Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Membuat Kenangan
Setelah menghabiskan beberapa hari untuk liburan bersama suami dan putrinya, jika ditanya bahagia atau tidak? jawabannya tentu saja bahagia.
Selain ini menjadi liburan pertama Samira sebagai istri Samudra, momen ini juga perlahan mendekatkan mereka.
Lucu memang.
Pernikahan mereka sudah berjalan lima tahun, tapi justru baru sekarang mereka benar-benar terasa seperti pasangan pada umumnya.
Namun… memang seperti itulah kenyataannya.
@@@
“Nanti malam kita pulang ya, Mas?” tanya Samira pelan.
Samudra yang berada di sampingnya tersenyum tipis.
“Iya. Kenapa? Kamu masih mau di sini?” balasnya lembut.
Saat itu, Samira dan Samudra sedang duduk di sofa sambil menikmati tayangan televisi. Samira berada dalam pelukan Samudra. Ia mendongakkan kepala, menatap wajah suaminya dengan senyum cerah.
“Kayaknya iya deh…” ujarnya jujur. “Memangnya kamu mau, Mas? Kamu ada waktu?”
Samudra menggeleng pelan.
“Kalau sekarang belum bisa,” jawabnya. “Tapi kalau kamu mau… bulan depan kita ke sini lagi. Aku ambil cuti. Kita juga bisa cari tempat liburan lain, bahkan ke luar negeri.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Kasihan juga Sania, sudah pegang semua kerjaanku selama kita liburan. Aku cuma kasih dia satu hari libur.”
Samira tersenyum tipis.
“Iya kok, Mas. Aku paham,” ujarnya lembut. “Nggak harus buru-buru juga. Nanti kalau kamu sudah nggak sibuk dan Bibi lagi libur sekolah, kita ke sini lagi.”
Samudra mengangguk pelan. Suasana kembali tenang.
“Kamu punya negara impian nggak?” tanya Samudra, memecah keheningan.
“Negara impian ya? Hmm… aku sih pengin ke Swiss,” jawab Samira.
“Kenapa pengin ke Swiss?”
“Karena indah aja… cocok buat aku yang suka alam.”
Jawaban Samira membuat Samudra mengangguk, senyum tipis terlukis di bibirnya. Suasana kamar hotel kembali hening, hanya terdengar dengkuran halus dari Binar yang sudah tertidur lelap sejak siang, setelah puas berenang bersama Samudra.
Siang itu, setelah berenang, mereka memang memutuskan untuk beristirahat sebelum nanti malam pulang.
Samira memejamkan mata perlahan, mencoba terlelap dalam hangatnya pelukan Samudra.
Namun—
Baru beberapa detik—
Ia merasakan napas hangat di dekat telinganya.
“Jangan tidur dulu, Mir…” bisik Samudra pelan.
Samira sedikit membuka mata.
“Iya?”
“Ini hari terakhir kita liburan…” lanjut Samudra, suaranya rendah.
Ia sempat berhenti. Seolah menimbang kata-katanya.
“Sebelum nanti malam kita pulang… kita—”
Ia tidak melanjutkan. Samira menatapnya, penasaran.
“Kita…?” tanyanya pelan.
Samudra mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Samira.
“Kita harus bikin kenangan indah di ranjang hotel ini,” bisiknya lembut, nada suaranya terdengar menggoda.
Samira langsung memahami maksudnya. Pipinya sedikit memanas.
“Tapi… ada Bibi loh, Mas,” ucapnya pelan, mengingatkan.
“Kamu tenang aja,” jawabnya santai.
Samira mengernyit.
“Tenang gimana?”
Samudra menggeser tubuhnya sedikit, lalu menepuk sofa yang sedang mereka duduki.
“Kita pindahin Bibi ke sini. Dia lagi tidur nyenyak.”
Samira langsung menoleh ke arah Binar. Putri kecil mereka memang tertidur pulas. Bahkan tidak bergerak sedikit pun.
Samira menggigit bibir bawahnya pelan, masih ragu.
“Mas…”
“Aku hati-hati,” potong Samudra lembut.
“Nggak akan bangunin dia.”
Hening sejenak. Samira menatap Samudra. Tatapan suaminya kali ini… berbeda.
Sulit untuk ditolak.
“Mir…” panggilnya pelan.
Samira menghela napas kecil.
Lalu—
“Ya sudah…” jawabnya pelan.
Samudra tersenyum.
Tanpa membuang waktu, ia bangkit perlahan, lalu dengan sangat hati-hati mengangkat Binar.
Gerakannya lembut, memastikan tidak ada suara yang bisa membangunkan putrinya.
Samira hanya memperhatikan.
“Maafin Papa ya, Nak… Bibi pindah di sini sebentar saja. Nanti habis ini Papa pindahin lagi,” bisik Samudra pelan.
Dengan hati-hati, ia membaringkan Binar di sofa. Tak lupa, ia mengecup lembut dahi putrinya.
Binar tetap tertidur pulas.
Samudra tersenyum tipis, lalu perlahan bangkit dan kembali menghampiri Samira.
@@@
Suasana kamar perlahan berubah.
Hening… tapi terasa berbeda.
Udara seolah menghangat, seperti siang hari di luar sana.
Samudra mendekat, tangannya terangkat perlahan, merapikan helaian rambut Samira yang jatuh di wajahnya.
Gerakan sederhana… tapi terasa begitu dekat.
“Kamu sudah siap?” tanyanya pelan.
Tatapannya lembut, tapi ada sesuatu yang membuat jantung Samira berdetak lebih cepat.
Samira menelan ludah pelan.
Tatapan itu… selalu berhasil membuatnya gugup.
Namun sebelum menjawab—
Ia berdiri sebentar, mengambil sesuatu dari tasnya.
Satu pil kecil.
Samudra memperhatikannya, tapi tidak berkata apa-apa. Samira meminumnya dengan tenang.
Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Sejauh ini, Samira memang belum ingin memiliki anak lagi. Bukan karena ingin menolak rezeki… tapi lebih karena ia tahu diri, rumah tangganya dulu belum benar-benar baik.
Binar sudah cukup.
Setidaknya… untuk saat ini.
Dan Samudra, selama ini tidak pernah menolak keputusan itu.
Tidak pernah melarang. Tidak juga mempertanyakan. Seolah… ia memahami tanpa perlu dijelaskan. Atau memang ia sudah tak mau memiliki anak. Entahlah hanya Samudra yang tahu.
@@@
Samira kembali duduk di atas ranjang. Kali ini, jarak di antara mereka semakin dekat.
“Mas…” panggilnya pelan.
“Iya…” jawab Samudra.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Tanpa kata.
Samudra mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Samira perlahan.
“Kalau capek… bilang,” ujarnya pelan.
Bukan sekadar ucapan. Tapi bentuk perhatian. Samira tersenyum tipis.
“Iya…”
@@@
Sejak tadi, Shinta mondar-mandir di ruang tengah. Langkahnya tidak tenang, membuat Raka yang duduk santai di sofa jadi ikut memperhatikan.
“Mamah kenapa sih?” tanya Raka akhirnya.
“Dari kemarin lho Papah lihat suka mondar-mandir nggak jelas.”
Shinta berhenti, lalu menoleh ke arah suaminya.
“Ini lho, Mah penasaran… gimana liburan Samira sama Samudra. Kira-kira mereka masih kaku nggak, ya?” ucapnya dengan wajah penuh pikir.
Raka menghela napas kecil, lalu menyeruput kopinya.
“Ya kalau Mamah pengin tahu, tinggal telepon saja,” jawabnya santai.
“Daripada muter-muter kayak setrikaan rusak begitu.”
Shinta langsung melirik tajam.
“Ih, Papah ini ya… ada-ada saja.”
Raka terkekeh pelan.
“Tapi bener, kan?”
Shinta menghela napas.
“Tapi Mamah nggak mau ganggu. Siapa tahu mereka lagi quality time.”
Raka mengangguk pelan.
“Ya sudah, kalau nggak mau ganggu, ya tinggal tunggu saja mereka pulang. Nanti tanya langsung sama anak laki kamu itu.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada sedikit mengejek,
“Yang gengsinya setinggi langit itu.”
Shinta langsung duduk di sampingnya.
“Ih, jangan gitu. Samudra itu cuma… susah aja ngungkapin perasaan,” bela Shinta.
Raka menoleh.
“Susah? Itu bukan susah lagi, Mah. Itu mah kebanyakan dipendam.”
Shinta terdiam sejenak.
“Iya juga sih…” gumamnya pelan.
Lalu ia kembali terlihat gelisah.
“Tapi Papah… kalau ternyata mereka masih kayak dulu gimana?”
Nada suaranya berubah lebih pelan. Ada kekhawatiran di sana. Raka meletakkan cangkirnya.
“Kamu terlalu mikir jauh,” ujarnya.
Shinta menatapnya.
“Maksudnya?”
Raka tersenyum tipis.
“Anak kamu itu memang keras. Tapi bukan berarti dia nggak bisa berubah.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit.
“Dan Samira… Papah lihat dia sabar. Nggak semua orang bisa bertahan sejauh itu.”
Shinta mengangguk pelan.
“Iya… Mamah juga ngerasa gitu.”
Hening sejenak.
Lalu—
“Tapi tetap saja penasaran…” gumam Shinta lagi.
Raka langsung tertawa kecil.
“Ya ampun, Mah… dari tadi muter ke situ lagi.”
Shinta cemberut sedikit.
“Namanya juga orang tua.”
Raka tersenyum.
“Iya, orang tua yang suka overthinking,” godanya.
Shinta langsung menyikut lengan Raka pelan.
@@@
Tak lama kemudian—
Ponsel Shinta yang tergeletak di meja tiba-tiba berbunyi.
Notifikasi masuk.
Shinta langsung refleks meraihnya.
Matanya membesar sedikit.
“Dari Samira!” ucapnya cepat.
Raka ikut menoleh.
“Apaan?”
Shinta langsung membuka pesan itu.
Sebuah foto.
Foto Samira, Samudra, dan Binar.
Mereka berdiri di depan hotel. Binar tersenyum lebar, sementara Samira terlihat cerah… dan Samudra—
Meski tidak terlalu ekspresif, tapi jelas—
Ada senyum kecil diwajahnya.
Di bawah foto itu, ada pesan singkat:
“Mah, nanti malam kita pulang ya. Liburannya seru banget”
Shinta langsung terdiam beberapa detik. Matanya berkaca-kaca tipis.
“Gimana?” tanya Raka.
Shinta menunjukkan ponselnya. Raka melihat foto itu. Dan tanpa sadar, ia tersenyum.
“Tuh kan…” ujarnya santai.
“Kelihatan dari fotonya saja sudah beda.”
Shinta mengangguk pelan.
“Iya…”
Senyumnya perlahan melebar.
“Kayaknya… mereka baik-baik saja.”
Raka menyandarkan tubuhnya lagi.
“Bukan cuma baik-baik saja,” katanya.
“Kayaknya… mulai beneran jadi keluarga.”
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!