NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Kemarahan Jati sudah berada di puncak. Setelah mendengar pengakuan Maya bahwa semua ini adalah skenario busuk Mila, Jati segera memerintahkan tim hukumnya untuk tidak memberi ampun.

Maya resmi dilaporkan atas pasal pencemaran nama baik (Pasal 310-311 KUHP) dan pemalsuan dokumen (Pasal 263 KUHP) dengan ancaman hukuman penjara hingga 6 tahun.

Jati yang geram langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Andre. Ia tidak peduli lagi dengan basa-basi.

"Iya Jat, ada apa?" suara Andre terdengar santai di ujung telepon.

"Mana janjimu, Andre?!" bentak Jati, suaranya menggelegar di ruang kerjanya.

"Bukankah aku sudah bilang, jangan pernah ganggu hidupku dan Lintang lagi. Kamu ingin aku kubur hidup-hidup di sana?"

Di seberang sana, Andre sempat terdiam sejenak. "Apa maksudmu, Jati? Aku tidak tahu apa-apa. Aku dan Mila sedang sibuk di sini."

"Bullshit!" potong Jati kasar.

"Maya sudah tertangkap. Dia mengaku disuruh oleh Mila untuk menghancurkan rumah tanggaku dengan dokumen palsu. Kalau kamu tidak bisa menjaga wanita itu, maka aku sendiri yang akan menyeret kalian berdua pulang untuk mendekam di sel yang sama dengan Dery!"

Lintang yang berada di samping Jati segera memegang lengan suaminya.

Ia bisa merasakan urat-urat di tangan Jati menegang karena emosi.

"Mas, tenang, Mas. Ingat kesehatanmu," bisik Lintang lembut, mencoba mengalirkan ketenangan.

Jati menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak amarahnya demi Lintang.

Ia kembali bicara dengan nada yang lebih rendah namun jauh lebih mengancam kepada Andre.

"Dengarkan aku, Andre. Ini peringatan terakhir. Jika sekali lagi ada orang suruhan Mila yang muncul di depan Lintang, aku tidak akan hanya mengirim tim hukum. Aku akan memastikan kalian kehilangan segalanya di sana, bahkan untuk sekadar mencari makan pun kalian tidak akan bisa. Jangan main-main dengan kesabaranku."

Jati langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Andre.

Ia membanting ponselnya ke meja, lalu berbalik memeluk Lintang erat.

"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya tidak ingin ada satu orang pun yang menyakitimu lagi," ucap Jati sambil membenamkan wajahnya di bahu Lintang.

Lintang mengusap punggung Jati dengan kasih sayang.

"Aku tahu, Mas. Tapi kita harus tetap tenang.

Kebahagiaan kita dan bayi ini jauh lebih penting daripada meladeni mereka."

Di apartemen sempit yang kini terasa makin mencekam, Andre membanting ponselnya ke atas sofa dengan wajah merah padam.

Jantungnya masih berdegup kencang karena ancaman dingin Jati yang tidak main-main.

Ia tahu betul, Jati punya kekuasaan untuk menghancurkan hidupnya bahkan dari benua yang berbeda.

Ia menoleh ke arah Mila yang sedang duduk di meja makan, menatapnya dengan wajah penuh tanya yang dibuat-buat polos.

"Apa yang kamu lakukan, Mila?!" bentak Andre hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.

Mila tersentak, bahunya menciut. "Ada apa, Dre?

Kenapa kamu marah-marah?"

"Jangan pura-pura bodoh! Maya sudah tertangkap polisi di Jakarta! Dia mengaku kamu yang menyuruhnya untuk menyebar dokumen palsu soal kemandulan Jati!"

Andre melangkah mendekat, matanya berkilat penuh amarah.

"Kamu pikir Jati itu bodoh? Kamu ingin aku ikut masuk penjara bersamamu?!"

Mila gemetar, namun ia masih mencoba membela diri.

"Aku hanya ingin Lintang tahu siapa Jati sebenarnya, Dre! Aku ingin mereka hancur—"

"CUKUP!" Andre menyela dengan teriakan yang lebih keras.

"Aku capek dengan rencana gilamu! Kamu itu pembawa sial, Mila! Sejak aku membawamu lari, hidupku cuma penuh masalah. Uangku habis, pekerjaanku terancam, dan sekarang Jati mengancam akan menguburku hidup-hidup!"

Tanpa aba-aba, Andre menarik tas besar dari kolong tempat tidur dan melemparkannya ke depan kaki Mila.

Dengan beringas, ia membuka lemari dan meraup pakaian-pakaian Mila, melemparkannya begitu saja ke lantai.

"Keluar dari sini sekarang juga! Pergi!"

Mila terbelalak, air matanya mulai tumpah. "Dre, kamu tega mengusirku? Aku tidak punya siapa-siapa di sini! Aku tidak punya uang!"

"Itu urusanmu! Kamu yang memulai api ini, sekarang kamu yang harus terbakar sendiri!" Andre menyeret Mila menuju pintu apartemen.

"Jangan pernah hubungi aku lagi. Pergi ke mana pun kamu mau, asal jangan pernah muncul di depanku!"

Brakk!

Pintu apartemen dibanting keras tepat di depan wajah Mila.

Mila berdiri mematung di lorong apartemen yang dingin, dikelilingi oleh pakaian-pakaiannya yang berserakan.

Ia tidak menyangka Andre, pria yang dulu memujanya, kini membuangnya seperti sampah.

Mila jatuh terduduk, meraung histeris di lorong gedung itu.

Rencana jahatnya untuk menghancurkan Lintang justru berbalik menghancurkan dirinya sendiri.

Kini ia benar-benar sendirian, tanpa harta, tanpa pelindung, dan tanpa masa depan.

Suasana lorong apartemen yang sunyi itu mendadak pecah oleh bunyi benturan tubuh yang jatuh ke lantai marmer yang dingin.

Andre, yang baru saja menutup pintu dengan emosi meluap, terdiam sejenak di balik pintu.

Perasaan tidak enak mulai merayap di hatinya.

Perlahan, ia membuka kembali pintu

apartemennya.

Matanya membelalak seketika. Mila tergeletak tak berdaya dengan wajah sepucat kapas. Namun, yang membuat jantung Andre seakan berhenti berdetak adalah noda merah yang mulai merembes di sela paha Mila, mengotori lantai dan pakaiannya.

"Mila! Bangun, Mila!" teriak Andre panik.

Ia segera membopong tubuh Mila yang lemas, mengabaikan rasa benci yang tadi sempat berkobar.

Dengan tangan gemetar, ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat di kota itu.

Beberapa jam yang mencekam berlalu di ruang tunggu.

Andre mondar-mandir dengan napas memburu, bayangan ancaman Jati dan kondisi Mila bercampur aduk di kepalanya.

Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka, dan seorang dokter keluar dengan wajah serius.

"Anda suaminya?" tanya dokter itu dalam bahasa setempat.

"Iya, saya calon suaminya. Bagaimana keadaannya?"

Dokter itu menghela napas pendek. "Kondisi pasien sangat lemah karena stres berat dan kelelahan. Beruntung perdarahannya bisa segera diatasi. Kami harus menjaga kandungan pasien dengan sangat ketat sekarang. Pasien sedang hamil, usianya sekitar tujuh minggu."

Andre mematung. Kata-kata "hamil" terasa seperti hantaman gada besar di kepalanya.

Ia terhenyak di kursi tunggu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Di tengah keterpurukan dan ancaman Jati, kini ada satu nyawa lagi yang hadir di antara mereka.

Setelah beberapa saat menenangkan diri, Andre melangkah masuk ke dalam kamar rawat.

Ia melihat Mila yang sudah sadar, namun matanya menatap kosong ke arah langit-langit, air mata terus mengalir di sudut matanya yang sayu.

Andre menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa amarahnya.

Ia duduk di sisi ranjang dan meraih tangan Mila yang terasa sangat dingin.

"Mila..." panggil Andre pelan.

Mila menoleh perlahan, bibirnya bergetar hendak mengucapkan maaf atau memohon agar tidak diusir lagi. Namun, Andre mendahuluinya.

"Aku sudah dengar dari dokter. Kamu sedang hamil... anakku," ucap Andre dengan nada suara yang jauh lebih lembut namun penuh beban tanggung jawab.

"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi karena janin di rahimmu ini. Tapi berjanjilah, lupakan semua dendammu pada Jati dan Lintang. Kita mulai hidup baru di sini, sesulit apa pun itu."

Mila menangis tersedu-sedu, ia meremas tangan Andre dengan erat.

"Maafkan aku, Dre. Maafkan aku. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku hanya ingin kita bertahan hidup."

Andre hanya bisa mengangguk pasrah. Di satu sisi ia lega ada keturunan, namun di sisi lain ia ,tahu, ia harus bekerja dua kali lebih keras untuk melindungi Mila dari jangkauan kemarahan Jati di masa depan.

1
tiara
udah Mila urus saja hidupmu jangan mengganggu Jati kalau ga mau dipenjarain sama dia tau rasa kamu
tiara
nah kan Mila sepertinya kali ini nasibmu lebih buruk lagi ya
tiara
apakah akan berhasil Mila mila kirain udah insyaf eh tetap saja ga betubah.aoa kamu mau lebih hancur lagi karena rasa iri dengki mu itu
tiara
berbahagialah Lintang sekarang dikelilingi orang tulus menyayangimu
tiara
bagus Ria tinggalin aja keluarga derry yang ga punya hati nurani.biar mereka usaha sendiri kalau mau hidup enak
tiara
lanjuut thor semangat upnya
tiara
semoga keluarga Deri tidak datang lagi mengganggu ketenangan Lintang dan keluarganya
tiara
Karyawan butik yang ga berakhlak akhirnya menyesal sudah berlaku meremehkan orang lain hanya karena penampilanya.ga salah juga sih kadang juga ada yang datang cuma buat foto juga jadi bingung juga ya
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!