-baik saja tanpa dirimu.
Dominic membeku.
Dunia seakan runtuh tepat di atas kepalanya.
Untuk kedua kalinya…
Bella pergi.
Dan kali ini, ia tahu, luka yang ia berikan jauh lebih dalam.
Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
Tangannya mencengkeram surat itu kuat-kuat.
Matanya memerah.
“Bella…”
Suara Dominic hampir seperti isakan.
Ia baru menyadari satu hal yang paling menyakitkan.
Ia tidak tahu ke mana Bella pergi.
Tidak ada pesan.
Tidak ada alamat.
Tidak ada kabar.
Wanita itu benar-benar menghilang.
---
Sementara itu…
Bella duduk di dalam mobil travel menuju Melbourne.
Air matanya masih belum berhenti sejak keluar dari Sydney.
Tangannya memeluk perutnya erat.
“Maafkan Mama…”
bisiknya lirih.
“Tapi kita nggak bisa tinggal sama lelaki seperti itu lagi.”
Wajah Dominic terus terbayang di kepalanya.
Tatapan panik pria itu.
Suara memohonnya.
Namun luka yang ada di hati Bella lebih besar dari semuanya.
Ia sudah memberikan kesempatan kedua.
Dan Dominic menghancurkannya lagi.
Kali ini Bella bersumpah.
Ia tidak akan kembali.
Tidak peduli seberapa besar cintanya.
---
TIGA TAHUN KEMUDIAN
Pagi di Melbourne terasa cerah.
Seorang anak laki-laki kecil berusia tiga tahun duduk di ruang tamu sambil memainkan puzzle angka.
Rambut hitam legam.
Mata tajam.
Wajah tampan yang sangat mirip Dominic.
Namun ekspresinya jauh lebih dingin untuk anak seusianya.
“Mommy.”
Suara kecilnya terdengar tenang.
“Puzzle ini salah desain.”
Bella yang sedang menyiapkan sarapan langsung menoleh.
“Hah?”
Anak kecil itu menunjuk angka.
“Seharusnya angka prime diletakkan terpisah.”
Bella membeku.
Lalu tertawa kecil.
Ya Tuhan.
Anaknya benar-benar jenius.
Di usia tiga tahun, Noah sudah bisa membaca, berhitung, bahkan mengenali pola matematika sederhana.
Para guru playgroup sampai berkali-kali mengatakan bahwa kecerdasan Noah jauh di atas anak-anak seusianya.
Bella tersenyum sambil mengusap rambut putranya.
“Kamu pintar sekali, sayang.”
Noah mendongak.
Wajah kecil itu begitu mirip Dominic sampai hati Bella terkadang terasa nyeri.
“Mommy…”
anak itu menatapnya polos.
“Daddy aku di mana?”
Pertanyaan itu selalu menjadi luka yang tidak pernah sembuh.
Bella terdiam beberapa saat.
Lalu memeluk Noah.
“Daddy kamu… jauh.”
Jawaban itu selalu sama.
Dan selalu membuat dadanya sesak.
---
Di sisi lain, Sydney.
Dominic berdiri di depan jendela kantor tertinggi miliknya.
Tatapannya kosong.
Di meja kerjanya, sebuah foto lama Bella masih tersimpan rapi.
Sudah tiga tahun.
Tiga tahun tanpa kabar.
Tiga tahun mencari ke seluruh Australia.
Sydney.
Perth.
Brisbane.
Canberra.
Tidak ada.
Bella seolah ditelan bumi.
Pria itu tidak pernah menikah.
Tidak pernah menyentuh wanita lain.
Bahkan nama Diana sudah ia hancurkan dari hidupnya.
Namun penyesalan itu tidak pernah pergi.
Setiap malam ia masih mengingat surat itu.
Setiap pagi ia masih bangun dengan nama Bella di bibirnya.
Dan setiap tahun, rasa bersalah itu semakin membunuhnya.
“Aku akan menemukanmu…”
desis Dominic lirih.
“Walau harus sampai ujung dunia.”
---
kasih gebrakan yg gimana
ini...kyk masih ada ditempat setelah ber bab bab
pergi atau tinggal?
putuskan segera
aku sebal
aku....aakhh bingung mau apa ya 🙄😜🤣
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹