NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Hujan dan Bayang-Bayang

Langit di atas gedung Sinclair Group berubah menjadi kelabu pekat hanya dalam hitungan menit. Tepat saat jam pulang kerja berdentang, hujan turun dengan sangat deras, seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh isinya ke bumi. Suara guntur sesekali menggelegar, menciptakan suasana mencekam di tengah hiruk-pikuk karyawan yang bergegas pulang.

Colette berdiri di depan lobi besar, menatap tirai air yang menghalangi pandangannya ke jalan raya. Udara dingin mulai meresap melalui kemeja kerjanya yang tipis.

"Colette? Belum pulang?"

Jude muncul dari balik pintu otomatis dengan payung besar di tangannya. Ia tampak khawatir melihat Colette yang berdiri sendirian. "Hujannya terlalu deras. Ayo, aku antar sampai depan rumahmu. Mobilku terparkir tidak jauh dari sini."

Colette menoleh, lalu tersenyum tipis—senyum yang mengandung penolakan halus. "Terima kasih, Jude. Tapi aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula, aku ingin menunggu sebentar lagi."

"Tapi ini tidak akan berhenti cepat, Colette. Kamu bisa sakit," bujuk Jude lagi.

"Aku tidak apa-apa, Jude. Pergilah duluan. Hati-hati di jalan," jawab Colette tegas.

Dengan berat hati, Jude akhirnya pamit. Kini, Colette benar-benar sendiri di teras lobi. Satu per satu lampu kantor di belakangnya mulai padam. Ia menatap ke arah jalanan, berharap ada taksi yang lewat, namun nihil.

Sepuluh menit berlalu, dan hujan justru semakin menggila. Colette menatap sepatu flatnya, lalu beralih menatap jalanan yang mulai tergenang. Entah keberanian dari mana, ia merasa bosan dengan dirinya yang selalu bersikap terlalu hati-hati. Ia ingin melepaskan beban di kepalanya—tentang Caspian, tentang saham, dan tentang dunia barunya yang terlalu terang.

Tanpa payung, tanpa pelindung, Colette melangkah keluar dari naungan atap lobi.

Byur!

Air dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya. Rambut wolf cut-nya lepek menempel di wajah, dan pakaiannya melekat erat pada kulit. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Colette menerobos hujan. Ia mulai berjalan cepat, lalu sedikit berlari kecil. Anehnya, bukannya merasa sengsara, ia justru merasa bebas. Dinginnya air hujan seolah mencuci rasa cemas yang menghimpit dadanya sejak pengakuan Caspian di ruang CEO tadi pagi.

Namun, di tengah kesunyian jalanan yang tertutup kabut hujan, suara deru mesin mobil yang berat mulai terdengar dari arah belakang.

Sebuah mobil SUV hitam mewah melaju perlahan, mengikuti langkah Colette yang sedang basah kuyup. Lampu depannya yang terang menyinari sosok gadis itu dari belakang, menciptakan bayangan panjang di atas aspal yang mengkilap.

Langkah kaki Colette yang semula terasa bebas, kini berubah menjadi pelarian yang penuh keputusasaan. Suara deru mesin mobil di belakangnya tidak lagi terdengar seperti perlindungan, melainkan seperti ancaman yang nyata.

Setiap kali lampu mobil itu menyorot punggungnya, memori kelam tentang pelecehan yang pernah ia alami kembali menghantam kepalanya. Bayangan-bayangan buruk itu berputar seperti kaset rusak—tangan yang tak diinginkan, suara-suara yang merendahkan, dan rasa tidak berdaya yang mencekik.

Wajah Colette pucat pasi, bercampur dengan air hujan yang dingin. Ia mempercepat langkahnya, napasnya tersengal dan terasa panas di dadanya.

Ckiitt—

Mobil itu berhenti tepat beberapa meter di sampingnya. Suara pintu mobil yang terbuka dengan bantingan keras terdengar seperti suara guntur di telinganya. Ketakutan Colette memuncak. Ia tidak berani menoleh. Pikirannya hanya satu: Lari.

Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih di kakinya dan jalanan yang licin. Ia tidak peduli lagi ke mana arah tujuannya, asalkan ia bisa menjauh dari sosok yang keluar dari mobil itu.

Colette tidak lagi memikirkan arah jalan. Pikirannya benar-benar kacau, dikuasai oleh kabut trauma yang membuat paru-parunya terasa menyempit. Ia terus berlari dalam gelap, hingga tiba-tiba, sepasang tangan besar yang kuat menyergap dari belakang.

Dalam sekejap, tubuh mungilnya terangkat dari tanah, terperangkap dalam sebuah pelukan yang sangat kokoh.

"TIDAK! LEPASKAN! TOLONG!"

Jeritan Colette pecah, melengking tinggi bersaing dengan suara guntur. Secara refleks, ia meronta dengan kekuatan yang luar biasa. Tangan dan kakinya bergerak liar, memukul apa pun yang bisa ia jangkau di belakangnya. Ia mencakar, menyikut, dan menghantam dada bidang pria itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Pikirannya benar-benar mengira bahwa masa lalu yang kelam itu telah datang kembali untuk menyeretnya ke dalam kegelapan.

"Lepaskan aku! Bajingan! Pergi!!" tangisnya pecah, bercampur dengan air hujan yang masuk ke dalam mulutnya.

"Colette, tenang! Ini aku! Tenanglah!"

Suara bariton itu berusaha menembus kepanikan Colette, namun gadis itu seolah tuli. Caspian terus memeluknya erat, menerima setiap pukulan dan cakaran Colette di dadanya tanpa berniat melepaskan. Ia membiarkan kemeja mahalnya robek oleh kuku Colette, asalkan gadis itu tidak lari lebih jauh ke tengah jalan yang berbahaya.

Caspian memutar tubuh Colette dengan paksa hingga gadis itu kini menghadap ke arahnya. Ia mengunci kedua tangan Colette di depan dadanya, menekan tubuh gemetar gadis itu ke dalam dekapan hangatnya di tengah badai.

"Lihat aku, Colette! Lihat mataku!" perintah Caspian, suaranya terdengar tegas namun sarat akan kesedihan.

Colette masih tersedu-sedu, napasnya tersengal-sengal, namun perlahan ia mendongak. Di bawah guyuran hujan yang membuat pandangan kabur, ia melihat wajah Caspian yang basah kuyup. Tidak ada seringai miring atau tatapan tajam CEO di sana—yang ada hanyalah sepasang mata gelap yang dipenuhi rasa khawatir dan penyesalan yang mendalam karena telah membuat gadis itu ketakutan.

Begitu menyadari siapa yang memeluknya, seluruh kekuatan Colette seolah menguap. Kakinya lemas, dan ia nyaris merosot ke aspal jika saja tangan Caspian tidak menahan pinggangnya dengan sigap.

"T-Tuan... Caspian?" bisik Colette lirih, suaranya tenggelam dalam isakan.

"Ya, ini aku. Kau aman. Tidak ada yang akan menyakitimu, aku bersumpah demi nyawaku," bisik Caspian, lalu ia menarik kepala Colette untuk bersandar di bahunya yang lebar, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!