NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seorang Wanita Bernama Maria

Beberapa hari telah berlalu sejak malam yang menegangkan itu terjadi—sejak suara mobil datang terlalu cepat dan darah mengotori lantai marmer rumah besar itu. Ketegangan yang malam itu menusuk kini tidak lagi terasa setajam pisau, tetapi juga tidak pernah benar-benar pergi. Rumah itu memasuki fase lain, yang lebih menyerupai suasana waspada, terjaga, dan penuh aturan tak tertulis.

Dokter yang sama datang secara berkala—kadang pagi, kadang menjelang malam. Rachel mengenali langkah mereka, mengenali suara tas medis yang diletakkan di meja, dan mengenali bau antiseptik yang selalu tertinggal lebih lama dari kehadiran sang dokter itu sendiri. Bau itu meresap ke udara, ke dinding, bahkan ke pikirannya.

Ia melihat tumpukan kain perban yang dibawa keluar setelah diganti. Kain putih yang tak lagi sepenuhnya putih, dengan noda darah yang terlihat semakin samar. Ia mendengar potongan percakapan—kata-kata singkat yang tidak pernah lengkap.

“Tekanan darah sudah mulai stabil.”

“Jangan banyak bergerak.”

“Lukanya dalam, tapi sudah terkendali.”

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah, bahwa Rachel tidak diizinkan mendekat ke kamar Liam. Ia berada di rumah yang sama dengan pria itu. Bahkan, jaraknya mungkin hanya beberapa lorong dan terhalang satu pintu besar yang selalu tertutup. Tapi bagi Rachel, jarak itu terasa seperti sesuatu yang tidak bisa diukur dengan langkah kaki. Liam ada di dalam sana, ia jelas tahu itu. Tapi ia tak bisa menjangkaunya.

Hari-hari Rachel berjalan seperti biasa—setidaknya tampak seperti itu. Ia tetap bekerja, tetap menyelesaikan tugasnya, dan tetap menyapa orang-orang dengan nada yang sama. Tidak ada yang memintanya berhenti, dan tidak ada yang menyuruhnya pergi. Kehidupan rumah itu berlanjut, seolah luka Liam adalah sesuatu yang harus disembunyikan dengan rapi dari rutinitas.

Sepanjang hari, area lantai atas tetap dijaga. Dua penjaga selalu berada di posisi yang sama, bergantian tapi tak pernah benar-benar pergi. Setiap kali Rachel tanpa sadar melambatkan langkahnya ke arah kamar Liam, ia pasti akan dihentikan langkahnya.

“Maaf, Nona. Anda tidak boleh pergi lebih jauh lagi. Batas yang diperbolehkan hanya sampai sini.”

Tidak ada ancaman dalam suara mereka. Dan, justru itulah yang membuatnya terasa seolah tidak ada lagi ruang untuk menawar.

Mrs. Cassel pun tampak menjaga jarak profesional. Ia tetap bekerja secara efisien, tetap tenang, dan tetap menjalankan perannya sebagai kepala pelayan. Jika Rachel bertanya soal kondisi Liam, jawabannya selalu singkat dan netral. Seolah tidak ada celah untuk pertanyaan selanjutnya.

Dalam diam, Rachel pum akhirnya mulai bertanya-tanya. Apakah ini keputusan Liam? Apakah ia yang meminta agar Rachel tidak diizinkan masuk? Atau ini hanyalah sistem yang bekerja secara otomatis—aturan tak kasatmata yang langsung aktif begitu nyawa seorang pria seperti Liam terancam?

Tidak ada jawaban atas semua pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Dan semakin lama, Rachel mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman, bahwa perasaan yang ia rasakan untuk Liam hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang jauh lebih besar, lebih rumit, dan sepenuhnya berada di luar kendalinya.

Lalu, siang itu bergerak pelan menuju sore ketika suara mobil asing terdengar di halaman depan. Rachel sedang merapikan meja kecil di ruang tengah ketika suara itu memecah ritme rumah. Ia menoleh ke arah jendela tepat saat seorang wanita muda turun dari mobil yang ditumpanginya

Wanita itu berpakaian rapi, elegan tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya tertata rapi, dan pakaiannya sederhana tapi jelas mahal. Wajahnya tampak tegang, seolah ia menahan sesuatu sejak perjalanan panjang. Bukan kebingungan yang terpancar dari matanya, melainkan kecemasan yang terarah.

Para penjaga pun langsung bergerak. Gerak-gerik mereka seolah sudah mengenali siapa sosok wanita yang sedang berjalan dengan langkah terburu-buru ke dalam rumah milik Liam. Langkahnya pasti, lurus menuju dalam rumah, lalu ke arah tangga dan menuju kamar Liam yang selama beberapa hari ini menjadi batas tak tertembus bagi Rachel.

Rachel berdiri terpaku. Ia melihat wanita itu berbicara singkat dengan salah satu penjaga, lalu dengan dokter yang kebetulan baru tiba. Ekspresi mereka berubah menjadi lebih serius dan lebih fokus.

Wanita itu diizinkan masuk ke dalam kamar Liam. Dari tempatnya berdiri, Rachel hanya bisa melihat punggungnya menghilang di balik pintu besar. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Juga tidak ada siapapun yang tampak menghentikan setiap langkahnya.

Maria Banderas—begitulah nama wanita itu. Ia tidak datang sebagai orang asing. Ia datang seperti seseorang yang sudah lama mengenal rumah ini.

Ada sesuatu yang berubah di dada Rachel saat itu. Bukan ledakan emosi, atau kemarahan. Itu hanya pergeseran halus yang sulit dijelaskan, seperti tanah yang sedikit retak di bawah kaki yang berpijak.

Ia tidak tahu siapa wanita itu, tidak tahu hubungannya dengan Liam, juga tidak tahu apa perannya dalam hidup pria itu. Tapi ada satu hal yang tak bisa ia abaikan, bahwa wanita itu diizinkan berada di dekat Liam, sementara dirinya tidak.

Rachel mencoba mengabaikan perasaan itu. Ia memaksa fokus pada pekerjaannya, pada detail-detail kecil yang bisa dikendalikan. Tapi pikirannya terus kembali pada lorong lantai atas, terutama pada pintu besar kamar Liam yang tertutup itu. Rachel tidak bisa melupakan fakta bahwa ada seseorang di dalam sana dan berdiri di sisi Liam, sementara dirinya tetap berada di luar dan tidak mengetahui bagaimana kondisi Liam.

Ini bukan tentang cinta—Rachel tahu itu, meski tidak cukup yakin. Ini semua tentang posisi, tentang disingkirkan tanpa penjelasan, dan tentang menyadari bahwa betapapun dekatnya ia merasa dengan Liam, ada dunia lain yang selalu berada satu langkah di depan—dan ia tidak termasuk di dalamnya. Dan kesadaran itu, pelan tapi pasti, mulai meninggalkan bekas di hatinya.

Rachel tidak langsung bertanya hari itu. Ia menunggu sampai sore merambat turun dan aktivitas rumah kembali melambat. Ia menemukan Mrs. Cassel di gudang penyimpanan bahan makanan dekat dapur—sedang memeriksa daftar persediaan dengan kacamata baca bertengger rendah di hidungnya.

“Mrs. Cassel?” suara Rachel pelan, hampir ragu.

Wanita itu mengangkat wajahnya. “Ya, Rachel?”

Rachel berdiri beberapa langkah dari meja. Tangannya saling bertaut di depan tubuh, dengan gerakan kecil yang tidak ia sadari. “Tamu tadi siang… wanita yang datang itu. Siapa dia?”

Mrs. Cassel tidak langsung menjawab. Ia melepas kacamatanya perlahan, lalu meletakkannya di atas kertas. Ada jeda singkat—cukup lama untuk membuat Rachel sadar bahwa pertanyaannya bukan hal sepele.

“Itu Nona Maria Banderas,” akhirnya Mrs. Cassel menjawab. Membuat Rachel sontak mengangguk kecil, lalu menunggu.

“Dia… sudah seperti keluarga bagi Tuan Smith,” lanjut Mrs. Cassel dengan nada yang terukur. “Mereka sangat dekat di masa lalu. Sangat dekat.”

“Kekasih?” Rachel bertanya sebelum sempat menghentikan dirinya sendiri.

Mrs. Cassel menghela napas tipis. Bukan kesal, juga bukan marah. Lebih seperti seseorang yang lelah menjelaskan hal yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami.

“Hubungan mereka… sulit dijelaskan, Rachel,” katanya jujur. “Saya tidak yakin kata apa yang paling tepat.”

Rachel menelan ludah. “Tuan Smith dan Nona Maria itu... sepertinya memang sangat dekat.”

“Ya,” jawab Mrs. Cassel singkat. Tidak terdengar defensif, melainkan hanya menyampaikan fakta yang ia ketahui.

“Apa dia sering datang ke sini?” Rachel bertanya lagi.

“Tidak,” jawab Mrs. Cassel. “Sudah lama sekali dia tidak muncul di rumah ini.”

Hanya itu. Tidak ada detail lain, atau cerita tambahan yang Rachel dengar tentang wanita bernama Maria Banderas itu. Dan dari sorot mata Mrs. Cassel, Rachel tahu bahwa sampai di situlah batasnya.

Rachel jelas merasa tidak puas. Bukan karena rasa ingin tahu semata, melainkan karena ada perasaan tertinggal yang semakin nyata. Jadi, ia mencoba satu pertanyaan terakhir, dengan nada yang lebih lembut.

“Mrs. Cassel… apakah Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Smith?”

Wanita itu menatap Rachel lebih lama kali ini. Ada sesuatu yang berubah dalam ekspresinya—kejujuran yang tidak lagi dilapisi formalitas.

“Saya tidak selalu tahu semuanya,” katanya akhirnya. “Dan bukan hanya saya. Tidak ada satu pun pelayan di rumah ini yang benar-benar tahu dunia Tuan Smith, Rachel.”

Rachel pun terdiam, dan mendengarkan.

“Dunia itu tertutup,” lanjut Mrs. Cassel. “Berlapis. Penuh hal-hal yang tidak dibicarakan. Kami bekerja di sini bertahun-tahun, tapi selalu ada batas yang tidak boleh dilewati.”

“Termasuk sekarang?” tanya Rachel pelan.

“Terutama sekarang,” jawabnya.

Rachel mengangguk. Jawaban itu tidak memberi kejelasan, tapi justru menegaskan sesuatu yang selama ini ia rasakan. Bahkan orang-orang yang setiap hari berada di sekitar Liam—yang menyiapkan makanannya, membersihkan rumahnya, dan memastikan hidupnya berjalan rapi—hidup dengan jarak yang disengaja. Dan jika mereka saja tidak pernah benar-benar masuk ke dunia itu, Rachel mulai bertanya-tanya posisi apa yang sebenarnya ia tempati.

Mrs. Cassel kembali mengenakan kacamatanya, pertanda percakapan telah selesai. “Sebaiknya kau kembali bekerja,” katanya lembut. “Hari sudah hampir malam.”

Rachel pun akhirnya menurut. Tapi langkahnya terasa lebih berat saat ia pergi.

Lalu, malam pun turun dengan tenang yang menyesakkan. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di dinding. Sementara itu, Maria Banderas masih di rumah. Rachel melihatnya sekali lagi dari kejauhan—sedang berbicara pelan dengan dokter di lorong atas, sebelum pintu kamar Liam akhirnya kembali tertutup.

Kini, Rachel berada di dalam kamarnya sendiri, yang malam ini entah kenapa terasa terlalu sunyi. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menatap tangannya sendiri. Pikirannya melayang kembali ke malam itu—ke darah di lantai, ke suara langkah tergesa, dan ke bayangan wajah Liam yang pucat dan tidak sadarkan diri. Semua terasa begitu dekat, seolah baru terjadi beberapa jam lalu.

Lalu wajah Maria muncul dalam benaknya. Wajah seorang wanita yang datang dengan kecemasan yang tampak begitu jelas, dan tanpa perlu meminta izin untuk peduli. Wajah seseorang yang jelas-jelas memiliki tempat di hidup Liam. Lalu wajah Liam sendiri muncul memenuhi benaknya—pria yang masih belum bisa ia lihat. Pria yang terbaring di balik pintu tertutup, dikelilingi dokter dan perawat, penjaga, dan orang dari masa lalunya.

Rachel menyadari sesuatu malam itu, dengan kejelasan yang menyakitkan. Liam memiliki dunia sebelum dirinya—masa lalu yang penuh hubungan, loyalitas, dan ikatan yang tidak ia pahami, juga rang-orang yang mencintainya dengan cara yang berbeda. Dunia itu tampak seperti dunia yang belum pernah Rachel masuki—dan mungkin tidak akan pernah.

Hingga malam itu, Maria Banderas datang membawa kecemasan, Rachel tinggal membawa pertanyaan, dan di antara mereka, ada seorang pria yang masih terbaring di balik pintu tertutup—menjadi pusat dari jarak yang sama-sama tidak bisa mereka lewati.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!