Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana butik mewah itu mendadak hening, hanya menyisakan suara isak tangis ketakutan dari pelayan yang kini bersimpuh di lantai.
Jati sudah bersiap melangkah keluar, namun jemari lembut Lintang menahan lengannya.
Jati menoleh, mendapati mata istrinya yang masih kemerahan namun memancarkan ketulusan yang luar biasa.
"Mas, tolong, kasih mereka satu kesempatan lagi," bisik Lintang lembut.
"Jangan tutup butiknya. Pelayan itu mungkin sedang khilaf. Kalau dia dipecat dan masuk daftar hitam, bagaimana nasib keluarganya?"
Jati terdiam, rahangnya yang tadi mengeras perlahan melunak.
Ia mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit butik sejenak sebelum kembali menatap wajah Lintang yang begitu pemaaf.
"Kamu ini benar-benar bidadari surga, Sayang. Hati kamu terbuat dari apa?" gumam Jati sambil mengusap pipi Lintang dengan ibu jarinya.
Jati membalikkan badan, menghampiri manajer dan pelayan yang masih gemetar itu.
Auranya masih dingin, namun tidak lagi mematikan seperti tadi.
"Istriku yang meminta kalian diberi kesempatan," ucap Jati dengan suara berat.
"Berterima kasih padanya. Jika bukan karena kebaikannya, besok tempat ini sudah jadi gudang kosong. Tapi ingat, jika aku mendengar ada satu saja pelanggan yang diperlakukan buruk lagi di sini, aku tidak akan memberi ampun."
"Terima kasih, Pak Jati! Terima kasih, Ibu Lintang! Kami berjanji akan memperbaiki semuanya!" seru sang manajer sambil membungkuk berkali-kali.
Pelayan itu bahkan tak berhenti mengucap syukur di sela tangis penyesalannya.
Jati tidak berlama-lama di sana. Ia segera menuntun Lintang keluar, namun ia tetap merasa suasana mal itu sudah tidak nyaman untuk istrinya.
Jati melajukan mobilnya menuju sebuah kawasan elit yang lebih tenang. Ia sudah menghubungi sahabatnya, pemilik butik haute couture paling eksklusif di Jakarta, untuk mengosongkan tempat itu selama dua jam khusus bagi Lintang.
Begitu mereka sampai, pintu butik langsung dikunci dari dalam.
Tidak ada pelanggan lain, hanya ada jajaran pakaian tidur sutra dan gaun hamil berbahan premium yang ditata sangat indah.
Harum aromaterapi lavender yang menenangkan menyambut mereka.
"Nah, di sini kamu bisa pilih apa saja dengan tenang, tanpa ada yang berani mendorong atau menghinamu," ucap Jati sambil memeluk pinggang Lintang dari belakang.
Para pelayan di butik ini menyambut dengan sangat hormat, namun tetap ramah.
Mereka menyuguhkan jus jeruk segar dan camilan sehat untuk Lintang.
"Mas, ini terlalu berlebihan. Butiknya sampai dikosongkan begini," Lintang merasa sungkan melihat beberapa staf yang berdiri siaga hanya untuk melayaninya.
"Tidak ada yang berlebihan untuk istri dan calon anak Mas, Lintang," jawab Jati tegas namun penuh kasih.
"Mas mau kamu merasa aman. Mas mau kamu tahu bahwa di dunia ini, kamu adalah prioritas utama Mas."
Jati duduk di sofa beludru, memperhatikan Lintang yang mulai memilih-milih kain sutra dengan senyum yang kembali merekah.
Sesekali Lintang menempelkan kain itu ke perutnya yang masih datar, membayangkan kenyamanan untuk dirinya dan si kecil.
Melihat Lintang bahagia, Jati merasa separuh bebannya hilang.
Baginya, melihat senyum itu jauh lebih berharga daripada seluruh keuntungan perusahaannya dalam setahun.
Aroma kain sutra yang baru dibuka dari kemasannya tiba-tiba terasa begitu tajam di indra penciuman Lintang.
Wajahnya yang semula ceria saat memilih piyama mendadak pucat.
Ia membekap mulutnya dengan punggung tangan, matanya terpejam rapat menahan gejolak yang naik dari lambungnya.
"Sayang? Kamu mual lagi?" Jati sigap berdiri dari sofa beludru, merangkul bahu Lintang dengan cemas.
Ia memberi isyarat pada pelayan butik untuk membawakan air hangat dan minyak aromaterapi.
Lintang menggeleng lemah, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Jati.
Anehnya, rasa mual itu sedikit mereda saat ia mendengar detak jantung suaminya, namun perutnya masih terasa melilit.
"Mas, kepalaku pusing," bisik Lintang manja.
"Boleh minta satu hal? Biar mualnya hilang?"
"Apa pun, Sayang. Kamu mau buah segar? Atau kita pulang sekarang?" tanya Jati bertubi-tubi.
Lintang mendongak, menatap mata tajam suaminya dengan tatapan memohon yang menggemaskan.
"Mas... menyanyilah untukku. Dan untuk si kecil. Katanya suara ayah bisa menenangkan janin."
Jati tertegun sejenak. "Nyanyi apa?"
"Terserah Mas," jawab Lintang pelan, masih di dalam butik yang sunyi karena memang dikosongkan khusus untuk mereka.
Seketika, tawa Jati pecah. Suara tawa baritonnya bergema di ruangan mewah itu.
Jati tertawa terbahak-bahak sampai bahunya terguncang, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan di depan orang banyak.
"Aduh, Lintang, kamu ada-ada saja. Mas ini pengusaha, bukan penyanyi. Suara Mas itu lebih cocok untuk membentak orang di ruang rapat daripada menyanyi lagu pengantar tidur. Mas nggak bisa nyanyi, Sayang. Benar-benar nggak bisa," ujar Jati sambil menyeka ujung matanya yang sedikit berair karena tertawa.
Namun, Lintang justru mengerucutkan bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca—efek hormon kehamilan yang membuatnya sangat sensitif.
"Ayo, Mas, tolong. Sedikit saja. Si kecil mau dengar suara ayahnya menyanyi."
Melihat istrinya yang sudah hampir menangis, nyali Jati yang biasanya setangguh baja seketika luntur.
Ia membuang napas panjang, menatap ke sekeliling butik seolah memastikan tidak ada staf yang diam-diam merekam momen memalukan ini.
Jati berdehem, mencoba mengatur suaranya yang berat.
Ia menarik napas panjang, lalu mulai menyanyikan sebuah lagu lawas yang liriknya sangat ia hapal karena sering didengar saat ia masih kecil.
"Di sela-sela malam... kuingin menjagamu... dalam tidurmu yang lelap..."
Suara Jati memang tidak semerdu penyanyi profesional; terdengar agak kaku dan terlalu dalam. Namun, getaran di dadanya saat menyanyi terasa begitu menenangkan bagi Lintang.
Pelan-pelan, Lintang memejamkan mata, menikmati momen langka di mana seorang Jati Pratama yang ditakuti banyak orang, rela membuang harga dirinya hanya untuk menghibur istrinya yang sedang mual.
Tanpa sadar, Lintang tersenyum di pelukan Jati. Rasa mual itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Suara Mas enak kok," bisik Lintang setelah Jati menyelesaikan satu bait pendek.
"Enak karena kamu istrinya Mas. Kalau orang lain yang dengar, mungkin mereka langsung minta ganti rugi," gurau Jati sambil mengecup puncak kepala Lintang, merasa lega karena wajah istrinya kembali bersemu merah.
Belanjaan yang cukup banyak akhirnya berpindah ke bagasi mobil.
Jati merangkul bahu Lintang dengan protektif, menuntunnya masuk ke dalam mobil mewah mereka untuk kembali ke apartemen.
Sepanjang jalan, Jati tak henti-hentinya menggoda Lintang soal nyanyian "sumbang"-nya tadi, membuat tawa Lintang pecah dan rasa mualnya benar-benar hilang.
Namun, suasana riang itu seketika lenyap saat pintu lift terbuka di lantai apartemen mereka.
Di depan pintu unit Jati, berdiri seorang wanita yang tampak sangat kontras dengan kemewahan di sekelilingnya.
Wanita itu mengenakan pakaian sederhana, wajahnya kusam dan sembab karena terlalu banyak menangis. Yang paling mengejutkan, perutnya tampak buncit—dia sedang hamil tua.
"Lintang..." suara wanita itu bergetar saat melihat Lintang muncul.
Lintang mematung. Ia mengenali wajah itu. Dia adalah istri Dery, wanita yang dinikahi Dery saat Lintang masih menjadi istrinya dulu—wanita yang menjadi alasan hancurnya rumah tangga Lintang sebelumnya.
Jati langsung melangkah ke depan Lintang, menyembunyikan istrinya di balik tubuh tegapnya. Matanya menatap tajam dan dingin.
"Siapa kamu? Dan bagaimana kamu bisa sampai ke lantai ini?"
Wanita itu langsung bersujud di lantai, terisak hebat hingga bahunya terguncang.
"Tolong, suami saya, Lintang! Saya tahu Dery jahat, saya tahu dia berdosa pada kamu, tapi tolong kasihani anak yang saya kandung ini. Dia butuh ayahnya!"
Lintang meremas ujung baju Jati. Hatinya yang lembut kembali bergejolak.
Ia melihat perut wanita itu yang jauh lebih besar dari miliknya.
Di satu sisi, ia teringat semua penderitaannya karena Dery, namun di sisi lain, ia melihat seorang calon ibu yang sedang hancur.
"Mas Dery akan dipenjara lama kalau kamu tidak mencabut laporan itu, Lintang! Saya mohon, demi sesama wanita yang sedang hamil," ratap istri Dery itu sambil memegang kaki Jati, namun pengawal Jati segera menariknya menjauh dengan sopan tapi tegas.
Jati mendengus sinis, rahangnya mengeras. "Jadi ini rencana keluarga Dery? Mengirim wanita hamil untuk mengemis simpati? Benar-benar pengecut."
Jati menoleh pada Lintang, memastikan istrinya tidak goyah.
"Jangan dengarkan dia, Lintang. Masuklah ke dalam. Biar Mas yang selesaikan urusan sampah ini."
Namun, Lintang justru terdiam, menatap wanita yang sedang menangis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Lintang menarik napas panjang, menatap wanita yang bersimpuh di depannya dengan tatapan yang tidak lagi penuh kemarahan, melainkan belas kasihan.
Sebagai sesama calon ibu, ia tahu betapa beratnya berjuang sendirian, namun ia juga tidak bisa membiarkan keadilan diinjak-injak.
"Bangunlah, Mbak," ucap Lintang lembut namun berwibawa.
"Saya merasakan apa yang Mbak rasakan sebagai sesama wanita hamil. Tapi maaf, saya tidak bisa mencabut laporan itu. Mas Dery harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat. Bukan hanya kepada saya, tapi kepada hukum."
Wanita itu kembali terisak, namun Lintang melanjutkan kalimatnya dengan tegas.
"Keamanan saya dan calon anak saya adalah prioritas. Jika Mas Dery bebas sekarang, siapa yang bisa menjamin dia tidak akan datang lagi untuk menyakiti kami?"
Jati, yang sejak tadi berdiri memasang badan, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dalam jumlah yang cukup banyak.
Ia mengulurkan uang itu, namun tatapannya tetap sedingin es.
"Ambil ini. Gunakan untuk biaya persalinanmu dan kebutuhan bayimu nanti," ucap Jati dengan nada rendah yang menekan.
Istri Dery menerima uang itu dengan tangan gemetar, matanya menatap Jati dengan penuh rasa takut sekaligus syukur yang campur aduk.
"Dan dengarkan ini baik-baik," lanjut Jati, suaranya kini terdengar sangat mengancam.
"Sampaikan pada keluarga Dery, kami sudah cukup berbaik hati dengan tidak memenjarakan Ibu dan kakak perempuan Dery atas keterlibatan mereka menghasut kekerasan dulu. Jangan coba-coba lagi mengirim siapa pun ke sini untuk mengusik ketenangan istriku."
Jati memberi isyarat kepada petugas keamanan gedung untuk segera menuntun wanita itu keluar dari area apartemen.
"Bawa dia pergi. Pastikan dia sampai di lobi dengan aman, lalu jangan biarkan dia kembali lagi."
Setelah wanita itu menghilang di balik pintu lift, koridor kembali sunyi.
Jati segera berbalik, memegang kedua bahu Lintang dan menatap wajah istrinya dengan cemas.
"Kamu oke, Sayang? Maaf ya, Mas kecolongan sampai dia bisa naik ke sini," ucap Jati menyesal.
Lintang tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di dada Jati.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Terima kasih sudah membantu memberinya uang. Bagaimanapun, anaknya tidak berdosa."
Jati mengecup puncak kepala Lintang, merasa semakin bangga memiliki istri yang hatinya seluas samudra, namun tetap memiliki ketegasan untuk melindungi diri sendiri.
"Ayo masuk. Mas mau pastikan kamu istirahat total sore ini. Tidak ada lagi drama, oke?"