Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latar belakang Aluna
Rumah Marko terasa jauh lebih sunyi malam itu, seolah seluruh bangunannya menahan napas ketika mereka memasuki pintu utama. Lampu-lampu gantung yang biasanya memancarkan semburat hangat kini justru terasa dingin, memantulkan bayangan kedua orang itu di lantai marmer.
Aluna berjalan setengah ragu di belakang Marko. Suara langkah mereka menggema di lorong panjang menuju kamar utama. Namun, bukan itu yang membuat napeknya menegang, melainkan bau darah samar yang ia cium sejak mobil berhenti di halaman.
Ketika Marko membuka pintu kamar, cahaya putih dari lampu kamar memantul pada ujung bajunya yang berlumur merah tipis. Aluna spontan mengerutkan kening dan menahan napas. Ada goresan kecil di kening Marko, tampak seperti bekas benturan keras.
“Pa...Pak Marko… itu….”
“Abaikan.” potong Marko datar.
Nada suaranya dingin, seperti angin malam yang menggigit kulit. Ia berjalan masuk, melepas kancing kemejanya satu per satu tanpa menatap Aluna.
Setelah beberapa detik hening, Marko menoleh. Matanya yang gelap memaku tubuh Aluna di tempat.
“Mulai malam ini." suaranya rendah dan sangat tenang, “kamu tidur di kamar saya.”
Aluna menegang. “Ti...tidak, Pak. Saya bisa tidur di kamar sebel...”
“Aluna.”
Nada itu tidak keras, tapi mengandung ancaman halus yang membuat tubuh Aluna gemetar.
“Jangan buat malam ini lebih sulit dari yang sudah terjadi.”
Ujung jarinya menggenggam erat kain bajunya sendiri, mencoba menahan ketakutan yang merayap. Marko mendekat selangkah. Aura dinginnya seperti menyelimuti ruang.
“Ka…kalau begitu… saya mandi dulu.”
“Memang harus.” jawab Marko singkat. “Pergilah.”
Aluna menunduk dan berjalan cepat menuju lemari, mengambil handuk serta baju tidur yang sederhana. Ketika ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu, napasnya langsung jatuh dalam.
Di luar, Marko menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kamar itu luas, lantai kayu berwarna walnut, rak buku tertata rapi, dan aroma kayu cendana tipis memenuhi ruang. Namun malam itu, semuanya terasa gelap.
Tangan besar itu naik ke pelipis, memijit perlahan. Bekas benturan terasa berdenyut. Pertarungan tadi membuat seluruh tubuhnya menegang dan pikiran tentang Aluna yang kini menjadi incaran Vargo hanya menambah beban.
Ia memejamkan mata beberapa menit, membiarkan kelelahan menenggelamkan dirinya.
Ketika suara pintu kamar mandi terbuka, Marko belum bergerak dari posisinya. Aluna yang sudah berpakaian bersih berdiri di ambang pintu sebentar, memperhatikan lelaki itu yang tampak tertidur.
Namun pandangannya tertarik pada kotak obat di atas nakas.
“Harusnya dibersihkan.” gumamnya lirih.
Ia mendekat pelan-pelan dan duduk, membuka kotak obat, menyiapkan kapas dan antiseptik. Ketika tangannya mendekat pada kening Marko,
Mata Marko terbuka.
Tatapannya tajam.
Aluna menelan ludah kasar. “Sa…saya hanya ingin mengobati lukanya, Pak.”
Marko tidak menjawab. Hanya menatap setiap gerakannya seakan ia sedang menilai niat di baliknya.
Dengan telaten, Aluna membersihkan luka itu. Gerakannya lembut, jari-jarinya sedikit bergetar. Marko memperhatikan dengan cara berbeda malam itu lebih lama, lebih dalam. Dari mata Aluna yang jernih, hidung mungilnya hingga bibir yang beberapa kali menahan tremor.
Hatinya yang biasanya keras tiba-tiba menegang aneh.
Ketika Aluna selesai, ia tersenyum kecil. “Sudah, Pak.”
Ia mulai merapikan peralatan obat itu ketika tangan Marko tiba-tiba menarik pinggangnya. Sekejap tubuh Aluna terangkat dan jatuh duduk di pangkuannya.
“Pa...Pak!” seru Aluna kaget.
Marko membenamkan wajahnya di dada Aluna. Pelukannya erat, seolah ingin meleburkan kelelahan yang menumpuk sepanjang hari. Aluna membeku, jantungnya menggedor keras hingga ia takut Marko bisa mendengarnya.
“Pak… sebaiknya Bapak mandi dulu. Biar saya siapkan air hangat.” Suaranya bergetar. Pikiran buruk menghampiri, apakah malam ini Marko meminta haknya?
Marko mendongak perlahan. Matanya lurus menatap wajahnya.
“Kamu gugup?”
Aluna memalingkan wajah. “Gu…gugup? Ti…tidak, Pak.”
“Takut kalau aku memintanya malam ini?”
Aluna tidak menjawab. Tapi wajahnya jelas, panik.
Senyum miring muncul di bibir Marko. Ia meraih dagu Aluna dan mendekat. Bibirnya menyentuh bibir Aluna perlahan, namun dalam. Hangat. Dalam. Membuat Aluna terseret masuk ke pusaran sensasi yang ia sendiri tak mengerti. Mereka hanya berhenti ketika sama-sama membutuhkan udara.
Marko kemudian membaringkan Aluna di sofa. Tubuh besar itu berada tepat di atasnya.
Aluna hampir tidak bisa bernapas. Apa benar malam ini?
Namun Marko justru tersenyum tipis. “Malam ini kamu tenang saja. Aku tidak akan memintanya. Aku terlalu lelah.”
Ia bangkit.
“Siapkan air hangat. Aku akan mandi. Setelah itu kita makan malam.”
Marko melepas kemejanya. Aluna bangkit tergesa dan masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air, kemudian menghela napas panjang lega.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berada di ruang makan.
Ruang makan itu sangat mewah, meja marmer panjang dengan kaki berukir emas, lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya ke seluruh ruangan dan dinding berwarna krem hangat. Di atas meja tersaji makanan lezat yang telah disiapkan pelayan sebelum pulang, sup krim jamur, ikan panggang lemon butter, sayuran rebus berwarna cerah serta nasi hangat yang masih mengepul.
Aluna canggung saat mengambil sendok dan mengisi piring Marko. Tangannya gemetar sedikit saat meletakkan lauk di piring laki-laki itu. Marko hanya mengawasi tanpa komentar, tatapan tajam namun tenang.
Setelah mengisi piringnya sendiri, mereka makan dalam keheningan. Suara sendok garpu menjadi satu-satunya yang terdengar.
Usai makan, Marko berdiri. “Buatkan saya kopi dan bawa ke ruang kerja.”
Aluna mengangguk dan ke dapur.
**
Di rumah Amar, suasana berbeda jauh. Ruang kerja mewahnya dipenuhi aroma parfum Renata yang menusuk. Di meja, foto-foto Aluna bekerja di klub berserakan.
Renata memandangnya jijik. “Ternyata perempuan itu… perempuan murahan. Marko sudah gila. Memungut sampah dan membawa ke rumah kita?”
Amar mengepalkan rahang. “Ini tidak bisa dibiarkan. Ini mencoreng nama baik keluarga, perusahaan, semuanya.”
“Kamu harus lakukan sesuatu sebelum media tahu. Marko menikahi pelacur itu? Tidak. Jangan sampai.” Renata memerintah dengan nada yang seolah ia pemilik rumah.
**
Marko baru saja duduk ketika ponselnya berdering.
“Bos." suara Renaldi di seberang. “Orang tua anda sudah tahu pekerjaan Aluna. Pak Amar menyuruh penyelidik menggali latar belakangnya.”
Marko menghela napas. “Sudah kuduga. Biarkan.”
“Bu Renata menekan Pak Amar untuk memisahkan Bos dari Aluna.”
Tatapan Marko mengeras. “Itu tidak akan terjadi. Aku membayar mahal Aluna. Aku tidak akan melepaskannya. Besok aku akan ke rumah Papa. Kamu urus kantor. Dan tambahkan penjagaan untuk Aluna. Aku khawatir Renata mencoba sesuatu.”
“Baik, Bos.”
Telepon baru saja ditutup, ponsel kembali berdering.
PAPA.
Marko menatap layar, wajahnya dingin. Ia mengangkat. Amar meminta bertemu malam itu juga, namun Marko menolak.
“Aku datang besok pagi. Malam ini aku lelah.”
Amar kesal, tapi tak bisa memaksa.
**
Alika duduk di samping ibu Sasmi yang sudah mulai sadar, meski lemah. Di pangkuannya ada kantong kresek berisi makanan.
“Ibu…” suara Alika lirih.
Ibu Sasmi membuka mata. “Aluna tadi… datang?”
Alika mengangguk. “Tadi Kak Aluna beliin ini.”
“Apa dia baik-baik saja?”
“Baik.” jawab Alika meski suaranya bergetar.
Ibu Sasmi tiba-tiba menangis.
“Ibu kenapa? Apa yang sakit?” panik Alika.
“Bukan, Lik… Ibu cuma merasa gagal. Kakakmu… bekerja di tempat seperti itu. Aluna membohongi kita. Apa kata ayahmu di atas sana…?” tangisnya pecah.
Alika menunduk. Lama-lama ia memahami alasan di balik semuanya. Tapi luka kecewanya masih terlalu dalam untuk sepenuhnya memaafkan.
**
Marko tiba di rumah papanya. Ruang kerja Amar terasa dingin dan kaku. Renata duduk di samping suaminya dengan senyum puas.
Amar melempar foto-foto Aluna ke meja.
“Kamu menikahi perempuan yang bekerja seperti ini. Kamu sadar apa yang kamu pertaruhkan?”
Marko diam. Tubuhnya membeku, rahangnya mengeras. Ia menatap foto itu lama sebelum berkata pelan. “Aku sadar, pah. Dan apa salahnya? Tidak semua perempuan klub itu buruk.”
Renata tertawa mengejek. “Apa kamu bilang? Kamu bodoh sekali, Marko.”
Tatapan Marko langsung menusuknya.
“Lihat penampilannya di klub itu! Dia pasti menjajakan tubuhnya. Kamu memungut sampah!”
“CUKUP.” Marko membentak.
Renata terdiam.
“Kamu tidak punya hak menghina istriku. Dan apa kamu bisa menjamin perempuan yang tidak kerja di klub bukan perempuan murahan?” Marko menatapnya sinis. “Lihatlah dirimu. Kamu tidak bekerja di klub, tapi kamu perempuan murahan yang merayu Papa dengan tubuh busukmu.”
“MARKO!!!” Amar membentak.
Renata mengepalkan tangan. Matanya merah menahan marah.
“Perempuan ini yang menyingkirkan Mama dari rumah ini.” lanjut Marko dingin. “Aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai mamaku.”
“Kamu jangan bicara sembarangan. Renata ini istri Papa.”
“Sampai kapan pun tidak.”
Ia melangkah ke pintu, tapi berhenti sebentar.
“Kalau Papa mau selidiki istriku, selidiki sampai tuntas. Cari tahu kenapa dia bekerja di klub dan apakah dia benar menjual tubuhnya atau tidak. Dan kalau bisa… selidiki juga perempuan licik ini. Jangan sibuk mengurus rumah tanggaku saja.”
“APA maksudmu, Marko???” teriak Renata, tapi Marko tak menoleh.
Ia keluar dan menutup pintu keras.
Hari itu, perang keluarga benar-benar dimulai.