NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Perlahan tapi pasti

Hanum memasuki kamarnya dengan langkah terburu-buru. Bunda sempat menawarkan kue tar yang ada di dapur, tetapi perempuan itu hendak membersihkan dirinya terlebih dahulu. Dia menutup rapat pintu kamarnya, menarik napasnya sejenak.

Sementara itu Devan yang baru saja memasuki ruang tengah dimana Bunda nya dan Bi Inah tengah bersantai menonton sinetron pun segera menuju kamarnya.

"Pada sibuk ya kalian?" tanya Bunda nya sambil memberinya sepotong kue dan langsung dimakan oleh pria itu.

"Begitulah, Bun. Semoga besok bisa ke handle semua," kata Devan sambil mengunyah kue tart rasa strawberry itu. Lalu dia meminta sepotong lagi.

"Habis ini kita makan malam ya, Bunda nungguin kalian dari tadi," kata Bunda lagi.

Devan mengangguk, dia pun kembali ke kamarnya. Sejenak dia menatap pintu kamar Hanum yang tertutup rapat. Kamarnya berada di lantai atas, berlawanan arah dengan kamar Hanum yang ada di lantai dasar.

"Waduh Neng itu gak usah dibawa," kata Bi Inah saat Hanum membantu mengangkat sebuah mangkuk besar berisi sup sayuran.

"Kenapa rupanya, Bi?" tanyanya heran.

"Itu dah basi, Neng. Bekas kemarin..," kata Bi Inah lagi.

Hanum menatap iba pada sup itu. Kemudian Bunda yang baru saja tiba pun tertawa kecil melihat ekspresi Hanum seperti anak kecil yang cemberut karena tidak dikasih permen.

"Sudah, buang saja kalau gitu. Lagipula kalau dimakan entar kita sakit perut," ucap Bunda mengarahkan.

"Yah, habis mubazir gitu Bun.., lihat makanan ini dibuang jadi keinget gimana warga di Afrika, anak-anak Gaza yang pada kelaparan..," kata Hanum pelan.

Bunda pun tersenyum lebar mendengarnya. Perempuan itu benar-benar berhati mulia.

Devan tiba dan duduk di kursi meja makan. Menatap Bundanya dengan tatapan ada apa.

Bundanya pun mengedipkan matanya ke arah Hanum.

"Ya sudah ayo kita makan," kini keempat orang itu makan bersama. Bi Inah, meskipun dia adalah pembantu di rumah Bunda, dia tetap diperlakukan sama dan ikut serta di meja makan sebab mereka saling mengenal satu sama lain.

"Kalian kalau pulangnya agak lama kabari Bunda ya. Supaya tidak ada lauk yang tersisa kayak barusan," ucap Bunda sambil meminta Bi Inah untuk menyodorkan sayur lodeh kepadanya.

Devan mengiyakannya, begitu juga dengan Hanum. Akan tetapi, setelahnya tak ada lagi kata-kata yang terlontar dari mereka berdua. Hanya keheningan yang ada. Bunda dan Bi Inah saling tatap, apakah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka?

Sehabis makan malam, Hanum membantu Bi Inah mencucikan piring walaupun tadi sudah ditolak Bi Inah.

"Aduh, Neng. Tak payah repot-repot lah, ini sudah jadi tugas Bibi," kata Bi Inah merasa dirinya tidak bertanggungjawab dengan kewajibannya di rumah ini.

"Hehe, gak papa Bi, ini juga sebelum aku balik ke kamar lagi. Soalnya bosen," katanya lagi.

Setelah cuci piring siap, dia menghampiri Bunda yang kini tengah sibuk menatap layar televisi yang menyiarkan sinteron SCTV.

"Eh, Hanum. Kalau capek istrahat saja dulu ya," kata Bunda.

Hanum menggeleng. "Gak kok, Bun. Aku di sini dulu, kue tart nya masih ada, Bun?" tanya Hanum sambil celingak-celinguk barangkali masih ada potongan kue itu di piring.

"Kamu ambil aja di kulkas ya, masih banyak. Bunda tadi beli dari toko kue temen Bunda. Mumpung ada diskon gede-gedean hehe," kata Bunda sambil tersenyum.

Hanum segera menuju dapur. Melihat Bi Inah tidak ada, dia membuka pintu kulkas. Bibirnya tersenyum lebar melihat kue dengan krim pink dan strawberry di atasnya.

"Pasti manis ini..,"gumam nya sambil mengeluarkan piring itu dari dalam kulkas. Tetapi saat dia menutup kulkas dan memutar balik badannya, dia terkejut saat melihat Devan telah berdiri tepat di belakangnya.

Buru-buru dia menuju ruang tengah tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun itu. Devan hanya menatap nya dengan bingung. Hanum merasa ingin menghindarinya, setidaknya untuk saat ini. Sebab yang dia rasakan setiap kali bertemu pria itu adalah kecanggungan dan perasaannya yang tidak karuan.

Hanum melahap sepotong kue tart ke dalam mulutnya. Ikut duduk di sebelah Bunda yang juga mengambil sepotong kue sambil menonton televisi.

"Kamu lagi ada masalah ya sama Devan?" tanya Bunda tiba-tiba.

"Nggak kok, Bun.., aku sama Devan gak ada apa-apa," kata Hanum lalu dia kembali terdiam.

"Ya sudahlah, barangkali feeling Bunda aja," ucap Bunda lagi. Dia memang sedang asyik menonton sinetron yang kebetulan favoritnya.

"Bunda masih mau kue nya?" tanya Hanum.

"Sudah, Bunda udah kekenyangan ini," jawabnya sambil mengelus perutnya.

Hanum tertawa kecil. Dia membawa sisa kue itu dan kembali menuju dapur. Memasukkan nya kembali ke dalam kulkas. Lalu bergegas menuju kamarnya.

Selepas dia menyikat giginya dan mengaplikasikan skin care malamnya, dia merebahkan diri di atas kasurnya.

Mau sampai kapan aku terus di sini?

Dalam benaknya, setiap kali dia hendak memejamkan matanya selalu saja terlintas pertanyaan itu. Walaupun sudah berkali-kali diingatkan oleh Bunda dan Devan bahwa dia tidak perlu sungkan atas hal itu, tetap saja rasa tidak enak itu masih ada.

"Ah.., ntah lah," gumam Hanum yang sekarang sudah menarik selimutnya. Kamar itu rasanya dingin sekali, hingga dia menyadari AC nya menyala dan menunjukkan angka 15⁰ Celcius.

"Astagfirullah, siapa yang nyalain AC sampe segini?" ucap Hanum pelan. Perasaan dia tidak pernah menyalakan AC sampai sedingin ini, paling hanya sampai sembilan belas derajat saja.

"Gak mungkin Bunda atau Bi Inah, kan?" ucap Hanum sendirian. "Devan.., masak ah. Dia aja kamarnya di sono."

Akhirnya, Hanum mencoba untuk memejamkan matanya. Berharap esok adalah hari yang indah dan menyenangkan baginya.

Tetapi tetap saja susah. Seketika dia teringat dengan ucapan Bunda tentang harapannya agar dia mau menikah lagi. Perasaan yang dia miliki untuk Devan.., ia sendiri tak mampu menginterpretasikannya, menjelaskan bagaimana perasaan yang dia miliki. Dalam hatinya, Hanum menganggap pria itu cukup sebagai teman dekat saja.

Hanum mengangkat tubuhnya dan duduk di ranjangnya. Rambut panjangnya tergerai begitu saja. Dalam keadaan seperti itu, sebenarnya pria yang melihatnya bisa langsung menyukainya sebab dirinya begitu indah untuk dipandang, apalagi dijadikan sebagai pasangan.

"Sudahlah..," Hanum kembali berbaring dan memejamkan matanya. Hingga beberapa saat akhirnya dia tertidur lelap.

Dalam tidurnya, dia bermimpi ada seorang gadis perempuan yang cantik jelita menghampirinya.

"Halooo kakak, kakak siapa?" tanya gadis itu kini duduk di sebelah ranjangnya.

Hanum seperti terbawa alur cerita dalam mimpinya mengenalkan dirinya begitu saja. Lalu menatap gadis di sebelahnya itu, matanya yang cokelat nan indah itu mirip sekali dengan seseorang yang dia kenali.

"Aku harap kakak bisa nemenin Abang aku ya, kasihan dia sendiri melulu. Dan kakak sepertinya adalah orang yang dia inginkan," ucap gadis itu lagi.

Hanum mengernyit tanda tak mengerti. "Maksudnya?"

Gadis itu tersenyum. "Kakak pasti tahu sendiri kok, perlahan tapi pasti. Dadah kak, aku pulang dulu ya! Ntar papa aku ngomel-ngomel lagi karena main terlalu lama!"

Belum sempat Hanum menahannya, gadis itu hilang dalam pandangannya.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!