Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas di Pagi Hari dan Balasan yang Elegan
Selasa pagi di SMA Pelita Bangsa terasa sedikit lebih sejuk berkat sisa hujan semalam. Namun, ketenangan di koridor utama lantai dua mendadak menguap begitu Alisha melangkah masuk. Dengan seragam putih yang kembali bersih dan wangi—berkat perjuangannya mencuci sendiri semalaman—Alisha berjalan dengan dagu tegak. Dan yang paling mencolok, jepit plastik kecil berbentuk kepala beruang berwarna cokelat itu masih bertengger manis di poni rambutnya.
Dari arah berlawanan, Ivanka dan Siska sedang berjalan beriringan. Begitu melihat siluet Alisha, langkah kaki Ivanka langsung melambat. Sebuah senyuman licik dan penuh kemenangan terukir jelas di wajahnya yang berlapis skincare mahal. Ivanka merasa di atas angin; ia mengira Alisha pagi ini akan datang dengan wajah tertunduk, trauma, atau minimal menangis bombay setelah diguyur air cucian pel kemarin sore.
Saat jarak mereka hanya tersisa dua meter, Ivanka sengaja menghentikan langkahnya tepat di tengah koridor, memaksa Alisha untuk ikut berhenti jika tidak mau menabraknya.
"Aduhh... pagi ini perasaan cerah banget deh. Tapi kok mendadak langitnya jadi burem ya karena kedatangan seseorang?" ucap Ivanka dengan nada sarkas yang sengaja dikeraskan, memancing perhatian beberapa murid yang baru datang.
Siska yang berdiri di sampingnya langsung menyilangkan tangan di dada, ikut memanas-manasin situasi dengan tawa renyah yang dibuat-buat. "Iya nih, Van. Padahal tadi pagi gue udah semangat banget, eh sekarang mendadak kecium bau-bau apak kusam gimanaaa gitu."
Alisha menghentikan langkahnya. Ia menatap malas ke arah dua gadis di depannya. Tidak ada kepanikan, tidak ada binar ketakutan di sepasang mata bulat besarnya yang jernih. Alisha justru berdiri dengan santai, menatap Ivanka seolah sedang melihat badut sirkus yang kekurangan panggung.
Melihat Alisha yang sama sekali tidak terpengaruh, mata Siska mendadak tertuju pada poni Alisha. Ia langsung menunjuk jepit beruang cokelat yang dipakai gadis itu dengan nada mengejek yang kental.
"Eh, liat deh, Van! Itu jepit rambut apaan sih? Beruang cokelat norak begitu masih aja dipake ke sekolah," ledek Siska sambil tertawa meremehkan. "Tapi dipikir-pikir pas juga sih sama lo, Sha. Warnanya sama-sama... cokelat keruh gimana gitu. Serasi banget sama warna kulit lo, hamba ralat!"
Mendengar hinaan fisik yang kembali dilontarkan, Alisha tidak lagi merasa sakit hati seperti dulu. Alih-alih merona karena malu, Alisha justru teringat dengan strateginya semalam. Ia mengulum senyum tipis, lalu sebuah ide brilian untuk memutarbalikkan keadaan mendadak muncul di kepalanya.
Alisha sengaja menyentuh jepit beruang cokelat di kepalanya dengan gerakan yang lembut, lalu menatap Ivanka dan Siska bergantian dengan tatapan yang mendadak berubah sangat percaya diri.
"Oh, jepit ini?" ucap Alisha, suaranya terdengar renyah dan begitu tenang di sepanjang koridor. "Iya kan, Sis? Cocok banget di gue, kan? Makanya Shaka ngasih jepit ini ke gue. Shaka emang paling tahu deh apa yang cocok dan kelihatan imut buat gue."
DEG!
Kalimat Alisha yang meluncur dengan begitu santai namun sarat akan penekanan itu bak petir di siang bolong bagi Ivanka. Senyum licik di wajah Ivanka seketika runtuh, digantikan oleh ekspresi syok yang luar biasa.
"L-lo ngomong apa tadi?!" tuntut Ivanka, suaranya meninggi satu oktav, tidak mampu lagi menyembunyikan kepanikan dan rasa cemburunya yang membakar dada. "Shaka... Shaka yang ngasih itu ke lo?! Gak usah halu ya lo, Lalet!"
Alisha tidak membalas dengan amarah. Ia justru mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Ivanka, lalu melemparkan senyuman smirk paling mematikan yang ia miliki. Sepasang matanya yang indah berkilat penuh kemenangan saat melihat wajah Ivanka yang mulai berubah merah padam menahan dongkol.
"Kalau gak percaya, tanya aja langsung sama orangnya. Tapi... lo berani emangnya nanya ke Shaka?" tantang Alisha lantang, sukses membalikkan keadaan dalam sekejap.
Tepat pada detik itu, sebuah langkah kaki yang tegap terdengar dari arah tangga. Sosok cowok jangkung dengan seragam rapi dan tas yang tersampir di satu bahu muncul. Shaka. Cowok itu kebetulan baru saja tiba dan hendak berjalan menuju kelas mereka melewati koridor yang sama.
Melihat kesempatan emas itu datang, mata Alisha langsung berbinar licik. Tanpa ragu-ragu dan tanpa membuang waktu, Alisha langsung berbalik arah memunggungi Ivanka, lalu berjalan cepat menghampiri Shaka.
Greeb.
Sebelum Shaka sempat mencerna situasi di koridor, Alisha sudah melangkah maju dan langsung memegang punggung tangan Shaka dengan erat. Tindakan nekat dan tiba-tiba itu sukses membuat Shaka tersentak kaget. Langkah kaki cowok kulkas itu terhenti seketika, matanya melebar menatap tangan Alisha yang bertengger di kulitnya. Ada sengatan hangat yang mendadak menjalar ke dadanya, membuat jantung Shaka berdegup satu kali lebih kencang karena senang, walau wajahnya mati-matian berusaha tetap cool.
"Hay Shakaaa... mau ke kelas yah? Bareng gue yuk!" ajak Alisha dengan nada suara yang sedikit diimut-imutkan, lengkap dengan kerlingan sepasang matanya yang sengaja dibuat semanis mungkin.
Alisha sengaja melakukan akting totalitas itu demi memancing emosi Ivanka agar semakin meledak di tempat.
Shaka yang mendadak disuguhi pemandangan Alisha yang bersikap super manis dan manja di depan umum hanya bisa diam terpaku. Otaknya sempat blank sesaat melihat tangan mereka yang bertautan. Namun, begitu melirik ke arah Ivanka dan Siska yang berdiri dengan wajah kaku di ujung koridor, Shaka langsung paham kalau "singa betinanya" ini sedang menggunakan dirinya sebagai tameng untuk membalas dendam.
Alih-alih melepas genggaman itu atau bersikap dingin seperti biasanya, Shaka justru membiarkan tangannya tetap digenggam erat oleh Alisha. Sudut bibirnya perlahan terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman kecil yang sangat langka ke arah Alisha. Tatapan mata elangnya melembut, seolah memberikan persetujuan penuh untuk rencana licik gadis itu.
Melihat Shaka yang diam dan justru membalas senyuman Alisha dengan begitu manis, Ivanka yang menonton dari kejauhan langsung menghentakkan kakinya ke lantai dengan histeris. Wajahnya merah padam sempurna karena terbakar api cemburu yang luar biasa. Rencana menjatuhkan Alisha pagi ini gagal total, digantikan oleh pemandangan genggaman tangan yang sukses membuat dada Ivanka terasa mau pecah.