Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pagi itu, Bayu Saputra berdiri di depan cermin besar dengan senyum menyeringai. Ia mengenakan kemeja branded dan merapikan rambutnya dengan sangat teliti. Di matanya, tidak ada rasa bersalah, yang ada hanyalah ambisi yang gelap.
"Sekarang waktunya misi untuk menaklukkan hati Sheila! Sudah tidak ada lagi Devano, penghalang utama yang menghalangiku mendapatkan wanita itu," gumam Bayu. Kilatan obsesi yang mengerikan terpancar dari tatapannya. Ia merasa ini adalah kesempatannya untuk mengambil apa yang dulu tidak bisa ia miliki.
Namun, tanpa Bayu sadari, Sheila bukan lagi wanita rapuh yang sendirian. Kini ia dijaga ketat oleh Arkan—pria yang mencintainya dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun, bahkan tanpa menuntut Sheila untuk membalas cintanya.
Di dalam ruang rawat, suasana masih begitu sunyi dan hangat. Kedua manusia itu masih terlelap di atas brankar yang sama. Arkan tertidur dalam posisi duduk yang menyandar, sementara Sheila meringkuk aman dalam dekapan lengannya. Mereka saling mendekap, seolah saling menyalurkan kekuatan dalam mimpi masing-masing.
Ceklek.
Pintu terbuka pelan, menampilkan Risma dan Bunda Rini. Risma yang pertama kali melongokkan kepala langsung membelalakkan mata. Jantungnya nyaris copot melihat posisi intim sahabatnya dengan sang dokter.
"Upps! Bunda... sepertinya ada tontonan drakor romantis di dalam. Eh, maksud Risma, sepertinya mereka sedang sibuk belajar serius," bohong Risma dengan gugup, mencoba menghalangi pandangan Bunda Rini agar tidak masuk lebih jauh.
"Ada apa sih, Risma? Kita kan mau menjenguk Sheila. Jadi tidak apa-apa, kita masuk saja pelan-pelan supaya tidak mengganggu," ujar Bunda Rini heran, mencoba menggeser tubuh Risma.
Risma memutar otak dengan cepat. Ia tahu jika Bunda melihat adegan ini, Dokter Arkan bisa dalam masalah besar. Terlebih Bunda Rini masih sangat trauma dengan laki-laki setelah apa yang dilakukan Devano.
"Jangan, Bunda! Tadi Dokter Arkan bilang Sheila butuh konsentrasi penuh untuk terapi mentalnya pagi ini. Kita kembali lagi nanti sore saja ya, Bun? Ayo, Risma lapar banget, kita cari sarapan dulu!"
Dengan susah payah dan berbagai alasan, Risma akhirnya berhasil membujuk Bunda Rini untuk berbalik arah. Mereka memutuskan untuk pulang sementara waktu.
"Kamu ini ada-ada saja, Ris. Kita baru saja sampai, masa harus pulang lagi?" gerutu Bunda Rini sambil melangkah pergi.
Risma mengembuskan napas kasar, menyeka keringat dingin di dahinya. "Aduh, kalau Bunda lihat Sheila begitu, bisa mampus Dokter Arkan! Apalagi Bunda belum tahu apa-apa soal perasaan mereka," batin Risma penuh kecemasan.
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menari di atas lantai kamar rawat. Arkan terbangun lebih dahulu. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang menyilaukan.
Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat di dadanya. Saat menunduk, ia mendapati wajah cantik Sheila yang masih terlelap dalam dekapannya. Wajah itu tampak begitu tenang, jauh dari gurat ketakutan yang semalam sempat menghancurkannya. Dengan gerakan yang sangat lembut, Arkan menggerakkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut Sheila yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.
Sebuah senyum kecil muncul di wajah tampan Arkan. Ia menatap Sheila dengan binar yang tak bisa ia sembunyikan.
"Di saat seperti ini, kamu lebih cantik dari apa pun, Sheil," bisik Arkan sangat lirih, hampir seperti desahan napas.
Tiba-tiba, Sheila melenguh pelan. Bulu mata lentiknya bergetar sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan. Awalnya ia tampak bingung, namun detik berikutnya ia menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam pelukan seseorang. Sontak, Sheila mendongak, dan pada saat itulah tatapan mereka bertemu.
Waktu seolah berhenti berputar. Jantung Sheila berdegup kencang hingga ia merasa Arkan bisa mendengarnya. Posisi mereka begitu dekat, hingga napas Arkan terasa menerpa keningnya. Sheila terpaku, tenggelam dalam tatapan mata Arkan yang begitu dalam dan penuh arti—sebuah tatapan yang tidak lagi bicara soal pasien dan dokter, melainkan tentang dua jiwa yang mulai saling terpikat.
Sheila ingin bergerak menjauh karena malu, namun entah mengapa, pelukan Arkan terasa terlalu nyaman untuk dilepaskan begitu saja. Wajahnya mulai merona merah, sementara Arkan masih menatapnya dengan senyum yang belum pudar.
"Selamat pagi, calon dokter hebat," ucap Arkan lembut, memecah keheningan yang menyesakkan namun manis itu.
Sheila sempat tersentak kecil dan hendak menarik dirinya karena merasa tidak enak, namun tangan Arkan justru sedikit mengerat, menahan bahu Sheila agar tetap berada di tempatnya. Arkan tidak tampak panik atau malu; ia justru terlihat sangat tenang, seolah posisi ini adalah tempat paling alami di dunia baginya.
"Tunggu sebentar... tetaplah seperti ini," bisik Arkan lembut, suaranya masih parau khas orang yang baru bangun tidur.
Sheila terpaku, tangannya yang semula hendak mendorong dada Arkan kini justru meremas pelan jubah dokter pria itu. "Arkan... tapi ini di rumah sakit, bagaimana kalau ada yang lihat?" tanyanya dengan suara bergetar dan wajah yang sudah sepenuhnya memerah.
Arkan terkekeh pelan, sebuah getaran di dadanya yang bisa dirasakan langsung oleh Sheila. Ia menunduk, menatap Sheila dengan sorot mata yang begitu teduh.
"Biarkan untuk beberapa menit saja, aku ingin memastikan kalau ketakutanmu semalam sudah benar-benar hilang," ujar Arkan tulus. Ia mengusap punggung Sheila dengan ibu jarinya secara perlahan. "Aku ingin kamu bangun pagi ini dengan perasaan bahwa kamu tidak sendirian. Ada aku di sini."
Sheila perlahan merilekskan tubuhnya. Rasa malu yang tadi menyerang perlahan berganti dengan rasa hangat yang menjalar ke seluruh hatinya. Ia menyandarkan kembali kepalanya di dada Arkan, mendengarkan detak jantung pria itu yang ternyata sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri.
"Terima kasih, Arkan," bisik Sheila sambil memejamkan mata, menikmati perlindungan yang diberikan Arkan. "Semalam... aku sangat takut. Tapi sekarang, aku merasa jauh lebih baik."
Cup!
Arkan mencium puncak kepala Sheila dengan lembut—sebuah kecupan yang penuh dengan janji dan perlindungan, bukan sekadar nafsu. "Jangan takut lagi. Selama ada aku, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitimu, termasuk Bayu atau siapa pun dari masa lalumu."
Momen hening itu terasa sangat berharga bagi mereka berdua. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, mereka menemukan kehangatan yang baru, sebuah awal dari hubungan yang jauh lebih kuat dari sekadar dokter dan pasien.
Sheila mendongak, mencoba memasang wajah serius meskipun rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan. "Arkan, sudah... Lepaskan dulu. Aku takut ada orang lain yang masuk. Bagaimana kalau mereka berpikir kamu dokter yang tidak baik, yang sedang mencoba merayu pasiennya sendiri?" ucap Sheila setengah bercanda, meski ada nada khawatir dalam suaranya.
Arkan tidak langsung melepaskan pelukannya. Ia justru terkekeh kecil, suara tawanya terdengar renyah di pagi yang tenang itu. Ia merasa gemas melihat bagaimana Sheila mencoba bersikap dewasa di tengah situasi yang canggung namun manis ini.
"Biarkan saja mereka berpikir begitu," sahut Arkan jahil. "Lagi pula, aku memang sedang mencoba merayu... merayu calon dokter masa depan supaya cepat sembuh."
Arkan kemudian mencubit hidung Sheila dengan sangat gemas, membuat wanita itu meringis pelan sambil tertawa. "Baiklah, Nyonya Dokter. Aku menyerah. Aku tidak mau reputasiku hancur sebelum kita sempat bekerja di rumah sakit yang sama."
Perlahan, Arkan merenggangkan pelukannya dan membantu Sheila duduk dengan nyaman di brankar. Ia berdiri, merapikan kembali jubah dokternya yang sedikit kusut karena tidur tadi malam, lalu mengusap rambut Sheila sekali lagi.
"Aku akan ke ruang jaga sebentar untuk membersihkan diri dan mengambilkan sarapan untukmu. Jangan ke mana-mana, dan... jangan pikirkan bunga itu lagi, oke?" pesan Arkan dengan tatapan yang kembali serius namun hangat.
Sheila mengangguk patuh. "Iya, Arkan. Hati-hati."
Saat Arkan melangkah menuju pintu dan membukanya, ia tidak tahu bahwa di ujung koridor, seseorang sedang berjalan mendekat dengan buket bunga lain dan senyum palsu yang mematikan. Bayu sudah sampai di rumah sakit, dan ia tidak akan senang melihat pemandangan keakraban yang baru saja terjadi.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/