Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Kejutan Di Balik Kesibukan
Pagi itu udara si Surabaya terasa sedikit lebih ringan, hari ketiga terlihat matahari belum terlalu tinggi namun aktivitas kantor cabang sudah berjalan seperti biasa. Berbeda dengan dua hari sebelumnya yang dipenuhi dengan ketegangan dan tekanan, hari ini suasana terasa lebih tenang dan kondusif.
Semua masalah yang sempat datang mengganggu operasional akhirnya berhasil diselesaikan lebih cepat dan tepat, untuk pertama kalinya sejak datang ke kota ini. Adrian bisa menarik nafas dengan lega, kini ia berdiri didekat jendela ruang kerja sementara.
Menatap keluar dengan tatapan yang lebih tenang, tidak ada lagi berkas yang mendesak, tidak ada lagi keputusan besar yang harus diambil karena semua sudah selesai bahkan lebih cepat dari yang telah diperkirakan.
Akhirnya selesai....
Dua hari yang padat, melelahkan dan penuh dengan tekanan berhasil dilewati. Dan anehnya yang pertama kali muncul dipikiran Adrian bukan sebuah perasaan bangga, melainkan suatu hal yang sederhana " Akhirnya aku bisa pulang..." dan tentu saja yang ada dalam ingatannya adalah sang istri Nayara.
Mengingat senyuman manis, suara yang lembut mengalun sopan ditelinga setiap malam, dan tiba-tiba saja rasa rindu yang sejak kemarin ditahan akhirnya kembali hadir.
Adrian mengambil ponselnya, tangannya sempat berhenti di layar chat Nayara. Biasanya di jam seperti ini ia akan memberikan kabar, tapi hari ini justru ide kecil yang tiba-tiba saja muncul dikepalanya.
" Reza, apa pekerjaan kita sudah selesai?" Adrian kini menatap wajah sang sekretaris.
" Semua sudah selesai, Pak" Reza menjawab dengan tangan yang masih sibuk merapihkan dokumen dihadapannya.
" Apa kamu yakin tidak ada agenda yang terlewat?" Adrian memastikan kembali.
" Yakin, Pak. Semua agenda sudah diselesaikan lebih cepat" beberapa saat Reza fokus kembali membaca agenda dan memastikan bahwa tidak ada yang terlewat.
" Apa kita bisa pulang hari ini?" kembali Adrian mengeluarkan suaranya.
" Hari ini, Pak?" Reza terkejut mendengarnya.
" Apa Bapak tidak mau istirahat dulu? Atau mencari oleh-oleh untuk Ibu?" Reza menjawab dengan tangan yang masih sibuk membuka tablet ditangannya untuk mencari jadwal penerbangan.
" Tidak, kita bisa membeli oleh-oleh saat perjalanan ke Bandara saja, Za... Oh iya tapi kamu tetap beri kabar istri saya seperti biasa ya" ucap Adrian santai.
" Seperti biasa, Pak?" Reza mengerutkan keningnya.
" Saya ingin memberikan kejutan, jadi kamu kabari saja jika saya masih meeting" lagi Adrian memberikan penjelasan singkat.
" Ohhh... Siap, Pak" Reza sedikit geli melihat sang Bos yang kini terlihat bucin.
Reza yang masih sibuk dengan tabletnya kini bisa melihat sendiri bagaimana seorang Adrian Mahendra, yang selama dua hari selalu menyempatkan waktu untuk memberi kabar kepada sang istri. Bagaimana wajah serius itu bisa berubah hanya karena satu pesan dari sang istri, dan hari ini Adrian ingin pulang diam-diam memberikan kejutan kecil.
Aku pulang hari ini, Sayang...
Monolog kalimat sederhana itu cukup membuat hati Adrian lebih hangat, karena itu berarti ia akan bertemu kembali dengan sang istri.
🌟
Beberapa jam kemudian, Reza dan Adrian sudah berada di Bandara dengan oleh-oleh yang sudah disiapkan. Langkah Adrian terasa lebih ringan dari biasanya, tidak ada tekanan pekerjaan, tidak ada beban pikiran yang ada hanya satu tujuan " pulang ".
Dikursi tunggu Bandara Adrian duduk santai dengan tangan yang menggenggam ponsel, ada pesan dari sang istri.
" Mas, sedang sibuk ya?"
Adrian tersenyum kecil, namun sebelum ia membalas ternyata pesan dari Reza lebih dulu sampai kepada Nayara.
" Bu, Bapak sedang ada meeting siang ini"
Beberapa detik kemudian Nayara membalas pesan dari Reza.
" Baik, terimakasih ya, Reza. Kalian jangan lupa makan"
Adrian membaca pesan itu sambil menahan senyum, ia bisa membayangkan Nayara yang mungkin sedang menunggu kabar darinya. Dan kali ini ia sengaja membuat sang istri tidak mengetahui kepulangannya.
" Maaf ya, Sayang. Mungkin ini terlihat jahat tapi Mas ingin lihat wajah terkejutmu nanti".
Pesawat akhirnya lepas landas, Adrian menatap keluar jendela terlihat langit biru membentang luas dan untuk pertama kalinya sejak datang ke Surabaya, pikirannya kini benar-benar tenang.
Sebentar lagi Mas pulang, Sayang.
Rasa rindu itu kini berubah menjadi antusias, ia bahkan membayangkan bagaimana ekspresi Nayara nanti, apakah terkejut, senang atau mungkin langsung mengambur kedalam pelukannya.
Dan bayangan itu membuat Adrian tersenyum tipis.
Sementara di rumah utama Rendra, kini Nayara duduk diruang tengah dengan ponsel berada ditangannya. Tatapannya sesekali melihat layar menunggu pesan masuk dari sang suami.
Mas Mahen masih meeting sepertinya...
Nayara kembali menghela nafas kecil, sebenarnya ia ingin sekali berbicara dengan Adrian lebih lama hari ini. Entah mengapa perasaannya lebih gelisah sejak pagi tadi, namun ia mencoba berpikir positif karena tidak ingin mengganggu pekerjaan sang suami.
" Masih nunggu suami, Dek?" Sinta yang melihat kegelisahan sang anak tersenyum kecil.
" Enggak kok, Bu" Nayara tersipu malu.
" Dari tadi lihat Hp terus, tuh" Sinta tertawa kecil.
" Mas Mehen masih meeting, Bu" ucap Nayara lesu.
" Ya sudah nanti juga selesai, istirahat dulu gih" Sinta menganggukkan kepalanya.
" Iya, Bu"
Didalam hati Nayara ia tetap menunggu pesan dari sang suami.
T28J membaca kalimat terakhir itu dalam diam. Tentang cinta yang tidak sempurna. Tentang dua manusia yang tetap memilih bertahan. Tentang rumah… yang perlahan dibangun dari luka dan pengertian.
“Ini bukan sekadar akhir cerita. Ini bukti… bahwa karakter-karakter itu pernah hidup.”
“Dan sebagai sesama pencipta dunia… aku tahu tidak mudah membawa mereka sampai sejauh ini.”
Terakhir, T28J menatap langit kosong.
“Selamat.”
“Duniamu berhasil menyentuh seseorang.”
“…jadi begini rasanya.” Ia berdiri, menghela napas panjang. “Ceritamu… tidak sempurna.”
Sejenak, ia terdiam. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Tapi justru itu yang membuatnya hidup.”
Liora mengangkat tangannya. Lima cahaya kecil muncul satu per satu di udara.
★ ★ ★ ★ ★
“Ambil ini.” Ia menatap lurus ke depan. “Teruskan ceritamu. Aku akan membaca sampai akhir.”
—T28J