NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk Harapan yang Mulai Tumbuh

Sinar matahari pagi nyelip di sela-sela gorden blackout kamar Arga yang mahal. Nara ngerasa mukanya anget, tapi ada yang aneh. Biasanya dia bangun tidur langsung ngerasain dinginnya lantai atau bau apek kamar kontrakannya dulu, tapi kali ini baunya... wangi maskulin yang bikin betah merem lama-lama.

Pas Nara nyoba gerakin badannya, dia ngerasa ada beban berat yang melingkar di pinggangnya. Pas matanya melek dikit, jantungnya langsung kayak mau copot. Tangan Arga yang gede dan kokoh itu lagi meluk dia dari belakang, persis kayak guling kesayangan.

"Mampus... ini garis pembatasnya ke mana?" gumam Nara pelan banget, takut ngebangunin macan yang lagi tidur.

Nara nyoba nahan napas, berusaha ngelepasin tangan Arga pelan-pelan tanpa bikin cowok itu bangun. Tapi baru aja dia nggeser satu senti, Arga malah ngeracau rendah terus makin narik Nara nempel ke badannya. Nara bisa ngerasain napas Arga yang teratur di tengkuknya. Rasanya campur aduk; antara pengen teriak "tolong" sama pengen diem aja saking nyamannya.

Tiba-tiba... CEKLEK!

"Mas Arga, ini cucian bersihnya udah Bi Ijah—ASTAGA NAGA!"

Nara sama Arga langsung bangun barengan kayak pegas yang lepas. Arga refleks narik selimut buat nutupin dadanya yang bidang (padahal dia masih pakai kaos dalam), sementara Nara udah duduk tegak dengan rambut acak-acakan kayak singa baru bangun.

Bi Ijah matung di ambang pintu, tangannya masih megang tumpukan handuk putih. Mukanya merah padam, matanya bolak-balik ngelihat Arga terus ke Nara yang mukanya udah nggak karuan bentuknya.

"Ma-maaf Mas! Bibi kira kamar ini kosong kayak biasa! Bibi nggak tahu kalau Mbak Nara... aduh, Bibi keluar dulu ya!" Bi Ijah langsung balik badan dan lari keluar sambil nutup pintu kenceng banget.

Hening.

Nara nutupin mukanya pakai kedua tangan. "Ga... hancur sudah reputasi gue di depan Bi Ijah. Dia pasti mikir kita abis ngelakuin yang iya-iya."

Arga ngeraup wajahnya kasar, terus dia malah ketawa kecil sambil nyender di kepala ranjang. "Biarin aja. Emang status lo di sini kan istri gue. Kalau Bi Ijah liat kita tidur misah di sofa malah dia yang curiga."

"Tapi kan... ah, tau ah!" Nara buru-buru turun dari kasur, nyari sandalnya yang entah ke mana. "Pokoknya kamar gue harus bener hari ini juga. Gue nggak mau serangan jantung tiap pagi!"

Arga merhatiin Nara yang lagi sibuk ngerapiin rambutnya yang kusut. Di matanya, Nara yang baru bangun tidur begini justru kelihatan jauh lebih nyata daripada Nara yang pakai gaun mahal pas konferensi pers kemarin. Ada sesuatu yang tumbuh di dada Arga—bukan lagi cuma rasa kasihan atau tanggung jawab kontrak, tapi sesuatu yang lebih hangat. Kayak pucuk tanaman yang baru aja dapet air setelah kemarau panjang.

"Ra," panggil Arga pelan.

Nara nengok sambil nyisir rambut pakai jari. "Apa lagi?"

"Soal omongan gue semalam... gue serius. Jangan pernah ngerasa sendirian lagi. Apapun yang Rio atau wartawan lakuin, gue yang bakal jadi orang pertama yang pasang badan buat lo," kata Arga, tatapannya dalem banget, bikin Nara mendadak diem.

Nara gigit bibir bawahnya, nyoba nahan senyum. "Iya, Pak Bos. Bawel banget sih."

Nara langsung lari keluar kamar, ninggalin Arga yang cuma bisa geleng-geleng kepala. Di ruang tamu, Nara ngelihat keluar jendela. Langit Jakarta pagi ini cerah banget, secerah harapan yang pelan-pelan mulai tumbuh di hatinya. Dia nggak tahu masa depan bakal gimana, tapi seenggaknya hari ini dia tahu satu hal: dia nggak lagi lari sendirian.

---

Nara buru-buru keluar dari kamar, langkah kakinya hampir keserimpet karpet bulu di depan pintu. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan cuma karena kepergok Bi Ijah, tapi karena tatapan Arga tadi. Tatapan yang kayaknya lebih bahaya daripada ratusan kamera wartawan kemarin.

Di ruang tengah, Bi Ijah lagi sibuk nata piring di meja makan sambil senyum-senyum sendiri. Begitu liat Nara lewat, Bi Ijah langsung berdehem kencang banget.

"Ehem! Selamat pagi, Mbak Nara. Aduh, maaf ya tadi Bibi nggak ngetuk dulu. Bibi pikir Mas Arga udah bangun sendirian kayak biasanya," goda Bi Ijah, matanya berkilat jahil.

Nara ngerasa mukanya makin panas. "Aduh Bi, itu... itu karena AC kamar saya mati, Bi. Terus atapnya bocor, jadi Mas Arga nawarin... eh, maksud saya, saya terpaksa..."

"Iya, iya, Mbak. Bibi ngerti kok. Namanya juga pengantin baru, mau alasannya AC mati atau genteng bocor, yang penting kan tidurnya nyenyak," Bi Ijah makin jadi ngeledeknya.

Nara cuma bisa narik napas panjang, pasrah. Dia duduk di kursi meja makan, pura-pura sibuk merhatiin nasi goreng yang aromanya menggoda banget. Nggak lama kemudian, Arga muncul. Dia udah rapi pakai kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, kelihatan segar banget buat ukuran orang yang semalaman "rebutan selimut".

Arga duduk di depan Nara tanpa canggung sedikit pun. Dia malah dengan santainya ngambil sendok, terus mulai nyuap nasi gorengnya.

"Bi, nasi gorengnya enak. Besok-besok bikin yang agak pedas ya, Nara suka pedas," kata Arga santai banget.

Nara hampir keselek air putih yang lagi dia minum. *Kok dia tahu gue suka pedas?* Seingat Nara, dia nggak pernah bilang secara gamblang soal selera makannya ke Arga.

"Siap, Mas! Wah, Mas Arga sekarang udah perhatian banget ya sama selera makan Mbak Nara," sahut Bi Ijah sambil naruh teko teh di meja.

Nara ngelihatin Arga yang tetep lempeng aja. Ada pucuk harapan yang makin tinggi di hati Nara. Perhatian-perhatian kecil kayak gini, yang nggak ada di dalem poin kontrak mana pun, justru yang bikin Nara ngerasa "dianggap". Bukan cuma sebagai tameng skandal, tapi sebagai manusia.

"Nara," panggil Arga pelan.

"Ya?"

"Habis sarapan, jangan ke mana-mana. Bayu bakal dateng sama tukang buat benerin kamar lo. Dan satu lagi..." Arga ngejeda omongannya, dia ngeraih HP-nya yang bergetar di atas meja. "Gue baru dapet info, Rio mau ketemu secara pribadi di kantor hukumnya sore ini. Dia mau nego soal pencabutan laporan."

Nara langsung naruh sendoknya. Rasa kenyangnya mendadak ilang keganti sama rasa was-was. "Lo mau nemuin dia?"

Arga natap Nara lekat-lekat, terus dia nggenggam tangan Nara sebentar di atas meja—persis di depan Bi Ijah yang langsung pura-pura sibuk ngelap meja di pojokan.

"Gue bakal dateng. Tapi kali ini, gue nggak mau dia cuma minta maaf. Gue mau pastiin dia nggak punya celah lagi buat nyenggol masa lalu lo. Lo percaya sama gue kan?"

Nara ngelihat ada keyakinan yang luar biasa di mata Arga. Harapan yang tadi baru tumbuh, sekarang rasanya mulai mengakar kuat. Nara ngangguk pelan. "Gue percaya, Ga."

Pagi itu, di meja makan yang biasanya kerasa dingin dan formal, ada suasana baru yang tercipta. Suasana rumah yang bener-bener rumah. Pucuk harapan itu mungkin masih kecil, tapi Nara tahu, selama ada Arga yang nyiram tiap hari pakai perhatiannya, harapan itu bakal tumbuh jadi sesuatu yang indah.

---

Nara menatap Arga yang masih tenang mengunyah nasi gorengnya, seolah-olah mengancam balik seorang konglomerat seperti Rio Pratama itu cuma agenda harian biasa kayak cek email. Ada perasaan bangga yang nyelip di hati Nara, tapi rasa khawatir tetap nggak bisa hilang sepenuhnya.

"Lo yakin mau dateng sendiri?" tanya Nara, suaranya agak pelan karena masih sadar ada Bi Ijah yang pura-pura sibuk ngelap kulkas padahal telinganya tegak banget dengerin gosip majikannya.

Arga meletakkan sendoknya, lalu menatap Nara lekat. "Gue bawa Bayu dan tim hukum. Rio itu tipe pengecut yang cuma berani kalau pegang kartu as. Sekarang kartu as-nya sudah gue bakar, dia cuma punya kartu mati."

Tiba-tiba, HP Arga bergetar lagi di atas meja. Sebuah pesan masuk. Arga membacanya sekilas, lalu menyodorkan layar ponsel itu ke arah Nara.

> Bayu: Pak, tim IT sudah kunci semua akses penyebaran foto tambahan yang sempat disiapin Rio. Dia bener-bener mau nego damai karena saham bapaknya anjlok 15% pagi ini.

Nara mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Gue nggak mau lagi liat muka gue ada di akun gosip mana pun dengan narasi yang aneh-aneh."

"Nggak akan," potong Arga tegas. Dia berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya sebentar sebelum mendekat ke arah Nara.

Nara pikir Arga mau langsung berangkat, tapi ternyata cowok itu malah berhenti di samping kursinya. Dia nunduk dikit, tangan kanannya mendarat di sandaran kursi Nara, bikin jarak mereka jadi tipis banget. Bau parfum Arga yang segar langsung memenuhi indra penciuman Nara.

"Inget, Ra. Pucuk harapan yang lo tulis di draf novel lo semalem... itu bukan cuma fiksi," bisik Arga, suaranya rendah banget sampai bikin bulu kuduk Nara merinding. "Gue bakal pastiin akhir cerita kita jauh lebih bagus dari apa pun yang pernah lo bayangin."

Nara cuma bisa bengong. Dia baca draf novel gue?! Pipinya makin panas. Belum sempat Nara protes atau nanya gimana cara Arga bisa akses laptopnya, Arga udah jalan menjauh menuju pintu keluar.

"Mas Arga! Itu tasnya ketinggalan!" teriak Bi Ijah sambil lari-lari kecil ngebawain tas kerja Arga.

Arga menerima tas itu sambil tersenyum tipis ke arah Bi Ijah. "Makasih, Bi. Tolong jagain Nara ya. Kalau ada tukang yang dateng, pastiin mereka nggak ganggu jam istirahatnya."

"Beres, Mas! Pokoknya Mbak Nara aman sama Bibi!" Bi Ijah kasih jempol dua.

Setelah pintu apartemen tertutup, suasana mendadak jadi sunyi lagi. Nara menyandarkan punggungnya ke kursi, tangannya memegang dadanya yang masih berdegup kencang. Harapan yang tadi dia rasakan mulai tumbuh, sekarang rasanya makin menguat. Di balik sikap kaku dan diktatornya, Arga bener-bener punya cara buat bikin Nara ngerasa jadi wanita paling beruntung, bahkan di tengah skandal yang hampir menghancurkan mereka.

Bi Ijah kembali mendekat ke meja makan, wajahnya penuh godaan. "Duh, Mbak Nara... Mas Arga itu kalau udah sayang sama orang, protektifnya ngalah-ngalahin Paspampres ya?"

Nara cuma bisa nyengir kuda sambil lanjut nyuap nasi gorengnya yang mendadak rasanya jadi manis banget. Pagi ini, biarpun kamar masih bocor dan wartawan masih di luar sana, Nara tahu dia punya satu alasan buat tetap tersenyum. Dan alasan itu baru aja berangkat kerja pakai kemeja putih yang lengannya digulung.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!