Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujatan Terbuka di Tengah Lapangan Kampus
Matahari siang itu bersinar dengan intensitas yang kejam, seolah sengaja ingin menyoroti setiap inci penderitaan yang akan terjadi. Lana keluar dari gedung fakultas dengan langkah gontai. Rambutnya masih sedikit lembap akibat siraman air dari Clarissa tadi pagi, dan kemejanya meninggalkan noda air yang mengering kusam. Ia hanya ingin mencapai halte bus di depan kampus, ingin menghilang dari pandangan semua orang, dan mengunci diri di kamar penthouse-nya selamanya.
Namun, saat ia sampai di area lapangan tengah—sebuah alun-alun terbuka yang dikelilingi oleh gedung-gedung fakultas bertingkat—langkahnya terhenti.
Suasana lapangan yang biasanya bising oleh lalu lalang mahasiswa, mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Ratusan pasang mata tertuju padanya. Di tengah lapangan, sebuah proyektor besar yang biasanya digunakan untuk pengumuman kegiatan kampus, kini menampilkan sesuatu yang membuat jantung Lana seolah berhenti berdetak.
Foto-fotonya.
Foto saat ia baru tiba dari desa dengan pakaian kumal, foto saat ia turun dari mobil mewah Arka, hingga foto-foto candid saat Bumi menyentuh bibirnya di balkon. Foto-foto itu diedit dengan kata-kata kasar yang menghina moralitasnya. "Pelacur Desa Berkedok Mahasiswi", "Simpanan Penthouse Sudirman", dan tulisan-tulisan lain yang menjijikkan.
"Lana... liat ke sini dong!" sebuah suara melengking memecah keheningan.
Sisca berdiri di atas undakan tangga teater terbuka, memegang pengeras suara. Di sampingnya berdiri Clarissa dan gengnya, melipat tangan dengan senyum kemenangan yang bengis.
"Halo semuanya!" teriak Sisca lewat pengeras suara, suaranya menggema ke seluruh penjuru lapangan. "Kenalin, ini adalah 'bintang' baru kampus kita. Gadis desa yang katanya polos, tapi ternyata punya cara 'khusus' buat dapet fasilitas mewah di Jakarta. Kalian mau tahu rahasianya? Tanya aja sama dia!"
Lana terpaku di tengah lapangan. Ia merasa seperti seekor binatang buruan yang dikepung di tengah arena gladiator. Ratusan mahasiswa mulai berkumpul, membentuk lingkaran besar yang mengurungnya. Bisikan-bisikan itu kini berubah menjadi sorakan yang terang-terangan.
"Huuu! Memalukan!"
"Keluar aja dari sini! Dasar parasit!"
"Balik ke sawah sana!"
Lana mencoba menutup matanya, namun suara-suara itu menembus hingga ke sumsum tulangnya. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa seperti tertanam di beton lapangan. Tiba-tiba, sebuah benda melayang dan menghantam bahunya. Plak! Sebuah kantong plastik berisi sisa jus alpukat yang lengket pecah, membasahi kemeja birunya yang sudah malang itu.
"Ini buat lo yang sok suci!" teriak seorang mahasiswi dari kerumunan.
Seolah itu adalah aba-aba, serangan fisik mulai berjatuhan. Sampah-sampah kecil, gulungan kertas, hingga sisa makanan dilemparkan ke arah Lana. Ia tidak mencoba menghindar. Ia hanya berdiri mematung, menundukkan kepalanya sedalam mungkin hingga rambutnya menutupi wajahnya yang kini sudah basah oleh campuran air mata dan kotoran.
"Tolong... berhenti," bisik Lana, namun suaranya hilang ditelan sorak-sorai massa.
Sisca turun dari tangga, mendekati Lana yang kini sudah tampak sangat menyedihkan. Ia membawa sebuah ember kecil berisi air cucian yang kotor dan berbau amis. Dengan gerakan lambat yang penuh drama, ia menyiramkan isi ember itu tepat di atas kepala Lana.
"Biar lo makin seger, Lana. Biar bau desa lo makin 'harum'!" Sisca tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh tepuk tangan riuh dari mahasiswa lain yang merasa tontonan ini sangat menghibur.
Lana merosot ke tanah. Ia duduk bersimpuh di tengah lapangan, di kelilingi oleh tumpahan sampah dan air kotor. Dunianya runtuh. Benar-benar runtuh. Ia merasa telanjang di depan ratusan orang. Semua harga diri yang coba dibangunkan oleh Arka, semua kecantikan yang dipoles oleh Bumi, dan semua martabat yang dibisikkan oleh Ezra, kini tersapu bersih oleh penghinaan massal ini.
Ia teringat janji-janji para pria itu yang akan menjaganya. Namun di mana mereka sekarang? Di saat ia dihujani sampah dan makian di tengah lapangan kampus, ia benar-benar sendirian. Tidak ada Arka yang berwibawa, tidak ada Jeno yang cerdas, tidak ada Gaza yang tangguh. Hanya ada Lana, si gadis desa yang malang, yang sedang diremukkan oleh kejamnya kasta sosial Jakarta.
"Liat dia nangis! Aktingnya bagus banget, pantesan cowok-cowok kaya itu ketipu!" teriak Clarissa dari kerumunan.
Lana memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana. Ia menangis terisak-isak, bahunya berguncang hebat. Isakannya begitu pilu, sebuah suara dari jiwa yang sudah patah. Ia tidak lagi peduli dengan penampilannya. Ia tidak lagi peduli dengan masa depannya. Saat itu, ia hanya ingin satu hal: mati. Ia ingin bumi terbelah dan menelannya bulat-bulat agar ia tidak perlu lagi melihat wajah-wajah penuh kebencian ini.
"Kenapa kalian jahat sama aku... aku salah apa?" rintihnya di sela isak tangis yang menyesakkan dada.
Kejadian itu berlangsung selama hampir lima belas menit yang terasa seperti keabadian. Mahasiswa-mahasiswa itu, yang sebagian besar adalah calon-calon pemimpin masa depan, hanya berdiri menonton atau ikut menghujat, mengabadikan momen kehancuran Lana dengan kamera ponsel mereka. Tidak ada empati, yang ada hanyalah pemuasan ego atas penindasan terhadap seseorang yang dianggap lebih rendah.
Sisca membungkuk, menarik rambut Lana agar gadis itu mendongak. "Dengerin gue baik-baik, Lana. Hari ini adalah peringatan terakhir. Kalo besok lo masih berani injek kampus ini, atau masih berani tinggal di penthouse itu, gue bakal pastiin video hari ini viral ke seluruh Indonesia, sampe orang-orang di desa lo tahu betapa 'murah'-nya anak mereka di Jakarta."
Sisca melepaskan rambut Lana dengan sentakan kasar, lalu meludahi tanah di dekat kaki Lana. "Pergi lo! Sekarang!"
Sorakan "Pergi! Pergi! Pergi!" bergema di seluruh lapangan, ritmenya seolah memukul jantung Lana dengan palu godam.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang nyaris tidak ada, Lana mencoba berdiri. Kakinya bergetar hebat, tangannya yang kotor menyapu air mata yang terus mengalir tanpa henti. Ia tidak berani menatap siapa pun. Ia hanya memungut tas punggungnya yang sudah kotor dan basah, lalu berjalan tertatih-tatih menembus kerumunan mahasiswa yang sengaja memberikan jalan sambil tetap melemparkan ejekan.
Setiap langkah yang diambilnya terasa seperti berjalan di atas bara api. Ia merasa setiap mata yang menatapnya adalah pisau yang menguliti kulitnya. Ia melewati gerbang kampus dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Ia tidak lagi merasa seperti manusia; ia merasa seperti sampah yang baru saja disapu keluar dari sebuah istana yang indah.
Di luar gerbang, Lana tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan pandangan kosong, mengabaikan klakson kendaraan atau tatapan heran dari orang-orang di pinggir jalan. Air matanya terus mengalir, membasahi wajahnya yang sudah berantakan. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak berani pulang ke penthouse dalam kondisi seperti ini, namun ia juga tidak punya tempat lain untuk pergi.
Siang itu, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak peduli, Lana menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya. Ia kehilangan harapannya, ia kehilangan kehormatannya, dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan keyakinannya bahwa ia pantas untuk dicintai. Hujatan terbuka di lapangan itu bukan hanya sekadar perundungan; itu adalah eksekusi mati bagi jiwanya yang polos.
Lana terus berjalan, menjauh dari kampus yang kini terasa seperti neraka, membawa luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan hanya dengan bedak tipis atau bisikan manis. Ia benar-benar hancur, dan di dalam dadanya, hanya ada satu keinginan yang tersisa: untuk menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi oleh siapa pun.