Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah mengatakan itu, Austin menoleh ke arah kamar mandi.
"Aku ke kamar mandi sebentar."
"Silakan."
Tak lama setelah Austin masuk, suara langkah kaki terdengar dari luar, sudah pasti itu adalah Futaka.
Suara gemericik air memenuhi ruangan kamar mandi yang tenang.
Austin berdiri di depan wastafel dengan sikap santai. Air mengalir melewati jemari panjangnya yang ramping saat ia mencuci tangan. Setelah selesai, ia mengambil beberapa lembar tisu dan mengeringkan tangannya perlahan, tanpa terburu-buru.
Tak lama kemudian, Futaka melangkah mendekat. Ia membuka keran di samping Austin dan mulai mencuci tangannya sendiri. Pandangannya sekilas tertuju pada bayangan pria itu di cermin.
"Kau juga lulusan Universitas Nanda?" tanyanya tiba-tiba.
Austin mengangguk singkat.
"Ya."
Futaka mengangkat alis.
"Aneh. Yurika tidak pernah menyebut namamu sebelumnya."
Austin hanya menekan bibirnya tipis. Ia tidak terlihat berniat melanjutkan percakapan itu.
Melihat reaksi dingin tersebut, Futaka pun kehilangan minat untuk bertanya lebih jauh.
Tak lama kemudian, keduanya keluar dari kamar mandi bersamaan. Ketika melihat mereka muncul bersama, Yurika tampak sedikit terkejut.
Tatapannya berpindah dari satu pria ke pria lainnya sebelum bertanya dengan curiga, "Kalian berdua kenapa keluar bersama?"
Futaka yang sudah mengantuk hanya melambaikan tangan malas.
"Hanya kebetulan bertemu."
Ia melirik jam lalu berkata, "Sudah larut. Besok pagi aku masih harus datang lebih awal untuk mengurus stok barang. Kita pulang saja."
Austin awalnya berniat menunggu sopir pribadinya datang menjemput. Namun Futaka sedang dalam suasana hati yang cukup baik malam itu.
"Aku antar saja sekalian."
Austin tidak menolak.
***
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup tenang. namun Yurika menyadari bahwa hubungan kedua pria itu seolah tidak lagi setegang sebelumnya.
Meskipun belum bisa disebut akrab, setidaknya aroma permusuhan yang dulu begitu jelas kini mulai berkurang.
Ketika mobil berhenti di depan sebuah kawasan vila mewah, Austin membuka pintu dan bersiap turun.
Futaka menatap area perumahan itu sambil bersiul pelan.
"Harga tanah di sini gila-gilaan. Orang biasa bahkan tidak berani memikirkannya."
Yurika mengangguk dan spontan menjawab, "Memang.. Keluarganya sangat kaya."
"Oh?"
"Ayah Austin adalah pendiri Chiye Technology."
Ekspresi Futaka langsung berubah menjadi paham.
"Jadi begitu.."
Ia mengangguk pelan. "Pantas saja. Ternyata orang yang membuat Livia begitu tergila-gila adalah seorang tuan muda kaya raya."
Mendengar nada bicara kakaknya, Yurika merasa perlu sedikit menghiburnya.
Sambil menahan senyum, ia berkata, "Sebenarnya, Kakak juga cukup hebat."
Futaka langsung menoleh. Nada bicaranya terdengar jauh lebih bersemangat.
"Oh? Lanjutkan.."
Yurika memasang wajah serius. "Kalau tidak dibandingkan dengan orang yang terlalu sempurna, Kakak sebenarnya sangat luar biasa."
Senyum Futaka langsung menghilang. Wajahnya menggelap seketika.
"Lalu aku harus dibandingkan dengan siapa?"
Yurika menjawab polos, "Dengan teman-teman Kakak, tentu saja."
Ia mulai menghitung dengan jari.
"Di antara mereka, Kakak yang paling tampan, paling kaya, dan paling populer di kalangan wanita."
Futaka menyilangkan tangan. "Lalu?"
Yurika melanjutkan dengan penuh keyakinan. "Banyak perempuan menyukai Kakak."
Sudut bibir sang kakak berkedut, akhirnya ia berkata, "Terima kasih atas penghiburannya."
Yurika tersenyum cerah.
"Sama-sama."
Futaka mendesah panjang.
"Kenapa rasanya kau sedang menyuruhku bersaing dengan satpam berusia enam puluh tahun di depan gerbang?"
Yurika tertawa tanpa rasa bersalah.
"Bukannya tidak mungkin."
Futaka terdiam. Ia mulai menyesali keputusannya mengajak adiknya berbicara.
***
Hari Jumat berlalu dengan cepat.
Begitu pekerjaan selesai, Yurika segera membuka ponselnya dan mulai mencari restoran yang cocok untuk menjamu seseorang.
Ini adalah pertama kalinya ia mengundang Austin makan malam secara resmi. Karena itu, ia ingin memilih tempat terbaik yang masih bisa dijangkau oleh isi dompetnya.
Meski restoran-restoran mahal mungkin hanya dianggap biasa oleh Austin, bagi Yurika, satu kali makan di sana sudah cukup membuat pengeluaran bulanannya membengkak.
Setelah membandingkan berbagai pilihan cukup lama, akhirnya ia menemukan sebuah restoran dengan ulasan yang sangat baik.
Sabtu besok adalah hari libur. Namun sebelum melakukan reservasi, ia harus memastikan jadwal Austin terlebih dahulu.
Setelah pulang ke rumah, Yurika mengirim pesan.
Yurika: [Tuan Austin, apakah Anda ada waktu besok?]
Balasan datang tidak lama kemudian.
Austin: [Ada keperluan?]
Yurika mengetik cepat.
Yurika: [Saya ingin mentraktir Anda makan malam.]
Di sisi lain layar, Austin menatap pesan itu beberapa detik dengan senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.
Gadis ini memang tipe yang selalu menepati perkataannya. Begitu mengatakan akan membalas budi, ia langsung mulai membuat rencana.
Austin: [Saya ada urusan siang hari. Bagaimana kalau malam?]
Mata Yurika langsung berbinar.
Yurika: [Baik!]
Setelah mengirim balasan itu, ia merasa jauh lebih lega.
***
Sementara itu, Austin juga memiliki agenda lain pada hari Sabtu.
Sudah cukup lama ia menunda kunjungan ke rumah keluarga, oleh sebab itu, kali ini apa pun alasannya, hari ini ia harus pulang.
Ketika mobilnya memasuki halaman rumah utama keluarga, suasana di dalam rumah tampak lebih hidup dari biasanya.
Bibi yang telah bekerja di sana selama bertahun-tahun bahkan secara khusus memasak hidangan favoritnya.
Wanita itu sudah menyaksikan bagaimana Austin tumbuh dewasa. Begitu melihatnya masuk ke ruang tamu, wajahnya langsung dipenuhi senyum hangat.
"Akhirnya pulang juga. Sudah lama sekali."
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏