NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Boneka Porselen di Balik Kaca

BAB 31: BONEKA PORSELEN DI BALIK KACA

​Jakarta menyambut kepulangan mereka dengan hujan badai yang menderu, seolah alam pun turut berduka atas matinya kebebasan Larasati. Namun, di dalam penthouse pribadi Elang Dirgantara yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit miliknya, suara petir pun nyaris tak terdengar. Ruangan itu kedap suara, terisolasi sempurna dari hiruk-pikuk dunia luar, menciptakan sebuah vakum yang hampa dan dingin.

​Laras kini menjalani kehidupan barunya. Sebuah kehidupan yang bagi banyak wanita adalah puncak dari segala mimpi, namun baginya adalah neraka yang dilapisi emas.

​Tanpa Maya. Tanpa panggung. Tanpa tarian.

​Maya telah benar-benar diputus aksesnya. Elang memastikan tidak ada satu pun frekuensi komunikasi yang bisa menembus dinding apartemen ini. Ponsel Laras yang baru hanya berisi satu nomor: Elang. Televisi di ruangan itu hanya menyiarkan saluran berita bisnis dan film-film klasik pilihan Elang. Internet? Itu adalah kemewahan masa lalu yang kini dianggap sebagai ancaman oleh Elang.

​Laras kini resmi menjadi tahanan penuh. Ia tidak lagi tinggal di apartemennya yang lama; ia telah dipindahkan secara permanen ke kediaman pribadi Elang. Sebuah tempat di mana setiap jengkalnya diawasi oleh kamera CCTV dan setiap langkahnya diikuti oleh pelayan yang lebih mirip sipir penjara berbaju rapi.

​***

​Setiap pagi, Laras bangun bukan karena panggilan jiwanya untuk berlatih, melainkan karena dua orang pelayan masuk untuk memandikannya dan mendandaninya. Ia tidak lagi memilih pakaiannya sendiri. Elang telah mengatur jadwal busananya: gaun sutra Valentino untuk pagi hari, gaun cocktail Chanel untuk sore, dan gaun malam haute couture untuk makan malam.

​Laras hanya berdiri diam, membiarkan tangan-tangan asing itu memoles wajahnya dengan kosmetik termahal, menata rambutnya hingga tanpa cela, dan melilitkan kalung berlian yang terasa seberat rantai besi di lehernya. Ia tampak luar biasa cantik—sebuah mahakarya visual yang akan membuat siapa pun terpana. Namun, jika seseorang menatap matanya, mereka hanya akan menemukan dua lubang hitam yang dalam dan tanpa dasar.

​Setelah selesai didandani, Laras akan dibawa ke ruang kerja Elang yang luas. Di sana, Elang duduk di balik meja jati besarnya, mengelola kerajaan bisnisnya yang menggurita. Laras diperintahkan duduk di sebuah kursi beludru di hadapannya, atau terkadang di sampingnya.

​"Dengarkan ini, Sayang," ucap Elang tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. "Aku baru saja mengakuisisi perusahaan logistik di Singapura. Ini akan memperkuat jalur distribusi kita di Asia Tenggara. Apa pendapatmu?"

​Laras tidak menjawab. Ia hanya menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan.

​"Laras?" Elang mendongak, menatap tunangannya dengan binar posesif yang tak pernah padam.

​"Itu bagus, Elang," jawab Laras dengan suara yang datar, nyaris tanpa intonasi. Suaranya terdengar seperti rekaman lama yang diputar ulang—jernih, namun mati.

​Elang tersenyum puas. Ia bangkit, menghampiri Laras, dan mengusap pipi wanita itu dengan punggung tangannya. "Aku senang kamu mendengarkan. Aku ingin kamu tahu segala hal tentang duniaku. Karena sekarang, duniaku adalah duniamu juga. Kamu tidak perlu lagi memikirkan tarian-tarian melelahkan itu. Di sini, kamu adalah ratu."

​Laras merasakan sentuhan itu, namun saraf-sarafnya seolah telah mati rasa. Ia tidak menolak, tidak juga membalas. Ia patuh karena ia tahu pemberontakan hanya akan membawa rasa sakit yang lebih dalam. Ia adalah mayat hidup yang bernapas, namun setiap tarikan napasnya terasa seperti menghirup debu intan yang menyayat paru-parunya.

​*

​Malam hari adalah waktu yang paling menyesakkan. Mereka akan duduk berhadapan di meja makan sepanjang empat meter yang diterangi oleh lilin-lilin kristal. Makanan yang disajikan adalah karya koki bintang lima—foie gras, truffle, daging wagyu kualitas tertinggi—namun bagi Laras, semuanya terasa seperti pasir di mulutnya.

​Elang akan bercerita tentang musuh-musuh bisnisnya yang ia hancurkan hari itu, tentang politisi yang ia suap, atau tentang rencana-rencananya untuk masa depan mereka. Ia bicara seolah-olah mereka adalah pasangan normal, mengabaikan fakta bahwa Laras tidak pernah tersenyum atau memulai percakapan.

​"Aku sudah memesan desainer untuk merancang gaun pengantinmu, Laras. Aku ingin pernikahan kita menjadi peristiwa terbesar di dekade ini. Aku ingin semua orang tahu bahwa kamu adalah milikku selamanya, secara sah dan mutlak," ucap Elang sambil memotong dagingnya dengan presisi.

​Laras memegang garpunya dengan kaku. "Pernikahan?"

​"Ya. Bulan depan. Setelah semua urusan di Sydney mereda dan orang-orang mulai melupakan skandal kecil dengan kurator itu," Elang menatap Laras tajam. "Kamu senang, kan?"

​Laras mengangkat wajahnya. Ia menatap Elang—pria yang telah menghancurkan mimpinya, mengusir sahabatnya, dan mengurungnya di sini. Namun, di balik rasa benci yang membara, ada ketakutan yang lebih besar. Ia melihat kegilaan di mata Elang, sebuah obsesi yang melampaui logika.

​"Iya, Elang. Aku senang," jawab Laras patuh. Sebuah kebohongan yang meluncur begitu saja dari bibir merahnya yang indah.

​Elang tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus namun mengerikan. Ia meraih tangan Laras yang mengenakan cincin berlian biru dan menciumnya lama. "Aku tahu kamu akan mengerti. Kamu adalah satu-satunya hal yang nyata bagiku, Laras. Di luar sana semuanya palsu. Hanya di sini, di ruangan ini, kita aman."

​*

​Setelah makan malam, Elang terkadang memintanya untuk "menari". Bukan tarian yang penuh emosi seperti di panggung, melainkan gerakan-gerakan sederhana yang ia inginkan. Elang akan duduk di sofa dengan segelas wiski di tangan, menonton Laras yang bergerak di tengah ruangan tanpa musik.

​"Berputarlah, Laras," perintah Elang.

​Laras berputar. Gaun mahalnya mengembang, menciptakan siluet yang indah. Namun kakinya tidak lagi memiliki kekuatan yang sama. Tidak ada lagi gairah dalam gerakannya. Ia bergerak seperti kotak musik yang diputar kuncinya—teratur, monoton, dan dingin.

​Setiap kali Laras berhenti, Elang akan bertepuk tangan pelan. "Indah. Jauh lebih indah daripada saat kamu menari untuk orang asing itu. Di sini, kecantikanmu hanya untuk mataku."

​Ketika Elang akhirnya tertidur atau kembali ke ruang kerjanya, Laras akan berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menghadap ke lampu-lampu kota Jakarta. Dari ketinggian ini, mobil-mobil di bawah sana tampak seperti serangga kecil yang bergerak bebas. Ia merindukan Maya. Ia merindukan aroma keringat di studio tari yang pengap. Ia merindukan rasa sakit di ibu jari kakinya setelah berlatih sepuluh jam.

​Di sini, di apartemen Elang, semuanya empuk. Semuanya wangi. Semuanya mahal. Namun Laras merasa ia sedang tenggelam di dalam kolam madu yang kental—manis, namun mematikan dan mustahil untuk melarikan diri darinya.

​Ia seringkali menyentuh lehernya, memastikan bahwa ia masih bernapas. Karena terkadang, di tengah kesunyian apartemen ini, ia merasa jiwanya sudah benar-benar pergi, meninggalkan raga yang hanya berfungsi sebagai pajangan bagi obsesi seorang Elang Dirgantara.

​Ia bernapas, namun dadanya terasa sesak seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya setiap detik. Ia adalah bidadari yang telah dicabut sayapnya, diberi gaun terindah, dan diletakkan di dalam kotak kaca untuk dipuja oleh sang penculiknya.

​Laras menyadari satu hal yang paling menyakitkan: Elang tidak mencintainya sebagai manusia. Elang mencintainya sebagai sebuah konsep tentang kesempurnaan dan kepemilikan. Dan selama ia tetap menjadi boneka yang patuh, Elang akan memberinya dunia. Namun jika ia sekali saja mencoba menjadi manusia kembali, ia tahu Elang tidak akan ragu untuk menghancurkannya agar tidak ada orang lain yang bisa memilikinya.

​Malam itu, Laras kembali berbaring di tempat tidur king size yang dingin. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, membayangkan seandainya ia bisa berubah menjadi debu dan terbang keluar melalui celah pendingin ruangan. Namun kenyataan pahit menyambutnya saat Elang masuk ke kamar, mematikan lampu, dan memeluknya dari belakang dengan cengkeraman yang seolah berkata: Kamu tidak akan pernah pergi.

​Laras memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelannya, berdoa agar besok pagi ia tidak perlu bangun lagi ke dalam kehidupan yang lebih sunyi daripada kematian itu sendiri.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!