"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
..
Pagi di Jakarta menyapa dengan kabut polusi yang tebal, seolah menyembunyikan niat busuk yang mulai merayap di sela-sela gedung pencakar langit. Di dalam Suite Royal Rumah Sakit Medika Utama, Kalea sedang duduk di tepi tempat tidur, membiarkan suster mengganti perban di dahinya. Meskipun lukanya mulai mengering, kecemasan di hatinya justru semakin basah. Ucapan Kenzo semalam tentang Hendra Jionel terus berdengung di telinganya seperti lebah yang mengganggu.
Liam masuk ke ruangan dengan langkah yang terburu-buru. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang rapi, namun garis kelelahan di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh kemewahan pakaiannya. Ia langsung menghampiri Kalea, mencium keningnya dengan lembut.
"Kita pulang sekarang. Aris sudah menyiapkan konvoi pengawalan. Rumah baru kita di kawasan Sentul sudah siap sepenuhnya," ucap Liam. Suaranya terdengar protektif, hampir posesif.
"Liam, soal Hendra Jionel... apa dia benar-benar seberbahaya itu?" tanya Kalea sambil meraih tangan Liam.
Liam terdiam sejenak, rahangnya mengeras. "Paman Hendra adalah orang yang paling dibenci kakekku. Dia licik, Kalea. Dia tidak bermain dengan senjata seperti Clarissa. Dia bermain dengan informasi dan manipulasi pasar. Dia ingin merebut kembali hak warisnya yang dicabut sepuluh tahun lalu karena kasus penggelapan dana keluarga. Dan sekarang, dia melihat celah saat aku baru saja keluar dari penjara."
"Tapi kenapa sekarang? Kenapa saat kita baru saja kembali?"
"Karena dia tahu aku punya kelemahan sekarang," Liam menatap mata Kalea dalam-dalam. "Dia tahu aku punya kau, Leo, dan Lili. Baginya, kalian adalah sandera yang paling sempurna untuk menekanku."
Perjalanan menuju Sentul memakan waktu satu jam dengan pengawalan empat mobil SUV hitam yang membentuk barikade di sekeliling Rolls-Royce mereka. Rumah baru mereka, yang disebut Liam sebagai "The Fortress", adalah sebuah rumah mewah yang dibangun di atas bukit dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang dikembangkan oleh perusahaan militer swasta. Dinding-dindingnya tahan ledakan, dan seluruh area dipantau oleh ratusan kamera CCTV serta sensor gerak.
Begitu sampai, Leo dan Lili langsung berlari ke arah taman bermain yang sudah disiapkan. Melihat anak-anaknya tertawa, Kalea sedikit merasa lega. Namun, Liam segera ditarik oleh Aris ke ruang kerja pribadinya. Ada laporan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, Aris menyerahkan sebuah amplop cokelat kusam yang ditemukan di depan gerbang rumah pagi tadi. "Tuan, ini dikirim tanpa nama. Tapi isinya... ini tentang kecelakaan sepuluh tahun lalu di Puncak."
Liam membuka amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang terbakar di bagian tepinya. Foto itu memperlihatkan mobil Liam yang hancur di dasar jurang, namun ada satu detail yang selama ini disembunyikan oleh tim forensik keluarga Jionel: sebuah botol obat penenang yang terbuka di kursi pengemudi.
Di balik foto itu tertulis: "Kau pikir kau pahlawan karena mencoba menyelamatkannya? Kau membunuhnya karena kau mengemudi di bawah pengaruh obat yang kau curi dari laci kakekmu sendiri. Andini mati karena egomu, Liam. Dan sekarang, kau melakukan hal yang sama pada Kalea."
Wajah Liam pucat pasi. Nafasnya memburu. Ingatannya tentang malam itu selalu buram, tertutup oleh trauma dan rasa sakit fisik. Selama ini, kakeknya selalu bilang bahwa kecelakaan itu murni karena rem blong. Tapi rahasia ini... jika ini benar, maka Liam adalah pembunuh yang sesungguhnya.
"Siapa yang mengirim ini, Aris?" desis Liam, suaranya parau karena ketakutan yang luar biasa.
"Kami sedang melacak kurirnya, Tuan. Tapi kemungkinan besar ini adalah ulah Hendra. Dia ingin menghancurkan kewarasan Anda sebelum menyerang bisnis Anda," jawab Aris cemas.
Liam meremas foto itu hingga hancur. "Jangan biarkan Kalea tahu soal ini. Sedikit pun. Jika dia tahu aku adalah penyebab kematian wanita yang wajahnya mirip dengannya... dia tidak akan pernah menatapku dengan cara yang sama lagi."
Malam harinya, suasana di "The Fortress" terasa sangat sunyi. Kalea sedang menidurkan Lili saat ia mendengar suara gelas pecah dari arah bar di lantai bawah. Ia segera turun dan menemukan Liam sedang duduk di lantai dengan botol wiski yang sudah setengah kosong. Rambutnya berantakan, dan matanya merah karena frustrasi.
"Liam? Ada apa? Kau tidak pernah minum sebanyak ini sejak di Hallstatt," Kalea berlutut di samping suaminya, mencoba mengambil gelas dari tangan Liam.
Liam menepis tangan Kalea dengan kasar, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama tiga tahun terakhir. "Pergilah, Kalea! Biarkan aku sendiri!"
Kalea tertegun, hatinya perih. "Kenapa kau jadi begini lagi? Apa ini karena Hendra? Katakan padaku, Liam. Kita sudah berjanji untuk tidak ada rahasia lagi."
Liam tertawa getir, tawa yang penuh dengan kebencian pada diri sendiri. "Rahasia? Hidupku ini dibangun di atas tumpukan rahasia yang busuk, Kalea! Kau tidak tahu siapa pria yang kau cintai ini sebenarnya. Aku bukan naga yang kuat. Aku hanyalah pengecut yang membawa kematian bagi siapa pun yang mendekatiku!"
Kalea memegang wajah Liam, memaksa pria itu untuk menatapnya. "Aku tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu. Aku peduli pada pria yang menjagaku di Hallstatt. Aku peduli pada ayah dari anak-anakku. Liam, bicaralah padaku!"
Liam menatap mata cokelat Kalea yang begitu tulus. Rasa bersalah di dadanya semakin menghimpit. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi ia terlalu takut kehilangan "cahaya"-nya. Ia justru menarik Kalea ke dalam pelukannya, memeluknya dengan sangat erat seolah-olah Kalea akan menghilang jika ia melonggarkannya sedikit saja.
"Jangan pernah meninggalkanku, Kalea. Apa pun yang kau dengar nanti, apa pun yang orang katakan... tolong, tetaplah di sisiku," bisik Liam di telinga Kalea, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan.
Kalea mengusap punggung Liam, mencoba memberikan ketenangan yang ia sendiri tidak miliki. Ia tahu ada badai besar yang sedang disembunyikan Liam, dan badai itu bernama Hendra Jionel.
Keesokan harinya, Kenzo dan Rayyan datang dengan berita yang lebih buruk. "Liam, pasar saham sedang kacau. Hendra melakukan manuver yang sangat berani. Dia merilis video pengakuan dari mantan supir kakekmu yang menyatakan bahwa kakekmu memalsukan bukti kecelakaan sepuluh tahun lalu untuk melindungimu dari jeratan hukum."
"Dampaknya?" tanya Liam dingin, meski hatinya berdegup kencang.
"Publik menuntut penyelidikan ulang atas kasus Andini. Polisi mungkin akan memanggilmu untuk interogasi minggu depan. Dan yang lebih parah, investor mulai menarik dana dari yayasan Kalea karena mereka tidak ingin diasosiasikan dengan 'pembunuh berdarah dingin'," jawab Kenzo dengan raut wajah penuh penyesalan.
Kalea yang baru saja masuk ke ruangan itu mematung di ambang pintu. "Penyelidikan ulang? Kematian Andini... melibatkan tangan kotor keluarga Jionel?"
Liam berdiri, wajahnya kaku seperti batu. "Kalea, ini hanya permainan Hendra untuk menjatuhkanku."
"Tapi rekaman itu nyata, kan, Liam? Ayahku dipenjara karena rahasia kakekmu, dan sekarang ada rahasia lain tentang wanita yang wajahnya mirip denganku?" Kalea melangkah maju, matanya berkilat penuh tuntutan. "Katakan padaku sekarang, Liam. Apa kau benar-benar tidak tahu apa yang terjadi malam itu? Apa kau benar-benar bersih dari darah Andini?"
Liam terdiam. Keheningan itu adalah jawaban yang paling menyakitkan bagi Kalea. Ia mundur selangkah, merasa dikhianati oleh pria yang baru saja ia beri kesempatan kedua.
Tiba-tiba, suara deru helikopter terdengar di atas rumah mereka. Bukan helikopter Jionel, melainkan helikopter kepolisian. Suara pengeras suara bergema di seluruh bukit Sentul.
"Saudara Liam Jionel, Anda diminta untuk kooperatif dan ikut bersama kami untuk memberikan keterangan terkait pembukaan kembali kasus kecelakaan tahun 2016. Harap segera keluar dari kediaman Anda."
Liam menatap Kalea untuk terakhir kalinya sebelum pengawal membawanya keluar. "Aku akan menyelesaikan ini, Kalea. Aku bersumpah."
Kalea hanya bisa berdiri terpaku di depan jendela, melihat Liam dibawa pergi oleh petugas. Di kejauhan, di atas bukit seberang, Hendra Jionel berdiri sambil memegang teropong, ia tersenyum puas.
"Babak pertama selesai, Liam," gumam Hendra. "Sekarang, mari kita lihat seberapa kuat cinta istrimu saat dia tahu bahwa dia hanya hidup di atas makam wanita yang kau bunuh sendiri."
Di dalam rumah, Kalea merosot di lantai. Ia menatap cincin lili putih di jarinya. Kedamaian di Hallstatt kini terasa seperti mimpi yang sangat jauh, dan Jakarta... Jakarta baru saja menunjukkan wajah aslinya yang paling kejam. Perang antara kejujuran dan keselamatan baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya adalah pondasi keluarga mereka sendiri.