NovelToon NovelToon
Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyesalan Suami
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Unamed

Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.

Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.

Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"

Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!

!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Internet Banyak Pria Berotot

Valeria Francesca merasa wajahnya memanas hingga rasanya hampir mengeluarkan uap. Sebelumnya Alessandro selalu menghindar, tapi sekarang pria itu malah memamerkan bentuk tubuhnya tanpa ragu. Otot dada yang bidang dan kokoh itu terpampang jelas di depannya, membuat jantung Valeria berdebar tidak karuan. Ditambah lagi, tatapan intens pria itu dari atas memberikan tekanan yang luar biasa.

Valeria langsung menjatuhkan diri ke kasur, menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya, lalu bersuara tertahan, "Aku sudah puas melihatnya. Cepat matikan lampunya!"

Cukup lama keheningan melanda sebelum akhirnya terdengar suara sakelar lampu dimatikan. Sesaat kemudian, permukaan kasur terasa amblas saat Alessandro ikut naik ke tempat tidur.

Kamar kembali sunyi. Valeria perlahan mengintip dari balik selimut, mengembuskan napas lega setelah memastikan ruangan benar-benar gelap gulita.

Tiba-tiba, suara bariton Alessandro terdengar datar, tepat di dekat telinganya. "Valeria, bukankah sebelumnya kamu protes karena saya selalu menghindar? Sekarang setelah saya izinkan melihat, kenapa kamu malah sembunyi?"

Seperti pencuri yang tertangkap basah, Valeria bingung harus bersembunyi lagi atau menjawab. "Aku... aku kan cuma malu," sahutnya canggung.

"Kamu tidak malu saat melihat pria berotot di internet?"

Valeria langsung bungkam. Bagaimana bisa pria ini masih mengingat hal itu?!

"Itu kan berbeda!" kilah Valeria terbata-bata. "Di internet itu cuma lewat layar ponsel. Kalau berhadapan langsung denganmu... rasanya berbeda."

Alessandro menatapnya dalam kegelapan. "Berbeda seperti apa?"

Mata mereka beradu, membuat jantung Valeria berpacu semakin cepat. Alessandro mendadak mendekat, membuat jantung Valeria serasa melompat ke tenggorokan. Spontan, ia mengulurkan tangan menahan dada bidang pria itu. "K-kamu mau apa?"

Gerakan Alessandro terhenti. Ia menatap tangan dingin dan lembut Valeria yang menempel di dadanya. Jemari pria itu bergerak samar tanpa menarik diri ataupun bertindak tidak sopan. Ia hanya berkata dengan nada dingin seperti biasa, "Tidak ada."

Setelah jeda sesaat, ia menambahkan, "Saya hanya ingin memperjelas situasi, agar kamu tidak menuduh saya pelit lalu malah mencari pria lain di luar."

Kepanikan Valeria sedikit mereda. Ternyata hanya karena itu. Ia sempat mengira Alessandro akan menciumnya. Tapi kalau dipikir-pikir itu mustahil; Alessandro tidak memiliki ketertarikan pada pemilik tubuh asli, apalagi berinisiatif untuk intim.

Valeria bergumam lirih, "Aku juga bukan orang yang tidak masuk akal. Aku cuma malu melihatnya, bukan karena menganggapmu pelit. Sudah, kan?" Ia memberi isyarat agar Alessandro mundur sedikit.

Alessandro diam, lalu menarik diri dan kembali berbaring di posisinya. Kamar kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas mereka berdua. Valeria memejamkan mata dengan detak jantung yang masih tidak beraturan. Ia terjaga hingga larut malam sebelum akhirnya bisa tertidur, dihantui mimpi acak tentang ingatan pemilik tubuh asli dan alur novel di masa depan.

Beberapa hari berikutnya berlalu dengan tenang. Valeria sesekali datang ke kantor mengantarkan bubur hangat untuk Alessandro, lalu pulang bersama setelah jam kerja selesai. Segala perhatian itu membuahkan hasil; sejak Sekretaris Susan ditegur hari itu, wanita tersebut jarang terlihat berkeliaran di sekitar mereka.

Setelah rutin merawat lambungnya, Alessandro melakukan pemeriksaan ulang di rumah sakit. Dokter menyatakan kondisinya sudah membaik dan hanya perlu menjaga pola makan serta istirahat yang cukup.

Valeria merasa sangat lega. Akhirnya ia tidak perlu repot-repot mencari poin impresi baik setiap hari. Karena memiliki waktu luang, ia akhirnya menerima ajakan Meisya dan Jovanka untuk berkumpul dan bermain mahjong.

Di tempat berkumpul, Jovanka langsung menatap Valeria dengan senyum penuh arti. Valeria yang seketika teringat insiden memalukan malam itu langsung menyenggol lengan sahabatnya dengan kesal. "Jangan melihatku seperti itu. Ini semua gara-gara kamu, aku jadi kehilangan muka di depan Alessandro."

Jovanka terkekeh geli. "Memangnya kenapa? Bisa saja Alessandro juga suka menonton video seperti itu."

Bayangan Alessandro yang mengenakan setelan jas formal sedang serius menonton video dewasa langsung melintas di benak Valeria. Rasanya sangat aneh dan sama sekali tidak cocok dengan karakternya yang kaku. "Dia tidak menonton hal seperti itu," bantah Valeria spontan.

Jovanka mendengus tidak percaya. "Mana mungkin? Pria mana yang tidak suka menontonnya? Coba saja periksa ponselnya diam-diam nanti, jangan-jangan koleksinya jauh lebih banyak dariku."

Melihat Jovanka semakin bersemangat, Valeria segera mengalihkan pembicaraan. "Sudah, jangan bahas hal tidak bermutu ini. Ayo fokus main!"

Mereka pun asyik bermain sambil mengobrol santai. Meisya tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh ya, kalian sudah dengar belum? Tuan Muda Kevin dan Clara putus."

Mendengar itu, Jovanka langsung tertarik hingga lupa membuang balok mahjongnya. "Benarkah? Bukankah mereka sudah lama bersama?"

Meisya menjawab, "Aku mendengar kabar ini langsung dari pasanganku, jadi pasti akurat. Semua orang di lingkaran kita sudah tahu."

Jovanka mendengus puas. "Hmph, memang sudah seharusnya putus! Kemarin dia merasa paling hebat di depan kita hanya karena bersandar pada Kevin. Sekarang rasakan sendiri rasanya dicampakkan."

Valeria bertanya penasaran, "Hubungan mereka kelihatan baik-baik saja, kenapa mendadak putus?"

Meisya menganggapnya sebagai hal biasa. "Bukankah lingkaran kita memang seperti itu? Para pria kaya itu berpacaran hanya untuk mencari suasana baru. Begitu bosan, mereka akan langsung mencari target berikutnya."

Mendengar hal itu, Valeria otomatis teringat Alessandro. Pria itu sangat berbeda dari komplotan Kevin. Alessandro tidak pernah bermain di luar, menjaga dirinya tetap bersih, dan hanya fokus pada pekerjaan. Ia selalu bersikap sopan dan penuh kendali. Sayang sekali, pria sebaik itu bukanlah miliknya yang sebenarnya. Valeria menghela napas pendek.

Selesai bermain mahjong, mereka bertiga sepakat menikmati teh sore di sebuah mal mewah yang baru dibuka. Saat sedang asyik mengobrol di koridor lantai atas, seorang wanita mendadak menghadang jalan mereka.

Itu adalah Clara.

Melihat kehadirannya, mereka bertiga saling berpandangan. Meisya menjadi orang pertama yang menyapa dengan ramah, "Kebetulan sekali, kamu sedang berbelanja di sini juga?"

Clara bahkan tidak melirik Meisya. Sepasang matanya menatap tajam ke arah Valeria dengan penuh kebencian.

"Valeria Francesca, berani-beraninya kamu tidak tahu malu! Belum puas mendapatkan Alessandro, sekarang kamu mau merebut priaku juga?!"

Valeria bingung total. "Apa yang kamu bicarakan?"

"Jangan pura-pura bodoh!" ketus Clara kesal. "Kevin memutuskanku, dan itu semua karena kamu!"

Valeria merasa hal ini sangat konyol. "Apa hubungannya keputusan Kevin memutusakanmu dengan diriku?"

"Nggak ada hubungannya?" Clara tertawa sinis. "Kemarin dia terus-menerus berusaha mencari muka di depanmu, dan sekarang dia mendadak mencampakkanku. Kamu masih berani bilang tidak ada hubungannya?!"

Valeria hampir tertawa mendengar logika aneh tersebut. Ia membalas dengan tajam, "Maksudmu, aku akan mengabaikan pria yang berada di puncak piramida seperti Alessandro Dirgantara, hanya demi merayu kekasihmu yang status dan posisinya jauh di bawahnya?"

Wajah Clara seketika pucat pasi. "Siapa tahu kamu tipe wanita serakah yang tidak pernah puas! Lagipula, bisa saja Alessandro sudah bosan dan mau mencampakkanmu, makanya kamu buru-buru mencari cadangan dengan merayu Kevin!"

Valeria malas meladeninya lebih jauh dan berniat pergi. Namun, Clara terus menghadang jalannya. "Mau kabur ke mana?! Kamu merasa bersalah, kan? Aku tahu kamu dan Kevin pasti ada main di belakang! Jelaskan padaku sekarang!"

Meisya dan Jovanka segera maju untuk melerai, namun Clara terus berteriak histeris hingga memancing perhatian pengunjung di sekitar mereka.

Di belahan koridor lain, Alessandro sedang melakukan inspeksi di mal baru milik Dirgantara Group tersebut. Manajer umum mal berjalan mendampinginya, melaporkan data pengunjung, pendapatan setiap lantai, hingga sistem keamanan yang diterapkan.

Saat rombongan direksi berjalan menyusuri koridor lantai atas untuk memeriksa toko-toko, mereka mendadak mendengar suara keributan yang tidak jauh dari sana.

"Pak CEO Alessandro, tampaknya ada beberapa pengunjung yang sedang bertengkar," lapor Roni dengan suara rendah.

Alessandro awalnya tidak berniat memedulikan masalah sepele seperti itu. Mal yang ramai tentu wajar memiliki konflik kecil yang bisa diselesaikan oleh petugas keamanan setempat. Ia hanya perlu fokus pada operasional mal.

Namun tepat pada detik itu, sebuah suara yang sangat familier menembus kerumunan dan terdengar jelas di telinganya. Itu adalah suara Valeria yang membalas dengan nada tidak sabar.

Langkah kaki tegap Alessandro seketika terhenti kaku. Ia sedikit memiringkan wajahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Di balik kerumunan pengunjung yang menonton, ia melihat Valeria sedang berdiri di dekat pagar pembatas dengan alis berkerut rapat dan wajah penuh kejengkelan.

___

Bersambung~~

Maaf baru up kemarin habis ujian praktek~~

1
Azzuhri Siregar
thor cerita satu bab jangan terlalu panjang lama-lama bacanya agak mengantuk. cerita nya bagus tapi satu bab itu terlalu panjang jadi bosen
FearMe: iya ini bab 20++ udah diperbaiki
total 1 replies
falea sezi
lanjt
Retno Isma
panjang bgt. 🫰🫰
Anne Soraya
lanjut
Putri Amalia
semoga ngk Hiatus yah author 😭
FearMe: semoga ya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!