Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekor Leluhur Hancur Berkeping-keping
Bonus gambar karakter:
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Proyeksi bunga teratai raksasa berwarna merah darah dan biru es di atas langit tiba-tiba berputar dengan kecepatan yang mengerikan. Putaran magis itu tidak sekadar bergerak, melainkan mengoyak tatanan ruang dan waktu di sekitarnya. Udara malam bergetar hebat. Seluruh esensi Qi dari wilayah Tujuh Negara tersedot paksa layaknya air bah yang ditelan lubang hitam kosmik, menciptakan ruang hampa energi sesaat yang membuat jutaan kultivator memuntahkan darah segar karena kehilangan penopang spiritual.
Bunga kosmis yang tadinya hanya berupa siluet samar kini memadat menjadi bentuk energi murni yang menyilaukan mata. Hamparan galaksi yang sunyi seolah ditarik turun ke bumi. Orang-orang di bawah hanya bisa menahan napas mereka, berlutut dengan kaki gemetar saat melihat keajaiban surga tersebut membelah tirai malam.
JGEEERRR—!!
Setelah menyerap energi hingga batas maksimal, proyeksi teratai raksasa itu menghentikan putarannya secara mendadak. Waktu terasa berhenti. Tepat pada detik berikutnya, energi yang terkumpul meledak ke bawah dan membentuk sebuah pilar cahaya raksasa bermotif pusaran api neraka dan es abadi.
Pilar cahaya ilahi itu melesat lurus menghantam bumi dengan kecepatan kilat yang tak tertangkap mata fana. Fenomena itu menciptakan suara dengungan kosmis yang menggetarkan jiwa, seolah sebuah palu godam tak kasat mata baru saja menghantam lonceng penciptaan di pusat semesta. Garis keturunan setiap makhluk hidup yang mendengarnya mendidih dan merintih tunduk.
Sangat menakjubkan, pilar itu tidak menghancurkan pepohonan, bebatuan, maupun struktur bentang alam Gunung Awan Azure sedikit pun. Cahaya suci itu menembus benda padat seolah-olah materi fisik di dunia fana ini hanyalah ilusi belaka. Pilar energi itu menembus lurus, menukik tajam membelah bumi langsung ke dalam perut Gunung Awan Azure sektor luar.
Tepat di dasar Gua Napas Naga yang gulita, pilar itu menyelimuti tubuh Lin Xueyan yang terangkat dan melayang di udara. Ia diselimuti kemegahan yang tak tertandingi saat bermandikan pusaran cahaya biru pucat dan merah menyala secara bersamaan. Lin Xueyan menyerap seluruh esensi murni surgawi itu langsung ke dalam tujuh gerbang nadi spiritualnya yang baru saja dibuka secara paksa berkat teknik rahasia Li Fan.
Siksaan surgawi dimulai.
Sensasi dingin abadi yang membekukan jiwa dan panas neraka yang membakar tulang melebur menjadi satu di dalam pusaran dantiannya. Lin Xueyan menggigit bibirnya hingga berdarah. Tubuh fana gadis itu mulai retak secara tak kasat mata. Sel-sel darah manusia biasa dihanguskan, dihancurkan tanpa sisa untuk digantikan oleh benih energi ilahi.
Tulang-tulangnya bergemeretak nyaring, berubah warna dari putih kusam menjadi sebening kristal es glasial yang dihiasi corak urat api merah misterius. Rasa sakitnya tak terlukiskan, bagaikan ribuan pedang berkarat yang mengoyak sumsum tulang belakangnya perlahan-lahan.
Namun, bersamaan dengan rasa sakit itu, datang pelepasan yang luar biasa.
Lumpur hitam pekat yang menjijikkan mulai merembes keluar dari seluruh pori-pori kulit putih gioknya. Itu adalah kotoran duniawi—sisa-sisa kefanaan dan racun udara yang menumpuk selama belasan tahun ia hidup. Begitu cairan hitam kental itu keluar, bau menyengat yang sangat busuk menguar memenuhi gua. Bau itu menyerupai percampuran antara telur busuk, belerang, dan bangkai hewan yang membusuk terjemur matahari.
Batas kefanaan hancur.
Sesuatu yang biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun meditasi keras untuk ditembus kini hancur berkeping-keping dalam sekejap mata. Esensi Qi murni dari Teratai Api Es Surgawi membanjiri jaringan meridian tubuhnya seperti tsunami raksasa yang mengamuk hebat, membelah bendungan sempit dan memperluas jalurnya. Aliran energi dominan itu membersihkan setiap sisa kotoran fana, menyapu bersih sumbatan, dan memperluas kapasitas tampung lautan Qi di dalam ruang batinnya hingga ratusan kali lipat.
Sementara itu, di puncak tertinggi markas utama sekte yang dikelilingi lautan awan ilahi, Ketua Sekte Awan Azure sedang berdiri tegak melawan angin malam. Ye Futian, seorang kultivator tangguh yang telah menginjak tahap Core Formation puncak, menatap langit dengan wajah penuh guncangan spiritual. Mata tuanya yang biasanya setenang danau mati kini memancarkan cahaya keemasan tajam, melacak arah jatuhnya pilar ilahi tersebut. Jantungnya berdegup gila hingga tulang rusuknya terasa nyeri saat menyadari lokasi persis anugerah surga itu.
“Itu jatuh menembus gunung nomor 969. Tempat itu hanyalah salah satu dari ratusan gunung pinggiran buangan yang dikhususkan untuk ujian para calon murid fana,” gumam Ye Futian dengan suara bergetar tak percaya, tangannya mencengkeram pagar balkon hingga hancur menjadi debu halus.
WUSSSHHH!! WUSSSHHH!!
Belum sempat ia memanggil pedang terbangnya, rentetan kilatan cahaya artefak tempur melesat membelah udara, mendarat dengan kasar dan berurutan di halaman paviliunnya. Mereka yang datang ini bukanlah tetua luar biasa yang selama ini sering unjuk gigi di depan publik. Di antara mereka terdapat para entitas monster tua—tetua agung tersembunyi yang memimpin puncak-puncak rahasia milik Sekte Awan Azure. Makhluk-makhluk fosil hidup yang eksistensinya hanya diketahui oleh murid inti bersumpah darah.
Terlihat Tetua Zhao dari Aula Penegak Hukum dan Tetua Sun dari Puncak Alkimia datang lebih dulu dengan napas memburu bak naga yang mengendus jejak harta. Tak lama berselang, langit di atas paviliun bergemuruh dengan kejam.
BAMMM!!
Tetua Agung Lei Zhen dari Gunung Guntur Surgawi turun menghantam pelataran dengan tubuh raksasanya yang diselimuti kilatan petir ungu liar. Di belakangnya menyusul pendaratan keras Tetua Agung Long Wu dari Gunung Tombak Naga, yang memancarkan niat bertarung berdarah membumbung tinggi hingga membelah lautan awan di atas mereka.
Suhu udara di sekitar paviliun tiba-tiba anjlok secara drastis, membekukan uap air menjadi serpihan es tajam saat Tetua Agung Leng Yue dari Gunung Ilusi Kematian menampakkan wujudnya. Wanita dewasa berwajah pucat dan mematikan itu melangkah dari ruang hampa seolah menginjak anak tangga es yang tak kasat mata. Wajah para tetua agung yang biasanya angkuh, arogan, dan memandang dunia fana seperti kumpulan debu, kini dipenuhi dengan kepanikan bercampur kegembiraan liar yang nyaris gila.
“Ketua Sekte! Fenomena langit ini sangat gila dan melanggar hukum tatanan Dao! Apakah artefak kuno peninggalan pendiri sekte di sektor luar telah bangkit dari tidurnya?!” seru Tetua Sun, matanya berbinar memancarkan keserakahan pekat yang tak sudi ia tutupi.
Tetua Lei Zhen mendengus kasar. Percikan kilat ungu menyambar dari hidung dan mulutnya, menghanguskan lantai batu giok di bawah kakinya. “Omong kosong macam apa yang kau muntahkan itu! Tekanan murni seperti ini adalah tanda mutlak kebangkitan konstitusi tubuh ilahi surgawi! Jika ada sekte iblis atau kultivator anjing asing yang berani menerobos wilayah kita untuk mencuri pilar masa depan ini, palu gunturku akan menghancurkan kepala mereka menjadi bubur darah!!”
“Tahan sedikit emosi kasarmu itu, Lei Zhen. Pilar energi itu memang sangat murni, namun memiliki fluktuasi niat membunuh yang aneh dan tersembunyi jauh di intinya,” ucap Tetua Leng Yue dengan nada datar yang secara harfiah menusuk tulang pendengaran siapapun di sana. “Bisa jadi ini bukanlah kelahiran jenius muda, melainkan seorang senior ahli tersesat yang sedang mencoba menembus pencerahan Dao tahap Nascent Soul secara diam-diam di wilayah pinggiran kita.”
Tetua Long Wu memutar tombak naga hitam di tangannya, membelah angin malam hingga berteriak, lalu tertawa keras kegirangan layaknya iblis perang. “Hahaha! Aku tidak peduli siapa atau apa dia! Jika itu adalah seorang jenius yang baru membangkitkan tubuh ilahi, ia harus dan wajib menjadi murid pewaris utamaku di Gunung Tombak Naga! Aku akan melatihnya menjadi dewa perang bengis yang akan memenggal kepala ketua tujuh sekte besar lainnya di benua ini dan menggunakannya sebagai cangkir anggur!”
Melihat para monster tua itu mulai berdebat kusir bagai preman pasar, Ye Futian mengangkat sebelah tangannya perlahan.
BZZZZT—!!
Seketika itu juga, sang Ketua Sekte memancarkan tekanan spiritual dari tahap Core Formation puncak. Tekanan itu turun menyerupai gunung tak kasat mata yang langsung mencekik dan menekan dominasi aura semua tetua agung tersebut. Ia mengisyaratkan para tetua keras kepala itu untuk segera tutup mulut dan menahan emosi mereka yang mudah meledak-ledak. Ye Futian kemudian menatap tajam ke arah gunung nomor 969 bak elang purba pemangsa dewa yang menemukan pegunungan emas.
“Tidak peduli apakah itu kelahiran harta karun kuno, senior asing yang menerobos batas Nascent Soul, atau murni kebangkitan tubuh ilahi dari jenius tersembunyi. Kita harus mengamankan lokasi itu detik ini juga sebelum sekte tetangga mengirim mata-mata siluman mereka ke mari!” perintah Ye Futian dengan nada mutlak seorang kaisar absolut.
Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk berdebat lagi, Ye Futian dan barisan tetua agung tingkat tinggi itu segera melesat menembus udara. Tubuh mereka serempak berubah menjadi kilatan cahaya pelangi mematikan yang merobek kepekatan langit malam. Mereka terbang dengan kecepatan formasi tempur penuh, membelah lautan awan bagaikan komet jatuh menuju lokasi kejadian. Hanya dalam hitungan belasan tarikan napas pendek, rombongan petinggi elit penentu nasib wilayah itu telah mendarat dengan anggun—namun membawa aura membunuh yang kental—di luar mulut Gua Napas Naga.
Di sana, Han Yu sang murid dalam berseragam biru muda sedang berdiri gemetar hebat menjaga area itu. Wajahnya seputih kertas duka, dan keringat dingin sebesar biji jagung membasahi seluruh punggungnya. Begitu melihat kedatangan Ketua Sekte beserta jajaran tetua agung rahasia yang selama ini hanya ia dengar dalam dongeng sekte turun secara bersamaan, kaki Han Yu langsung kehilangan sisa tenaganya.
BRUK!
Ia segera berlutut keras, membenturkan dahinya ke tanah berbatu hingga berdarah untuk memberi hormat setinggi-tingginya kepada para pilar pelindung sekte tersebut.
Ye Futian tidak mempedulikan tata krama berlebihan itu. Ia segera menginstruksikan Han Yu dengan nada dingin yang mendesak, menyuruh murid dalam itu untuk mengevakuasi seluruh calon murid fana yang masih berkeliaran agar mundur sejauh seratus mil dari area gunung 969.
“La... Lapor kepada Ketua Sekte Yang Mulia! Di dalam gua penekan gravitasi saat ini hanya terdapat dua orang calon murid fana yang sedang melakukan latihan malam. Mereka berdua adalah Lin Xueyan dari klan Lin dan Ma Liang dari klan Ma di wilayah Hebei,” lapor Han Yu dengan derak gigi bergemeretak ketakutan setelah mengamankan area luar sesuai perintah.
Mendengar laporan mengejutkan itu, alis Ye Futian berkerut sangat dalam membentuk garis tegas di dahi tuanya. Para tetua agung di belakangnya juga saling berpandangan dengan penuh tanda tanya raksasa di kepala mereka. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa pemicu fenomena kosmis sebesar dan semengerikan ini ternyata berkaitan erat dengan dua semut fana yang bahkan belum resmi menanggalkan status manusia mereka sebagai murid luar sekte.
Tetua Lei Zhen yang tidak sabaran sudah memegang erat gagang palu gunturnya hingga buku-buku jarinya memutih, bersiap untuk melangkah masuk menerobos formasi tekanan gua secara paksa. Namun Ye Futian dengan kilat merentangkan lengannya yang terbungkus jubah bersulam awan, menghalangi langkah kaki raksasa berotot tersebut. Ketua Sekte itu berdiri mematung di depan mulut gua, merasakan fluktuasi energi di ruang dalam yang masih bergejolak sangat ganas, seolah seekor naga primodial sedang membuka rahangnya, siap melahap siapapun yang berani melangkah masuk.
“Mundur! Kita tidak boleh bertindak sembrono dan gegabah masuk ke dalam sekarang,” bisik Ye Futian, memberikan peringatan keras tanpa ruang kompromi. “Jika benar ada entitas kuat atau proses kebangkitan fatal di dalam sana, gangguan sekecil sebutir debu dari aura kita bisa memicu ledakan benturan balik yang akan membunuh jenius itu dalam sekejap!”
Para tetua agung yang biasanya arogan itu hanya bisa menelan ludah penyesalan yang pahit. Mereka mengangguk kaku, dan akhirnya memilih menekan ego mereka, berdiri berjejer menunggu dengan sabar di luar mulut gua bagaikan sekelompok anjing penjaga pintu yang setia.
Sementara itu, di waktu yang sama, keadaan di dalam pusat Gua Napas Naga benar-benar telah melampaui batas segala nalar dan logika manusia waras.
Lin Xueyan yang masih terbungkus rapat oleh kepompong pilar cahaya kosmik mulai mengalami lonjakan terobosan kultivasi yang sangat gila, brutal, dan tidak masuk akal. Esensi Qi murni elemen kembar dari Teratai Api Es Surgawi terus membanjiri lautan dantiannya tanpa henti seperti air terjun dari surga tingkat sembilan.
Dinding fana hancur lebur.
Batas keras yang membelenggu manusia biasa akhirnya sirna tak bersisa dalam satu tarikan napas lembut gadis itu. Dengan sangat anggun dan tanpa mengeluarkan setetes keringat rasa sakit lagi, Lin Xueyan langsung menembus tahap Qi Gathering awal. Seketika itu juga, udara di sekitarnya berdengung. Bola-bola cahaya spiritual murni yang kental mulai bermunculan satu per satu dari dalam inti tubuhnya, menembus pori-porinya dan mengambang di udara.
Satu... Tiga... Tujuh... Sepuluh...
Jumlah itu terus bertambah tanpa henti hingga akhirnya berhenti di angka lima belas bola cahaya spiritual seukuran kepalan tangan pria dewasa. Lima belas bola anomali itu mengambang memutari tubuh gioknya, di mana setiap bola memiliki warna setengah merah menyala layaknya lahar vulkanik dan setengah biru es padat layaknya inti gletser kuno. Bola-bola itu berputar-putar secara magis membentuk sebuah cincin cahaya surgawi pelindung yang tak tertembus. Cahaya pendar dari lima belas bola spiritual itu begitu terang benderang hingga nyaris membutakan kornea mata.
Di sudut gua, dekat pinggiran kolam basah yang mendidih, Li Fan duduk bersila. Mata hitam pekatnya yang menyimpan kedalaman memori jutaan tahun menatap lurus ke arah fenomena itu.
Dalam catatan sejarah ribuan tahun Sekte Awan Azure, pencapaian tertinggi bagi seorang jenius saat menembus fondasi Qi Gathering hanyalah memunculkan maksimal sembilan bola cahaya. Rekor absolut itu dipegang langsung oleh sang leluhur pendiri sekte sendiri di masa kejayaan lampau. Sembilan adalah angka puncak dunia fana. Namun kini, Lin Xueyan sang Nona sombong dari klan kecil justru menghancurkan rekor legendaris itu dengan cara yang sangat sewenang-wenang, menginjak-injak hukum langit dan tatanan semesta.
Namun, keajaiban menakutkan Lin Xueyan sama sekali tidak berhenti di titik itu saja. Lonjakan level kultivasinya justru terus meroket drastis seperti gelombang pasang lautan galaksi yang tidak bisa dihentikan oleh dinding baja abadi manapun.
Ia mengalami sembilan kali lonjakan rentetan terobosan energi secara beruntun dalam waktu kurang dari setengah batang dupa menyala!
Setiap kali ia menarik napas panjang, lapisan batas kecil di dalam ranah Qi Gathering hancur begitu saja seolah terbuat dari selembar kertas basah yang dibakar api. Lin Xueyan melesat menembus Qi Gathering tahap awal, melompat ke tahap tengah bagai seekor naga yang terbang ke langit, menembus tahap akhir, dan terus meroket naik tanpa ada sedikit pun tanda-tanda hambatan botol spiritual.
Akhirnya, badai kosmik di dalam tubuhnya perlahan mereda. Laju kultivasi gadis itu melambat dan benar-benar berhenti mengamuk tepat di penghujung Qi Gathering tahap akhir kesempurnaan.
Pondasi kultivasinya saat ini sudah sangat padat, sekeras berlian surgawi, dan berada persis di ujung jurang batas menuju ranah berikutnya. Ia hanya butuh satu dorongan pemahaman Dao spiritual kecil, atau satu pertempuran hidup mati, untuk menembus batas besar menuju kultivasi ranah Spiritual Foundation. Saat ini, dengan kulit giok putih yang memancarkan pendaran cahaya tembus pandang dan aura suci yang menguar lebat ke segala arah, Lin Xueyan benar-benar terlihat seperti seorang dewi perang absolut yang baru saja turun untuk menghakimi dunia fana dari kahyangan.
Li Fan perlahan menyeka cipratan air dari jubahnya. Wajahnya tetap datar, tak ada riak keterkejutan yang berlebihan layaknya para tetua sekte di luar sana. Dalam batinnya, ia mulai membandingkan bakat mengerikan yang ditunjukkan Lin Xueyan malam ini dengan para jenius elit sombong dari klan dewa purba yang pernah ia bantai di Alam Dewa pada masa keemasannya di kehidupan sebelumnya.
“Hmph. Menarik,” gumam Li Fan pelan, suaranya sangat tenang namun membawa bobot keagungan yang tak terikat oleh dunia fana ini.
“Gadis ini benar-benar monster kecil yang sangat mematikan jika dibiarkan tumbuh,” batin Li Fan sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, menatap Lin Xueyan dengan sorot mata menilai layaknya seorang seniman agung menatap kanvas terbaiknya. Ia merasa cukup puas dengan mahakarya yang secara tak langsung ia bantu ciptakan hari ini.
“Di Alam Fana yang miskin Qi ini, memadatkan lima belas bola spiritual elemen ganda adalah sesuatu yang melanggar hukum karma. Jika dia rajin berkultivasi dengan benar, menjaga Dao hatinya, dan tidak mati muda dibunuh oleh kelicikan musuh dalam prosesnya... batas atas pencapaian masa depannya sungguh tak terbatas.”
Dengan kombinasi modal Nadi Spiritual gerbang ketujuh yang sangat langka dan konstitusi tertinggi Tubuh Teratai Api Es Surgawi, pondasi jalan Dao Lin Xueyan kini sudah sangat sempurna, mulus tanpa cacat cela sekecil apapun. Jalan takdir gadis itu untuk menjadi seorang entitas abadi penguasa alam di masa depan sudah dipastikan terbentang sangat luas tanpa rintangan takdir yang bisa menahannya. Ia kini hanya perlu duduk manis, bernapas dengan teratur untuk menyerap esensi matahari dan bulan, serta menjarah sumber daya sekte yang ada.
Maka, gerbang keabadian akan terbuka lebar, menyambutnya bagai seorang Permaisuri Dewa yang kembali ke singgasananya.
Li Fan perlahan bangkit berdiri. Ia menepuk debu dari jubah usangnya, auranya kembali tertutup rapat menjadi seperti pemuda fana biasa yang tak berguna. Ia menoleh ke arah mulut gua yang tertutup kegelapan, merasakan kehadiran belasan aura kuat yang sedang menunggu dengan cemas di luar sana.
“Nah... mari kita lihat bagaimana anjing-anjing tua Sekte Awan Azure ini menyambut kelahiran kembali sang jenius pembawa takdir,” ucap Li Fan pelan. Matanya berkilat dengan perhitungan tajam, sebuah arogansi tersembunyi khas leluhur agung yang siap memainkan kembali bidak catur duniawinya di kehidupan yang baru.
Cerdas...
Lucu...