Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengganti Pakaian
Selepas mengurus semua yang terjadi pada Leo, dengan membuat Alena menjadi kepala yayasan dan menjadikan Eva penganti Rebecca.
Dan membuat semua orang terlibat mendapatkan hukuman yang setimpal. Termasuk Celesta, dengan melaporkan nya pada pihak kepolisian.
Kini Dominic nampak santai bersandar pada sofa ruang keluarga di kediaman sembari membaca majalah bisnis hari ini, dengan segelas americano.
Dia membaca majalah itu dengan seksama, melihat nama Olivina menjadi topik pembicaraan bagaimana mengusai pasar bisnis digital.
"Dia benar-benar hebat, padahal hanya seorang perempuan biasa yang tidak ada nama besar di belakangnya," ujar Dominic memuji, kemudian mengambil americanonya dan menyesapnya singkat.
Robert yang mengawasinya dari belakang Dominic nampak menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Tuannya.
Sedangkan Leo kini bersiap-siap dengan beberapa pelayan untuk membantu Leo bersiap pergi ke pesta topeng yang disiapkan Papanya untuk menyambut lawan baru mereka, yaitu Olivina.
Namun, tidak terduga Leo menghampiri nya dengan hanya memakai handuk di tubuhnya, diikuti oleh para pelayan yang berlarian ingin meraihnya.
"Tuan Muda, tunggu Tuan Muda!" panggil para pelayan agar tidak menganggu Dominic.
Tetapi, Leo tidak menggubris mereka dan terus berlari. Entah dari mana pikiran itu datang, dia ingin sekali Dominic memperhatikannya sama seperti Sera yang mengkhawatirkan nya meskipun dengan nada kesal sewaktu di hotel waktu itu.
Dominic menatap dengan datar ketika Leo menghadap padanya dengan mata berbinar seolah minta perhatian lebih, namun Dominic seolah tidak perduli, "Pelayan bawa Leo pergi," titah Dominic.
Namun, Leo malah memeluk kaki Dominic dengan mata yang berkaca-kaca seakan-akan ingin menangis saat itu juga. Dominic menutup majalah itu seolah terhipnotis pada air mata putranya itu.
Tidak bisanya Dominic melakukan hal ini pada Leo, kelakuan manja Leo, mungkin kali ini dia mengerti alasan Leo seperti ini. Ya, mungkin saja sebab Dominic terlalu dingin pada Leo dan jarang memperhatikannya. Leo jadi kurang kasih sayang.
Dominic kemudian berdiri dari duduknya lalu memikul Leo layaknya karung beras yang diapit di ketiaknya, "Biar aku saja menyiapkan Leo," titah Dominic akhirnya.
Dominic menaiki lantai atas tanpa seorang pelayan pun mengikuti Dominic, seolah titah itu adalah keharusan. Mereka membungkukkan tubuh hingga Dominic benar-benar menghilang di lantai dua.
Sesampai di kamar Leo yang bernuansa midnight blue dengan bintang-bintang dan bulan yang menghiasi langit-langit kamarnya. Leo memang sangat suka dengan semua tentang astronomi.
Dominic mendudukkan Leo di atas kasurnya, lalu menoleh ke lemari yang berada di belakangnya. Dominic belum pernah memilihkan baju untuk seseorang, hanya bisa meniup nafas sebab ini keterpaksaan sebab Leo yang meminta.
"Kamu tunggu di sini," ujar Dominic dan dianggukkan oleh Leo, dia kemudian menuju arah lemari dan mulai memilih baju.
Leo nampak menggelengkan kepala ketika Dominic memilihkan baju dengan setelan celana yang tidak sesuai. Hingga Dominic mulai lelah dan Leo kesal melihat ayahnya itu menarik nafas kasar, ternyata ayahnya begitu tidak becus hanya untuk sekedar memilih baju.
Leo turun dari kasurnya, lalu mendekati Dominic. Dan menyingkirkan ayah itu dan memilih bajunya sendiri yang berwarna hitam dengan setelan celana bahan yang juga berwarna hitam dan dasi panjang berwarna navy.
Leo mengeram sedikit dan meletakkan pakaian itu di atas kasur, setelah itu menunjukkannya pada Dominic – setelan itulah yang paling cocok dengannya, disertai tatapan sinis seolah Dominic sangat tidak becus.
"Ya, aku tahu, aku adalah Papa yang buruk, tapi tidak bisakah sedikit kamu berikan apresiasi karena aku sudah berusaha," keluh Dominic memelas.
Leo memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di dadanya. Dominic yang melihat Leo yang mengembungkan wajahnya hanya bisa pasrah dengan helaaan nafas yang berat.
"Baiklah, aku memang salah, bisakah kamu berbalik agar aku bisa memasangkan baju," ucap Dominic menarik tangan Leo agar anaknya itu menatap arahnya.
Leo dengan pasrah mengikuti keinginan Dominic sebab dia tahu ini salahnya sebab dia lah yang berusaha memohon pada Dominic untuk membantunya berganti pakaian.
Setelah Leo mau kembali diajak kerja sama, Dominic kemudian membantu memasangkan pakaian yang telah dipilihkan oleh putranya itu.
"Kamu jangan terlalu banyak bergerak," titah Dominic yang sebenarnya Leo hanya diam melihat semua yang dilakukan Dominic.
Meskipun terasa grasak-grusuk dengan tarikan pada sudut-sudut jas putranya, namun Dominic mampu menyelesaikan tugasnya sebagai ayah pada umumnya.
Leo hanya bisa pasrah ketika Dominic menarik-narik bajunya dengan kasar, agar bajunya terlihat lebih rapi. Tapi, Leo berjanji tidak akan minta tolong lagi pada pria dingin dihadapannya itu.
Dominic mendorong putranya dengan pelan agar putranya itu nampak jelas di matanya, dia sedikit bangga dengan hasil kerja kerasnya yang terlihat rapi.
*
Di sisi lain, Louis baru saja keluar dari dalam mobil dengan gembira sebab Anas baru saja menyelesaikan pengecekan DNA keempat rambut yang berbeda itu.
Meskipun Anas merasa lelah tapi tetap senang melihat putra angkatnya itu senang ketika memegang kertas hasil DNA yang menunjukkan hasil DNA nya dengan Leo ternyata sembilan puluh sembilan persen memiliki kesamaan.
"Wah, ternyata benar aku sama Leo adalah kembar, aku tidak menyangka aku punya kembaran seperti cerita-cerita," ujar Louis mengangkat kertas nya tinggi-tinggi.
"Iya Bunda tahu, tapi katanya masih mau merahasiakannya dari Mama kamu, kita sudah sampai di depan rumah. Gimana kalau Mama kamu tahu?" ucap Anas mencoba mengingatkan Louis tentang untuk merahasiakan masalah ini untuk beberapa waktu.
Louis menoleh arah pintu rumah yang masih tertutup, tetapi ada benarnya juga perkataan Anas. Mereka bisa saja ketahuan oleh Sera, jika tiba-tiba ibunya mengamati mobil mereka.
"Iya, Bunda benar yang Bunda katakan... Ah, lebih baik Louis masukkan saja kesini," ujar Louis memasukkan surat itu ke dalam dasbor mobil Anas.
Setelah itu mereka keluar dari mobil berbarengan, hingga mereka sampai di depan rumah dan memencet bel nya dengan wajah yang berseri-seri, meskipun tidak tahu masalah apa yang akan dihadapi di depan.
Benar saja, Sera membuka pintu itu dengan kasar dan raut wajah paniknya yang pertama kali menyapa mereka. Tiba-tiba saja wanita itu menutupi wajah Louis dengan kasar.
"Louis! Kemana saja kamu? Mama pulang kamu tidak ada, sudah Mama bilang baik-baik di rumah," tanya Sera dengan wajah khawatirnya.
Anas terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kecut melihat Sera panik mencari putranya, "Hehehe... Anu Sera," ujar Anas mencoba mengalihkan perhatian.
"Anu apa?!" jawab Sera menatap Anas dengan mata melototnya.
"Kalian sekongkol kan? Apa yang kalian coba sembunyikan?" geretak Sera menatap sinis pada Anas sebab perempuan itu yang dewasa dan sudah tahu mana yang baik atau yang buruk.