NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Sejak hari konsultasi terakhir itu, Aurora berubah. Perubahannya tidak drastis, tidak banyak. Namun, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dirinya sendiri merasa asing di dalam tubuhnya sendiri.

Ia masih bisa memaksakan diri untuk tersenyum di depan orang lain. Masih pergi menghadiri kelas kuliah, masih bekerja sif paruh waktu di kafe, dan masih menghabiskan waktu bersama Alexander Kingsley seolah semuanya baik-baik saja.

Namun, setiap kali ia sendirian dan keheningan mulai menyergap, ia selalu teringat ekspresi dokter hari itu. Ekspresi yang terlalu hati-hati, terlalu penuh simpati, seolah ada sesuatu yang sengaja ditahan dan tidak diucapkan. Dan justru karena ketidaktahuan itulah, rasa takut di dalam diri Aurora tumbuh kian membesar.

---

Malam itu, Aurora duduk berhadapan dengan Alexander di restoran favorit mereka. Biasanya, ia akan menjadi pihak yang paling banyak bicara, menggoda ekspresi kaku pria itu, atau tertawa renyah karena hal-hal sepele.

Namun malam ini berbeda. Pikiran Aurora melayang jauh, mengabaikan suasana hangat di sekitar mereka.

"Kamu melamun lagi," suara berat Alexander tiba-tiba memecah lamunannya.

Aurora langsung tersentak, mengerjapkan matanya linglung. "Hah? Apa, Alex?"

Alexander menyipitkan sepasang mata tajamnya, menatap Aurora lurus-lurus dengan pandangan menyelidik. "Kamu aneh akhir-akhir ini, Aurora."

Deg.

Jantung Aurora berdegup kencang. Ia mati-matian memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya. "Aku cuma capek, Alex."

Alexander tampak tidak memercayai alasan klasik itu. Namun, ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Pria itu hanya mengulurkan tangan tegapnya melewati meja, menggenggam jemari Aurora. Genggaman yang hangat dan tenang, namun entah kenapa justru membuat dada Aurora terasa semakin sesak.

"Kalau ada masalah apa pun, cerita sama aku," ujar Alexander dengan nada rendah yang tulus.

Aurora langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan intens pria itu. Di dalam hatinya, ia meringis perih. Ia sendiri bahkan tidak tahu harus bercerita apa, karena ia belum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Bagaimana jika semua ketakutanku ini hanya berlebihan? Bagaimana jika ternyata hasil tesnya nanti menyatakan tidak ada apa-apa? Aurora mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, firasat buruk itu tetap keras kepala menetap di sana.

---

Dua hari kemudian, pihak rumah sakit kembali menghubunginya. Rangkaian pemeriksaan lanjutan terakhir telah dijadwalkan secara resmi.

Aurora membaca pesan masuk itu berkali-kali. Tangannya perlahan mengepal erat di atas pangkuan. Entah kenapa, ada sebuah intuisi kuat yang berbisik bahwa hidupnya akan berubah total setelah hari itu. Dan firasat pekat tersebut seketika membuatnya merasa sulit untuk sekadar bernapas.

Hari pemeriksaan yang mendebarkan akhirnya tiba. Aurora datang kembali ke rumah sakit pusat New York sendirian. Ia sengaja tidak memberi tahu Alexander, tidak memberi tahu Lily, tidak memberi tahu siapa pun. Karena kali ini, ia ingin mendengar dan menghadapi semuanya dengan kedua telinganya sendiri terlebih dahulu.

Beberapa jam berlalu bagai siksaan yang berjalan lambat. Pemeriksaan demi pemeriksaan medis yang spesifik selesai dilakukan. Waktu terasa bergulir begitu pekat, hingga akhirnya, Aurora kembali terduduk di kursi yang sama, di depan dokter yang sama.

Ruangan praktik bernuansa putih bersih itu terasa begitu sunyi dan mencekam. Dokter spesialis paruh baya di hadapannya membuka map berkas pemeriksaan terbaru. Ia membacanya dengan saksama dalam keheningan, lalu kembali membaca lembaran itu untuk kedua kalinya, dan ketiga kalinya.

Deg.

Jantung Aurora mulai berdebar semakin cepat, menciptakan ritme panik yang tak beraturan.

"Dokter..." suara Aurora terdengar teramat pelan, hampir berupa bisikan. "Hasilnya... bagaimana?"

Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia perlahan menutup berkas di tangannya, kemudian menatap Aurora cukup lama. Sebuah tatapan berat yang seketika membuat perut Aurora terasa mual karena didera rasa cemas yang luar biasa.

"Aurora," dokter itu menarik napasnya perlahan, mengembuskannya dengan berat. "Saya ingin Anda tetap tenang."

Air mata seketika langsung menggenang di pelupuk mata Aurora, bahkan sebelum ia mendengar penjelasan apa pun. Karena entah mengapa, tubuhnya seolah-olah sudah memahami sesuatu yang buruk lebih dulu lewat firasatnya.

Dokter itu kembali membuka lembar laporan medis di atas meja. "Kami menemukan beberapa indikasi dari hasil laboratorium yang perlu mendapat perhatian serius dari kita."

Deg.

Aurora refleks menggenggam erat pinggiran kursinya. "Indikasi... indikasi apa, Dok?"

Dokter paruh baya itu tampak memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, seolah takut kalimatnya akan langsung menghancurkan pertahanan pasien mudanya. "Untuk saat ini, saya belum bisa memberikan kepastian atau diagnosis mutlak kepada Anda."

"Lalu?" kejar Aurora, suaranya mulai bergetar.

"Karena masih ada beberapa kemungkinan klinis lain yang harus kami pertimbangkan dan cocokkan kembali dengan tim ahli," jawab dokter itu dengan tenang.

Aurora menatap sang dokter tanpa berkedip sedikit pun. Jantungnya terasa semakin berat menghantam rongga dadanya. "Apakah... apakah ini sesuatu yang berbahaya? Mengancam nyawa saya?"

Dokter itu menggelengkan kepalanya pelan, memberikan senyum tipis yang sarat akan empati. "Bukan sesuatu yang akan mengancam keselamatan jiwa Anda secara instan, Nona Quinn."

Aurora sempat mengembuskan napas lega yang pendek. Namun, rasa lega yang semu itu sama sekali tidak bertahan lama. Karena sedetik kemudian, dokter itu kembali menyambung kalimatnya dengan nada melandai,

"Tetapi, kondisi indikasi ini bisa berdampak cukup besar pada beberapa rencana hidup yang mungkin Anda miliki di masa depan."

Deg.

Dunia di sekitar Aurora seolah berhenti berputar sesaat. Ia tidak mengerti istilah medisnya, namun cara dokter mengatakannya dengan penuh kehati-hatian justru membuat ketakutan di dalam dadanya membengkak berkali-kali lipat.

"Rencana hidup?" tanya Aurora lirih, menuntut kejelasan.

Dokter itu terdiam sesaat, menatap iba ke arah Aurora, lalu menggeleng pelan. "Saya belum ingin membuat Anda khawatir atau memikirkan hal yang belum benar-benar pasti sekarang. Tolong persiapkan fisik Anda untuk kontrol minggu depan, ya?"

Aurora hanya bisa menundukkan kepalanya perlahan. Tangannya di bawah meja gemetar hebat. Karena untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, ia merasa ada sesuatu yang amat berharga sedang runtuh di dalam dirinya, meskipun ia bahkan belum mengetahui apa bentuk aslinya.

---

Beberapa menit kemudian, Aurora melangkah keluar dari ruang dokter dengan tatapan kosong. Di dalam dekapannya, terdapat sebuah map besar berisi hasil pemeriksaan sementara dan jadwal kontrol berikutnya. Namun, ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membuka satu lembar pun di dalamnya.

Saat ia melangkah menyusuri koridor lobi utama, ponsel di dalam saku mantelnya tiba-tiba bergetar hebat.

Alexander Calling...

Nama pria itu muncul di layar, bersinar terang di tengah kegelapan pikiran Aurora. Aurora menghentikan langkahnya, menatap layar ponsel itu cukup lama. Sangat lama. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengusap cepat setitik air mata yang hampir saja jatuh melewati pipinya.

Baru setelah berhasil menguasai suaranya, ia menggeser layar dan menjawab panggilan itu. "Halo, Alex?"

"Udah selesai?" suara berat Alexander langsung terdengar dari seberang telepon, menyiratkan kehangatan yang familiar.

Aurora memejamkan matanya rapat-rapat dalam satu kedipan cepat. Ekspresi serius dokter beberapa menit lalu kembali terbayang di kepalanya. Keheningan panjang itu, kalimat yang menggantung, dan cara dokter menghindari jawaban lugasnya seolah berputar tanpa ampun.

"Udah," jawab Aurora seringan mungkin.

"Gimana hasilnya?" tanya Alexander lagi.

Suasana mendadak hening. Satu detik. Dua detik. Aurora menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat, sebelum akhirnya ia meluncurkan kebohongan besar pertamanya.

"Belum ada apa-apa, Alex. Dokter bilang semuanya normal."

Di seberang sana, Alexander terdengar mengembuskan napas lega yang panjang. "Syukurlah kalau begitu. Pulanglah, istirahat di apartemen."

Aurora menahan napasnya yang mendadak terasa sesak. "Iya, Alex."

Ia segera mematikan sambungan telepon. Aurora tahu ia tidak yakin apakah kalimat "syukurlah" itu benar-benar berlaku untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!