NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Setelah waktu hampir menunjukkan pukul 19:00 Dian pun selesai memasak untuk makan malam mereka berempat. Tapi saat akan makan malam, semuanya melirik kearah kedatangan mobil asing keluaran terbaru yang siap untuk menjelajahi Medan terjal sekalipun.

"Dia datang,"lirih Ari.

"Ayo makan malam"ujar Dian yang kini dibalas anggukan kepala oleh Reno yang juga tidak suka melihat kedatangan pria tampan dengan outfit sempurna yang kini melekat di tubuh tingginya itu.

"Ah kalian disini rupanya, aku hampir kehabisan oksigen berada di dalam mobil bersama tuan Alex"ujar Tio.

Dian tidak menghiraukan perkataan Tio, dia tetap fokus pada makan malamnya saat ini.

"Duduklah jika ingin bergabung"ujar Ari yang kini terlihat tidak suka dengan sikap Tio yang sembarangan.

"Sementara Alex kini berdiri di samping mobil dengan rokok yang baru saja dia nyalakan.

"Ini makanan terlezat yang selama bertahun-tahun lamanya aku rindukan, boleh aku bawa stok untuk pulang besok"ujar Reno.

"Hm... Bawa saja"ujar Dian yang kini melirik kearah panci kukus yang besar itu.

"Terimakasih Diandra kamu memang selalu yang terbaik sejak dulu"ujar Reno yang kini membuat tangan Alex terkepal erat.

"Honey aku ingin bicara?"ucap Alex yang kini sudah berdiri di samping Dian.

Dian tidak menggubris perkataan Alex, karena baginya Alex bukan siapa-siapanya lagi.

Dian pun berkata pada Ari."Ri aku pinjam senter nya ya, sepertinya pancingan ku sudah menghasilkan ikan"ujar Dian yang kini langsung ditemani Ari berjalan menuju tei sungai dan menyusuri pinggiran sungai dimana tali pancing milik Diandra yang ditebar tadi berada.

Dan benar saja semua mendapatkan ikan yang beraneka ragam, Ari pun membantu Dian yang kewalahan membawa hasil pancingan nya dalam satu tas plastik besar yang kini dipenuhi oleh ikan tersebut.

"Wow sayang kamu benar-benar amazing, ini sih ibu-ibu komplek kebagian semua"ujar Reno.

"Semoga saja, siapa yang mau bantu aku bersihkan ikan?"ujar Dian yang kini disambut baik oleh Reno yang sejak tadi berusaha mengalihkan perhatian Dian pada Alex yang terus duduk sambil menghisap rokok.

"Ari saya ingin bicara?"ujar Alex.

"Maaf tuan, saya harus batu Dian terlebih dahulu karena ini sudah terlalu larut"ujar Ari yang kini meraih pisau belati miliknya dan bergegas menuju pancur yang kini dituju oleh Dian dan Reno.

"Baiklah,"lirih Alex yang kini dihampiri oleh Renata.

"Tuan tolong jangan usik kebahagiaan kakak ipar saya, dia sudah bahagia dengan hidup nya. Begitu juga dengan anda jadi untuk apa anda menemuinya lagi?"ujar Renata yang kini terlihat menggebu-gebu.

"Kau anak kecil tau apa tentang bahagia, sebaiknya tutup mulut mu, jika kamu masih ingin menghirup udara bebas di dunia ini"balas Alex yang kini membuat Renata terdiam ketakutan.

Sementara Tio masih asik menikmati makan malam tanpa tahu malu. Dian tetap fokus membersihkan ikan-ikan nya yang mungkin sebagian baru mati beberapa menit yang lalu karena kelelahan, sementara yang lain masih hidup saat dibersihkan.

Ikan-ikan itu cukup besar, ada yang berukuran satu sampai tiga kilo gram. Dan ada juga ukuran sedikit lebih kecil dari itu, tapi yang pastinya lebih dari lima ratus gram.

Dua puluh kail pancing itu semua terisi, dan Dian pun panen ikan, jadi mereka memutuskan untuk pulang malam itu juga. dan rencananya Dian akan menginap di rumah lama bersama Renata yang kini menjadi pemiliknya bersama Reno.

"Sudah selesai beres-beres nya. Sebaiknya kamu menginap saja di rumah ku . Ibu pasti senang bertemu denganmu"ucap Ari.

"Terimakasih Ri, mungkin lain kali saja. Aku akan langsung pulang"ujar Dian.

"Ayolah Dian, rumah mu terlalu jauh dari sini, tanpa sopir pengganti aku takut kamu kenapa-napa"ujar Ari yang kini terlihat sangat khawatir.

"Ri, kamu kenal aku kan... Dulu saja saat perjalanan jauh aku bisa melewatinya apalagi sekarang masih di kota tempat tinggal kita, dua jam sampai"ujar Dian yang kini sudah menyimpan semuanya kedalam keatas mobilnya.

Alex langsung menghampiri Dian saat itu juga."Honey ikut dengan ku. Biar Ari yang bawa mobil mu"ujar Alex yang kini dibalas senyum kecut oleh Dian yang langsung melepaskan genggaman tangan Alex.

"Honey please, setelah ini aku tidak masalah jika kamu ingin membenciku seumur hidup ku. Dibenci jauh lebih baik daripada harus diabaikan seperti ini"ujar Alex.

"Memangnya siapa anda hingga saya harus peduli dengan anda. Semua sudah berlalu sejak hari itu, dan saya tidak punya hutang apapun terhadap anda"ujar Dian.

" Tentu saja ada honey, dan aku datang untuk menagih hutang janji dan cinta yang belum usai"ujar Alex yang kini membuat yang lainnya menjauh dari mereka berdua kecuali Ari yang kini sudah masuk kedalam mobil.

"Saya ras anda hilang ingatan tuan, diantara kita sudah berakhir sejak lama dan tidak ada cinta yang belum usai seperti yang anda katakan. Dan tentang janji yang anda maksud, saya tidak pernah berjanji untuk menjadi wanita cadangan bagi anda sekalipun saya tidak akan menikah seumur hidup saya"ucap Dian yang kini membuat Alex menatap lekat wajah cantik dibalik cahaya bulan tersebut.

"Kamu tidak pernah menjadi cadangan honey, kamu adalah satu-satunya wanita yang sangat aku cintai sejak pertama kali kita bertemu"ucap Alex.

"Anda bisa katakan itu pada wanita lain, tapi tidak dengan saya"ucap Dian yang langsung masuk kedalam mobil tanpa peduli pada Alex yang kini terus mengebrak pintu mobil yang akhirnya meninggal dia dan juga Tio yang kini langsung bergegas menuju mobil Alex bersama Alex yang kini mengambil alih kemudi.

Mobil mereka terus saling mengejar, terutama mobil Reno yang kini berada di tengah-tengah seakan sengaja menghalangi Alex untuk mendekat ke mobil pick up tersebut.

Sementara Reno salah berfikir jika dia pikir Alex tidak akan bisa mendahului nya, sampai saat mereka tiba di jalan raya, mobil Alex yang memimpin dan mobil Reno tertinggal di belakang, sementara mobil pick up itu sudah melewati Reno yang kini tampak sangat kesal tapi Dian berusaha untuk menunggu Reno.

Bukan mobil Reno yang tidak punya kekuatan, tapi Reno sengaja membiarkan Dian berada di paling depan, namun Alex terus berusaha menghentikan mobil Dian dengan tujuan agar Dian mau ikut dengan nya.

Sampai saat mobil Dian berhenti di pinggir jalan raya tepat di depan rumah nya yang kini terlihat benar-benar tidak berubah baik dari bentuk atau pun chat rumah dan halaman pun masih sama. Air mata Dian pun menetes, dia tidak akan pernah kehilangan rumah itu jika saja dia tidak pernah bersama dengan pria yang kini berusaha untuk menemuinya yang tidak turun dari mobil, kecuali Ari yang kini menurunkan motornya dibantu oleh Tio.

"Diandra turunlah, malam sudah sangat larut dan kamu belum istirahat"ujar Reno.

"Tidak kak, aku bisa kok, lagipula hanya dua jam bukan?"ujar Dian yang kini mengusap air matanya dengan kasar.

...******...

Sudah hampir satu jam lebih Diandra mengemudi dalam suasana jalanan sepi, tapi dia tidak menghentikan mobilnya kecuali saat di pom bensin untuk mengisi bensin.

Setelah itu dia lanjut jalan, bukan dia tidak tau bahwa mobil Alex saat ini mengikuti mobilnya, namun Dian tetap cuek, apalagi dengan sikap Alex yang kini sedikit lebih bersabar dan mengalah, Dian yakin Alex akan menyerah dan pergi dari hidupnya untuk selamanya.

Sampai saat dia tidak melihat mobil Alex lagi, mungkin Alex sudah tiba di rumah pribadinya dan dia tidak benar-benar mengikuti dirinya, karena Alex juga memiliki rumah di kota yang sama meskipun dengan jarak yang cukup jauh, dan butuh satu jam perjalanan lagi untuk sampai di rumah Dian.

Sepanjang perjalanan hanya ada suara mesin mobil dan juga angin yang berhembus dari jendela mobil.

Dian sesekali mengusap air matanya yang masih menetes meskipun tidak sederas tadi.

Sampai saat dia tiba di rumah barunya yang kini terlihat sangat sepi itu pun, Dian memarkirkan mobilnya. dia buru-buru menurunkan barang-barang pribadinya dan juga hasil tangkapan nya yang cukup banyak itu.

Dian mengangkut satu persatu barang bawaannya hingga hampir selesai, tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh Alex tadi langsung berhenti di depan pagar rumah yang masih terbuka lebar karena Dian sendiri belum menutup pintu pagar yang terlihat hanya seperti pembatas antara jalan perumahan dan rumah itu sendiri.

Alex buru-buru turun dari mobil dan bergegas menghampiri Dian yang kini menatap lekat kearah Alex yang berjalan menghampiri nya.

"Kenapa kamu pindah dan menjual rumah yang penuh akan kenangan bagimu itu honey?"ujar Alex yang kini tidak ditanggapi oleh Dian yang kini berbalik badan dan pergi dengan membawa ransel miliknya.

"Honey tunggu?"ucap Alex lagi.

"Maaf saya tidak bisa menerima tamu malam-malam begini"ujar Dian yang kini membuat Alex terdiam sejenak.

"Aku bukan tamu mu honey, aku suamimu"ujar Alex.

"Suami, sejak kapan bahkan kita sudah tidak memiliki hubungan apapun sejak anda memutuskan untuk kembali dan memilihnya. Saya tau anda memiliki kebebasan untuk bicara tapi tidak disini dan tidak dengan saya, sekarang silahkan pergi"ucap Dian yang kini hendak menutup pintu.

"Kamu perlu bukti honey, aku memiliki buktinya"ujar Alex yang kini menahan pintu yang hampir tertutup itu.

Dian pun hanya bisa menghela nafas, dia sudah berusaha untuk mengusir Alex pergi tapi pria itu tidak mungkin menyerah begitu saja saat mereka hanya berdua.

Alex pun menutup pintu setelah ia masuk sambil melihat-lihat rumah yang cukup luas dari yang sebelumnya, meskipun halaman depan nya hanya muat satu mobil saja, dan tidak seluas tanah yang ada di rumah pinggir kota itu.

"Honey apa kamu betah tinggal disini?"ujar Alex yang kini membuat pergerakan tangan Dian terhenti saat sedang memasukkan ikan hasil tangkapan nya kedalam freezer.

"Kenapa memangnya?"ujar Dian yang justru malah balik bertanya.

"Disini udaranya panas, dan rumah nya,

"Saya tidak minta pendapat anda, dan saya tidak meminta anda untuk ikut kemari"ujar Dian yang kini membuat Alex terdiam.

Dian yang saat ini tengah ia hadapi bukan Dian yang beberapa bulan lalu ia tinggal, melainkan Dian yang dulu terlihat dingin dan tidak berperasaan disaat dia menghadapi lawan bicara nya.

Alex sadar bahwa itu adalah akumulasi dari luka yang selama ini dia torehkan, seharusnya Alex berterus terang kepada Dian tentang apa yang terjadi selama hampir tujuh bulan tersebut.

Ya, dia memang menikah dengan wanita yang sampai saat ini masih menjadi istrinya. tapi sampai saat ini Alex tidak pernah menyentuh wanita yang yang tidak pernah ia cintai.

Pernikahan itu mutlak karena bisnis semata, Alex membantu keuangan perusahaan milik keluarga istrinya, dan istrinya pun menepati janjinya untuk tidak mengharapkan Alex sebagai suami seutuhnya.

Adalah wanita cantik bernama Titian yang berprofesi sebagai model iklan, di luar rumah saat mereka sedang bersama mereka memang selalu terlihat mesra dan begitu sempurna untuk ukuran pasangan suami istri. Tapi lagi-lagi publik tidak tahu bahwa mereka tidak pernah tidur dalam satu kamar meskipun Titian sangat menginginkan hal itu.

"Honey aku sungguh minta maaf padamu, aku janji akan mengembalikan semua yang pernah menjadi milik mu"ujar Alex.

"Tidak, sudah tidak ada lagi yang harus dimaafkan, karena semua tidak akan bisa kembali hanya dengan kata maaf. Yang saya inginkan saat ini adalah ketenangan dalam hidup, jadi tolong jangan pernah kembali untuk mengingatkan saya pada rasa sakit yang tidak pernah terobati"balas Dian.

"Honey, aku memang pantas di caci maki. Aku telah membuat mu seperti saat ini, bahkan mungkin cacian itu tidak akan pernah bisa menebus dosa dan kesalahan ku padamu tapi honey, satu hal yang harus kamu tau bahwa aku tidak pernah bisa melupakan mu dan cinta ku padamu yang begitu besar. Maaf jika selama ini aku tidak pernah datang dan meminta maaf padamu atas apa yang telah terjadi. Jujur aku tak mampu untuk melakukan hal itu. Aku tidak mampu melihat orang yang sangat aku cintai terluka karena aku yang tidak pernah punya pilihan saat itu"ucap Alex yang kini semakin mendekat dan hendak menyentuh pipi Dian yang sejak tadi terpaku di tempatnya.

"Cukup tuan, penjelasan apapun tidak akan merubah kenyataan yang sudah terlanjur terjadi. Jangan sampai saya menyesali pertemuan kita dulu, sebaiknya sekarang anda kembali ke tempat anda dan jangan pernah usik kehidupan saya lagi."ucap Dian dengan tegas.

"Honey please, aku kembali karena aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Aku sangat mencintaimu hingga setiap detik rasanya sungguh sangat menyakitkan harus berpisah dengan mu. Aku tau mungkin kamu tidak akan pernah percaya pada kata-kata ku, tapi tuhan sangat tau segalanya. Apalagi saat kamu mengembalikan semuanya di hari itu aku hampir tak bisa bernafas lagi karena perjuangan ku untuk mempertahankan semuanya berakhir sia-sia"ucap Alex yang kini berlutut di hadapan Dian.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!