Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Lani! Bangun!"
Kaivan berulangkali mencoba untuk membangunkan sang istri. Sudah jam sembilan pagi, tapi wanita itu masih bergelung nyaman dibawah selimut.
"Lani, ayo bangun!"
"Apa, sih?"Kalani menggeliat. Wajahnya tampak kesal meski sepasang matanya belum terbuka. "Aku masih mengantuk, Kaivan."
Kaivan mendengkus kasar. "Ini sudah jam 9 pagi, Lani. Aku lapar dan kamu belum memasak apa-apa."
"Minta pelayan saja yang memasak," kata Kalani.
"Di sini tidak ada pelayan," timpal Kaivan.
Pria itu sudah gelisah sejak tadi. Dia terbiasa sarapan di pagi hari. Dan, ketika hari ini dia tak mendapatkan makanan apapun di meja makan, perut yang sejak semalam belum sempat diisi makanan, kini berbunyi keras menagih haknya.
"Lani, ayolah! Kamu harus bangun dan memasak untuk kita!"
Karena terus diganggu, Kalani akhirnya bangun. Dia duduk sambil merapikan rambutnya yang berantakan seperti singa.
"Kaivan, dengar!" ucap Kalani dengan tegas. "Selama ini, aku tidak pernah diajarkan untuk melayani orang lain. Bahkan, saat aku menikah dengan Arsenio pun, dia sengaja menyewa pelayan untuk menangani seluruh pekerjaan rumah tangga. Jadi, jika kamu mengharapkan aku memasak untukmu, mencuci baju untukmu, atau membersihkan rumah untukmu... itu tidak akan pernah terjadi. Aku istrimu, Kaivan. Bukan pelayanmu."
"Bukannya, kamu sendiri yang ingin sekali menjadi ibu rumah tangga?"
"Iya," angguk Kalani. "Aku memang ingin jadi ibu rumah tangga." Dia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
"Tapi, bukan berarti aku harus mengerjakan pekerjaan rendahan seperti itu, kan? Memasak? Mencuci baju? Ayolah, Kaivan!" Kalani tertawa rendah. "Yang aku maksud bukan ibu rumah tangga yang seperti itu."
"Lalu, kamu ingin jadi ibu rumah tangga yang seperti apa, hah?"
"Tentu saja yang bisa menikmati hidup dengan jalan-jalan, main bersama teman arisan, shopping, atau membuat party di rumah."
Deg.
Tangan Kaivan terkepal erat saat mendengar penjelasan Kalani. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman miring.
Jadi, perempuan ini hanya ingin bersenang-senang? Menghabiskan seluruh gajinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat seperti itu?
"Kaivan..."
Kalani turun dari ranjang. Dia menghampiri Kaivan kemudian mengalungkan kedua lengannya di leher pria itu.
"...apa kamu marah?" lanjutnya bertanya.
Pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu tak menjawab. Kaivan hanya membuang muka.
"Kaivan, katanya kamu mencintaiku. Itu berarti, kamu bersedia mengabulkan semua keinginan ku, kan? Sebaiknya, kita sewa pelayan saja. Aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan dan menjijikan itu."
Melelahkan dan menjijikkan.
Dua kata itu semakin membuat Kaivan kehilangan sosok Kalani yang dulu. Jelas-jelas, dulu Kalani selalu bilang bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia dan membanggakan.
Tapi sekarang...
"Kaivan! Ayolah, Sayang!" Kalani merengek manja. Dia mengecup pipi Kaivan berulangkali. Berharap bisa meluluhkan hati pria itu.
"Akan ku pikirkan," timpal Kaivan seraya mendengkus pelan. Dia melepaskan tangan Kalani dari lehernya lalu beranjak turun ke bawah untuk memasak sarapan sendiri.
Baru dua hari menikah dan Kaivan merasa jika Kalani sangat berbeda dengan Kalani yang selama ini dia kenal.
Perempuan itu tidak sebaik yang ada dalam bayangan Kaivan.
Obsesinya. Ambisinya. Semua terasa asing di mata Kaivan.
Kalani yang dulu dia puja-puji adalah seorang wanita yang cantik, lembut, baik hati, dan hanya punya mimpi kecil yaitu menjadi Ibu rumah tangga.
Tapi, pada kenyataannya, semua itu rasanya berbanding terbalik dengan kenyataan. Mimpi yang Kaivan anggap kecil, ternyata tidaklah sesederhana itu.
Kalani ternyata hanya memakai topeng untuk memikat Kaivan. Dan, sialnya Kaivan benar-benar terjerat dalam topeng yang selama ini Kalani gunakan.
"Aku harus memasak apa?" gumam Kaivan gelisah.
Selama ini, dia tak pernah memasuki area dapur selain untuk membuat kopinya sendiri. Urusan memasak, Seraphina selalu menjadi penanggung jawab yang paling andal.
Tak hanya pandai memasak makanan yang enak, perempuan itu juga suka menghias dapur agar menjadi tempat yang tidak membosankan.
Tatapan Kaivan reflek terarah pada dekorasi dapur. Setiap sudut tempat ini dipenuhi oleh jejak Seraphina.
"Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya?" gumam Kaivan sambil menghela napas panjang.
Baru setelah kehilangan, Kaivan merasa jika ada sesuatu yang kurang dari dirinya.
Tak ada lagi sapaan selamat pagi dengan senyuman yang manis.
Tak ada lagi aroma sarapan yang harum dan menggugah selera tepat di jam setengah tujuh pagi.
Tak ada lagi suara nyanyian merdu yang terkadang membuat Kaivan jadi tersenyum sendiri saat mendengarnya.
Dan, tak ada lagi jejak aroma vanilla yang lembut yang selalu tertinggal nyaris di setiap sudut rumah.
Tanpa sadar, Kaivan meraih ponselnya. Dia menatap nomor telepon Seraphina agak lama hingga akhirnya memutuskan untuk menghubungi wanita itu.
"Halo..."
Deg.
Jantung Kaivan berdetak dua kali lebih cepat saat suara itu terdengar. Lembut dan menenangkan. Ciri khas Seraphina.
"Seraphina, ini aku." Kaivan meneguk ludahnya kasar.
Hening di seberang sana selama beberapa detik. Lalu, suara lembut tadi tiba-tiba terdengar begitu dingin.
"Ada apa?"
Kekecewaan tergambar di wajah Kaivan. Cepat sekali Seraphina berubah sikap saat tahu siapa dirinya.
"Sera, kamu sudah menghapus nomorku?"
"Untuk apa juga ku simpan?"
Bagai ada batu besar yang tersangkut di tenggorokan Kaivan. Entah kenapa, dia merasa tak rela jika sosok dirinya benar-benar dilupakan.
"Sera, walau bagaimanapun, kita tetap keluarga. Sekarang, aku kakak iparmu. Bisakah kita tetap akur?"
"Tidak."
"Kalau begitu..."
"Kalau tidak ada urusan yang penting, lebih baik matikan saja! Aku sedang sibuk."
"Tidak. Tunggu!" cegah Kaivan. "Sera, aku hanya ingin menanyakan resep burrito yang biasa kamu buat untukku."
"Banyak resep di internet. Kamu cari di sana saja."
"Tapi, rasanya tidak akan sama. Aku hanya mau resep yang biasanya kamu buat."
"Tidak ada resep khusus. Cukup ikuti saja resep seperti pada umumnya. Aku..."
Suara Seraphina tiba-tiba terputus. Tak lama, suara yang terdengar asing di rungu Kaivan terdengar menggantikan suara Seraphina.
"Maaf, Kakak ipar! Aku dan istriku sedang sibuk saat ini. Tolong jangan ganggu lagi."
Panggilan itu belum terputus.
"Noah, kamu mau apa?"
"Apa lagi? Tentu saja melanjutkan hal yang tertunda tadi."
"Noah, jangan!! Akh..."
Dan, panggilan itu akhirnya dimatikan.
"Halo? Seraphina?" panggil Kaivan panik. Dia berusaha menghubungi nomor Seraphina sekali lagi tapi sudah tidak aktif.
"Apa jangan-jangan... dia sudah menyentuh Seraphina?"
Kaivan mengusap wajahnya kasar. Tiba-tiba saja dia merasa panik. Membayangkan Seraphina pasrah di bawah tubuh pria lain membuat otaknya seperti terbakar.
"Tidak. Tidak mungkin. Seraphina tidak mungkin akan pasrah disentuh oleh pria itu. Seraphina setuju menikah dengannya pasti karena ada kontrak yang mengikat mereka. Seraphina hanya tidak mau menikah dengan Arsen makanya dia mencari pria lain untuk dinikahi. Ya, pasti begitu."
"Kaivan, kamu sedang membicarakan soal apa?" tanya Kalani yang entah sejak kapan sudah berada di sana.
km keren sekaliguus nyeremin ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭