Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Sirine ambulans mulai meraung, membelah jalanan kota yang seolah tidak peduli dengan duka yang sedang diangkutnya. Di depan ruang jenazah tadi, terjadi perdebatan singkat yang kaku. Dewangga bersikeras ingin ikut masuk ke dalam ambulans menemani istrinya, namun Siham menggeleng tegas.
"Mas bawa mobil sendiri saja. Papa dan Mama butuh Mas untuk memandu jalan ke TPU desa," ucap Siham datar. Suaranya tidak bisa dibantah.
Dewangga sempat terpaku, tangannya yang hendak membuka pintu belakang ambulans tertahan di udara. Ia ingin memprotes, ingin menunjukkan bahwa sebagai suami, dialah yang seharusnya duduk di samping Siham. Namun, tatapan Siham begitu dingin dan tertutup, seolah ada dinding kaca tebal yang tidak membiarkan Dewangga masuk lebih jauh ke dalam dukanya. Akhirnya, Dewangga mundur dengan rasa sesak di dada, membiarkan Pak Heru yang naik ke dalam mobil jenazah itu.
Begitu pintu ambulans tertutup rapat dan kendaraan itu mulai melaju, suasana hening di dalam kabin yang sempit itu mendadak berubah. Aroma mawar dan kapas yang menyengat seolah memicu sesuatu yang sudah lama Siham kunci di dasar hatinya.
Siham menatap keranda yang ditutupi kain hijau di hadapannya. Di bawah kain itu, Ayahnya dunianya terbaring diam untuk selamanya.
Suara isak tangis yang tertahan selama di rumah sakit tadi akhirnya meledak.
Siham menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis sejadi-jadinya. Tangisan itu bukan sekadar tangisan sedih karena itu adalah tangisan pilu yang terdengar seperti jeritan jiwa yang sudah hancur berkeping-keping.
"Ayah... Yah..." Siham memanggil dengan suara parau di sela isakannya.
Pak Heru, yang duduk di seberangnya, tidak bisa menahan air mata. Ia melihat bagaimana bahu wanita kecil itu berguncang hebat. Pak Heru tahu betul betapa berat beban yang dipikul Siham selama lima tahun ini. Ia tahu bagaimana Ayah Siham selalu membanggakan Dewangga di setiap kesempatan, bercerita betapa beruntungnya Siham memiliki suami kaya dan terpandang, tanpa pernah tahu bahwa putrinya hidup seperti burung dalam sangkar emas yang dingin.
"Sabar, Ham... Sabar, Nak," ucap Pak Heru dengan suara bergetar. Ia mendekat dan merangkul bahu Siham, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh kepedihannya di pundak baju ladangnya yang kasar.
"Aku sendirian, yah... Sekarang aku benar-benar sendirian," raung Siham di pelukan Pak Heru. Ia menangis bukan hanya karena kehilangan Ayah, tapi karena ia tahu bahwa di rumah mewahnya nanti, tidak ada lagi pelukan yang tulus seperti ini. Ia menangis karena penyakit yang menggerogotinya, dan karena ia harus menghadapi maut tanpa ada lagi doa Ayah yang menyertainya.
Pak Heru mengusap kepala Siham dengan kebapakan. "Kamu tidak sendirian, Ham. Anggap Bapak dan Ibu di rumah sebagai orang tuamu sendiri. Jangan sungkan pulang. Pintu rumah Bapak selalu terbuka untukmu, kapan pun kamu butuh tempat bersandar."
Tangisan Siham semakin kencang mendengar tawaran tulus itu. Di dalam ambulans yang berguncang itu, Siham merasa seolah ia kembali menjadi anak kecil yang baru saja kehilangan arah. Sirine yang meraung di luar seolah mewakili jeritan hatinya yang tidak sanggup lagi berkata-kata.
Perjalanan itu terasa sangat singkat. Ambulans akhirnya memasuki area TPU desa yang asri. Siham menghapus air matanya, mencoba menenangkan diri sebelum pintu dibuka. Ia tidak ingin Dewangga melihat bekas kerapuhannya.
Begitu pintu ambulans dibuka, pemandangan di depan mata membuat Siham tertegun. Ratusan warga desa sudah berkumpul di sekitar liang lahat yang sudah digali rapi di samping makam Bundanya. Dan yang membuat hatinya sedikit menghangat, di barisan depan, tampak Pak Hendra, Maya, dan hampir seluruh tim redaksi kantornya sudah berdiri di sana dengan pakaian serba hitam.
Dewangga, Papa dan Mamanya juga sudah sampai. Dewangga menatap Siham dengan pandangan yang sulit diartikan saat istrinya turun dari ambulans dengan mata yang sembab dan hidung yang merah. Ia ingin mendekat, tapi Siham lebih dulu disambut oleh Maya yang langsung memeluknya erat.
"Bu Siham, kami turut berduka sedalam-dalamnya," bisik Maya dengan suara serak.
"Terima kasih Maya dan semuanya." Jawab Siham singkat.
Prosesi pemakaman dimulai. Suasana sangat khidmat, hanya terdengar suara lantunan doa dan isak tangis tipis dari kerabat. Saat jenazah Ayahnya perlahan diturunkan ke liang lahat, Siham berdiri mematung di pinggir liang. Ia menatap tanah yang mulai menutupi keranda itu.
Dewangga berdiri tepat di belakangnya, tangannya ragu-ragu hendak menyentuh bahu Siham, namun ia melihat Siham mengepalkan tangannya kuat-kuat. Siham sedang berusaha keras untuk tidak jatuh pingsan.
"Selamat tinggal, Yah," batin Siham saat gumpalan tanah terakhir menutup makam itu. "Terima kasih sudah menjagaku sampai titik ini. Sekarang, biarkan Siham menyelesaikan urusan Siham di dunia. Sebentar lagi, Siham akan pulang ke rumah yang sesungguhnya... ke tempat Ayah dan Bunda."
Setelah nisan kayu tertancap, satu per satu pelayat mulai menaburkan bunga. Pak Hendra menyalami Siham dengan penuh hormat, mengisyaratkan bahwa kantor akan selalu mendukungnya. Namun, di tengah keramaian itu, Siham merasa sangat sunyi.
Ia menoleh ke arah Dewangga yang berdiri kaku di sampingnya. Pria itu tampak tidak nyaman berada di tengah kerumunan warga desa, namun ia bertahan demi citra di depan orang tuanya. Siham tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung arti akhir dari segalanya.
Kehilangan Ayah adalah bab terakhir yang menghancurkan naskah kesabarannya. Kini, Siham benar-benar sudah siap untuk melepaskan semuanya. Tidak ada lagi hutang budi yang harus dibayar, karena alasan ia bertahan sang Ayah kini sudah tenang di sisi-Nya.
Malam nanti, Siham tahu, ia tidak akan lagi pulang ke rumah Dewangga dengan perasaan yang sama. Ia akan pulang untuk mengemas sisa-sisa hidupnya yang singkat.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor