Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Sazi tersenyum kecil, "Enggak apa apa kok Bang, santai aja." ucapan sederhana ringan, dan tak lama Sazi berbalik dan menuju ke kamarnya menaiki anak tangga.
Diruang tamu kini hanya ada Fadli dan Nadia saja, sementara Sazi sedang bersiap untuk pergi kesekolah saat itu.
Fadli berdiri kaku, tatapannya tidak lagi sama seperti kemarin. tatapan sedikit jutek tak ada ramahnya sama sekali hanya lebih ke rasa tidak enak tidak lebih dari itu.
"Kamu ngapain disini Nad?." suaranya rendah tapi seperti nada tidak suka.
"Aku kangen kamu Fadli, kamu pergi gitu aja kemarin, makanya aku sengaja kesini sekalian aku juga ingin mengenal istrimu, sepertinya istrimu masih sangat polos Fad."
"Untuk apa Nad, kau tau kan ini bukan rumah ku, rumah orang tuaku Nadia, disini kamu tidak ada tempat, pergilah." ucapnya pelan tapi benar benar mengenai sampai dada Nadia saat itu. Nadia hanya menarik nafas dalam menahan emosinya saat itu.
"Kamu berubah secepat itu fad?, karena dia,..dia masih sekolah Fadli, apa yang akan dikatakan gurunya nanti kalo sampai tau Sazi sudah menikah."
"Bukan urusanmu!, lagi pula sebentar lagi dia lulus tidak ada masalah kecuali tidak kamu bocorkan perkara ini demi masa depannya" tegas Fadli.
Nadia hanya tersenyum mengangguk faham namun kedua netranya mulai berkaca kaca. Ia hanya menggunakan satu jari telunjuknya untuk menyeka air mata yang hampir terjatuh di sudut matanya itu.
Tiba tiba suara langkah kaki terdengar dari tangga. Sazi turun sudah terlihat rapi dengan rambut dikuncir kuda, tidak seperti orang yang sudah menikah.
Memakai riasan seadanya tidak memakai make up berlebihan masih sesuai dengan usianya yang belia. Wajahnya begitu cerah dan ceria seperti biasa tidak ada yang berubah tetap tenang dan manis seolah tidak terjadi apa apa, begitu pintar sekali menyembunyikan masalahnya yang ada didepan matanya saat ini.
"Bang, Sazi berangkat ya" ucap Sazi sambil meraih tangan Fadli dan mencium tangannya, Fadli seperti biasa mengusap kepala istrinya dengan lembut tak lupa mengecup keningnya saat itu.
"Kamu sarapan dulu Zi" titah Fadli.
"Sudah bang tadi, mbak Nadia aku pergi dulu ya." ucap Sazi melambaikan tangannya,
"Iya Sazi, hati hati."
"Zi, Abang anter ya."
"Enggak usah bang, Sazi kan mau nyoba pake motor baru."
"Yakin bisa?."
"Insya Allah bang, sudah Abang temani mbak Nadia saja, Sazi pergi dulu takut telat." Fadli mengangguk hanya bisa pasrah saja saat itu.
Sazi berjalan keluar walah dengan langkah berat. tatapannya sedikit kosong, hatinya mulai sedikit goyah, entah dia harus merelakan atau harus mempertahankan ia hanya mengikuti alurnya saja.
Berusaha mengeluarkan motor listriknya lalu menyalakan semua itu berhasil menarik perhatian Fadli saat itu dari dalam ruangan.
Meski saat ini Nadia dihadapannya saat ini, tapi kedua netranya tajam memperhatikan aktifitas istrinya saat menyalakan motor diluar sana. Ada rasa cemas bercampur bangga semua rasa campur aduk menjadi satu pada fadli saat itu.
Dan nadia ia hanya memperhatikan setiap detail gelagat Fadli yang menurutnya berubah seratus delapan puluh derajat saat itu. Seperti tak ia kenali seperti kemarin, semua terlihat secara detail oleh Nadia.
Dadanya terasa sesak, melihat Fadli menatap Sazi begitu berbeda dibandingkan saat menatap dirinya beberapa waktu lalu.
Fadli bangkit berdiri dan sedikit berteriak "Zi, hati hati jangan ngebut" ucap Fadli diambang pintu lalu melambaikan tangannya.
"Kamu beda banget Fad?".
"Bedanya?." Fadli mengernyitkan dahinya heran.
"Beda aja, sepertinya aku mengganggumu ya fad, maaf ya." ucap Nadia merasa enggak enak hati.
"Hmm" Fadli hanya menjawab dengan deheman dan anggukan pelan. Lalu keduanya hanya diam tanpa kata dan suara.
Tak lama satu persatu keluarga Fadli dari Sadewa, ayah Fadli dan ibunya bermunculan pad aturin dari kamarnya.
"Wah ada tamu pagi pagi gini"
"Hey Dewa, long time no see, masih inget kan sama aku?."
"iya sure, dari kapan di indo wa?."
"Adalah dua Minggu yang lalu."
ayah Fadli dan ibu Ratna hanya berdeham, "eh Tante, om sehat om Tante."
"Oia ini Nadia bawa oleh oleh dari Beijing."
"Oh,.makasih Nadia padahal tidak usah repot-repot loh nad."
"Oia Nadia, kamu tau kan Fadli sekarang sudah menikah jadi ada perlu apa datang kemari." to the point ayah Fadli.
Degh
"Oh,.hm,.. kebetulan mampir om sekalian silaturahmi."
"Bro, si Sazi sudah berangkat ya?."
"Iya tadi pake motor"
"Hmm"
"Oia om Tante Dewa mau ke pom bensin dulu" tiba tiba saja Sadewa pamit keluar, entah kenapa saat itu perasaan Sadewa tidak enak.
Dan benar saja saat Sadewa langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi agar bisa menyusul Sazi. Dipertigaan jalan ia menemukan motor Sazi yang terguling di atas aspal.
Sazi terjatuh saat hendang menyebrang tiba tiba saja ada mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi.
Brak!.
Tak lama banyak kerumunan warga yang berdatangan mengelilingi Sazi saat itu. Yang menabrak Sazi entah lari kemana tapi plat mobilnya sudah di catat oleh salah satu warga yang berinisiatif saat itu. Ambulance pun datang dengan cepat.
"SAZIII!." teriak dewa ia langsung menghentikan laju motornya dan berlari mendekat ke arah Sazi yang sudah lemah digotong oleh warga.
"Wa, gue jatoh wa."
"Iya, iya elo jangan panik ya gue ada disini."
"Gue telpon suami elo dulu."
"Enggak usah wa, dia lagi sibuk.".seketika Sadewa menghentikan jemarinya untuk mengklik nomer sepupunya itu. Ia hanya menganygaham dan menghargai keputusan Sazi saat itu.
"ini siapanya Nona ini?" ucap salah satu warga.
"Saya keluarganya pak."
"Yaudah temani dia ke rumah sakit, biar si penabrak kami tangani."
"Terimakasih pak laporkan saja pak ke pihak berwajib, nanti saya menyusul kesana" ucap dewa.
Didalam rumah saja sudah tegang ditambah perasaannya saat ini pun sedang tidak tenang, rasa khawatir semakin menggelayuti pikiran Fadli saat itu.
Dan tak lama, "Nad, gue tinggal dulu, yah Fadli keluar dulu."
"Mau kemana kamu Fad"
"Susul Sazi yah, Fadli enggak tenang dia baru belajar motor tadi pagi ngeri kenapa napa."
"Yaudah susul sana."
Fadli langsung berlari menyusul Sadewa, entah kenapa feeling-nya kali ini tidaklah salah, Sadewa pasti sangat khawatir pada istri kecilnya itu.
Sementara didalam rumah Fadli, Nadia menegang, menghadapi ayah ibu Fadli yang menatap tak suka pada Nadia.
"Sekarang kamu bisa lihat kan Nadia, bagaimana anak saya sangat mencintai istrinya dan kamu tidak ada tempat lagi dihati Fadli, jadi menyerahlah dan jangan jadi perusak rumah tangga anak saya yang sedang baik baik saja!." tegas ayah Fadli tidak ada lembut lembutnya sama sekali.