Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bancana
Pagi hari terjadi kehebohan, saat hendak sarapan, Baskara terus berteriak memanggil Kinan.
Entah apalagi kurangnya. Sarapan sudah tersedia, lalu apa lagi coba?
"Kinan, cepat!!!" seru Baskara memanggil asisten pribadinya sejak tadi.
"Bisa sabar gak sih, Bos? Saya juga harus bersiap. Bukan terus ngurusi bayi 30 tahun!" jawab Kinan malas.
Baskara menatap Kinan saat gadis itu mengatakan dirinya bayi 30 tahun. Yang benar saja!
"Apa kamu bilang?" tanya Baskara saat Kinan datang.
Dia berdiri dengan berkacak pinggang menunggu kedatangan gadis itu. "Dasinya mereng." jawab Kinan. ""Kayak isi ot*k orangnya." lanjut Kinan dalam hati.
Dia benar-benar di buat kesal. Bagaimana tidak, dia harus bangun pagi untuk membuat sarapan, lalu bekal makan siang mereka berdua.
Beneran dia melakukan hal itu, karena dia sudah di bayar 30 juta selama sebulan. Jadi mau tidak mau dia harus melakukannya.
Baskara yang mendapati posisi mereka terlalu dekat membuat jantungnya berdegup kencang.
Apa ini? kenapa tiba-tiba dia tersenyum ketika Kinan merapikan dasi miliknya? Saat sadar Kinan akan menatapnya, Baskara langsung merubah raut wajahnya menjadi datar seperti biasanya.
"Kalau gak pinter pakai dasi, gak usah pakai dasi kalau ujungnya ngerepotin orang lain, Bos." gerutu Kinan membuat Baskara menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.
"Dan saya suka merepotkan kamu!" jawab Baskara duduk di meja makan dan siap untuk sarapan pagi.
Kinan mengikutinya, duduk dan sarapan. Agar mereka selesai dengan cepat pagi ini.
"Baiklah, saya berangkat lebih dulu, Bos." pamit Kinan setelah dia selesai sarapan.
"Tidak! kamu berangkat dengan saya, dan pulang dengan saya juga. Kita harus belanja untuk makan malam." sahur Baskara dengan begitu santai.
"Bos? Kapan saya memiliki privasi saya sendiri?" tanya Kinan kesal menatap Baskara.
"Saat kamu berada di dalam kamar tidur dan di dalam kamar mandi." jawabnya santai membuat Kinan semakin kesal di buatnya.
"Selain titisan Gunung Krakatau, ternyata anda juga titisan VOC!" umpat Kinan.
Baskara menatap tajam ke arah Kinan. Mendekatkan wajahnya, hingga jarak keduanya sangat dekat.
"Apa maksud kamu dengan titisan Gunung Krakatau?" tanya Baskara penasaran.
Kinan jantungan, jarak mereka sangat dekat Tidak, ini tidak bisa di biarkan begitu saja. "Bos Juno bilang, Bos itu meledak-ledak kayak erupsi Gunung Krakatau. Lagian gak salah apa yang bos Juno bilang, karena bos suka marah-marah gak jelas, nyuruh orang sesuka hatinya kayak jaman VOC." jawab Kinan berani, bahkan dia sampai mendorong dada Baskara agar menjauh darinya.
"Juno?" gumam Baskara masih menatap tajam ke arah Kinan.
Menyadari apa yang dia lakukan membuat Kinan langsung menutup mulutnya. Matilah dia, apakah setelah ini Juno tidak akan selamat.
"Oh...jadi Juno ya?" gumam Baskara mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mengambil ponselnya dan menghubungi manusia amfibi tersebut .
Sedangkan yang namanya di sebut tiba-tiba saja merasa merinding sekujur tubuhnya. "Ada apa ini? Tidak mungkin ada setan pagi-pagi begini kan?" gumamnya merasakan hal aneh tiba-tiba.
Apalagi ketika ponselnya berdering, menampilkan nama Baskara disana. Apakah ini sebuah pertanda buruk?
"Halo, Bas. Ada a-"
"Tinggal pilih, bawa apel ke lapangan panahan atau ambulance ke ring tinju. Aku menunggumu jam 5 sore setelah pulang kantor." ucap Baskara langsung menutup panggilan telepon mereka begitu saja membuat Juno semakin bergidik ketakutan.
"Bencana apa ini, Tuhan? Kenapa tiba-tiba Baskara mengajakku ke lapangan panah dan ring tinju?" gumam Juno.
Dia mengakui dua olahraga itu adalah olah raga yang paling di sukai Baskara. Apa katanya tadi? "Jika aku membawa apel, itu artinya Anak panah itu bisa saja dia Lesatkan ke jantungku. Jika ke ring tinju, aku akan berakhir di rumah sakit. Apa yang harus aku lakukan sekarang?!" gumam Juno ketakutan.
Sedangkan Kinan menatap takut pada Baskara saat ini. Dia sangat merasa bersalah dengan keadaan Juno. Bagaimana jika-"Bos, jangan gitu dong ke bos Juno. Kasihan." ucap Kinan memelas.
"Kamu kasihan dengan dia yang menyematkan panggilan itu, sedangkan ke saya kamu tidak kasihan sama sekali? Apa kamu tau saya adalah korban disini?" tanya Baskara menatap tajam pada Kinan.
"Masih korban biasa, bukan korban perasaan juga. Lagian jadi cowok kok ngambekan, gak asik tau gak!" jawab Kinan pergi meninggalkannya Baskara.
***